Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
76. Donor Darah



Sebelum Alda yang terlihat ragu itu sempat menjawab. Langkah kecil Noah telah mendahuluinya. Noah menghampiri Rich dan bertanya, "Om Rockie wajahnya kenapa kok seperti buah busuk?"


Alda seketika mengatupkan bibir dengan ekspresi tegang. Tidak  Morren yang terus merengut sejak awal kedatangan Rich ke rumahnya. Namun, demi menjaga nama baik Morren. di depan anak kecil itu Rich sengaja berbohong.


"Oh ... Om habis terjatuh sayang, kemarilah! Om rindu pada Noah!" Rich pun tersenyum sambil menepuk-nepuk pahanya.


“Terjatuh?” Noah tak lantas percaya. “Mana ada terjatuh wajahnya sampai begitu, Om? Noah pikir, Om Rockie habis ditonjok orang.”


Rich menggigit bibir, karena menganggap Noah adalah anak yang kritis dan cerdas. Melihat Noah seperti cerminan dia sewaktu kecil. Namun, wajah tua Morren yang tampak ketar-ketir langsung bertindak menarik tangan mungil Noah secara tiba-tiba yang dibawanya ke dekat Alda. 


 "Ajak Noah masuk ke kamar!" suruh Morren bersikeras dengan nada suaranya yang tinggi, hingga Alda tak berani membantah.


"Ba-baik, Pi." Kemudian Alda menatap Noah dan membujuk. "Ayo sayang!"


Noah menggeleng. "Tapi Mami? Aku mau duduk sama  Om Rockie—"


"Tidak ada tapi-tapian. Nono bilang masuk, ya masuk! Jangan jadi anak pembangkang, Noah. Nono tak suka!" peringatnya membuat Noah terdiam dan menurut.


**


**


Kini, di ruang tamu hanya menyisakan Morren tanpa senyum dan Rich yang gelisah memikirkan pertanyaannya dari tadi yang belum sempat terjawab. Apalagi sikap Morren seakan menghalanginya untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi, hingga ia pun terbesit curiga jika Morren tengah menyembunyikan sesuatu.


"Ehm!” Rich berdehem mengurai kecanggungan. “Bisakah Tuan Morren menjelaskan siapa Noah sebenarnya dan dia anak siapa?”


Morren seketika berdiri tegak dengan gurat kaku. “Noah anak Mutia.”


“Kenapa jika anak Mutia? Tetapi Noah tidur di sini?” tanya Rich masih tak percaya dan merasa Morren berbohong.


“Dia hanya menginap saja untuk semalam, karena Mutia sedang pergi ke kota sebelah dan tak ada yang menjaga Noah di rumahnya. Jadi, Mutia menitipkannya di sini,” terang Morren yang terus diperhatikan oleh Rich selama bicara, pria tua itu sengaja menghindari tatapan Rich.


“Oh, begitu.” Rich manggut-manggut santai. “Ternyata saking akrabnya hubungan persahabatan antara Alda dan Mutia. Mutia sampai memperbolehkan putranya memanggil Alda dengan sebutan Mami ya, Tuan Morren?” 


Morren yang tersindir pun mengangkat wajah dan to the point menunjukkan ketidaksukaannya pada Rich.


“Apa maksudmu bicara begitu? Tak usah ikut campur urusan orang lain dan cepat pergi dari rumahku! Sudah larut malam, kami semua harus beristirahat!” tegur Morren yang tak ingin memperpanjang lebar, karena ia tahu jika Rich adalah pria yang cerdik, cerdas dan licik.


Rich melihat arloji di pergelangan tangan. “Masih jam delapan malam? Saya juga baru bertemu Alda dan belum selesai bicara—”


“Tak usah mengatur Tuan rumah! Terserah aku mau tidur kapan saja, itu bukan urusanmu. Sekarang keluar dari rumahku, cepat!” usirnya sambil menunjuk ke arah pintu.


“Please, Tuan Morren. Jangan halangi saya bertemu dengan Alda. Ada banyak hal yang perlu kami selesaikan."


Tetapi Morren terus memotong dan memaksa Rich untuk keluar dari rumahnya dengan mendorong-dorong tubuh pria itu lalu mengunci pintunya dengan rapat. Sedangkan Alda di kamarnya tampak sedih sambil mengusap rambut Noah yang kemudian ia peluk, supaya bocah itu lekas tidur.


“Mami,” panggil Noah yang melepaskan diri dari pelukan Alda sambil menatapnya lekat. 


“Ya, sayang. Tidurlah! Besok kau harus sekolah, jangan sampai bangun kesiangan.”


