Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
42. Pernyataan Cinta



"Don’t leave me! Please?" pinta Rich begitu tulus di sela ia menempelkan keningnya di kening Alda. “Tetaplah di sini untukku, bunny ... Sweety, my honey,” nafas Rich berhembus hangat, menyapu permukaan wajah Alda yang kini pipinya kemerahan. Berkat tersipu malu, dicium olehnya.


Dielusnya pipi itu dengan mendamba ke arah bibir yang kini lebih bervolume dan basah. Alda menggigit bibir bawahnya, terlihat nervous hingga dada wanita itu turun naik.


Rich memperhatikan dada itu penuh minat. Seketika haus, menjalari naluri bejatnya sulit terkendali. Ingin sekali menyentuh, meremas dan merasakannya walau sebentar.


Ah! Itu begitu nikmat. Rich menelan ludahnya berulang kali.


Disentuhnya bibir itu lagi dengan jarinya. Alda memejamkan kelopak matanya perlahan, itu adalah sinyal bagus. Rich tersenyum penuh arti.


”Al?” suara Rich terdengar rendah dan berat.


“Eum…”


Rich tergila-gila hanya mendengar suara Alda yang kali ini serak-serak basah.


Kening berpeluh yang menyatu saling berembus dengan nafas berderu cepat.


Tanpa mengikis jarak. Memudahkan Rich mengecup bibir Alda lagi, menekan kedua tulang pipinya. Membuat bibir itu maju, segeralah Rich ******* bibir Alda lebih dalam. Bibirnya yang manis, lembut dan kenyal membuat Rich sulit berhenti mengulum.


Bahkan kini, tanpa melepas cumbuannya. Rich mengangkat tubuh Alda ke atas pangkuannya, setelah tangannya bergerilya melepas selt bealt yang melingkari tubuh Alda.


“Rich!” Alda memekik kaget, kini posisinya miring dipangkuan atas paha pria tampan itu.


Menatapnya penuh damba sembari mengusap punggungnya yang menghantarkan sentuhan panas. Tubuh Alda meremang, ******* pelan lolos dari bibirnya.


“Nanti aku … Bisa terlambat ke bandara?"


“Hum, apa?” Rich pura-pura tak mendengar. Malah secara tiba-tiba menurunkan posisi sandaran punggungnya.


Jegrek!


“Rich!!” jerit Alda refleks.


Karena tubuhnya seketika terjatuh cukup keras dalam pelukan dada sekal itu. Saling bertatapan intens antara dua manik zamrud bertemu manik kecoklatan legam, yang menyelam begitu jauh. Mendebarkan jantung Alda berdebar cepat dan cepat.


“Rich… Aku… Sebenarnya?” sulitnya Alda akan mengungkap perasaannya.


Hanya tiga kata saja, namun tak bisa keluar dari kerongkongannya yang tercekat.


“Ya?” Rich sedia menantikannya, dengan jarinya terus bergerak. Mengusap punggung Alda yang memberi sensasi luar biasa.


Terlebih suara bariton Rich yang rendah dan parau. Alhasil membuat Alda menggila, segila-gilanya.


Menggelepar bagai ikan di daratan yang sekarat. Karena jauh dari air kehidupannya. Refleks Alda menundukkan wajah, tak kuat menatap Rich lama-lama.


Manik hijau zamrudnya begitu menghipnotis. Alda pun terkagum-kagum menikmati wajahnya yang ternyata begitu tampan dari dekat. Yah… kemana saja Alda selama ini? Baru tau kalau Rich amatlah tampan dan seksi.


Auw! Bodohnya, ia sekarang menyadari itu dan…


Siapa mampu menolak pesona Richard Louis? Wangi sandalwood nya bahkan seperti narkoba.


Mulai dari hidung merasuk ke dalam jiwa, bergelenyar memberdirikan bulu roma. Nyatanya mampu meracuni akal sehat Alda, tak disangka-sangka kini berhalusinasi liar. Menginginkan lebih dari sekedar sentuhan.


Oh Astaga. Ya Tuhan, berada terlalu dekat dengan Rich. Sungguhlah berbahaya!


