
Alda memandang jauh, pada warna manik hijau zamrud ke abu-abuan itu. Begitu amat indah, sampai ia sendiri tidak sadar dengan apa yang dilakukan.
Jarinya yang lentik, dengan ujung kuku bercat cantik warna lavender itu. Perlahan terulur ke wajah Rich, membelai pelipis Rich yang berkeringat dan turun ke rahang kokohnya yang tampak macho ditumbuhi bulu, tepat berhenti menyentuh permukaan bibir.
Rich pun memejamkan matanya sejenak. Demi mengusir dorongan kuat untuk tidak bertindak agresif. “Al, jauhkan jarimu itu!"
Tapi Alda bergeming, seolah-olah suara Rich adalah bisikan yang mendorongnya bersikap di luar kendali. Rich sudah menahan mati-matian, Alda malah kini meraba-raba permukaan bibirnya, seakan menantangnya berbuat lebih jauh.
"Alda? Stop!" suruh Rich dengan nafas berderu kencang. “Al ... Cukup.” Rich memperingatkannya lagi dengan coba membuka matanya perlahan.
Posisi Alda yang pas, tentu pria mana pun akan tergiur. Rich sampai menelan ludahnya dengan susah payah. Begitu pula Alda yang jantungnya mendadak berdebar-debar abnormal.
“Jangan memancing ikan, kalau umpan besar yang kau berikan malah menarik buaya mendekat!!” peringat Rich dengan suaranya yang parau agak ditekan dan dikeraskan.
Sehingga memicu kesadaran Alda kembali utuh, terburu-buru menarik tangannya dari bibir Rich. Dengan wajahnya kini yang berubah putih seolah anemia. Tersenyum malu yang ia simpan dalam diam, merutuki tindakan konyolnya tadi.
“Lepaskan tanganku Rich!” Alda memohon saat Rich menekan satu tangannya seperti tali. Sedangkan tangan satunya lagi berusaha melepasnya mati-matian.
“Kenapa lancang sekali memegang wajahku tanpa izin?”
“Siapa yang memegang wajahmu? Tadi itu aku tak sengaja karena kau ....” Alda gugup.
“Karena apa?” Rich menunggu jawabannya.
“Ya, karena semua itu karenamu. Menarikku hingga posisi kita seperti ini,” kilah Alda.
“Lalu maksudnya menyentuh bibirku tadi apa?” Rich menginterogasinya lagi.
“Di bibirmu tadi ada semutnya, jadi aku tak sengaja menyentuh bibirmu tanpa disengaja," bohong Alda.
Kening Rich mengkerut dengan mata yang menatap gelagat salah tingkah Alda. Ia membuang nafas berat.
“Tidak sengaja katamu, ada semut? Mana semutnya?” Rich bertanya ulang. “Coba aku lihat!” desak Rich, tahu jika Alda berbohong.
Mana ada semut di bibirnya, karena semut itu sendiri adalah Alda. Semut nakal yang setelah menggigit lalu pergi begitu saja, setelah meninggalkan luka.
“Kau pasti menyihirku. Iya! Matamu itu penuh sihir, jangan-jangan kepergianmu dari rumah orang tuamu. Karena kau belajar ilmu kedukunan,” tuduh Alda asal berkoar.
Rich menggeram. “Shit! Jangan menuduhku sembarangan. Tinggal katakan kau terpesona kan, beres. Jangan mengatasnamakan dukun yang tidak berdosa, kalau kau berbohong.”
“Tidak.” Alda menggeleng.
“Kau tidak pandai berbohong Alda, aku tahu itu!” decih Rich.
“Memangnya siapa kau? Memahamiku sampai tahu aku bohong atau tidak?” tanya Alda dengan tampang polosnya yang menunduk sambil menggigit bibir. Berharap jawaban Rich sama dengan di hatinya kini.
“Bukan siapa-siapamu. Dasar naif. Tolol!”
Alda mencebikkan bibirnya, merasa terhina akan ucapan Rich yang kasar itu adalah hal yang paling ia tidak suka. Alda kemudian berontak membuat gerakan ingin kabur, tapi salah. Ketika semua tubuhnya bergerak di atas area berbahaya Rich.
“Ooh no!” Rich berdecak, “bisa diam tidak?!”
“Maka itu lepaskan aku!” bentak Alda marah.
“Oke!”
