
Semenjak hari itu, semuanya berubah total. Kekecewaan atas sikap angkuh Alda dan caranya menjauh dari Richard. Mencabik cabik hati pria itu hingga meninggalkan sayatan panjang.
Entah setan jenis apa yang merasuki Richard. Kali ini dia akan menjadi sosok yang tak pernah Alda sangka sebelumnya.
Mungkin ini yang dinamakan tergila-gila atau cinta gila.
***
Pagani Zonda Tricolore, kolaborasi tiga warna pada jenis mobil elegan ini berkilat di bawah teriknya sang surya. Pria gagah nyaris sempurna dari atas hingga bawah, sukses mencuri pasang mata meliriknya di setiap langkah. Ketika ia baru saja keluar dari mobil mewahnya itu dan kini mulai memasuki sebuah studio make up di Jl. Katangaise.
Tiada mata teralihkan, jangankan berkedip. Mereka akan menampar pipinya sendiri supaya kembali fokus, menikmati indahnya mahakarya ciptaan Tuhan dalam diri pria itu.
Bagaimana cara pria itu berjalan? Tampak gagah dan macho. Wajah bergurat tegas, manis, misterius, cool dan penuh daya pikat.
Apalagi saat dia tersenyum tipis saja, para wanita akan dibuat melayang sampai ke luar angkasa.
Tanpa sadar terbawa mimpi, tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila di jalanan.
Tapi awas jika kalian terjatuh? Karena Richard tak akan sudi menolong, apabila wanita itu tak masuk dalam kriterianya.
"S-selamat siang Tuan, a-ada yang bisa saya bantu?" bicara resepsionis disana jadi tak normal, saat Richard berdiri di hadapannya. Kakinya langsung gemetaran, bahkan seluruh tubuhnya pun ikut bergoyang.
“Siang.” Richard membalas sapaannya dengan suara baritonnya yang berat dan deep itu.
“Ya ampun. Astaga, astaga! Suaranya, seksi sekali Vayola. Berat, dalam dan auw! Ada serak-seraknya gitu,” ucap staf yang sedang mem blow rambut customer, jadi batal dan menoleh pada teman di sebelahnya yang mengangguk-angguk.
Tanpa sadar bukan hanya ia sendiri yang meninggalkan customernya di depan meja rias. Tetapi semuanya pun ikut serta mengerumuni Richard. Demi bisa melihat betapa mempesonanya pria itu di setiap jengkalnya.
Bahkan memprioritaskan Richard lebih dulu dan mengabaikan yang lain. Di antara mereka bersepuluh, juga tampak ladyboy mengenakan pakaian ketat serba pink. Rambut dicat pirang, seperti barbie yang kini bermetamorfosa menjadi lalat memuakkan, perlahan-lahan agresif mendekati Richard dengan kerlingan genit.
"Apa mau dibantu sama saya saja Daddy?" tanya ladybody itu, Richard langsung bergidik ngeri.
Ya Tuhan, lindungilah aku dari makhluk terkutuk ini. Sejak kapan mempunyai anak haram semacam dia.
**** it! Bisa rusak keturunanku nanti.
Bahkan membayangkan disentuhnya saja sudah membuat Richard gatal gatal dan ingin muntah. Jalan depan bebas hambatan lebih mudah, kenapa juga harus lewat jalan belakang yang buntu.
Pria berambut silver dengan setelan press body najis itu mendekat. Berikut kelancangannya hendak menyentuh dada Richard. Saat lidahnya berputar, matanya tak berpindah posisi mengamati bulu halus-halus yang mengintip dari celah kancing kemeja Richard yang sengaja kancingnya dibuka dua.
Goddamn.
Richard pun membuat pernyataan menggemparkan di studio make up itu seraya menjaga jarak dari para ladyboy itu.
"Ehem! Apakah kekasihku Alda Danurdara? Em, maksudnya … Bos cantikmu itu ada di tempat Nona?" tanya Richard pada Valery yang terlihat sopan dari yang lain.
"K-kekasih..." serempak semuanya terkejut dan sesak nafas. Hilang harapan memiliki Richard, walaupun di alam mimpi. Karena mereka semua tak akan mampu bersaing dengan bosnya yang cantik itu.
“Yeap.”
