Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
27. Shock



Detik sebelumnya… 


Desauan sensual wanita bercampur erangan pria. Alda pernah mendengar itu. Bahkan ia sendiri pernah merasakannya.


‘Ah, sial. Kenapa aku harus mengingatnya di saat seperti sekarang? Brengsek!’ umpat Alda dalam hati, begitu menempelkan daun telinganya ke pintu ruang Ceo. 


Alda mencoba untuk menguatkan diri, walau telinganya gatal ingin disumpal koran. Setelah ia memutar knop pintu ruang Ceo ke bawah. 


Netranya membola penuh, berdiri tertahan di ambang pintu dengan lutut lemas seperti jelly. 


“Oh, baby!”


“Yeahhh!”


Seorang pria berada di bawah dan wanita itu tanpa helai benang tengah memejamkan mata. Dengan mulut sialannya yang menjerit-jerit keenakan di sofa ruangan Ceo. Kertas berhamburan juga pakaiannya tercecer di lantai.


Glek! 


Tenggorokan Alda seolah dipaksa menelan kerikil. Herannya, ia tidak pergi dan malah menyaksikan pertunjukkan itu setengah jalan.


Hingga apa yang ia lihat benar-benar melompatkan jantungnya ke jalanan saat lingga itu teracung gagah akan memenuhi diri wanita itu. 


“Stop and don't do it!!” raung Alda menghebohkan ruangan itu sambil menutup kedua matanya.


Sontak menyita kedua pasang mata sejoli tabu itu, menoleh serempak ke arah Alda yang merosot ke bawah lantai. 


Rich geram mengetahui Alda berada di sana dan ia pun terlihat marah. Sehingga menjeda aktifitasnya.


“Cepat tutup pintunya lagi dan keluar dari sini!” usir Rich.


Alda pun segera membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya dengan bersungut-sungut, terlebih pada wanita yang tak tahu diri itu. Masih  saja menempel pada Rich seakan disengaja.


“Kenapa kau lakukan ini, Rich?!” tanya Alda beroktaf tinggi.


Alis Rich terangkat naik, bibirnya tertarik ke atas. “Siapa kau? Berani-beraninya melarangku. Pacar bukan, istri bukan dan tetanggaku juga bukan. Get out!!” bentaknya seketika menjingkatkan tubuh Alda.


Nafas Alda memburu, ia beringsut dari bawah lantai menghampiri wanita itu dan menyeret tangannya keluar dari ruangan Rich.


“Eh! Apa-apaan kau ini? Lepaskan aku sialan!” berontak wanita itu yang setengah polos.


Alda tak peduli, kemarahannya sekarang tak teredam. Entahlah, hatinya sakit melihat Rich bergumul dengan wanita lain dan ia tak terima.


Tanpa disangka-sangka, Rich menghempas tangan Alda dari wanita itu. Alda memaku lemas pada Rich yang ternyata lebih membelanya. Alda  kecewa, sedangkan wanita itu langsung bertengger memuakkan seperti ulat bulu di dada Rich.


“Jangan sentuh, Rich!” larang Alda menatap tajam ke wanita itu, namun diabaikan.


“Kenapa tidak boleh menyentuhku, hah?! Kenapa!” bentak Rich membuat netra Alda berkaca-kaca.


Alda terisak mengeluarkan air mata yang tak lagi bisa ditahan. Bahkan pernyataan Rich ini membuatnya begitu syok.


“Oh! Jangan-jangan kau mau bergabung sekalian dengan kami? Threesome?” seringai Rich mendekati Alda, bergaya menyebalkan layaknya pria haus belaian. 


“Apa?” Alda menjatuhkan dagunya ke bawah, tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut pria tak berperasaan itu.


Brakk!


Alda membanting pintu ruang Ceo tersebut dengan keras. Melengos keluar sambil mengusap air matanya yang berjatuhan. 


Namun, langkahnya terhenti ketika tak sengaja berhadapan dengan security yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya.


Security itu memperhatikan wajah sembab Alda dan ekspresinya yang syok. “Tadi kan, sudah saya katakan. Tunggu di luar dulu, tapi Anda tidak sabaran? Sekarang rasakan sendiri akibatnya.”


“Brengsek kau!” Alda mengeratkan gigi, serta memberi  tatapan bengis pada security itu, hingga security itu bergidik ngeri dan menjaga jarak. 


