Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
36. Saat Hati Bicara



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Sudah bangun, Al? Bagaimana keadaanmu? Apakah sudah jauh lebih baik?”


Itu suara Efrain nampak cemas. Langsung memangkas jaraknya dari Alda, tangannya hendak terulur mengusap pipi kekasihnya itu. Tetapi Alda secara refleks, menggeser duduknya menjauh.


“A-aku baik. Semalam …”


“Semua telah diceritakan oleh Rich padaku. Bahkan ia sendiri yang menyuruhku datang kemari,” potong Efrain membuat hati Alda mencelus mengetahui itu.


Mood-nya seketika berubah dan wajahnya pun murung. Bahkan setiap ucapan Efrain yang mengungkap penyesalannya tak ada saat Alda membutuhkannya pun, seakan-akan tak masuk ke telinga Alda yang dalam mode melamun.


“Alda. Apakah kamu membutuhkan dokter?” tanya Efrain sambil menggoyahkan bahunya.


Kesadaran Alda kembali, Efrain menangkap buliran jatuh di pipi Alda yang segera ia usap. Meski Alda terkejut dan merasa tak nyaman akan sentuhan Efrain kali ini.


“Kau menangis? Apa gara-gara mengingat kejadian itu?” tebak Efrain.


Alda terpaksa membenarkan tebakan Efrain, ia tahu jika berbohong itu layaknya menunda bom waktu. Karena setiap kali berbohong, maka kebohongan lain akan terus muncul dan tak akan pernah ada habisnya demi menutupi kebohongan itu.


Kebohongan yang setengah kebenaran adalah kebohongan yang paling gelap — Alfred Tennyson.


Ia hanya bingung harus memulai dari mana, kala hatinya sendiri tak bisa memberi kepastian. Apakah jujur bisa diterima Efrain saat ini atau malah menghancurkan dirinya sekaligus?


Tuhan, tolong bantu aku. Bolehkah aku egois dan menyesal untuk segala kebodohanku? Cinta, aku terlambat menyadarinya. Karena cinta tumbuh begitu saja tanpa direncanakan. 


Alda merasa dadanya sesak menggumamkan itu di hati, walau kini tubuhnya dipeluk Efrain secara tiba-tiba. Sekadar untuk menyingkirkannya pun, Alda seperti tak memiliki tenaga. Ia terlalu bimbang dan rapuh.


...----------------...


Di tempat lain, tepatnya di sebuah balkon. Rich tengah menyesap wine seraya memandangi langit malam Kongo yang mendung tanpa bintang. Persis hatinya kini yang dilanda kalut.


Hatinya terpatri kuat pada satu nama. Akan tetapi gelap menyadarkannya akan satu hal yang membelenggu geraknya tak sebebas dulu. Di ranjang sana, ada wanita tanpa sehelai kain yang baru saja bercinta dengannya. Tidak sedikitpun bisa memuaskannya sama sekali, jika tanpa membayangkan sosok wanita yang selalu berputar dalam otaknya.


Tidak jauh berbeda, beratapkan langit yang sama. Hanya dipisahkan jarak dan tempat, Alda duduk termenung di balkon rumahnya sendiri. Memandangi sebuah foto.


Foto dirinya sendiri yang baru ia keluarkan dari laci.  Menghayati sedih setiap tulisan-tulisan di balik fotonya yang  kini tengah mengacaukan pikiran-nya menjadi tak menentu.


“Alda.”


Panggilan pelan itu membuat Alda menoleh sayu, kepada wanita bertubuh tinggi semampai dengan kulit putih yang agak tomboy itu. Duduk di kursi sebelah Alda sambil menaruh sebuah kantong bungkusan di atas meja.


Eve Ritter, sahabat Alda semenjak Alda pindah kuliah dari Amerika ke Jerman. Meskipun berbeda fakultas, tapi karena mereka berdua kerap bertemu di perpustakaan. Sehingga mereka pun akhirnya berkenalan dan berteman baik hingga sekarang.


“Ya. Kapan kau datang, Eve?” tanya Alda tak tahu.


“Tiga puluh menit yang lalu. Kata Yessa, kau sudah berada di balkon ini dari pukul lima sore hingga pukul tujuh malam ini. Ada apa denganmu, Al?” tanya Eve sambil membuka box pizza di dalam kantong bungkusan itu, lalu mengambil sepotong dan menggigitnya. “Kau mau?”


“No, thanks. Aku tidak lapar, Eve.”


Eve menarik nafas panjang, memeluk Alda dari belakang. Tetapi Alda kembali melamun dan membiarkan Eve mengamati kegelisahan yang mencetak jelas di bawah cekungan matanya.


“Dari siang pun, kata Yessa kau tak makan sama sekali?” cercanya lagi.


“Yessa memang tukang lapor!” desis Alda kemudian diam.


“Tunggu. Sekarang aku tahu mengapa kau bisa sampai seperti ini, Al?”


“Kau mau jadi cenayang?”


Eve tersenyum sambil menggeser kursinya menghadap Alda. Menaikkan pandangannya ke langit Kongo dan menarik napas panjang. Tangannya naik ke atas dan mulai bersyair.


