
“A-apa? Nafas buatan?” Rich mengulang suruhan Nick dengan tampang polos.
Nick menatap datar pada Rich sambil terus memeriksa Alda. Begitupun perawat yang ia perintahkan untuk melonggarkan sedikit baju Alda, supaya ruang udara bisa masuk ke pernapasannya dengan lancar. Bahkan Nick sudah berancang-ancang, jika nafas buatan yang dilakukan Rich nanti tak berhasil. Ia akan melakukan tindakan CPR (cardiopulmonary resuscitation).
“Bilang saja kau menunggu saat-saat ini,” bisik Nick ke telinga Rich yang seketika cengar-cengir.
“Jangan berburuk sangka.”
“Jangan mesum-mesum jadi lelaki! Naikkan harga dirimu sedikit, jangan kau jual murah?” sindir Nick balik dengan tersenyum jahil. Kendati obrolan itu hanya terjadi dan terdengar oleh keduanya. Bagaimanapun Rich beralasan, ia tak akan bisa membohongi Nick yang sudah tahu sepak terjangnya.
“Oke, huh!” Rich membuang nafas sambil mengempiskan perutnya ke arah bawah, agar miliknya juga beristirahat dalam damai.
“Kau siap?” Nick mengintruksi Rich untuk memulai nafas buatan pada Alda.
Rich menganggukkan kepala.
“Siap dokter sialan.”
Perawat terkejut mendengar Rich berani mengumpat dokternya, walau sempat dengar bahwa mereka saudara ipar. Tapi tidak begitu juga kali? Harusnya lebih sopan sedikit.
“Goddamn it!” balas Nick tak peduli. “Jepit hidungnya lalu katupkan bibir wanita itu.”
Rich memandangi wajah Alda dengan jantung berdebar, mendekatkan mulutnya ke bibir itu sesuai arahan Nick. Mengambil nafas dan akan meniupkan nafasnya. Tapi suara Nick yang dianggap mengganggu jadi menggagalkan konsentrasinya.
“Jangan terlalu kencang menjepit hidungnya, bastard! Dia bukan jepitan jemuran? Bukannya wanita itu kembali bernafas, kau malah akan mengantarnya bertemu Tuhan.”
“Brengsek!” mata Rich mendelik pada Nick yang santai. “Aku sudah tahu.”
Sementara orang-orang yang menyaksikan aksi penyelamatan wanita cantik ditolong superheronya itu, terperangah heran memperhatikan Rich dan sang dokter yang dianggapnya banyak drama. Padahal mereka tak tahu, mengatasi korban jika panik malah akan membuat kesalahan fatal. Menilik kondisi korban itu lebih dulu, parah atau tidaknya.
Mulanya Rich melakukan nafas buatan itu dengan benar. Meniupkan nafasnya pelan ke rongga mulut Alda hingga dua detik selama lima kali. Tetapi karena ia terlalu menghayati dan terbawa suasana. Jadilah ia merubah nafas buatan itu menjadi cumbuan yang lebih agresif.
Hingga Nick yang melihat adegan itu pun terhenyak membulatkan mata, sambil lekas memperingatinya pelan supaya berhenti. “Rich, wanita itu akan bangun! Hey … come on bastard, stop it!”
Tak mendengar peringatan dari Nick. Kini Rich telah menyadarinya sendiri jika Alda mulai terbangun dari pingsan, ia pun terburu-buru menarik dirinya menjauh.
“Uhuk!”
Alda terbatuk, Rich segera memiringkan kepala Alda yang ia pangku supaya tak tersedak. “Bruuh!” banyak air yang dimuntahkan Alda.
Perlahan wanita ini membuka mata dan melihat samar-samar, jika Rich tengah menyeka sisa air di bibirnya itu dengan tisu.
“Rich,” panggil Alda masih lemas.
“Tenang bunny, ada aku di sini.” Rich mengusap-usap pipi Alda, kemudian bertanya dengan suara lembut. “Apa ada yang sakit, hum? Di mana? Tanganmu, kau tak demam?” sambilnya memegang pergelangan tangan Alda untuk memeriksa dan menempelkan punggung tangannya ke kening wanita ini yang terus menatap Rich.
Sedangkan di tempatnya berjongkok, Nick menatap malas pada Rich. Seolah tidak ada gunanya dia berada di sana dan hanya dibutuhkan untuk melihat adegan roman picisan itu.
Sungguh terlalu! Harusnya ia tak usah datang saja.
Alda menahan tangan Rich, menggeleng pelan. “Aku baik-baik saja, Rich. Apa kau yang menyelamatkan aku?”
Rich baru akan menjawab, staf resto mendahului. “Iya, Nona. Kekasih Andalah yang menolong sewaktu Anda tenggelam. Bahkan ia tak peduli akan nyawanya sendiri, berenang ke tengah, lalu dia dengan berani menyelam ke dasar danau itu yang begitu dalam tanpa menunggu tim rescue!” seru staf itu berapi-api.