Persis melihat Alda yang melepas high heels-nya yang akan dilemparkan ke wajahnya. Security mengambil ancang-ancang mengelak, tubuhnya miring. Hingga high heels milik Alda, terlempar ke arah pintu yang hampir saja mengenai wajah wanita binal itu, jika tak ditangkap oleh Rich.


“Hey! Kau sudah gila!” maki Rich menyoroti Alda dengan manik zamrudnya yang berubah memerah.


Alda membuang muka sambil melipat tangan, tak sudi melihat Rich dipeluk-peluk wanita lain.


Menggerutu dalam hati tentang perusahaan asuransi ini. Ia telah menunggu lama untuk sebuah tanda tangan, tidak tahunya yang ditunggu malah berbuat asusila di dalam ruangan itu.


Sungguh menyebalkan.


Anehnya lagi, kenapa jauh dalam lubuk hatinya. Berharap Rich mendatanginya seperti dulu. Membujuk dan merayunya untuk dimaafkan.


’Oh, Alda. Kau sudah gila. Ck! Padahal jelas jelas pria brengsek itu tadi malah mengajakmu bergabung untuk threesome dan kau melihatnya beradegan menjijikkan itu? ****, **** it!’ jerit Alda sangat kesal di dalam hati.


Alda meremas rambutnya. Ia menyesal telah memilih Volayaed Insurance sebagai asuransi mobilnya kini. Gara-gara tergiur harga klaim yang tinggi di perusahaan ini, ia jadi salah pilih asuransi.


Seandainya dari awal ia tahu, kalau Ceo nya adalah Rich. Pasti ia tidak akan sudi berlangganan.


‘Tapi, bukankah dulunya Tuan Izakh adalah ownernya? Mengapa sekarang berganti dengan Rich?’ batin Alda bergejolak.


Sampai ia tak tahu jika Rich sudah berdiri di sebelahnya dengan wanita itu dan Security tak berada di sana lagi, setelah Rich menyuruhnya pergi.


Suara bariton itu? Membuat Alda lekas menoleh. Tapi ekspresinya berubah merah padam, mendapati wanita itu.


Tanpa malu mencium bibir Rich dengan sensual sebelum pergi. “Bye, sayang. Lain kali di lanjut lagi. Sayangnya kali ini harus gagal karena ada wanita gila pengganggu!” desisnya memelototi Alda yang menggeram.


Namun, diabaikannya lalu tersenyum genit dan melambaikan tangan genitnya pada Rich sebelum turun ke lantai bawah.


Bruuh… 


Alda menghirup atmosfer udara panas dalam dadanya keluar.


“Cepat masuk! Saya tidak punya banyak waktu luang!” ucap Rich tanpa melihat Alda.


Kaki Alda menghentak ke lantai penuh emosi. “Tentu saja, kesibukanmu pasti banyak. Karena kau terlalu sibuk menggilir para wanita simpananmu itu, kan?”


Rich seketika menoleh sinis. “Anda bilang apa barusan? Terserah saya, mau punya simpanan banyak. Aku pria bebas, tak punya ikatan dengan wanita manapun. Merekalah yang menghampiriku, bukan aku. Lagi pula, mereka lebih menghargaiku daripada wanita munafik yang sok suci dan tak berprinsip!”


Bibir Alda langsung bungkam, karena merasa tersindir. Rich memperhatikan Alda yang murung itu, tiba-tiba merasa iba.


"Sudahlah! Aku harus profesional. Ada urusan apa kau kemari?" tanya Rich.


Alda bicara tanpa mengangkat wajah. "Mengurus klaim asuransi mobilku.”


“Masuklah ke ruanganku. Kita bicara di dalam!” suruh Rich yang akan masuk ke ruangannya.


“Tidak. Di sofa sini saja Tuan Rich yang terhormat. Tidak sudi saya di ruanganmu itu yang bau langu.” Alda menghempaskan bokongnya arogan ke sofa dengan membuang muka.


Rich menghembuskan nafas berat ke udara. Terpkasa menurutinya duduk di sofa itu sambil diam-diam melirik wajah Alda yang merah padam.


“Berkas ini perlu anda tangani, Tuan,” kata Alda menyodorkannya tanpa melihat Rich. Jaraknya duduk begitu jauh, hingga Rich sulit menggapai.