“Oh! Langit. Ketika siur angin melambai, maka kau hantarkan itu menusuk kulit. Mendung gelapmu menyergah bintang-bintang terbit. Membekaskan hilangnya cahaya bulan tak lagi bersinar menerangi bumi. Tidakkah kau tahu semua ulahmu menyergap dalam sanubari?” 


“Sanubari tersimpan jauh, kedalamannya bahkan tak bisa diukur. Bahkan pemilik hati pun tak bisa membaca dan mengerti apa yang ingin dimaksud,” sahut Alda sambil menyeruput teh hangat yang kini dingin. 


“Wahai Dewi bulan. Siapa yang ada di pikiranmu? Itulah pria yang kau cintai,” celetuk Eve menatap Alda yang menghela nafas.


“Aku bingung Eve, sekarang aku seperti di tengah persimpangan jalan.”


“Tapi kau harus memilih dan memutuskan. Jangan menyiksa dirimu sendiri, Alda?” saran Eve prihatin. Telah mengetahui semua luar dan dalam Alda, juga memahami kerisauannya saat ini.


Alda memijit pelipisnya seraya meremas rambutnya frustasi. Bayangan Rich terus menari-nari di dalam otaknya, meski bayangan Efrain terus dipaksanya masuk. Namun, gagal karena hanya  Rich lah pemenangnya saat ini.


Semakin Alda berusaha kuat untuk menghilangkan atau ingin menjauhinya, maka semakin kuat pula getaran itu menyerbu hati dan pikiran Alda. Bahkan semesta seakan kompak untuk mempertemukannya lagi di lain kesempatan, tanpa direncanakan.


Rich... Rich... Dan Rich...


Si pria bermanik-manik hijau zamrud, pria sableng, tengil, konyol tapi menarik Alda tak bisa jauh darinya. 


“Tidak semudah yang kau pikirkan, Eve. Karena ini masalah hati, aku yang salah. Kini aku terjebak di jalan yang sudah aku pilih sendiri. Jika aku memilih Rich, apakah dia memang masih mencintaiku?” dilema Alda merasa kalut.


“Memangnya dia tak mengejarmu lagi? Si buaya itu, playboy cap kaleng rombeng?” 


Alda menggelengkan kepala. 


“Kupikir setelah menolongmu, kalian baikan dan menyambung hubungan kalian menjadi sepasang kekasih?” pikir Eve.


“Bahkan saat aku tanya apakah dia masih mencintaiku atau tidak? Dia hanya diam saja.” Alda menyangga wajahnya dengan telapak tangan.


“Ck, Tuhan. Sesulit ini perasaan. Lebih baik jatuh dari motor daripada jatuh cinta,” celetuk Eve.


“Ya, bukan seperti itu juga konsepnya, Eve. Jatuh dari motor juga sakit? Aku hanya pusing. Jika aku mengikuti kata hatiku. Lalu Ef, bagaimana? Aku menyakitinya?” ungkap Alda dengan rautnya yang sendu.


“Yes, I understand your delicate problem. Try to talk about this with Ef heart to heart. Siapa tahu dia bisa melepasmu, Ef saudara Rich. Bukankah dia juga ingin Rich kembali pada keluarganya? Kurasa dengan alasan itu, Ef pasti mau.”


“Bicara memang mudah, Eve. Tapi menerapkannya itu yang sulit? Jika semua berjalan seperti yang kau katakan, jika sebaliknya? Ef membenci Rich dan mengulang hal yang sama?” tanya balik Alda, seraya ganti menenggak koktail itu hingga tandas bukan teh lagi yang terasa hambar.


Eve menarik nafas panjang. “Cinta deritanya tiada akhir.”


Maka dari itu, Eve belum mau jatuh cinta dan berpacaran selama ini. Hanya fokus berkarir menjadi arsitek. Belajar dari kisah sahabatnya, ia tak mau mengulang hal sama. Bermain hati? Itu mengerikan.


“Saranku hanya itu Alda, kalau kau tak mau terperangkap lebih jauh. Daripada nanti setelah menikah kau tak akan mendapat kebahagiaan dan saling tersiksa tanpa cinta. Aku tidak bisa membayangkan—”


Melihat tatapan Alda, Eve tidak jadi meneruskan ucapannya dan memilih beranjak dari tempatnya.


“Selamat malam. Aku mau tidur dulu,” pamit Eve masuk ke dalam kamar. Tinggal Alda sendiri di luar bertemankan angin dan hujan yang mulai rintik membasahi bumi.


Alda sengaja tak beranjak, walau tubuhnya basah terguyur hujan. Hanya berteduh setelah ia berpikir panjang dan memutuskan sesuatu. Menelepon nomor yang baru saja ia hubungi.


“Ef, bisa kita bertemu besok sore di Borghonce Cafe? Ada yang mau aku bicarakan denganmu.”


[Soal apa, Alda? Tak bisakah kau sampaikan saja sekarang. Daripada aku penasaran dan terbawa mimpi?]


Efrain terkekeh di sana mengira kebalikannya dengan pikirannya sendiri dan menebak. Jika Alda ingin meminta sesuatu terkait masa depan.


“Tidak bisa, Ef. Selamat malam,” ucap Alda sebelum mengakhiri telepon dengan terkejut, setelah mendengar pernyataan Efrain.


[Jangan lupa hadirkan aku dalam mimpimu, Sayang]


Bisakah ataukah mungkin?


- Bersambung -