
Seminggu kemudian…
Terdengar suara penyiar berita di televisi, mengumumkan berita yang ditunggu-tunggu oleh para tim Danurdara MUA Studio.
...Breaking News update:...
...Pernikahan dari putri presiden Kongo, akan diselenggarakan dalam seminggu lagi. Selain di pastikan menggunakan rancangan gaun dari desainer ternama Venesia Gordi. Danurdara MUA Studio, juga mendapat penghormatan khusus. Dipilih secara langsung oleh sang calon mempelai untuk meriasnya. ...
“Yeay!” sorakan dari tim rias MUA besutan Alda, saling berpelukan dengan rasa haru.
Seakan mendapat jalan menuju puncak. Namanya kian gemilang di antara banyak pesaing MUA di kalangan elite Kongo.
“Madame, selamat ya,” ucap Yessa memeluknya.
“Terima kasih Yessa. Aku ucapkan juga pada kalian semua atas kerjasamanya yang kompak selama ini. Tanpa kalian, aku bukan apa-apa,” ucap Alda merendah.
“Ah, Madam jangan begitu. Selama ini, Madam sudah menjadi Bos yang baik untuk kami." Yessa mewakili.
Alda tersenyum, “oke, kalau begitu kita rayakan keberhasilan ini dengan makan siang bersama di restoran Prancis dan tentunya ada sedikit bonus untuk kalian dariku. Apakah kalian setuju?”
“Setuju Madam!” girang kedua puluh orang tim nya. “Terima kasih, Madam.”
**
“Jika mau pesan apa-apa, katakan pada waiters. Aku ingin ke toilet dulu,” pamit Alda.
“Siap, Madam.”
“Madam, aku juga ikut!” Yessa menyusulnya dari belakang, Alda menoleh.
Asyik mengobrol dengan Yessa. Alda pun tak begitu memperhatikan jalan. Hingga membuatnya tidak sengaja membentur sesuatu yang keras di depan. Ia pun oleng dan terjatuh. Namun, jatuh kepelukan seseorang.
Yessa membekap mulutnya saat melihat betapa tampannya pria itu. Lain reaksi Alda yang sangat terkejut dengan jantung berdegup cepat.
“Rich?”
Pria itu segera melepas tubuh Alda dari pelukannya. “Lain kali kalau jalan pakai mata, Nona. Maaf, Anda siapa?”
Sengitnya berucap sambil mengibaskan bagian jasnya yang bekas tersentuh tubuh Alda. Entah kenapa Alda tidak terima, Rich bersikap seolah tak mengenalnya.
Ia yakin jika matanya tak salah mengenali pria yang pernah memporak-porandakan tubuhnya itu. Bahkan secara tidak sadar, kakinya menuntun-nya berjalan untuk mengejar pria itu sampai ke parkiran resto.
***
“Ah, itu dia!” Alda tiba-tiba tersenyum saat melihat Rich yang baru saja masuk ke dalam sebuah mobil sport berwarna merah.
Alda mematung, tapi kini mobilnya akan segera pergi dan ia tak ingin kehilangan jejak Richard lagi. Sementara Rich di dalam mobil, tak begitu memperhatikan Alda.
“Teo, jalankan mobilnya.”
“Siap, Bos.”
Teo baru akan menjalankan mobil. Namun, telinganya mendengar seruan dari wanita yang kini wujudnya sedang berdiri menghadang di depan kap mobil.
“Dia kan …” ucap Teo sambil mengingat-ingat.
“Ada apa Teo?” tanya Rich ketika mengetahui sopir sekaligus asisten pribadinya tak segera berangkat.
“Itu, Bos. Wanita yang dulu pernah Anda tumpangi saat di halte bus dan …” tunjuk Teo pada Alda tapi tak berani meneruskan ucapannya.
Rich mengikuti telunjuk Teo dengan kepala menggeleng.
‘Apa yang dilakukan wanita bodoh itu? Bosan hidup rupanya?’ Rich bicara dalam hati, muak sekali dan tak ingin melihat Alda.
“Klakson saja, Teo. Pasti dia akan minggir,” sahut Rich yang menyibukkan diri mengerjakan sesuatu di tabletnya.
