Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
102. Bisa Pingsan Kalau Begini



Rich menyambar boxer dan mengenakan kaos tergesa-gesa. Alda sendiri memakai dress secara asal, sempat terkejut menyadari bekas ****** di leher dari cermin yang kemudian ia lilitkan dengan syal.


Ceklek!


Noah masuk, setelah  Rich membuka pintu. Wajahnya tampak cemberut dan air matanya berkurang.  Kini melihat kesal pada kedua orang tuanya yang tampak kucel.


"Kenapa lama sekali bukanya, Mi, Pi? Kalian ke mana saja?" protes Noah segera memeluk Alda.


Alda saling pandang dengan Rich mencari alasan tepat. Tak mudah mengelabui Noah yang kritis, salah-salah bisa terjebak sendiri. Sementara Trecy memperhatikan lantas menarik senyum. Tahu apa yang terjadi, sehingga mereka lama membuka pintu.


"Um ... mami tadi—"


"Itu kenapa seprainya berantakan, Mi?" tanya Noah menunjuk ke arah ranjang.


Kedua pasang mata Alda dan Rich terbelalak, seketika wajahnya pun menjadi pias dengan jantung berdebar-debar.


Jangan sampai ketahuan kalau keduanya habis bertempur. Bisa berbahaya.


"Anu, tadi mami cari cincinnya yang hilang. Jadi, papi membantunya," bohong Rich, meringis.


"Oh, ya?"  kaget noah. "Apakah sekarang sudah ketemu? Jika belum aku akan membantu untuk mencarinya—"


"Eh, stop!" kedua orang tuanya kompak melarang.


"Tidak usah, nanti papi akan berikan mamimu cincin yang baru. Hanya tinggal mengambil di C&L Diamond saja," enteng Rich.


Trecy kemudian pergi, di kamar itu hanya ada Rich, Noah dan Alda yang mengajaknya duduk di sofa.


"Sebenarnya apa yang terjadi sampai kau terlihat menangis dari layar monitor, Nak?" tanya Rich mengalihkan suasana.


"Aku benci Emily!" ucap Noah dengan bibir menekuk yang tampak kesal.


Tubuh Noah dibawanya ke atas pangkuan, Rich mengusap-usap rambut sang putra berusaha membuatnya tenang.


"Siapa itu Emily, Sayang?"


Alda mengangguk juga ingin tahu.


"Dia monster."


"Monster?"


Alda dan Rich saling lirik, kini mulai paham arah tujuan Noah ke mana. Rupanya ada gadis kecil yang membuat sang putra emosi.


"Ya, aku membencinya. Pokoknya aku tak suka pada Emily!"


"Apa dia pria?"  goda Rich.


Sontak mendapat sorotan tajam dari Noah. Melihat kemarahannya, Rich seperti melihat bayangannya sendiri.


"Dia perempuan Papi, bukan pria. Perempuan kecil yang berwajah monster. Licik dan cerewet!" ungkap Noah, nafasnya memburu.


"Oh, perempuan? Memang makhluk satu itu suka membuat para pria seperti kita resah ya, Sayang." Rich mengatakan itu terang-terangan, tapi mengerling pada Alda.


Alda hanya menaikkan alis sambil menarik nafas dalam-dalam.


"Betul, Pi. Seperti Emily itu, cucu dari temannya grandpa. Dia menyebalkan dan selalu mengatakan semua kuda di peternakan adalah miliknya. Termasuk kuda poni yang baru saja diberikan grandpa padaku!"


"Oh ... begitu ceritanya? Terus, terus?" tanya Rich lagi.


"Terakhir kali dia mencium pipiku? Aku marah, lah! Kan, mami pernah bilang. Kalau perempuan dan laki-laki yang bukan saudara, tak boleh ciuman," ungkap Noah mengingatnya dengan lancar.


Alda senang karena wajah Rich kini, yang tampak malu setelah mendengar perkataan Noah. Rich lalu mencubit pinggang Alda yang hanya berniat iseng. Sebelum merengkuh pinggangnya dan memeluk kedua kesayangannya itu menjadi satu.


"Papi menyayangi kalian berdua," ucap Rich tulus.


"We love you papi," timpal Alda dan Noah yang beriringan mencium pipi Rich.


***


Akhirnya hari liburan yang di nantikan tiba. Dua keluarga saling berpencar tujuan di bandara N'djili hari itu. Rich dan Alda memutuskan pergi ke Cape Town di Afrika Selatan. Sebelum honeymoon keduanya berkeliling dengan kapal pesiar nanti berakhir di Maldives.


Destinasi wisata ke disney land tetap menjadi pilihan utama bagi Noah. Pergi bersama  Cal, Trecy dan Rukma dengan membawa baby sitter. Juga asisten rumah tangga yang membantu perjalanan mereka nanti. Membuat bocah itu sama sekali tak keberatan berpisah sementara waktu dari kedua orang tuanya.


**


**


Cape town.



Pemandangan surga Cape Town membuat Alda tak berhenti terpukau. Rich sangat memanjakannya hingga Alda terasa dijadikan ratu oleh suaminya yang tampan itu.


