
“Hah, serius? Terus kau setuju?” tanya Eve terlihat terkejut, ia tak pernah membayangkan jika Alda kembali ingin ke Indonesia sebagai pelabuhan terakhirnya. “Kau menyerah?”
“Adakah alasan untukku tetap tinggal di Kongo?” mata Alda dipenuhi genangan embun.
Mulut Eve seketika terkunci, berat suaranya keluar saat dia tak bisa memberikan alasan demi alasan untuk menahan Alda.
Giliran Yessa membujuk. “Maaf, Madam Dara. Lalu bagaimana dengan nasibku? Selama aku bekerja di Kongo, aku belum pernah menemukan Bos seperti Madam. Madam adalah sosok Bos yang sangat baik padaku, juga idolaku. Jika Madam pulang, aku harus ikut siapa? Di mana lagi aku bisa menemukan Bos seperti Madam?” Yessa berharap Alda berubah pikiran, karena hanya pada Alda dia bergantung selain merasa cocok bekerja dengannya. Dia juga tulang punggung keluarga, “Tidak diupah pun tidak apa, Madam? Please …”
Wajah Alda tertunduk lesu sambil memejam mata. “Tak ada yang bisa kulakukan di sini lagi, Eve, Yessa. Hidupku sudah hancur, begitu pun karirku. Semua orang tak mau lagi menggunakan jasa make up ku. Sekarang ... Aku tak punya alasan lain untuk tetap tinggal di Kongo.” Kemudian dia menghempaskan punggungnya ke head board. “Kau bisa bekerja di tempat lain dulu, Yessa. Terima kasih kau sudah banyak membantuku selama ini, mungkin jalinan kerjasama kita terputus hari ini dan terimalah pesangonmu.”
Yessa menyeka air matanya yang jatuh setelah mendengar pernyataan Alda yang menyayat hati. Dia menolak pesangon dari Alda tanpa mengurangi rasa hormat. Tetapi, Alda kekeh memaksa.
“Ayolah, Yessa! Ambil, jika tidak. Aku akan merasa berdosa sudah menahan gaji karyawan yang paling kusayangi.”
Terpaksa Yessa menerimanya walau melihat amplop itu seperti bisa menerobos ke masa depannya yang suram. Tak kalah sedih, Eve pun seketika berhambur memeluk Alda yang menumpahkan air mata di bahu sahabatnya itu.
“Alda, jangan menyerah. Kumohon janganlah pulang ke Indonesia. Kalau perlu aku akan mengatakan sendiri pada paman Morren supaya memberimu ijin tetap di sini. Aku tentu sangat kehilangan sahabat terbaikku jika kau pergi,” larang Eve. “Kita bangun kembali studio make up mu dengan nama baru dan aku akan memberimu bantuan dengan suntikan dana?” tawarnya.
Alda menggelengkan kepala sebagai tanda menolak secara halus.
“Kenapa?” tanya Eve mulai putus asa.
“Maaf, Eve. Aku sudah tidak bisa menentang keputusan papa, dia sangat marah besar ketika aku menceritakan semuanya.”
Eve tampak kecewa mendengar itu, tubuhnya mendadak lunglai. Pelukannya terlepas sendiri dari Alda.
“Kenapa hidupku bisa sesial ini, Eve? Apa aku tak berhak bahagia?” tanyanya semakin membuat Eve tak kuat menahan air matanya.
“Tidak, Alda. Semua orang pun pernah mengalami cobaan hidup …”
Alda memotongnya. “Tapi tidak seberat aku, Eve. Aku terjatuh, terbangun dan terjatuh lagi. Pria yang paling kucintai mengkhianatiku, mungkin juga setelah mengetahui kabar ini. Rich membenciku.”
Eve bertambah bingung, keningnya mengerut. Kini, memandangi Alda dengan tatapan datar. Ia merasa Alda masih mencintai Rich.
“Apakah kau ingin menemui Rich untuk berpamitan seperti dulu? Ataukah kau menaruh harapan padanya untuk kembali? Jangan gila Alda. Meludah kau jilat sendiri!” daripada penasaran, Eve menanyakannya langsung.
“Kali ini tidak.”
′°°
′°′°
Rich tak menemui Cello sejak hari itu. Panggilan telepon darinya bahkan selalu di reject. Menghindar bertemu dengannya, tak pulang ke rumah atau ke apartemen dan kali ini sengaja menonaktifkan ponselnya agar tidak diganggu oleh Cello. Namun, Rich masih punya cadangan ponsel lain yang Cello tak tahu dan spesialnya hanya Alda yang diberitahu walau mantan-nya itu tak lagi menghubungi.
Di malam pertemuannya dengan relasi bisnisnya yang baru dari Singapura. Rich ditemani Firheith, akhirnya memperoleh kesepakatan final bisnis yang menguntungkan. Berbagai jenis napza, terutama s*b* dan g*nj* yang diminta akan segera disiapkan dan diselundupkan melalui kapal laut minggu depan ke negara Macan Asia.
