Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
23. Lebih dari Sekadar Luka



Dunia seakan berhenti berputar. Nafas Rich nyaris tersendat dan segera membuang mukanya ke arah lain, tidak sudi melihat percumbuan itu yang menyesakkan dada. Hati pria berwajah bule itu panas. Bukan main sakitnya hingga sulit dideskripsikan dengan kata-kata.


**** it!


Tidak disangka, Alda yang dikiranya pendiam, ternyata hari ini nampak binal. Seolah lapar, Alda lebih agresif mencium bibir Efrain. Sedangkan Ef diam tidak membalas pun tidak mengelak.


Entahlah apa karena  ia syok atau keenakan? Pasalnya, baru pertama kali ini Ef berciuman dengan seorang wanita.


Ia pria normal, setan mendorong naluriahnya. Tatkala sekujur tubuhnya diletup gairah membara. Otaknya mengirimkan signall kuat, menggerakkan bibirnya refleks membalas ciuman Alda.


Dipagutnya bibir lembab yang terasa manis itu, hanyut dalam rongga mulutnya yang hangat. Menekan tulang pipi Alda untuk memperdalam ciumannya tanpa henti. Alda tersentak, bak gayung bersambut keduanya mabuk kepayang.


Lupa diri jika ada hati yang terluka di sana, tengah memperhatikan keduanya yang asyik berciuman.


“Munafik!” lontar Rich berdiri seraya menyindir.


Ciuman mendadak terlepas. Ef sekilas bertatapan dengan Alda yang nafasnya sama sama  tersengal. Melempar senyum malu di wajah bersemburat merah. Tampak begitu menggetarkan nya, sebelum fokus nya buyar. Saat kembarannya memberikan apresiasi berupa tepukan tangan meriah.


“Wah! Siapa sesungguhnya player di sini? Saudara bajingan dan wanita murahan. Kalian berdua cocok sekali. Cuih!” Rich meludah, tepat di hadapan keduanya.


“Tolong jaga ucapanmu, Rich!” tegur Ef mendekatinya.


“Ohoho, kekasihnya membela? Luar biasa. Marvelous!” Rich manggut manggut, tanpa mereka tahu jika dunianya telah runtuh begitupun putuslah harapannya.


“Aku dan Alda hanya khilaf, Rich,” akui Ef menyesal tapi malah ditertawakan oleh Rich sangat keras.


“Silahkan dilanjut ciumannya atau kalian berdua mau tel*nj*ng di sini? Biar aku rekam sekalian, sebagai kenang-kenangan?” tawar Rich lalu sibuk mencari ponselnya. “Aha! This is it,” mulainya menekan kamera di layar dan mengarahkan pada mereka berdua.


Tangan Ef hendak merebut ponselnya. Namun, kalah dari Rich yang cepat menjauhkan dari jangkauannya.


“Ayo lakukan sekarang!” gegar Rich sangat murka. “Lucuti pakaian Alda, Ef? Atau mau kubantu tunjukan caranya, hah?” sindirnya lagi penuh kobaran dendam.


Genangan air mata mengumpul pada netra Alda, dengan tubuh mematung di tempat. Tangan Ef hampir melayang ke wajah Rich tapi ia urungkan.


“Cukup, Rich! Kau lagi-lagi melukaiku!” teriak Alda diiringi tangisannya yang pecah.


“Luka? Bukankah sebaliknya itu yang aku rasakan, dasar wanita murahan!” kecam Rich menohok. Telah kehilangan respect untuk Alda mulai hari ini.


“Aku tidak murahan, itu refleks saja.”


“Refleks tapi kalian berdua menikmatinya, kan? Cih. Mungkin jika aku tidak berada di antara kalian, pasti hotel menjadi tujuan kalian selanjutnya?” tuduhnya.


Ef dan Alda terdiam. Embusan nafas kasar Rich terdengar jelas oleh keduanya yang saling tertunduk. Persis  tersangka kena gerebek oleh polisi di sebuah kosan.