Richard mengangguk, dibarengi gerakan alis menurun dan mata mengerjap, menjadi jawaban pria tampan itu irit bicara. Seketika memutus harapan pasang mata yang mengerumuninya penuh kecewa tak lagi berharap lebih.
"A-ada kok Tuan, mari saya antar."
Resepsionis tadi berlalu kurang semangat mengantar Richard ke ruangan Alda, sementara Richard sendiri menyunggingkan senyum mengikutinya dari belakang.
Pintu diketuk, resepsionis membuka pintu dengan terlebih dulu memberitahu bosnya.
"Madam, kekasih Anda datang mencari."
"Kekasih, siapa?" bersamaan rasa keterkejutannya Alda menoleh. Ia semakin syok ketika resepsionisnya sudah menghilang dan berganti sosok lain. Memunggunginya sedang mengunci pintu.
Klek!
"Hei, siapa kamu? Lancang. Apa yang kau lakukan! Keluar dari ruanganku sekarang juga!" teriak Alda marah-marah.
Dengan jengkel karena merasa diabaikan. Alda berjalan penuh emosi, membalik tubuh pria itu dan sekarang ia sendirilah yang tercengang hingga kesulitan menelan saliva dengan seluruh tubuhnya mendadak kaku tak bisa digerakkan.
"Rich, k-kau?” Alda mengusap wajahnya dan memijat kening. “kenapa kau bisa sampai ada di sini?" tuding Alda yang berwajah pias seketika memangkas jarak dari pria yang ia benci.
"Apa kabar honey? Lama tidak bertemu membuatku rindu.” Richard menarik bibirnya ke atas, kian mendekati Alda dengan aura dingin. Namun, suara bariton nya yang berat justru membuat pori-pori kulit gadis ini merinding.
"Lepaskan a-aku sialan!" umpat Alda geram, saat Richard sudah memojokkannya ke sudut meja.
"Kau masih saja galak seperti dulu. Tapi aku suka gayamu yang seperti ini honey," kata Rich mendekatkan suaranya ke telinga Alda.
Oh Tuhan, suara Rich yang berat dan serak ini semakin terdengar seksi. Terlebih mata hijau zamrudnya, seketika memenjara mata kecoklatan Alda. Jantung Alda bahkan kini mendadak berpacu seperti terjangan kuda, nafas panas Richard menghempas bagai topan ke seluruh wajahnya. Seketika berjengit memejam mata.
Alda tak kuat menahan tatapan Richard lama lama. Pria ini seakan berbeda dari dulu, tatapannya sekarang seolah berisi mantra yang menghipnotis Alda tak berkutik.
Sentuhan punggung tangannya menjelajahi pipi Alda yang mulus bak satin duchesse. Richard menelan salivanya berkali-kali. Ketika melihat Alda membusungkan nafasnya turun naik.
Aarrgh!
Richard mengeram kesal, setan dalam hati ikut bicara memprovokasinya. Tubuh Richard terasa terbakar saat ini. Celananya menyempit, melihat Alda yang begitu menipiskan harga dirinya. Alda yang cantik, kulit kuning langsat mulus yang menipiskan algoritma kewarasannya.
"R-Rich kau mau a-apa?" Alda gugup, sontak membuka matanya saat ia merasakan sesuatu dalam dirinya tanpa bisa mencegah.
Aapakah itu gigitan semut nakal?
Tatapan Richard menggelap, kedua bola mata mereka berdua seolah tertarik magnet kuat. Menarik Alda memindai seluruh struktur wajah Richard yang sangat tampan. Pantas saja wanita di luaran rela membanting tubuhnya sukarela, demi bisa bercinta dengan casanova ini.
Ah! Sialan.
Alda sudah menjadi gila sekarang, sekali lagi ia sedang dalam keadaan tak sadar. Rich sudah memantrainya.
"Pergi sialan!" Alda kembali mendapat kesadarannya setelah bebas dari lamunan neraka. Ia mendorong dada Richard sekuat tenaga.
Namun apa? Upayanya tak berhasil dan tangannya malah dicekal Richard lebih kuat.
“Kau merindukan ini juga, kan? Jangan malu."
"Tidak!" tolak Alda menggeleng kuat, tapi hatinya bertolak belakang dengan bibirnya yang manis.
Mata kecoklatan ini mencuri-curi pandang. Bodohnya setiap proses pergerakan Richard menanggalkan jas, hingga membuka kancing kemejanya satu persatu, diiringi tebaran Affiliative smile nya yang menggoda. Terus di amati Alda dengan tak sabar.
