Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
64. Diintai



“Apa yang kau katakan, Rich? Jangan bicara sembarangan!"


"Memangnya kenapa? Kau yang memancingku terus! Dan kau—"


Syuutt ...!


Cello menempelkan jari telunjuknya di bibir dan menarik tangan Rich. Dengan sebelah tangannya lagi mengangkat gaunnya yang lebar. Mengajaknya duduk ke sebuah ruangan khusus yang telah disediakan dan kini mereka berdua duduk bersebelahan.


Sesaat Cello menarik napas panjang, menghadap Rich yang duduk bersandar sambil menyalakan rokoknya. Cello membulatkan mata lalu merebut koreknya.


"Hey! Berikan koreknya padaku Cello. Mulutku asam, aku harus merokok!"


"Tapi tidak di ruangan ini, Rich. Apa kau lupa jika ruangannya ber Ac? Jika mulutmu asam, ada bibirku yang merubah keasaman bibirmu menjadi lebih manis. Kita bisa berciuman?" Cello langsung merapatkan tubuhnya ke tubuh Rich sambil memonyongkan bibir.


Rich menggeser duduknya lebih jauh lalu membuang muka ke arah lain. Sehingga Cello yang memejam mata dengan bibir maju itu, hanya mencium udara kosong.


"Aaahhh! Kenapa sekarang kau menyebalkan, Rich?!" Cello memaki setelah menyadari bibirnya kedinginan dan Rich tak membalas ciumannya.


"Bibirku sariawan, jadi aku tak bisa menciummu." Rich beralasan.


"Oooh ... Begitu." Cello tersenyum, kemarahannya pun mereda dan tak jadi berburuk sangka.


"Sekarang karena kau tahu alasanku. Berikan koreknya cepat!" Rich menagihnya saat koreknya itu, disembunyikan Cello persis di sebelah bokongnya duduk.


"No! Jika kau merokok di sini maka akan—"


"Akan apa? Bau rokok? Disemprot parfum kan, beres. Jangan melarangku Cello!" Rich mulai emosi.


"Ya ampun!" Cello merotasikan matanya. "Baby ... Akibat ulah merokok mu itu, akan memicu terjadinya kebakaran yang akan menghanguskan seluruh gaun-gaun di sini. Itukah maumu, hah?" kesal Cello pada Rich yang sulit diatur. "Bisa tidak bersikap lebih dewasa. Sebentar lagi, kita akan menjadi orang tua!"


Rich ngegas. "Kau saja yang jadi orang tua, aku tak mau! Lagi pula aku masih ingin bersenang-senang dan menghabiskan masa mudaku dengan berpetualang. Mengurus anak itu tugas wanita bukannya pria."


"Tapi anak ini, anak kita berdua, Baby." Cello memperjelas ulang. Ia menginginkan bayinya diakui oleh Rich.


"I don't care."


Ekspresi Cello menunjukkan tanda-tanda akan menangis. Entahlah, semenjak hamil. Hatinya mudah rapuh dan lebih sensitif. Apakah itu mungkin bawaan bayi? Menurut dokter sih, begitu.


Dan karena ia sudah lelah berdebat dengan Rich. Cello lah yang akhirnya mengalah karena rasa cintanya yang teramat besar dan sedalam samudera pada pria tampan itu. Perlahan, ia memeluk lengan Rich dan bermanja-manja.


"Baby ... Undangan pernikahan kita sudah dicetak dan sebentar lagi akan disebar! Sekarang bukannya aku yang mempermalukanmu tapi sebaliknya, jika kau bersikap seperti tadi," suara Cello berubah serak ketika mengatakan itu. Teringat pandangan semua orang di butik yang terarah padanya dan Rich. Tak terkecuali tantenya— Venesia Gordi yang seolah menaruh curiga bahwa hubungannya dan Rich kurang harmonis.


Cello mendadak mellow.


"Lalu?" Rich tak peduli, baginya hanya Alda yang kini terus memenuhi otaknya. Bahkan, ia mulai membangun rencana supaya di Indonesia nanti. Rich tak mendapatkan halangan bertemu sang pujaan hati.


“Tolong jaga sikapmu, Baby ... Apalagi di depan tanteku dan ya? Kau tahu, bukan. Daddy adalah sepupu tante Venesia. Jika kau berulah, maka dia akan melaporkanmu pada daddy … Aku hanya tak ingin kau berada dalam masalah,” peringat Cello.