Benar saja, Teo melakukannya. Alda semakin geram hingga menggebrak kap mobil itu, mengomel macam-macam yang ditulikan oleh Rich. Karena telinganya sengaja disumpal dengan headphone.
Dugh, dugh!
“Rich, keluar! Aku mau bicara padamu. Ini penting!” teriak Alda dari luar.
“Bagaimana ini, Bos? Dia tak mau minggir,” heran Teo serba salah.
“Klakson lagi!”
Beep, beep!
Alda terlihat makin kesal, sehingga ia merubah posisinya ke sebelah jendela kaca di mana Rich duduk di dalam mobil berjenis bentley bacalar itu dan mengetuk kacanya dengan gedoran keras..
“Aku yakin itu kau Rich, buka! Kita harus bicara?” tekad Alda, tak mau beranjak dan terlihat frustasi.
Selain terlalu sibuk hari ini, tiada waktu bagi Richard untuk mengurus hal yang menurutnya tidak penting. Apalagi Alda yang tak ingin ditemui. Baginya wanita itu telah dibuang jauh dari hati dan pikirannya.
“Teo, kenapa kau masih diam saja. Cepat jalankan mobilnya!” perintah Richard tampak mengetatkan rahang di balik kaca spion, sehingga Teo pun ketakutan lalu memainkan gas nya dan mobil mewah itu pun melesat dari parkiran resto.
“Rich!” raung Alda begitu kesal karena diacuhkan oleh Rich. Sehingga berpengaruh pada suasana hatinya.
Tidak berselera, melihat semua makanan lezat yang tersaji di atas meja.
“Madame kenapa?” senggol tim MUA-nya berbisik-bisik, mengamati Alda tidak sekalipun menyentuh makanan. Sekembalinya dari parkiran resto, mengambil dompetnya yang katanya tertinggal.
“Aku tidak tahu.” Ale mengedikkan bahu dan meneruskan lagi menyantap makanan.
“Madame sakit?” tanya Yessa perhatian, menyentuh kening Alda. Hingga wanita itu pun berjingkat saat melamun.
“Ri…” mulut Alda terkatup, segera menyadari kalau ia akan salah sebut. “Tidak, aku baik.”
“Lalu kenapa tidak makan seperti yang lain? Kalau memang tidak suka menunya, biar aku pesankan lagi, Madam.” Yessa beranjak, tapi Alda menahan lengannya.
“Tidak usah, Yessa. Aku masih kenyang.”
“Oh begitu,” ucap Yessa tersenyum menatap Alda.
Tak lama kemudian, terdengar nada dering dari ponsel Alda, lagu know me dari **Gemin**i.
Menerbitkan senyum cerah Alda, ketika tahu kekasihnya lah si penelpon itu dan ia pun segera mengangkatnya.
“Halo Ef, kau jadi datang ke resto, kan?” tanya Alda penuh harap.
Yessa mengulum senyum berniat menggoda, ketika Alda tidak sengaja menatapnya. Tapi, Yessa pun sontak teringat pada Richard yang tadi ditemuinya di toilet. Bahkan ia berpikir antara Richard dan Efrain adalah orang yang sama.
'Jadi buat apa mereka telepon? Bukankah tadi sudah bertemu saat akan ke toilet?' batin Yessa heran.
[Maaf, Al. Kali ini aku tidak bisa datang. Karena aku harus segera pulang ke rumah untuk mengambil pakaian mommy-ku]
“Oh, tidak apa. Pulang dan mengambil pakaian mommy-mu? Maksudnya bagaimana?” bingung Alda yang mencemaskan Efrain. Tapi kecemasannya mereda berkat penjelasan dari Efrain. Jika dia baik-baik saja.
“Abelle, kembaran kalian berdua itu yang istrinya dr. Nick?” pekik Alda terkejut mengetahui Abelle masuk ke rumah sakit karena suatu musibah tragis.
Pertanyaan balik dari Efrain membuat Alda kelabakan.
“Ya, itu … kan, dr. Nick terkenal sebagai ahli nefrologi terkenal di Kongo ini. Selain usianya terbilang masih muda, tapi dia sudah bergelar ilmuwan sekaligus professor,” jelas Alda, beruntung mengetahui informasi itu. Karena tak mungkin bercerita jika ia mengenalnya dari Rich. Bisa-bisa Efrain cemburu dan menuduhnya macam-macam.