Gerakan Rich melepas tangan Alda di saat bersamaan Alda juga berontak. Malah menjatuhkan wajahnya sendiri ke permukaan wajah Rich. Hidung mereka bertabrakan keras. Rich dan Alda saling mengaduh kesakitan.
“Hidungku penyok pasti!” dengkus Alda menyorot tajam.
“Kau yang kebanyakan tingkah! Dasar wanita mau menangnya sendiri!” umpat Rich kesal menatap Alda.
“Astaga, mata itu? Menenggelamkanku terlalu jauh. Tidak bisa dipungkiri, jika bola mata warna zamrud milik Rich begitu indah.”
“Kau memujiku barusan?” Rich menarik bibir, makin besar kepala dan mulai tersenyum.
Aroma parfum sandalwood di tubuh Rich, menguar hingga menggelitik nalar Alda. Bau wangi mint hangat dari mulut Rich juga, menepuk hilang kesadarannya seakan menghipnotis.
Matanya seketika terpejam, dengan bibir ranumnya yang berwarna pink alami berkedut-kedut. Bahkan Rich bisa mendengar jika wanita itu menelan ludahnya paksa. Hingga Rich tidak lagi bisa menahan tawanya.
“Haha, kau berharap aku menciummu Miss Alda Danurdara?” suara bariton Rich mengacaukan kesadaran Alda.
Wanita itu terpaksa membuka kelopak matanya lebar-lebar. Harga dirinya jatuh tidak berbekas dengan malu berlebih.
Ia bahkan berandai-andai, jika punya kekuatan magic. Rasanya ingin menghilang detik itu dari hadapan Rich.
Bisa-bisanya aku bertindak tolol!
“Kau benar-benar menyebalkan Rich. Apalagi saat kau tak mengenaliku di perusahaan insurance itu?” protes Alda membuang muka. “Bahkan kau malah berbuat hal tak senonoh di ruanganmu! Tak bermoral!” lanjutnya menumpahkan kekesalan.
Rich menaikkan alisnya ke atas, mendengar ocehan Alda lebih ke diam dan memperhatikan bibirnya. "Kau cemburu?”
“T-tidak. Kau terlalu menjijikkan!” desis Alda menggerakkan ekor matanya dan membuang muka seketika.
“Sudah marahnya? Memangnya kau siapaku?” todong Rich bertanya, membuat bibir Alda terkatup.
Ekspresi Alda kecut mendengar itu. Benar apa yang dikatakan oleh Rich. Kenapa ia emosi buta?
“Tidak.”
“Lantas kenapa kau tak rela melihatku bersama dengan wanita lain? Bukankah kau sudah mendapatkan saudaraku? Itu kan, maumu?” Rich muak bila mengingatnya.
“Aku...”
“Bangun dari tubuhku!” sentak Rich hingga Alda berjengit kaget.
Ia pun tak sadar, telah setengah jam berada di tubuh Rich. Dengan pria itu yang menahan kesabarannya setengah mati, sementara Alda tak mau beringsut sedikitpun.
“Apa kau sengaja menggodaku dan sekarang berpindah haluan? Ingin mendapatkanku juga, Ef, hah?!” sindir Rich dengan tajam.
“Cukup Rich!” elak Alda dengan suaranya yang serak-serak basah menahan air mata.
Tanpa disangka, ketika Alda bangun dari tubuhnya. Rich dengan cepat menarik tengkuk Alda, mengecup bibir ranum itu perlahan.
Mata Alda terbelalak, tubuhnya membeku seperti es. Kedua tangannya memaku di dada Rich. Tidak berontak, tidak juga menolak dan cenderung pasrah, ketika lidah Rich menerobos masuk.
Hingga bebas mengeksplor seluruh mulut hangat itu. Berbalas ciuman panas penuh penghayatan.
“Ahh...”
Rich menekan Alda ke sandaran sofa, jari keduanya menyatu. Bibir Rich semakin turun mengecupi leher jenjang itu. Menghis*p penuh ledakan, meninggalkan jejak merah pekat. Alda melenguh, tubuhnya menggeliat dengan mengeratkan pelukan di punggung Rich.
Sementara tangan Rich meremas bongkahan itu, membuat Alda semakin gila akan sentuhannya.
“Rich!”
“Heum?” sahutnya bernada rendah menahan gejolak. Rich hampir melihat sesuatu yang sedari tadi tersentuh dari luar. Ingin segera melahapnya.