“Noah  rindu Papi, Mami. Bolehkah sepulang sekolah kita ke makam papi sebentar?”


Seketika pelupuk Alda digenangi air mata yang kemudian runtuh tanpa ia sadari. Hingga Noah mengusapnya dengan jari. Saat Alda mengerjap ke atas dan terpaksa untuk tersenyum.


“Jangan sedih Mami. Noah tahu, pasti Mami rindu papi juga, kan?”


Alda hanya mengangguk. Tak ada yang bisa dikatakannya lebih dari itu, karena dadanya terasa sesak. Ia tak ingin menunjukkan kesedihannya yang hanya akan membuatnya terlihat lemah di depan Noah.


“Oke, besok kita akan pergi ke makam papi sepulang sekolah. Tapi, Noah tidur dulu dan jangan lupa berdoa.”


“Yes, Mami.” Noah lalu melipat tangan dengan khusyuk, memanjatkan setiap doanya dalam hati sambil memejam mata. Termasuk  satu doa yang tak pernah lupa ia selipkan sedari kecil, jika ia sangat menginginkan papinya hidup kembali sehingga maminya tak terus-terusan bersedih.


**


**


Seandainya bukan Morren, Rich pasti sudah menghajar orang yang sudah berani bersikap kurang ajar padanya. Tetapi ia sadar diri, jika ia lah yang menyulut api permusuhan itu sehingga ia memaklumi sikap Morren dan kini dengan berat hati, ia terpaksa pergi dari sana tanpa hasil apa-apa.


Rich sudah mengendarai mobil ferrari tiffany blue-nya jauh dari rumah Alda. Ia terperanjat heran, saat melihat Mutia yang baru saja keluar dari sebuah mini market itu. "Kata Tuan Morren ... Mutia keluar kota itu berarti dia sudah ...!”


Daripada menerka jawabannya sendiri yang membuat kepalanya seakan pecah. Rich cepat memajukan mobilnya ke parkiran mini market itu, dan keluar dari mobil langsung menarik tangan Mutia.


"Rich? Apa-apaan ini? Tolong lepaskan aku!" Mutia coba memberontak, tetapi cengkraman tangan Rich begitu kuat. Hingga ia sulit melepaskan diri.


"Masuk ke dalam mobil!" desaknya menatap tajam pada Mutia.


"Tapi?"


"Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu," ucap Rich sambil menyetir.


"So-soal apa?" gugup Mutia takut melihat Rich yang sepertinya sedang marah.


Setelah Rich menyebutkan nama anak itu. Wajah Mutia berubah pias. Bahkan keringat langsung meluncur dari keningnya, di udara malam yang terasa dingin, terselimuti gerimis rintik-rintik.


"Kenapa dengan Noah? Dia sehat-sehat saja, kok? " kilah Mutia mengalihkan topik.


Rich menoleh tajam. "Noah anak siapa?"


Deg.


Mutia tegang, tubuhnya mendadak kaku dan lidahnya kelu.


"JAWAB!" bentak Rich yang tak bisa lagi menahan sabar, membuat tubuh Mutia berjengit kaget.


"N-Noah anak dari panti asuhan yang diangkat Alda menjadi anak—"


"Kau bohong!" tandas Rich bersamaan menginjak pedal rem mobilnya secara mendadak, sampai kening Mutia hampir menghantam dashboard mobil.


"Aku bicara jujur, Rich. No-Noah itu ..." ucapan Mutia terpotong oleh Rich.


"Tuan Morren mengatakan Noah anakmu dan sekarang kau berkata lain. Jangan mempermainkanku, Mutia! Aku sudah banyak bersabar selama ini dan aku ingin kau sekarang bicara jujur. Apakah Noah itu anakku dan Alda?" tatap Rich dengan harapan besar di matanya, tak sekalipun berkedip melihat Mutia yang pucat dan ketakutan.


Mutia tersudut, sekarang dia bingung harus bagaimana. Di satu sisi, kejujuran hanya akan berimbas buruk dan di sisi lain tak berhak mengatakan itu. Namun, seakan mendapat jalan tengah kecamuk dirinya sekarang. Begitu ia melihat Rendra yang kebetulan melintas. Mutia pun segera meneriakinya.


"Bli Rendra!"


Terdengar dipanggil, Rendra pun menghentikan motornya dan mencari asal suara. "Mutia dan pria sialan itu? Mau apa dia?!"


Mutia tak ingin buang kesempatan saat Rich lengah. Ia buru-buru keluar dari mobi ferrari nya dan berlari menghampiri Rendra.