[Oh …]
“Um… Bolehkah aku mampir ke rumahmu, untuk sekadar membantu?” tiba-tiba saja Alda tercetus hal itu. Tanpa disadari, hatinya mendorong kuat pergi ke sana.
[Kau serius? Silahkan saja kalau mau kemari. Pintu rumahku terbuka lebar untukmu. Tapi, maaf. Aku tidak bisa menjemput. Karena aku sudah hampir sampai di rumah.]
“No problem, aku bawa mobil. Tolong kirimkan saja alamatnya?” pinta Alda tak ingin merepotkan.
[Oke.]
Panggilan telepon berakhir.
Setelahnya terdengar notifikasi pesan masuk ke ponsel Alda. Tentang alamat yang baru saja dikirimkan oleh Efrain dan kemudian Alda pun berpamitan pada yang lain, untuk meninggalkan acara makan siang terlebih dahulu. Sementara tagihan makan siang di resto itu sepenuhnya akan dihandle oleh Yessa yang ia berikan kartu kredit.
**
Beberapa menit berlalu, mobil Alda tiba sesuai alamat dari Efrain dan ia begitu terkejut setengah mati. Mendapati rumah Efrain bukanlah rumah biasa, melainkan sebuah istana megah.
“Ayo masuk!” seru Efrain membuyarkan keterkejutan Alda.
menuntun tangannya, kalau tidak Alda pasti pingsan karena tangan dan kakinya gemetaran.
“I-ini benar rumahmu, Ef?” ulang Alda masih tidak percaya, kendati masih syok.
Tawa kecil menguar dari bibir pria tampan yang bermata biru ini. Tanpa banyak omong lagi, langsung menggandeng Alda untuk diajaknya masuk ke Anoola Castel itu.
Selain berbentuk sebuah istana megah layaknya replika istana Buckingham di Inggris yang memiliki luas layaknya taman golf.
Baru saja memasuki gerbang, sudah terlihat banyak pria sangar dengan tubuh kekar dan berperawakan tinggi berjaga-jaga. Mereka semua menaruh hormat pada Efrain dengan menundukkan kepala dan tak berani mengangkatnya sebelum Efrain pergi.
“Tuan, Ef,” sapa mereka semua.
Efrain hanya mengangguk sebagai balasan, Alda semakin takjub tapi juga ketar-ketir. Bahkan saking banyaknya ruangan di sana, ia takut tersesat.
“Wow! Castel mu luar biasa megah, Ef. Aku … Belum pernah melihat istana begini secara langsung dan ini seperti mimpi,” ucap Alda naif, sedangkan Efrain hanya mengulum senyum memandang Alda yang tak berhenti berdecak kagum.
Kekagumannya belum selesai, pintu lift tiba-tiba terbuka. Alda dan Ef sampai di lantai tiga. Melewati lorong beralaskan permadani, di tiap dinding aksennya terbilang sangat mewah dengan kilauan emas.
Seandainya jiwa antagonis Alda muncul. Mungkin emas-emas itu akan dicongkelnya dan dijadikannya sebagai pundi-pundi franc, yang justru akan membuatnya kaya raya secara mendadak tanpa perlu bekerja keras seumur hidup.
“Ini kamar mommy dan daddy ku. Apa kau tidak keberatan masuk atau… Tunggu di sofa luar?” Ef tidak ingin memaksa, takut jika nanti Alda berpikiran buruk tentangnya di kamar berduaan.
“Oke.”
Tapi fokus Alda malah tertuju ke sebuah kamar, dengan sebuah gantungan unik bermotif batman di depan pintu. Hati kecilnya memaksa kuat, agar ia harus masuk ke dalam sana saat itu juga.
Efrain seolah tahu pikiran Alda, lalu ia memberitahu, “itu kamarnya, Rich.”
“Ah,” sontak Alda menggigit bibir bawahnya, menoleh pada Ef yang berekspresi datar. “Maaf aku tidak bermaksud,” genggamannya diperkuat supaya Ef tidak cemburu.
Mata Ef mengerjap. “It’s oke. Kau mau lihat-lihat? Masuk saja, tidak dikunci, kok. Aku ke kamar momku dulu.”