Alda menelan salivanya susah payah. Tubuh Richard memang seperti personal trainer di tempat gym. Seksi kali ini, mata Alda terpaku pada dadanya yang keras. Turun lagi ke perutnya yang kotak-kotak, sehingga jantung Alda semakin berdetak tak karuan.
"Aku merindukanmu honey... Sangat ... Kenapa kau menjauhiku dan menghindar? Apa kau tahu, selama ini aku sangat tersiksa jauh darimu, hum?" Richard bertanya sambil mendekap erat Alda ke dalam pelukan.
Alda bergeming, ragu-ragu membalas pelukan Richard.
“Diam artinya, iya.”
Alda mendorong dada Richard, menyorotinya galak, “kenapa percaya dirimu tinggi sekali, brengsek. Jauhkan tanganmu dariku!" sungutnya kesal, mencoba berontak dan terus bergerak tak nyaman.
"Bagaimana aku bisa jauh, sementara kamu selalu mendekatiku sekalipun dalam mimpi honey?”
Hah?
“Rich... J-jangan sentuh aku! Kau pasti mabuk! ” tuduh Alda, merasa Richard sudah tak waras.
“Psst... Kita hanya sedang melakukan reuni kerinduan.” Richard meletakkan jari telunjuknya ke bibir Alda yang berlipstik merah terang itu.
“Reuni? A-apa maksudmu?” Alda memicing tajam menatap Rich.
Rich tersenyum licik.
“Kamu ingin aku benar benar melakukannya sekarang, hum?” Richard bertanya sambil menarik pinggang Alda kian mendekat ke tubuhnya.
Gap!
“Ahh!” Alda memekik kaget.
Posisinya kini terkatung-katung, jangankan lari. Bola mata kecoklatannya saja terpenjara jauh, dipaksa Richard terbenam ke dasar iris manik zamrud hijau Richard yang mengandung racun mematikan itu.
"Lihat aku baik-baik!” paksanya.
“No!” Alda menggeleng, Richard menekan tulang pipinya, memaksa Alda lagi untuk memandanginya.
Oh! Tuhan, pria ini sungguh bastard.
Nafas Alda menyaru-nyaru kasar ke depan permukaan wajah Richard. Dalam hatinya merasa menang, menahan senyum ingin mencium bibir Alda yang penuh itu. Tapi tidak sekarang, dia masih ingin menggoda dan bermain-main dengan kelincinya yang nakal ini.
"Kenapa tak mau? Takut jatuh cinta padaku? Jujur sajalah, jangan malu-malu. Hanya ada kita berdua di sini. Hum?”
Alda gelagapan, bahkan wajahnya berkeringat dingin dan gelisah menggigit bibir. “Tidak brengsek. Aku berharap tak melihat wajahmu lagi seumur hidupku. Aku membencimu.”
“Yakin bisa jauh dariku setelah ini? Aku ini pria tertampan se Kongo lho!” Richard bertanya dengan nada menyebalkan.
Persetan dengan se Kongo atau sedunia! Bagi Alda, Richard pria brengsek yang harus ia beri batas line keras jika mendekat karena pria ini sangatlah berbahaya.
“Tolong aku—” suara Alda terhenti begitu menyadari tangan Richard sudah menyandera titik kelemahannya tanpa batas.
“Jangan bicara apapun kecuali cinta,” paksa Richard tak ingin ditolak. Kali ini usahanya harus berhasil, membuat Alda bertekuk lutut jatuh dalam pusaran seorang Richard Louis atau harga dirinya akan jatuh.
“Ahh, tapi tak begini caranya brengsek. Kau bukan membuatku cinta tapi benci!” Alda memukuli dada Richard sekuat tenaga, “kau hanya meninggalkan trauma untukku. Apa kau akan melakukan perbuatan bejatmu lagi padaku, Rich? Sadarlah. Lepaskan aku, huh!”
Richard berseringai, “benci tapi cinta atau rindu menggebu-gebu atas sentuhan panasku, honey?”
Alda mendadak diam, pukulannya di dada Richard pun perlahan mengendur dengan sendirinya. Ia mendadak tak punya tenaga, lemas saat ini. Pasrah merasakan getaran aneh, yang membuatnya melayang karena sentuhan panas dari Richard.