Saat Rich membawanya ke segala tempat menakjubkan. Berkeliling jalanan sekitar lembah setelah mencicipi anggur terbaik dari perkebunan di sana, dengan mobil antik hanya berdua dan membawanya ke sisi hutan sepi,  bercinta di atas mobil itu.



Nafas keduanya berdesir cepat, setelah Rich membantu Alda untuk menurunkan dressnya kembali. Bibirnya  dicumbu sebelum mata keduanya bertautan dan Rich menutupnya dengan kain.


"Kenapa mataku ditutup boo?"


"Aku memiliki surprise untukmu, Sweety."


"Surprise?" suara Alda menunjukkan bahwa ia sangat senang sekali, walau lututnya kini lemas gara-gara Rich terus membolak balik tubuhnya.


"Aha?"


"Um, aku suka surprise. Apalagi  kau yang memberikan tampan. Aku sangat, sangat mencintaimu Rich ...."


Alda meraba-raba wajah Rich dan membenamkan ciuman di bibirnya.


"I love you too. Entah kenapa jika kau yang menyebut pujian itu juga? Aku seperti terbang dan semakin jatuh dalam pesonamu sweety. Katakan lagi, please?" pinta Rich sambil menggendong Alda dan mendudukkannya di jok mobil.


"Suamiku sangat tampan, perkasa, gagah, macho dan nakal. Aku suka semua itu. Ah! Kenapa aku baru menyadari ini sekarang?" sesal Alda dengan memeluk lengan Rich.


Rich tersenyum bahagia mendengar itu lalu membawa mobilnya ke landasan pacu. Di mana helikopter sudah menunggu.


**


**


Turun dari helikopter, tangannya digenggam erat untuk turun ke bukit gunung maja. Rich perlahan membuka kain penutup di mata Alda.


"Surprise!"


Alda membulatkan mata lalu berjingrak senang dan melingkarkan kakinya di pinggang Rich.


"Wow! Indah sekali, Boo."


Kini istrinya itu dapat melihat pemandangan luar biasa, gunung bergerigi yang memikat.



"Apakah kau suka pemandangannya, hum?"


"Suka sekali, apalagi berdua denganmu." Alda menyatukan hidungnya di ujung hidung Rich. "Kiss me, please?" rengeknya.


Bukan sekedar mencium, tapi Rich malah menundukkan kepala dan memenuhi mulutnya dengan buah dada itu hingga Alda memejam dan menggeliat erotis.


"Ahhh ... tadi kan, sudah?"


"Tapi aku ingin melakukannya di sini sweety," kata Rich yang tak tahan lagi jika berdekatan.


Langsung menurunkan Alda. Menancapkan miliknya sekali sentak. Bergerak tanpa batas, sementara Alda menahan kedua tangannya pada bebatuan. Tak bisa lagi menolak ketika suaminya sudah berkehendak.


Rich menemukan sensasi berbeda, saat bercinta kali ini. Ia  sangat puas, bisa  menyatukan tubuh saling melengkapi dari segala tempat.


"Ahhh ... ahhh!" lolongan keduanya menggema ke angkasa, berbaur sejuknya hembusan angin yang memicu gairah.


Terjangan cairan itu memenuhi rahim Alda lagi dan lagi, entah ke berapa kalinya Rich tanamkan. Hingga terkapar tak berdaya keduanya di atas bantal bebatuan, di mana Rich memeluk Alda sangat erat.


"Boo ... aku bisa pingsan kalau begini. Kau ... terlalu ganas." Alda  coba mengatur nafasnya yang terengah-engah.


Suaminya itu mengulum senyum sambil memandangi maha karyanya yang dibuat di leher Alda. Merah pekat, memenuhi seluruh kulit Alda yang putih.


"Ya, bagaimana sweety. Kau terlalu menggoda, hingga aku sulit melepaskan diri darimu?" ungkapnya yang membuat Alda kesal.


"Tapi tidak di sini juga, Boo. Kalau ada pesawat lewat?"


"Akan kutembak."


Mata Alda membulat sempurna dengan tubuh menegang. Kemudian Rich tergelak tawa sambil gemas mencubit kedua pipi Alda.


"Tenang saja sweety. Aku pastikan tidak ada yang berani mengintip, walau semut sekalipun. Karena suamimu ini telah mengatur semuanya. Lagi pula, aku ingin mengukir kenangan. Membuat adiknya Noah kali ini di beberapa tempat romantis."


Alda berperasaan was-was, jantungnya berdebar agak menjauhi tubuh Rich.


"Jangan katakan kalau kau akan mengajakku bercinta lagi, Boo? Di goa atau di atas rumah pohon dan ..."


Rich menggigit bibir dengan mata berputar sedang memikirkan sesuatu yang Alda takutkan.


"Kedengarannya, ide bercinta yang kau sebutkan barusan sangat bagus. Aku tak sabar untuk itu sweety?"


"Auwh! Boo, lepas!" jerit Alda saat pria itu tiba-tiba menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam helikopter lagi.