"Tunggu, Mutia! Urusan kita belum selesai!" sergah Rich akan menyusul.


Namun, Mutia yang takut tertangkap oleh Rich pun, tak fokus saat menyebrang dan terus menoleh ke arah pria bule itu. Tak tahu jika dari arah berlawanan, ada motor tengah melintas. Sehingga tabrakan itu tak dapat dihindari lagi. Mutia terserempet motor tersebut dan terjatuh ke jalanan beraspal.


"Aaahhhh!" teriak Mutia yang berguling-guling ke jalan sebelum kepalanya terbentur batu sangat keras di pinggiran trotoar, yang mengakibatkan dia pingsan seketika.


"Mutia!" pekik Rendra dan Rich bersamaan dengan panik, melihat kejadian itu yang berjalan sangat cepat hingga tak sempat menolong.


"Bawa ke mobilku saja. Biar aku antarkan Mutia ke rumah sakit terdekat!" suruh Rich setelah Rendra mengangkat tubuh Mutia yang keningnya bersimbah darah cukup banyak.


"Ya, aku ikut denganmu!" ucap Rendra datar, sambil memangku Mutia di bangku belakang untuk menuju ke rumah sakit.


...----------------...


Rendra mondar-mandir di depan ruang UGD setelah menghubungi pihak keluarga Mutia, sedangkan Rich baru saja kembali dari bagian administrasi. Kini, ia melihat dari kejauhan seorang ibu-ibu datang tergesa-gesa.


"Di mana Mutia, Nak Rendra?" tanya Wa Kadek yang matanya sembab.


"Masih belum keluar dari ruang UGD, Wak. Semoga saja lukanya tak parah," jawab Rendra.


Wa Kadek terduduk lemas di bangku, Rendra berusaha menenangkannya saat wanita tua itu kembali menangis. Rich yang tak tahu harus bicara apa, duduk di pojokan memperhatikan.


"Bagaimana ini bisa terjadi, Nak Rendra? Katakan!" desak Wa Kadek, menyayangkan kecelakaan itu. "Hanya Mutia anak satu-satunya yang Ibu punya setelah bapaknya meninggal."


Rendra menceritakan kronologi kecelakaan nahas itu menurut versinya, lalu menunjuk Rich sebagai penyebab utama.


"Bule itu, Wak! Kalau saja dia tak mengganggu Mutia. Pasti Mutia tak akan mengalami kecelakaan!" tuduh Rendra yang membuat Rich mendapat sorotan tajam dari Wa Kadek.


Rich tentu tak terima lalu menjelaskan menurut versinya. "Tuduhan Rendra tak sepenuhnya benar, Bu. Mutia lari sendiri, saya hanya ingin bertanya tentang Noah. Tapi Mutia ketakutan—"


"Karena kau memaksanya, Rich! Jika tidak. Kecelakaan itu tak akan menimpa Mutia!" sanggah Rendra mengambil kesempatan.


Mereka berdua berdebat yang membuat kepala Wa Kadek semakin pusing. Rendra terus menyudutkan Rich dan Rich membela diri, karena ia merasa tak bersalah.


"Cukup!" teriak Wak Kadek lelah. "Siapa yang salah dan benar? Akan dibuktikan saat Mutia sadar nanti!" ucapnya menengahi dengan ekspresi marah.


Kebetulan dokter baru saja keluar dari ruang UGD menemui mereka semua dengan wajah cemas, sehingga Wa Kadek jadi semakin gelisah.


"Pasien mengalami gagar otak, Bu, Pak. Dia juga kehilangan banyak darah dan sayangnya di rumah sakit ini kami kehabisan stok darah AB negatif. Apakah di antara pihak keluarga pasien ada yang mau mendonorkan darahnya?" tanya dokter setelah melepas masker.


Renda menyahut. "Darah saya A, dok."


"Maaf, tidak bisa Pak Polisi." Dokter menggeleng lalu menatap Wa Kadek. "Kalau Ibu sendiri?"


"Golongan darah saya juga A, mendiang ayah Mutia yang memiliki golongan darah sama dan pamannya. Tapi dia berada di Jawa," jelas Wa Kadek.


Dokter mendesahkan napas. "Kalau menunggu dari rumah sakit lain takutnya tak terburu, Bu. Pasien butuh darah AB negatif sekarang.


"Ambil darah saya saja, dok. Saya bersedia mendonorkan darah saya. Kebetulan darah saya sama dengan Mutia," sahut Rich membuat dokter lega.


"Kalau begitu mari ikut saya Mister!"