Jeritan Alda kian menjadi, Rich makin terpacu lebih dekat sampai ke bagian yang selalu ia sukai dari Alda. Rich membekap bibirnya dengan ciumannya lagi yang lebih menghanyutkan.
Alda bahkan lebih aktif, seolah menyalurkan rindu lewat pergolakannya kali ini. Rich membiarkan wanitanya itu memperlakukan bibirnya sesuka hati.
Tapi arahan mata zamrudnya, fokus ke sisi lain yang lebih membuat Rich sakit kepala. Pada bulatan indah, bahkan Rich masih hafal, walau dengan mata terpejam.
Bagaimana ukurannya yang besar, padat, kenyal dan seluruh strukturnya Rich ingin mendapatkannya kali ini.
“Tidak Rich...!” Alda berteriak menendang perutnya dengan tiba-tiba, mementalkan tubuh Rich jatuh ke bawah sofa. Saat kesadarannya pulih. “Ini salah. Kau melakukannya lagi?!” makinya kesal.
“Aarrgh!”
Rich mengerang, lukanya yang masih basah itu menghantam badan sofa begitu keras. Sampai ia tidak mempedulikan ocehan dari Alda. Karena telinganya pengang, menahan rasa sakit.
Namun, mata Alda tidak sengaja memerangkap kaki pria itu yang diperban. Darah segar terus menembus keluar.
“Kenapa dengan kakimu Rich?” tanya Alda begitu panik menyentuhnya ragu-ragu dengan nafas memburunya itu.
“Lupakan dan pergilah. Sebelum aku hilang kendali.” Rich memalingkan wajah lebih ke mengusir. Bangun sendiri dengan kaki terpincang-pincang, menuju ke meja sebelah ranjang.
Membuka laci dan mengambil kotak obat dari sana. Lalu membawanya ke atas ranjang, ia duduk menghempas punggungnya.
Terdengar erangan lagi sangat keras dari pria itu, mengusik rasa kemanusiaan Alda yang membawanya mendekat.
Kotak obat itu direbutnya, saat melihat keringat dingin mengucur deras ke sekujur tubuh Rich. Hingga kemeja putih yang membalut tubuhnya, mencetak ketat perut kotak-kotaknya yang terlihat seksi.
Alda menelan ludahnya paksa. Segera membuang pandangannya fokus ke kaki Rich. “Biar aku yang mengobatimu kali ini?”
“Tidak usah! Pergi aku bilang!” usir Rich tampak kecewa.
Namun, Alda tetap memaksa untuk melepas perlahan balutan perban itu dan ia tercengang melihat bekas luka tembak di betis Rich.
“Kau tertembak?” tanya Alda terkejut menatapnya. “Sejak kapan k-kau terkena peluru ini?”
“Sejak aku menolongmu dari bandit yang menganggumu semalam.” Rich menjawab jujur.
Ada perasaan bersalah, mirip hutang budi. Dengan telaten Alda pun mengganti perban itu di betis Rich sampai selesai.
“Beres. Istirahatlah, kau mau minum? Aku ambilkan,” tawar Alda sedikit mengangkat tubuhnya.
Hingga Alda belum menyadari jika dua kancing kemejanya masih terbuka lebar, menampakkan branya berwarna mencolok itu dengan belahan mengintip yang menyegarkan mata Rich.
“Setidaknya kancing dulu kemejamu lain kali, Miss!” peringat Rich sambil membuang muka.
Alda tergopoh-gopoh menutupnya, supaya tidak terlihat oleh Rich. Dengan cepat berbalik badan dan mengancingnya lagi.
“Percuma kau tutupi, aku bahkan sudah hafal seluruh bagian tubuhmu. Di payud*ra sebelah kananmu itu, ada tahi lalat berbentuk love dan di pusarmu ada lagi... Juga di paha—”
“Cukup Rich. Kau menyebalkan, tidak tahu terima kasih!” sungut Alda yang kemudian pergi begitu kesal.
“Terimakasih...” kata Rich mencekatkan kaki Alda yang mencapai pintu.
Berpikir pria itu berkata dengan sungguh-sungguh dan ia mulai terkesan. Namun, wajahnya langsung berubah masam. Saat ia mendengar perkataan Rich yang tidak ingin ia dengar.
“Atas ciuman dan bibirmu yang sangat lezat!” Rich sengaja mengeraskannya hingga membuat Alda berteriak kesal dan membanting pintunya dengan keras.