“Bisa kita bicarakan ini bertiga di tempat lain? Tidak enak kita ribut di pinggir jalan begini, Rich?” ajak Ef saat mereka bertiga menjadi pusat perhatian orang berlalu lalang dari apartemen.


Gawat lagi, jika berita ini tersebar ke media. Pasti Daddy-ny, Cal. Akan malu dan reputasinya tercoreng. Tapi Rich membuat gerakan tangan menyetop Efrain, supaya menjaga jarak darinya.


“Jangan maju atau aku akan menghajarmu lagi. Kesabaranku sudah habis, aku takut membunuhmu saudaraku yang tukang tikung?” Rich menyorotinya tajam. “Kukira kau sudah tidak punya malu lagi. Tapi kenapa sewaktu kalian berciuman mesra, rasa malu itu tidak ada. Bahkan dengan teganya kalian lakukan itu di depan mataku? Seolah kalian tidak mampu menyewa hotel saja?” imbuhnya lagi mengeluarkan luap kekesalan.


Ef diam saja terus dihina oleh Rich karena ia merasa bersalah. Sedangkan Alda masih menangis, tapi Rich tidak peduli atau pun iba. Karena ia terlanjur kecewa dan sakit hati.


“Jangan menangis, Alda,” toleh Ef pada wanita itu yang berada di sisinya berdiri. Tangannya hendak terulur menyeka air matanya.


Namun, urung dan hanya sebatas niat. Ia tidak ingin membuat Rich semakin membencinya dan cemburu buta.


Dada Rich terasa sesak sekali, kala melihat perhatian memuakkan itu. Tanpa pikir panjang, kakinya berbelot arah menjauhi keduanya untuk pergi.


“Rich, tunggu!” Ef mengejarnya lalu menyentuh pundaknya yang seketika dihempaskan dengan kasar.


“Ambil wanita murahan itu, aku tidak membutuhkannya lagi. Sekarang kuhibahkan ia untukmu. Bekas yang pernah kupakai!” seringai tajamnya menghunus bagai pedang, menancap kuat di jantung Alda dan Efrain.


Tubuh Alda seketika berguncang hebat mendengar penghinaan itu. Air matanya semakin deras mengucur.


“Rich, tidak. Aku…” Ef mengahalaunya pergi. Tidak ingin saudaranya menjadi salah paham.


“Tidak keberatan menerima Alda atau… Tidak sabar lagi menel*njanginya di ranjang, begitukah maksudmu? Ambillah bekasku itu saudaraku, wanita sampah sepertinya tidak akan pernah setia pada satu pria. Ingat!” Rich lalu melirik sinis pada Alda sekilas penuh kemarahan pasti.


Di mana Rich tidak akan pernah lagi mengganggunya setelah ini. Juga kemungkinan besar, cintanya untuk Efrain akan berbalas. Akan tetapi secara tidak langsung, Rich telah meninggalkan gangguannya lewat alam bawah sadar Alda.


**


“Dulu aku mati-matian memperjuangkan cintamu, tapi tidak pernah sekalipun kau anggap. Sekarang aku sudah pasrah. Ternyata benar katamu, Al. kita tidak cocok dan kau pun tak pernah mau untuk kumiliki.” Rich mengatakannya tanpa beban.


Alda membisu, pelupuknya memenuh. Suaranya bahkan tak mampu keluar dengan tatapan hampa.


"Oke, Al. Mulai detik ini, kau bebas! Aku tidak akan pernah mengejarmu lagi! Selamat tinggal, Alda!” ucap Rich mempertegas dan pergi begitu saja, tanpa menoleh lagi ke belakang.


Alda dan Ef bergeming, tercekat melihat punggung Rich yang lama kelamaan semakin menjauh dari pandangan.


Tanpa disadari, buliran jatuh membasahi pipi Alda dengan hatinya yang terlampau perih. Setelah mendengar salam perpisahan dari Rich.


Apalagi semenjak hari itu, kabar Rich tidak pernah lagi terdengar. Rich telah pergi jauh dan menghilang. Membawa separuh hatinya tanpa disengaja.


