
“Rich.”
Panggilan dari suara lembut itu dan tepukannya. Richard menoleh dengan gerakan tak acuh ke belakang. Namun, kelopak matanya terangkat bersorot tajam hingga melipat kening. Saat ia menyadari siapa sosok di hadapannya.
“Celoraine Delaila Izakh.”
“Bahkan dalam kondisi mabuk sekalipun. Kau masih mengingat namaku dengan lancar, Rich. Georgius!”
Celo— wanita cantik asal Belanda ini tersenyum lebar, menarik lesung pipinya yang tercetak jelas. Tanpa Richard tak tahu betapa bahagianya Cello bisa bertemu dengannya lagi. Kebahagiaannya bahkan tak bisa diukur dengan apa pun.
Ya, meskipun Cello hanya salah satu dari sekian banyak mantan kekasih, teman dekat atau kekasih dari Richard Louis yang tersebar di muka bumi ini. Mulai dari Asia Tenggara hingga Afrika Tengah, di mana ia dilahirkan.
“Otakku masih bisa berpikir jernih Cello. Hanya dua botol wine, tak akan pernah membuatku mabuk.” Richard menipiskan bibirnya sambil menggoyangkan botol wine di tangan, melirik Cello yang berdiri di hadapannya.
Cello tersenyum, “yeap. I believe it. Omong-omong, apa aku boleh ikut bergabung denganmu, Rich? Lama kita tidak bertemu semenjak putus. Maybe sekadar bernostalgia.”
“Duduklah, masih banyak bangku. Asal kau tak minta untuk kupangku.”
Terdengar kekehan kecil dari Richard, lalu meneguk wine nya lagi. Sementara Celo tidak sedikitpun meloloskan tatapnya pada sang mantan.
“Kalau kau mengizinkan, why not?”
Richard mengibaskan tangannya. “Sayangnya aku hanya bercanda. Kau terlalu serius, Cello.”
Tampak rona malu di wajah Cello yang membuatnya menggigit bibir. Demi menghilangkan malu itu, setelahnya Celo memesan sloki pertamanya dari Bartender.
“Barkeep!”
Seorang pelayan menuang tequila ke sloki milik Cello dan ia pun menyesapnya dengan gaya elegan. Tak lupa mengerling pada Richard, curo-curi pandang. Walau gurat tampannya kali ini berlukiskan tato jenis baru. Lebam-lebam bonyok. Berukiran elang, naga atau ular dari darahnya yang mengering.
Entahlah!
Namun di mata Celo, Richard masih tetap mempesona seperti biasanya dan membuat hatinya selalu berdesir.
“Kau nampak tidak baik. Wajahmu itu...” tebak Cello akan menyentuh wajahnya, Richard pun menghindar. Akan tetapi Celo yang khawatir dan tidak ingin membuang waktu. Antusias menarik tangan Richard lalu mengajaknya pergi. “Mari kuantar ke rumah sakit!”
“Tidak usah. Hanya luka kecil, nanti juga sembuh sendiri.” Richard menjawab santai sambil melepas pelan tangan Cello darinya.
“Heb je een probleem?” Celo pikir, Richard berada dalam masalah.
“Je bent zo kieskeurig!” Rich berdecak kesal, menganggap Celo terlalu cerewet untuk ikut campur urusannya dan ia tak suka.
Kemudian Richard pun beranjak dari tempatnya akan pergi. Namun, Celo mencegahnya.
“Maaf Rich. Aku berjanji tidak akan membahasnya lagi. Tolong kembalilah duduk, oke?”
Richard terpaksa menghempaskan b*k*ngnya lagi di kursi, dengan ekspresi datar.
“Aku menemanimu minum saja. Bagaimana?” bujuk Celo memperhalus sikap, ia tak mau Richard menjauhinya lagi gara-gara ini.
Bukankah impiannya selama ini, berharap bisa bertemu lagi dengan Richard? Menyambung ikatan yang sempat terputus. Kini, Tuhan berbaik hati mendengar doanya. Ini kesempatan bagus untuknya dan tidak mungkin datang dua kali. Jadi ia tak akan menyia-nyiakan itu.
“Wine lagi!” Richard meminta pada bartender. Entah sudah berapa botol yang telah dihabiskan, dari tadi pria itu tidak mau berhenti minum. Demi menyingkirkan ingatan suramnya beberapa waktu lalu.
Begitu pahit sampai mengguncang jiwanya dan mungkin juga, akan sedikit merubah karakteristik seorang Richard kali ini. Ia yang biasanya slengean kini tampak serius dan dingin.
Keberadaan Celo pun tak dianggap. Walau Richard sesekali merespon kicauannya. Lama kelamaan ia pun jengah, memilih pergi.
“Rich, kau mau kemana?” tanya Cello menyadari ditinggal sendirian.
Tidak ada jawaban. Ketika melihat pria incarannya itu sempoyongan, meninggalkan tempatnya tanpa permisi. Celo lekas membuntutinya.
