
Tujuh bulan kemudian.
"Sweety, susu kehamilannya sudah diminum?" tanya Rich sangat perhatian.
Apa pun semua kebutuhan Alda selama hamil, stoknya terus diisi penuh. Mulai dari makanan, bahan-bahan memasak, sayur, susu ibu hamil yang masih ada satu dus, beraneka ragam buah, vitamin dan lain-lain.
Karena malam hari Alda suka lapar,
bahkan Rich sampai membeli dua kulkas baru lagi yang berukuran raksasa dan menambah daya listriknya saat kulkas di rumah itu sudah tak muat menampung isinya lagi.
"Um, sudah boo."
"Istri pintar," gemasnya mencubit pipi Alda yang kini tampak chubby.
Tubuhnya semakin padat berisi dan malah terlihat seksi menggoda. Apalagi buah dada dan bokongnya itu.
"Oia, rujak buah jambu monyetnya mau dibelikan lagi tidak? Sekalian setelah ini, aku mau pergi ke Denpasar menemui klien yang akan ekspor beras dari sawah kita." Rich mencium pucuk kepala Alda dengan lembut.
Tetapi Alda menggeleng, rangkulan di lengan Rich juga malah semakin dipererat sembari mengendus-endus bau ketiak Rich.
"Hum, ah … wangi?" Alda menghirup sedapnya bau ketiak Rich, terutama pada bulunya.
Rich menepuk jidatnya kencang.
"Jangan pergi dulu, Boo. Aku masih ingin dekat-dekat," protes Alda yang tak ingin jauh dari Rich walau sedetik.
"Ya ampun istriku sayang, aku belum mandi." Rich merasa risih, sedikit bergeser dari atas ranjang dan menjauhkan diri.
Namun Alda malah mendekatinya lagi dan lagi. Mengekang kaki Rich dengan kakinya, dengan satu tangannya memeluk pinggang Rich dan satu lengan kekar suaminya diletakkan di atas bahu.
"Ih, siapa bilang? Harumnya enak sekali begini. Huuum … sedapnya. Ayolah boo!" desak Alda, kini mengapitkan wajahnya ke ketiak Rich sambil bergaya memejam mata seperti kucing kecil menggemaskan.
Kehamilan keduanya ini cukup meresahkan dan membuat seluruh keluarganya geleng-geleng, karena ngidamnya dirasa sangat unik.
Ya, mulai dari sebulan semenjak hamil hingga menjelang tujuh bulanan ini. Alda mempunyai kebiasaan baru, dilakukannya setelah bangun tidur. Yakni mencium bau ketiak Rich.
Menurutnya ketiak Rich itu sangat wangi, mengalahkan parfum sekelas Georgino Armani tapi lebih ke parfum yang harganya milyaran Clive Christian's Imperial Majesty.
Sehari saja Alda tidak mencium bau ketiak suaminya yang tampan itu, maka Alda pasti memilih untuk mogok makan.
"Ya ampun sweety…" Rich mengulum senyum.
Memijat kepalanya yang tak pusing, cuma meringis melihat kelakuan istrinya. Dan akhirnya membiarkan Alda menikmati aroma ketiaknya yang memang benar-benar wangi deodorant itu.
Mandi pun juga inginnya berdua, kalau Rich belum pulang dari sawah atau dari pekerjaannya yang lain. Alda tak akan mandi dan sengaja menunggu sampai Rich pulang ke rumah.
"Aku mau mandi dulu," sela Rich.
"Ikut?"
"Ayo! Mau digendong?"
Alda malu-malu sambil mengangguk, ketika Rich mulai mengangkat tubuhnya ala bridal. Kedua tangan Alda melingkari leher Rich dan perlahan menyatukan bibir hingga tiba di kamar mandi.
Saling melepas pakaian dengan posisi keduanya yang benar-benar polos. Rich memegang pinggang Alda yang kini tak ramping lagi.
Perutnya membuncit, yang lalu ia usap setelah berjongkok. Mencium perutnya penuh cinta.
"Sayang, papi sudah tak sabar ingin kau hadir di dunia ini."
Alda mengacak rambut Rich lalu tersenyum lebar.
"Nanti kau pasti begadang, Boo. Karena bayi suka bangun tengah malam, menangis minta susu," balas Alda.
"Aku akan membuat bayi kita tak menangis lagi dan menjadi papi yang siaga. Pokoknya bayi kita tidak boleh sampai kekurangan kasih sayang," ucap Rich penuh tekad.