***


Sebulan kemudian…


Green Half sweet hotel bintang lima, di sebuah ballroom yang disulap indah dengan bentangan karpet bernuansa Arabian. Mix pesta ala Timur tengah, menyuguhkan pesta kaum elite yang memeriahkan resepsi pernikahan sepasang pengantin yang duduk di singgasana.


Tamu undangannya saja, dari kalangan atas. Mulai dari pejabat, pengusaha ternama dan bangsawan turut memberikan selamat. Datang berpasangan, begitupula Ef yang hadir sambil mengapit lengan Alda.


“Ahlan wa sahlan, my brother!” sambut Fahrazan—sang mempelai pria yang merangkul Ef, hadir sebagai perwakilan dari C&L Diamond. Sedangkan Alda berpelukan dengan mempelai wanitanya—Aiyna.


“Thank you, Fahrazan,” jawab Ef tersenyum.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Fahrazan sambil melirik Alda yang tampil serasi dengan Ef, mengundang penasarannya. Sebab baru kali ini, sahabatnya itu terlihat bersama seorang wanita. “Ia calonmu?”


“Kekasihku,” jawab Ef memberi isyarat agar Alda memperkenalkan diri.


“Hai Fahrazan, aku Alda Danurdara. Senang bertemu dengan kalian dan selamat atas pernikahannya. Semoga selalu langgeng dan diberi momongan,” doanya.


“Syukron, ukhti,” Fahrazan dan Aiyna kompak menanggapi.


“Bagaimana kabar Rich dan Abelle, Ef? Kudengar ia hamil? Wah, sayang ia tidak bisa hadir?” Keluh Fahrazan, Aiyna tidak tahu sejarahnya.


Bila pria keturunan Arab paten itu, yang kini menjadi suaminya. Pernah menaruh hati pada Abelle. Kendati rahasia itu hanya diketahui oleh Ef saja dan Fahrazan.


“Ya, dia sekarang tengah hamil. Suaminya bekerja sebagai dokter nefrologi dan merupakan pemilik Lazarius Royal Hospital, selain perusahaan fashion. Nick juga merupakan keponakan dari daddy ku. Kau sih, waktu pernikahannya tidak datang? Jadi tak tahu!” Ef menyindir.


Fahrazan condong berbisik di telinga Ef.


“Oh ... Kau tahu, mentalku belum siap ditinggal adikmu menikah dengan pria lain, bro! Sakitnya tuh, di sini.” Fahrazan menunjuk jantungnya.


“Hahaha, kau bisa saja. Istrimu juga cantik begitu? Sudahlah, lupakan masa lalu. Jangan aneh aneh!”


Fahrazan manggut-manggut.


“Tapi, masih kalah cantik dengan si cantik Abelle.” Fahrazan masih menyayangkan dan berharap saudari kembar pria di hadapannya ini termiliki. “Jandanya pun masih kutunggu?”


“Hush! Sembarangan! Jangan pernah usik rumah tangga adikku atau kuputuskan kontrak bisnisku denganmu, sialan!” tegur Efrain.


Cengiran menyerbu bibir Fahrazan yang berhias jambang rapi lebatnya.


“Oke, oke. Calm down. Oia, Kalau Rich, di mana?”


Ef tampak berpikir sambil melirik Alda, sampai detik ini pun sejak saat itu. Ia belum pernah mendengar kabarnya sama sekali.


Kebetulan musik dansa mulai terdengar dan dimainkan oleh pemain musik. Ef menggunakan hal itu untuk mengalihkan topik.


“Bukankah ini waktunya dansa topeng di mulai, Fahrazan? Aku mau berdansa dengan kekasihku,” sergah Ef menyambut tangan Alda.


Lampu mendadak padam, sorot sinar lampu terarah di pintu masuk yang ternyata mengejutkan semua tamu. Kala sepasang sejoli berjalan serasi tidak ubahnya King dan Queen melangkah di lantai dansa. Berpakaian warna merah senada menyita perhatian, dengan topeng mewah menutupi wajah keduanya.