"Berhenti Nona. Anda dan Tuan tadi belum membayar." Bartender menghadang Celo tiba-tiba, untuk meminta bayaran.
“Ck. Aku yang akan bayar semuanya. Brengsek kau, mengangguku saja!” Celo menggerutu di sela mengeluarkan kartu debitnya dari sling bag. Bola matanya tak berpindah, memperhatikan Richard begitu awas. Pasalnya ia tak mau kehilangan jejaknya lagi.
Struk pembayaraan baru saja keluar dari mesin, Cello tak sabar menunggunya yang dianggap membuang waktunya.
“Cepat!” sentaknya ketus ke Bartender yang menurutnya lamban.
“Terima kasih Nona, selamat datang kembali—”
Senyum Bartender gugur, saat Celo merebut kartu dari tangannya dengan kasar dan mendelik tajam. Terburu langkah menyusul Richard keluar dari Club.
What!
Di luar Club, Celo tak menemukan keberadaan Richard. Walau ia sudah mengamati sekitar tempat itu.
“Cepat sekali hilangnya Rich. Aaahhh!” bercampur kesal, kaki Celo menghentak jalan.
Hingga di saat Celo memutuskan kembali ke parkiran. Ia mendengar suara keributan dari arah berlawanan, Celo berputar badan, matanya memicing tajam untuk memastikan apakah itu Rich atau bukan.
tampak sedang berkelahi dengan tiga orang berandalan yang rupanya cari mati, salah pilih sasaran memalak orang.
BUKH!
DUGH!
“Ampun Tuan!”
“Kami minta maaf.”
Seperti kerasukan setan. Rich membabi-buta memukuli tiga orang berandalan itu sekaligus. Dia melompat tinggi kei atas tubuh mereka. Melayangkan tendangan lurus ke wajah, perut dan dada setelah jumping keduanya lalu berputar.
PAKH...!
Mementalkan tubuh para berandalan ke jalan sangat keras hingga mengerang kesakitan. Satu dari mereka berhasil kabur tunggang langgang. Sementara kedua berandalan jadi amuk pelampiasan kemarahan Rich lagi.
Lumayan dia butuh meluapkan emosinya dan kebetulan berandalan itu datang secara sukarela. Kasihan, senjata makan Tuan. Bukannya dapat mangsa, namun malah dimangsa.
"Matilah kau bajingan!” umpat Rich bengis. Ia menduduki perut seorang berandalan dan meninju wajahnya dengan brutal. “Aku benci semua orang yang mencampuri urusanku. Lebih baik aku mengantarmu ke neraka!”
BUKH!
Rich tak memberi kesempatan pada berandal itu, untuk membalas atau mengambil nafas.
Saat melihat satu berandal hendak kabur, kaki Rich menjegal punggungnya dan membuat berandalan itu tersungkur.
“Woi, mau lari ke mana sialan! Aku belum selesai bermain-main denganmu!”
“Aaarggh!”
Mereka kewalahan menangani kehebatan Richard dalam bertarung. Dalam hati menyesal dan berharap malaikat maut turun untuk mencabut nyawanya saja, daripada tersiksa begini.
Maybe setelah ini kalau ada kesempatan hidup, akan bertobat.
Palsu!
“Woi yang disana. Berhenti!” teriak dua algojo Club melihat pertikaian itu kemudian menghampiri.
Celo tak mau Richard celaka. Kakinya berlari mendekati Algojo yang memeluk arddari belakang. Melepasnya dari tubuh berandal yang hampir anfal karena dicekik.
“Lepaskan dia!” peringat Algojo nampak kesulitan memisah Rich yang menggulat mereka layaknya gurita.
“Dasar psychopat gila.”
Celo terengah-engah marah, menatap Algojo itu yang hendak memukul Rich dari belakang. "Hentikan!”
Mendengar suara teriakan Celo, dua Algojo melepaskan Rich dengan cepat. “Maaf Miss. Apakah anda—”
“Dia temanku, jangan sakiti dia atau... !” Celo menyorotinya tajam. Mereka seketika tunduk dan tak ada yang berani melawan.
“I-iya Miss.”
Celo memapah Rich. Menaikkan lengan kekarnya ke atas bahu, tangan satunya lagi merengkuh pinggangnya.
“Rich, kamu tidak apa-apa?” tanya Celo perhatian.
Yang ditanyai menggeleng dengan wajah merah padam. Masih berusaha menyerang berandal itu dan kepada dua algojo.
“Aku antar kau pulang ke rumah atau...”
“Ke hotel saja. Ambil dompetku dan tolong—”
BRUUKK.
Rich tak sempat meneruskan kalimatnya. Saat tubuh Rich mendadak ambruk tak sadarkan diri karena pengaruh wine.
“Hei kalian. Bantu aku membawanya ke dalam mobil!” suruh Celo.
“Baik Miss Celo.”
***
Anoola Castle.