Alda percaya itu sambil mengangguk dan mengusap wajah tampan sang suami yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap saat. Keduanya saling berpandangan intens, berciuman bibir. Tapi Rich kembali di bawah, beralih menatap penuh gairah pada kewanitaan itu.
"Hum? Sudah waktunya …" Suara berat Rich memberi tanda memulai penyatuan, ketika tongkat sakti itu telah terjulur gagah begitu keras.
"Yaaah …" desis Alda menggigit bibir dan memposisikan diri.
Begitu Rich membenamkan miliknya perlahan hingga seluruhnya. Menghentak, mendorong selama beberapa waktu hingga ledakan itu menembak deras memenuhi diri Alda.
"Aaahhh …."
"Ooh … nikmat sekali sweety!" Rich mencium bok*ng Alda yang bulat itu, ternyata malah membuat antenanya menegak lagi.
Alda yang mengira sudah selesai, berjalan gontai akan memasuki bathub. Tapi Rich memeluknya dari belakang, mencium punggungnya.
"Sweety …"
"Hum, ya? Ayo kita mandi?"
"Tunggu. Aku mau lagi," kata Rich membuat Alda menggeleng.
Alda menarik nafas lelah.
"Ya sudah, ayo!"
"Tapi giliranmu yang di atas sweety, karena aku ingin meny*su?"
Bagaimana bisa menolak sentuhan panas suaminya itu? Sehingga Alda mulai menggila di atas Rich. Ketika buah dadanya dihisapnya sangat kencang, seperti bayi kelaparan.
***
Sore itu jadwal Alda memeriksakan kandungannya di sebuah klinik dokter obgyn yang ada di Ubud, hanya ditemani Rich karena Noah sedang mengikuti les pelajaran tak jauh dari rumah mereka.
Tak perlu mengantri lama setelah tiba di klinik, sebab Rich sudah mereservasi dulu kedatangannya lewat telepon. Selain ia juga mengenal dokter itu, karena masih memiliki hubungan keluarga dengan Chandra.
"Selamat sore Bu Alda dan Bli Rich," dr. Intan namanya yang telah memeriksa kehamilan Alda selama tujuh bulan ini, tampak tersenyum ramah lalu mempersilakannya untuk duduk.
Karena dokter Intan merupakan seorang wanita, Rich merasa aman dan lebih nyaman untuk memeriksakan kehamilan Alda.
Daripada dokter pria yang hanya akan membuatnya cemburu, mengingat tempat-tempat terlarang yang hanya boleh ia sentuh pasti menjadi arena pemeriksaannya nanti.
"Sore, dok," ucap Alda membalas senyum sang dokter, sambil perlahan duduk dibantu oleh Rich.
"Bagaimana kabarnya, Bu? Sehat? Apa ada keluhan yang dirasakan selama hamil tujuh bulan ini?" tanya dr. Intan.
"Sehat, dok. Tidak ada keluhan tertentu, hanya sering buang air kecil saja. Selain itu tidak ada," jawab Alda.
Tampaknya mendengar hal itu, Rich kurang setuju.
"Siapa bilang tidak ada sweety?"
Alda sontak menarik ujung blazer abu-abu suaminya itu, jangan sampai menceritakan kebiasaannya yang membuatnya justru merasa malu.
Tapi Rich tak mempedulikannya, lalu menceritakan hal itu pada dr. Intan. Karena ia mengira itu hal yang tak wajar. Meskipun ibu mertuanya sempat mengatakan, bahwa ibu hamil terkadang ngidam di luar nalar yang nanti akan hilang dengan sendirinya.
"Oh, begitu …" angguk dr. Intan mengembangkan senyum.
"Begitu, bagaimana maksud dokter? Apakah itu bukan hal berbahaya? Karena istri saya sudah kecanduan bau ketiak saya," ucap Rich dengan entengnya.
Sumpah!
Alda yang berada di atas ranjang pemeriksaan. Saat dokter mulai mendeteksi pergerakan janinnya lewat monitor USG itu, sampai wajahnya memerah karena menahan malu.
"Tidak, Bli Rich. Meski ngidam hanya mitos, tapi benar adanya. Nanti juga hilang dengan sendirinya," jelas dokter memberinya pengertian.
Rich lega, manggut-manggut. Kini tampak serius mengamati gerakan bayinya di layar USG yang tak jelas itu.
"Kira-kira jenis kelamin anak saya. Perempuan atau laki-laki, dok?"