“Separuh transferan ini hanya sebagai DP Tuan Rich, sisanya ketika kapal diberangkatkan,” kata relasinya itu usai menjabat tangan Rich.
Rich tersenyum. “Oke, Tuan Cheng. Terima kasih banyak dan jangan sungkan menghubungi tangan kananku.” Kepala Rich menoleh pada Firheith yang mengangguk. “Jika kau membutuhkan barang itu lagi.
“Siap, Tuan. Senang berbisnis denganmu,” ucap Tuan Cheng berdiri.
Keduanya berjabat tangan sambil tersenyum ketika sama-sama puas mendapatkan apa yang diinginkan, setelahnya Tuan Cheng lalu pergi dikawal para bodyguard-nya. Meninggalkan euforia tersendiri bagi Rich yang ingin merayakan keberhasilannya dengan berpesta di sebuah diskotek.
“Tambah lagi minumannya, Fir. Yuhu!” teriak Rich sambil mengudarakan botol sampanye sambil memeluk dua wanita penghibur.
Pipi Firheith diberi kecupan, Rich memberi tepukan dari sana.
“Wow! Hajar Fir, buat dia lumpuh sampai pagi!”
“Diam kau teman laknat!” sahut Firheith yang tertawa kemudian memeluk penari striptis tersebut yang berbisik nominalnya. “Oke, aku setuju.”
Firheith sudah tak sabar ketika antenanya telah mencuat sedari tadi bertegangan tinggi. Penari striptis tersenyum menggoda digandeng Firheith keluar dari diskotik. Untuk menghabiskan malam panas di sebuah hotel. Sementara Rich hanya setengah bersenang-senang karena tak berselera pada mereka.
...----------------...
Tak terasa seminggu terlewati. Beriringan napza yang diselundupkan lewat kapal laut, Firheith pun membawa kabar buruk. Jika Sat Polair telah menahan kapal milik Rich, setelah melakukan inspeksi mendadak. Biasanya Rich tahu informasi itu, dari mata-matanya. Namun, kali ini perhitungannya meleset.
“Tuan Cheng juga membatalkan pembeliannya secara sepihak karena barangnya gagal kirim. Uang DP juga dimintanya kembali,” lapor Firheith yang tampak gusar, meskipun berbagai koneksinya telah dihubungi untuk mengurus kapal itu nyatanya gagal.
“Holy ****!” Rich menggebrak meja, begitu kalut meremas rambutnya dan membenturkan kening ke meja. “Aakh! Kita rugi besar, Fir. Kacau! Semuanya kacau.”
“Kacau bagaimana?” Firheith sudah was-was dengan nafas memburu menanti jawaban dari Rich. Duduk lalu berdiri, mondar-mandir tak tenang.
“Saham Fire Base juga anjlok!”
“Bangkrut? Diambang kehancuran maksudmu?” ulang Firheith dengan mata melotot kendati sangat terkejut.
Rich menarik nafas panjang, wajahnya berubah sepucat salju.
“Ya, aku rugi besar. Tinggal sweedie bar yang tersisa,” kata Rich cukup membuat lega.
“Fiuh, selamat.” Firheith tersenyum, tak lama senyumnya memudar setelah Rich mendapat telepon dari Melvyn— orang kepercayaan-nya yang mengelola Sweedie Bar.
{Senor Rich, Anda harus cepat mengkondisikan keamanan Sweedie Bar di Kikwit. Saya meminta tambahan anak buah, karena Sweedie Bar cabang Kinshasa dihancurkan oleh gangster Black Shadow. Anak buah kita bertumbangan.}
“H*ly ****!” umpat Rich sangat murka. “Aku akan mengirim anak buah ke sana, sekaligus aku yang akan menangani mereka juga.”
{Baik, Senor.}
“Kabari aku terus perkembangannya dan jaga dirimu baik–baik,” pesan Rich.
Telepon dimatikan, Firheith tak perlu bertanya lagi mengenai tugasnya. Jika wajah Rich sudah merah padam, artinya ada masalah besar yang harus dituntaskan. Firheith menyuruh anak buahnya menyebar. Sepuluh orang dimintanya berjaga-jaga di Kikwit yang merupakan pusat Sweedie Bar beroperasi.
DEZIING.
Letusan peluru menyambut kedatangan Rich dan Firheith di Kikwit, keduanya segera berlari pontang-panting sambil memegang revolver untuk bersiap menyerang.
DOORR DOORR!
Tembakan dipusatkan pada Rich begitu mereka melihat Rich muncul, satu lagi pada Firheith yang diarahkan ke kaki.
KLAAANG!
Meleset. Peluru mengenai drum ketika bersamaan Rich dan Firheith berlindung di baliknya. Rich memberi balasan, trigger baru akan ditarik tetapi belum sempat peluru lolos dari lubang revolver miliknya. Benda keras ditempelkan ke kepala Firheith dan Rich dari belakang.
“Jangan bergerak atau nyawamu melayang di tangan kami!”