Rich mengangguk. Dia mengajukan sebuah persyaratan yang menguntungkan dirinya sendiri. “Oke, tapi kau juga harus menurut dengan tantemu itu dan selama kepergianku ke luar negeri. Aku minta seluruh mata-matamu untuk tidak menguntitku!”


“What the hell? Nanti kau kabur? No!” Cello yang masih memeluk Rich menunjukkan jika ia tidak setuju.


“Tidak akan.”


"Bagaimana caramu supaya aku mempercayaimu?Setelah selama ini kau sudah sering mengkhianatiku, Baby." Cello meminta bukti karena ia tahu Rich suka bermain-main dengan wanita cantik dan seksi di luaran. Ia takut Rich tak akan kembali ke sisinya yang akan membuatnya menjadi janda sebelum resmi menikah.


"Apa perlu aku menjabarkan ulang semua yang sudah dibahas? Bukankah itu hanya membuang waktu? Dan ... Bagaimana aku dan beginilah aku. Kau tak akan bisa merubahnya Cello? Aku tak bisa setia dengan satu wanita. Terkecuali kau merelakan Alda menjadi istri keduaku. Barulah aku akan bertobat dan menjadikan kalian pelabuhan terakhir. Tapi, jika kau bersikukuh melarang. Jangan salahkan petualanganku belum berakhir."


"Alda lagi. Alda lagi!! Please ... Jangan sebut nama wanita itu, Baby." Cello menutup rapat kedua telinganya. "Aku sakit hati! Aku muak! Hiks ... Aku tak ingin dimadu." Mata Cello memejam erat. Ia jengah karena Rich selalu mengungkit Alda di setiap ranah pembicaraan.


Tidak bisakah Alda itu lenyap saja. Apa istimewanya Alda? Jika hanya buah dada dan bokongnya saja yang besar. Demi menambah volume itu dan menyamainya. Cello rela melakukan suntik silicone asalkan Rich tak pernah berpaling.


Sayangnya itu hanya mimpi belaka.


"Tidak bisa Cello. Aku sudah cinta mati pada Alda." Rich bicara jujur, pandangannya menarawang jauh. Hatinya selalu bergetar saat menyebutkan nama Alda. "Dia cinta pertama dan terakhirku."


"Haruskah aku berkata wow begitu?" Cello terlihat stress begitu mengutarakannya, karena tak dianggap itu sungguh menyakitkan.


"Boleh juga," kata Rich yang terdengar semakin menyebalkan. "Jadi intinya, kau memperbolehkanku beristri dua?" Rich tersenyum lebar.


Rich menyugar rambutnya ke belakang kemudian tertawa terbahak-bahak dan membuat ekspresi marah Cello jadi keheranan.


"Kau terlalu sering nonton film Bollywood, Cello. Di dunia ini tidak ada hantu yang ada, kau akan dihantui rasa bersalah. Karena telah memisahkan dua hati yang saling mencintai!" sanggah Rich.


Cello menjebik kesal, air matanya tumpah sambil memukuli Rich. "Ya Tuhan. Kenapa aku sangat mencintaimu? Padahal kau ini manusia menyebalkan di seluruh dunia ... Hiks, hiks. Aaaahhh! Aku tak pernah menonton film Bollywood tapi drama Korea!!" jerit tangisan Cello merebak.


Dan Rich hanya ber "Oh" ria. "Well, bagaimana keputusanmu soal mata-mata itu? Kita sudah banyak ngelantur ke mana-mana dan tidak menemukan jawaban pasti. Padahal aku menunggunya sedari tadi."


Sabar ... Sabar Cello ...


Dia memejamkan matanya dan menarik napas panjang. Sebenarnya baginya ini berat, Rich bisa saja membohonginya. Akan tetapi, dia teringat satu hal. Kenapa ia harus takut? Kedua orang tua Rich dan seluruh keluarganya ada di Kongo.


Tentu saja Rich tak berani macam-macam karena pria itu pasti tak ingin terjadi hal buruk pada keluarganya.


Sepertinya juga sebagai antisipasi. Mulai besok, dia harus mengakrabkan diri pada calon mertuanya untuk mengambil hatinya. Siapa tahu jika Mommy dan Daddy-nya bisa dia taklukkan. Perlahan-lahan putranya yang bastard ini juga bisa luluh.


“Baiklah, tapi katakan padaku. Kau ada urusan bisnis ke mana selama seminggu?” tanya Cello menyelidik.


“Ke Melbourne.”