“Puas sudah membuat putramu keluar dari Castle ini, Cal!” Trecy terus menangis sambil memarahi Cal habis-habisan. Ia kecewa padanya, membiarkan Rich pergi begitu saja. Sementara Ef dilarangnya keluar untuk mencari Richard.
Cal terdiam dengan arah pandangnya kaku, memegangi kepalanya duduk di sofa.
“Honey, sudahlah. Rich sudah besar, dia tahu mana yang baik dan buruk. Biarkan dia menyadari kesalahannya dan tidak egois jika menginginkan sesuatu.” Akhirnya Cal bersuara.
“Pelajaran apa, hah? Kau pikir dengan menyita semua asetnya. Rich bisa bertahan hidup di luar. Kita menghadirkan dia ke dunia ini dengan cinta, tapi kau malah menumbuhkan kebencian dalam diri anak itu!” sentak Trecy membentak Cal, sakit hatinya melihat anaknya terusir dari rumah.
Ibu mana yang sanggup terpisah jauh dari salah satu anaknya. Tidak ada! Apalagi melihat anaknya sengsara, tentu saja hidupnya tak akan merasa tenang.
“Trecy!” peringat Cal, memelototinya tajam sambil berkacak pinggang.
“Cal!”
Sepasang suami istri itu saling bersitegang dengan argumen-nya masing-masing. Sementara Cal yang tak mau ribut dengan istri tercinta memilih pergi ke ruang pribadinya menenangkan diri.
“Dad, tunggu!” Efrain akan menyusul.
“Biarkan Daddy-mu menyadari kesalahannya. Lebih baik kau carilah Rich!” Trecy menyuruhnya putra kembarnya itu yang juga mencemaskan keadaan Richard.
“Ya, Mom,” jawabnya patuh.
“Jangan sampai daddy-mu tahu, naik taksi saja dan jangan bawa mobilmu, Ef. Mengerti!” sergah Trecy bicara pelan, “kalau sudah bertemu dengannya, awasi saja dari jauh. Mommy akan sedikit lega walau hanya sekadar tahu kabar dari Rich.”
Efrain mengangguk paham, saudara kembarnya memang sulit didekati jika sedang marah. Kemudian Trecy nampak membisikkan sesuatu, sebelum putranya itu bergegas pergi untuk mencari Rich.
“Hati-hati, Nak. Mommy akan mengecek adikmu lebih dulu dan memanggil dokter, untuk memeriksa kandungannya. Jangan diambil hati kalau Rich marah. Mom yakin dia tak akan pernah menyakitimu.”
“Ya Mom. Aku juga janji tak akan membalas Rich.”
***
Di sebuah ranjang besar, Richard menggeliatkan tubuhnya saat matahari membias matanya lewat kibaran gorden yang tertiup AC pagi itu. Terduduk setelah bangun mengamati sekitar yang terasa sepi seperti hatinya kini. Lantas beranjak ke kamar mandi dan keluar agak terkejut, mengetahui Cello telah berada sekamar dengannya.
“Kau di kamarku?” tanya Richard agak risih, karena dirinya hanya mengenakan handuk saja.
Celo tak merespon, dirinya malah mendekat setelah meletakkan nampan berisi dua mangkok bubur dan dua cangkir kopi di atas meja. Ia terpukau, hingga matanya tak berkedip dengan jantung berdebar-debar memandang Richard.
Pria ini tampak mempesona di mata Celo, dengan rambut basah, perawakan kekar dan dada yang keras itu begitu menggoda.
“Ini hotel?” Richard mengalihkan topik. Matanya berkeliaran ke arah lain, bergerak tak nyaman akan kembali masuk ke kamar mandi. Tapi tiba-tiba Celo memeluknya dari belakang.
“Aku rindu kebersamaan kita dulu sayang. Aku masih mencintaimu,” papar Cello.
Richard melepaskan pelukan Celo, membawa wanita itu ke hadapannya dan menatap lekat.
“Kita sudah putus dan keadaanku sekarang berbeda Cel. Aku bukan Richard Louis lagi, tapi hanya Richard yang miskin dan tak punya apa-apa. Jangan pernah berharap lebih dariku.”
“Mengapa, ada apa dan apakah itu menjadi penghalangku? Tidak sayang. Aku menerimamu apa adanya. Kalau kau mau, kau bisa bekerja di perusahaan daddy-ku.” Celo memeluk Rich lagi, kini semakin erat.
Namun, Richard melepas pelukannya dan beralih duduk ke atas sofa. Ia tahu jika Celo terus menggodanya saat ini. Sayangnya ia sedang tak berselera, karena otak dan pikirannya sudah dikuasai oleh Alda.
“Beri aku kesempatan sayang...”
“No!” Richard menolak.
“Please, sayang. Aku janji, kau akan mendapatkan apa yang selalu kau sukai dariku. Seperti dulu?”
Richard mengernyitkan kening, saat Cello perlahan menarik lilitan handuknya.