Padahal Rich sama sekali tak menyuruhnya untuk berkonspirasi, tetapi staf itu dengan sepenuh hati berada di pihaknya dan menceritakan penyelamatan Alda oleh Rich secara detail dibumbui versinya sendiri yang mendramatisir.
Tanpa sadar menggetarkan hati Alda, kemudian memandang Rich dan menggenggam tangannya. “Terima kasih banyak, Rich. Tolong maafkan aku yang salah paham denganmu.”
“Pssst …” Rich menempelkan jarinya ke bibir Alda, wanita ini seketika membeku. “Sudah kewajibanku menolongmu, Al. Jika terjadi sesuatu yang buruk padamu, maka aku tak akan memaafkan diriku sendiri.”
Alda terenyuh, Nick berdecak sambil memutar bola matanya.
“Ehem! Sepertinya korban sudah selamat, oleh karena itu aku sudah tak dibutuhkan lagi di sini. Sebaiknya aku harus segera kembali pulang, karena istriku tersayang pasti sudah menungguku di rumah, Tuan Rich yang terhormat!” katanya sengaja dikeraskan, membuat Rich dan Alda menoleh.
Namun, Alda keheranan mendapati dokter di depannya ini yang begitu akrab dengan Rich. Rich tahu gelagat Alda kemudian menjawab rasa penasarannya.
“Dia saudara iparku, kembaranku Bebell itu istrinya dr. Nick.”
“Oh!” Alda membulatkan bibir, karena baru tahu. “Bebell?”
“Bukan Bebelle, Nona. Istriku namanya Abelle Elena Fernando. Rich saja yang menjuluki begitu,” desis Nick tak terima istrinya dihina.
Richard malah tertawa, setelah ia membantu Alda berdiri. Sedangkan Alda yang tak menyukai sikap Rich itu langsung memberi tatapan tajam, sehingga Rich langsung bungkam.
“Dok, maafkan aku telah salah memanggil nama istrimu. Tapi, terima kasih banyak sudah menolongku,” ucap Alda sungkan.
“Sama-sama Nona. Sebenarnya di sini aku hanya memantau saja dan seperti yang staf kedai ini katakan. Rich lah yang menolongmu, bukan aku,” jelas Nick membuat Rich sedikit bergaya mengibaskan sedikit kemejanya ke atas.
Alda yang masih pucat hanya tersenyum melihat ketengilan-nya Rich. Lalu Nick memberi beberapa obat untuk Alda, salah satunya obat demam jika sewaktu-waktu nanti Alda mengalami hal itu.
“Titip salam buat Bebell, ya. Tapi ingat, jangan bilang posisiku di mana. Mengerti!” gertak Rich berbisik pada Nick.
“Hmm,” sahut Nick kemudian pergi bersama perawat setelah mengangguk pamit pada Alda dan menemui pihak manager kedai.
***
Di dalam mobil yang melaju normal di jalanan Kinshasa itu, Rich yang mengemudi duduk bersebelahan dengan Alda. Lebih tepatnya, Alda terpaksa mau di antarkannya pulang. Sebagai bentuk permohonan maaf dan rasa terima kasihnya sudah diselamatkan Rich.
“Apartemenmu di jalan apa, Al?” tanya Rich menoleh singkat ke Alda yang ternyata sedang tertidur pulas.
Rich kebingungan, akan membangunkannya pun antara tak tega, kasihan dan takut mengganggu. Karena ia berpikir kondisi Alda masih lemah. Jadilah ia memutuskan untuk membawa Alda ke apartemennya.
Setibanya di basement apartemen, Alda digendongnya ala bridal dengan hati-hati menaiki lift supaya tak bangun. Bahkan ia tak peduli atas pandangan orang-orang dan kemudian masuk ke dalam apartemennya lalu merebahkan Alda ke atas ranjang.
Tapi, tiba-tiba Rich melihat Alda menggigil dengan pakaiannya yang basah itu. “Oh, astaga. Apa aku harus melepaskan pakaiannya?”
Rich kelimpungan sendiri, mondar-mandir. Dan akhirnya nekat melepaskan baju Alda meski terpaksa menelan salivanya terus menerus. Bahkan di saat ia menutup mata agar tak tergoda. Tetap saja naluri bastard-nya sulit dikendalikan.
“Fuck it! Dia sangat seksi, huh!” Rich menarik nafas dalam-dalam. Sesuatu dalam dirinya berkecamuk.
Apalagi kini suhu tubuh Alda begitu dingin saat tersentuh Rich. Bibirnya pun bergetar dan tubuhnya pun meringkuk.
“Hii, dingin … dingin …” racau Alda sambil terpejam.
Rich benar-benar digentayangi dilema kuat. Antara harus menghangatkannya dengan selimut asli ataukah selimut palsu?