“Maksudku ke Melbourne itu tujuan bisnismu ke kota mana? Melbourne itu luas baby.” Cello mendesak dan harus tahu.


“Apa harus sedetail itu? Kau sudah seperti polisi saja.” Rich tak suka dikekang dan Cello memulainya lagi hingga mood-nya kembali memburuk.


“Ini ngidam, Baby. Bukan aku, tapi atas kemauan bayi kita?” Cello beralasan sambil menyentuhkan telapak tangan Rich ke perutnya. Tetapi, Rich menjauhkan tangannya. Sehingga Cello menarik lagi tangannya yang kini agak memaksa.  “Sekali-kali, sebagai ayahnya. Kau juga harus merasakan pergerakan bayi kita.”


Rich geram dan terpaksa mengikuti kemauannya. "Oke." Tapi anehnya ia tak merasakan apa-apa. "Cello! Janin tiga bulan itu baru berupa kecebong, belum berbentuk. Sekeras apapun kau menyuruhku merasakannya, yang ada aku hanya mendengar isi perutmu yang keroncongan."


"Oia, aku lapar." Cello nyengir. "Temani aku makan?"


"Baiklah. Tapi urus gaun pernikahan itu dulu dengan cepat atau jika kau lama. Maka kita tidak usah makan bersama, karena aku hanya punya sedikit waktu. Aku sibuk!"


Cello mengangguk pasrah dan beranjak keluar dari ruangan itu. Mengurus segalanya sesuai permintaan Rich. Setelahnya hanya sekadar makan bersama lalu Rich mengantarnya pulang.


°°


°°


Rich menuju sebuah lokasi, sesuai yang disepakatinya bersama Firheith. Tetapi di separuh perjalanannya, dari arah spion ia melihat hal yang tidak beres dari kejauhan.


Feelingnya benar, semenjak keluar dari mansion Cello. Dirinya merasa diikuti oleh mobil lain dari kejauhan. Sehingga ia membelotkan mobil Pagani yang dikendarainya ke arah berbeda.


"Sialan! Kau membohongiku, Cello!" Rich memukul setirnya dengan keras, begitu ia menyadari sebuah tanda khusus di mobil pengintai itu.


Logo cetakan elang yang sangat kecil jika tidak jeli dan hanya orang tertentu saja yang bisa mengetahuinya. Terutama mafia seperti— Rich. Mereka meninggalkan jejak, ketika logo elang itu tak tertutupi seluruhnya oleh lumpur yang sengaja dibalurkan mereka di sebelah plat nomor.


"Kau sudah mengecewakanku Cello, Tuan Izakh. Mau bermain-main denganku, hah? Oke! Akan aku layani!" Rich berseringai tajam, membawa mobilnya seperti biasa seolah tak tahu jika tengah diikuti dari belakang.


Di depan persis mobil pagani milik Rich melaju, sebuah truk pengangkut BBM berkendara normal sesuai alur jalan. Rich memperoleh peluang dan terbesit sebuah rencana dadakan.


Begitu dari arah berlawanan sepi. Rich menarik tuas gigi, menambah kecepatan odometernya secara penuh dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Seperti di sebuah arena sirkuit balapan mobil dan menyalip truk besar itu. Swuuusssh!! Rich memutar setirnya ke samping dan mengisi ruang kosong di depan truk pengangkut BBM yang kebetulan sesuai prediksinya setelah itu, kendaraan mulai ramai saat melewati area pasar.


Kondisi jalanan tampak lengang setelahnya, mobil Fortuner penguntitnya maju dan diperkiraan waktu yang tepat mobil Fortuner akan memepetnya.


Rich yang melihat sisi kirinya kosong, meskipun harus bertabrakan dengan trotoar dan jalanan bergelombang tak rata. Ia yang sudah terbiasa balapan liar di jalanan adrenalinnya pun terpacu.


BRUKK, BUKKK!!


Membuat Rich di dalam mobilnya terguncang-guncang ketika ia perlahan-lahan menepikan pelan mobil pagani-nya dan ... Laju mobilnya kemudian dibuat mundur lagi ke belakang truk pengangkut BBM tepat di belakangnya kosong.


Rich tersenyum berhasil mengecoh mereka. "Rasakan itu bajingan!!" Sengaja mengemudikan mobilnya seperti keong sembari menunggu mobil Fortuner menjauh dan di detik berikutnya prediksinya tak meleset. Rich pun memutar haluan mobilnya lagi ke arah semula.


Bersambung ...