Ef melepas genggaman Alda, kemudian masuk ke kamar mom-nya terburu-buru. Melihat sikap Ef yang tenang, Alda pun lega dan tidak ragu lagi untuk memasuki ke kamar Rich setelah mendapat izin.
Wush!
Parfum sandalwood menerobos indera pembau Alda, menyambutnya ketika baru saja ia berada di dalam kamar mewah itu. Bahkan Alda seolah bisa merasakan kehadiran Rich.
Wajahnya, gayanya, tatapan mesum itu dan ketengilannya saat menggoda. Terbayang-bayang mengikuti ke mana pun Alda melangkah di kamar kosong itu yang sangat tertata rapi berciri khas manly.
“Ah, kenapa aku jadi mengingatnya terus?” gumamnya mengetuk kening berulang ulang. “Ini tidak benar, lupakan ia Alda. Ef yang terbaik!”
Tapi, sekeras apapun Alda melupakan Richard. Nyatanya itu sangatlah sulit. Aroma, sentuhannya yang panas dan bayangan Rich selalu bergentayangan di otaknya.
“Rich, maafkan aku…” kalimat sakral ini, lolos dari bibirnya saat menyentuh bingkai foto masa kecil pria tampan itu yang berada di depannya.
Senyumnya mengembang, ia teringat akan seseorang dan memfoto bingkai itu.
“Bahkan di usia lima tahunan saja, ia sudah terlihat tampan. Astaga! Kenapa aku baru menyadarinya, sekarang?” Alda membekap mulut, takut seseorang mendengar.
Buru-buru ia berbalik mengecek ke pintu.
“Huh, aman!!” desisnya menelan ludah. Alda hendak pergi dari kamar itu setelah menaruh bingkai foto masa kecil Rich, tapi tali shoulder bag nya tersangkut pegangan laci.
Ketika berusaha dilepas, tidak sengaja laci itu pun malah terbuka. Mata Alda terbelalak lebar-lebar, tangannya ikut gemetar meraih beberapa lembar foto candid dirinya di dalam laci itu.
“Rich menyimpan fotoku? Ini kan …”
Tubuh Alda mendadak lemas dengan mata berkaca-kaca saat membaca tulisan di balik fotonya. Membaca kalimat per kalimat ungkapan hati Rich sambil berurai air mata.
*
*
Kau itu sangat manis kalau sedang tersenyum, entah kenapa aku tergila-gila padamu. Alda Danurdara, kau itu berbeda dengan gadis lain. Melihat kau dari jauh saja, sudah membuat jantungku lompat-lompat seperti yoyo. Tapi, kenapa kau tidak pernah menyukaiku? Padahal aku tulus mencintaimu.
Bagaimana cara meyakinkan kau, Alda? Ya, aku memang brengsek. Tapi sebejad-bejadnya aku, juga ingin memiliki cinta sejati yaitu kau.
Love you–– Richard love Alda.
*
*
Tuhan…
Alda meremas dadanya, sambil memejam mata. Sebuah panah telah menancap kuat, hingga parfum sandalwood yang ia hirup. Kini tergantikan parfum musk yang ia tahu jika itu adalah Efrain.
Gugup tentu saja, ia seperti maling ketahuan. Segera menutup laci dengan bokongnya terburu-buru dan sewaktu tubuhnya berbalik. Alda berjengit, Efrain sudah berada di hadapannya dengan memasang wajah datar.
“Sedang apa?”
“Ti-tidak sedang apa-apa. Ha-hanya lihat sekeliling, i-iya be-begitu, Ef.” Alda gugup setengah mati dengan wajah berubah pucat.
Efrain terus menatap wajah Alda, gadis itu mengerjap saat jemari besar Efrain mengusap air matanya di pipi. Alda bahkan nyaris menahan nafas, tidak bisa mengartikan ekspresi datar Efrain saat ini.
“Kau tidak sedang bermain hati, kan? Bibirmu ini, pernah berucap mencintaiku.” Efrain menyentuh bibirnya, seketika membuat Alda ketakutan.
“Iya, aku mencintaimu, Ef. Dari dulu malah.”
“Gara-gara cintamu, aku dan saudaraku harus berpisah. Pengorbanan besar yang harus kubayar mahal ini jangan sampai kau sia-siakan,” kata Ef yang tetiba menarik tengkuk Alda.