“Kenapa tidak kau kirimkan saja lewat pos, berkas klaim ini. Hingga tidak perlu repot-repot datang.”


Alda sampai melupakan hal itu, kini ia merasa bodoh di depan Rich dan tak bisa beralasan. Rich memang pintar bersilat lidah dan membungkam mulut orang.


“Sudahlah. Mungkin kau sibuk melayani suamimu di ranjang. Makanya kau menderita pikun dini. Omong-omong, siapa namamu?” tanya Rich pura-pura lupa.


Alda langsung menggerakkan kepalanya cepat, tatapan seolah tidak percaya kalau Rich sudah amnesia melupakan namanya dan tadi berkata suami. Padahal ia saja belum menikah.


“Oh! Anda tidak kenal saya, Tuan?!” tanyanya ketus.


“Memangnya Anda siapa? Artis bukan, model terkenal juga bukan dan tidak pernah wara-wiri di televisi. Tentu saja saya tidak mengenal anda,” jawab Rich ceplas-ceplos tanpa beban membuat Alda semakin dongkol.


“Cepat sekali Anda melupakan saya?” Kening Alda berlipat-lipat bagai lapisan pastry. Jangan lupakan juga bibirnya yang maju itu terlihat berbahaya dan seksi.


Kenapa Rich gemas melihat bibirnya itu dan ingin mencumbunya. ****!


“Apakah jamuan makan siang Anda tadi kebanyakan obat bius, sehingga Anda belum sepenuhnya sadar. Hah?” sungut Alda membalik situasi. Rasanya belum puas jika unek-uneknya masih terganjal.


Rich tidak tahan membludakkan tawanya. “Anda lucu, Nona. Di sini meminta tanda tanganku atau mendaftar melawak? Kalau iya, anda salah tempat.”


“Stop tawa menyebalkanmu itu Tuan Rich!”


“Aku tidak menertawakanmu, hanya tadi ada semut kecil lewat yang ternyata habis mencuri benihku yang tercecer langka.”


Dada Alda semakin bergemuruh. Matanya berputar malas. Keduanya yang berdebat layaknya seteru lama. Terus diperhatikan security yang kini datang. Bahkan refleks ikut tertawa sambil memegangi perut.


“Diam!” sentak kompak dari Alda dan Rich pada security itu.


“Maaf Tuan Rich.” Security menunduk tidak lagi berani tertawa atau bersuara. Takut dipecat oleh Rich.


Alda segera mendekat dan kini duduk di depan Rich dengan terpaksa. Lalu menyerahkan berkas itu dan berharap urusannya selesai.


Lima menit berlalu… 


Rich sudah membaca semua persyaratan klaimnya, secara menyeluruh. Sementara Alda terkadang curi-curi pandang ke arahnya yang ia sendiri telah mengetahuinya dari tadi.


“Maaf Nona, klaim Anda tidak bisa saya setujui.” Rich mengembalikan berkas Alda ke atas meja. Kakinya yang menyilang diturunkan, akan beringsut dari tempatnya duduk.


Alda tidak terima. Nafasnya berhembus kencang dengan bola matanya melotot.


“Kenapa tidak? Persyaratan saya sudah lengkap. Jangan mengada-ada Tuan. Oh, I see. Pasti anda sengaja menyangkut pautkan hubungan kita di masa lalu, untuk membalas dendam padaku. Begitu?” sinis Alda menuduh.


Rich menoleh dengan tatapan mautnya yang membuat Alda terhipnotis. Kancing kemejanya yang sedikit terbuka, memamerkan bulu-bulu halus di sela dadanya.


Tak sengaja terlihat olehnya dan sungguh tidak dipungkiri lagi, pesona Rich itu sangat awet bagai formalin. Tubuh Rich memang begitu seksi dan pantas saja semua wanita rela melemparkan tubuhnya ke ranjang. Demi bisa merasakan kehangatan dari Rich.


Glek. 


Alda kesusahan menelan ludah, jantungnya bahkan hampir copot.


‘Tuhan, tolong aku ... Sepertinya setelah ini aku butuh spesialis jantung?’ batin Alda melihat Rich yang meresahkan.


“Bersikaplah profesional Nona. Jangan kepedean. Lihat baik-baik berkasmu. Pengajuan klaim ini telah melebihi 3 x 24 jam sejak kendaraanmu rusak. Apakah kamu tidak bisa membaca?!”