“Alda, kenapa kau menunduk?” sangkanya ketika Rich melihat dengan jelas. Bagaimana wanita itu malu-malu kucing, menyembunyikan senyum.


Satu jarinya menyentuh dagu kecil Alda. Rich menaikkan dan membawanya berhadapan, rasanya ingin sekali ia menggigit dagu kecil menggemaskan itu.


“Nah! Sekarang aku bisa melihat kecantikanmu lagi,” Rich tersenyum menawan.


“A-Apa?” Alda tidak percaya jika Rich mulai menggombal. Tapi sukses melambungkannya tinggi ke angkasa atas pujiannya itu. Tanpa sadar tangannya bergerak, memeluk leher Rich dan menyandarkan kepala di bahunya.


Rich menarik nafas pelan. Membiarkannya sengaja, karena ia tak mau momen indah ini cepat berlalu dan sedikitpun terlewatkan. Sehingga Rich kini, puas memandangi wajah cantiknya dari dekat.


Alda… seandainya dari dulu kau bisa kumiliki. Pastinya aku akan memberimu banyak cinta juga kasih sayangku. Dan…


TINNNN!!!


Dua insan dimabuk asmara tersentak hingga kocar kacir sendiri ke tempatnya semula. Berkat tekanan klakson yang berbunyi keras, dari pengemudi mobil lain di belakang terdengar marah-marah.


“Woii!! Mobil yang di depan, cepat jalan. Memangnya ini jalan nenek moyang kalian?!” teriak mereka marah-marah.


Klackson kembali berbunyi makin ramai, berikut umpatan kesal mengacu pada Rich. Mereka belum tahu yang menyetir seenak jidat adalah sepasang muda-mudi yang sedang kasmaran.


“Cepat menyingkir atau kami menghubungi dinas perhubungan. Agar mobilmu diangkut, Tuan!!” ancam tak sedikit pengemudi yang berang. Terus mengomel tanpa henti.


Sementara Rich dan Alda meringis malu, karena lampu hijau rambu lalu lintas telah berubah sedari tadi. Gara-gara cinta sudah membutakan segalanya. Hingga tak kenal tempat dan suasana. Lupa jika keduanya sedang berada di jalanan ketika lampu merah.


Tinnn…


Sebagai tanda maafnya, Rich menekan klackson pelan.


Lantas melajukan mobilnya lagi, sehingga jalanan kembali normal. Tapi mendadak Rich menepikan mobilnya ke pinggiran jalan, mengetahui itu Alda pun keheranan.


Semakin terkejut melebarkan matanya bulat-bulat. Di saat Rich kini malah membuka satu persatu kancing jas putihnya dengan santai. Memperlihatkan dadanya yang seksi itu. Mencuatkan pikiran negatif Alda yang sangsi.


“Aaaahh… Rich! Kenapa kau membuka bajumu?!” histeris Alda menjerit, sampai tak dapat berkata lagi selain menutup wajahnya dengan segera.


”Hei, Alda. Jangan berpikiran mesum, lihatlah siapa yang telanjang? Aku masih mengenakan kaos?” terdengar suara tawa yang membuat Alda tak kuasa mengintip.


Belum selesai menetralkan diri, Rich yang hobi membuat sport jantung. Merubah haluan mobilnya ke arah berbeda.


Alda sontak bertanya dengan gugup. Namun kebalikannya, Rich nampak santai dan senyum-senyum sendiri. “Ki-kita mau ke mana, Rich? Setahuku ini bukan arah ke bandara?”


“Nanti kau akan tahu sendiri?” seductive smile dilemparnya pada Alda, juga kedipan matanya itu.


Oh my God!


Selalu menguras stok oksigen Alda kian menipis dan jadi sesak nafas.


Di tambah lagi, perjalanan yang tak jelas berlanjut ke mana. Sebab Rich tak segera memberi kepastian, jujur Alda dibuat gagal fokus lagi dan lagi.


Keningnya berkeringat dingin. Sesekali menyekanya dengan tisue dan menghirup oksigen agak berat.


Entahlah, mendadak atmosfer di dalam mobil jadi memanas.


Dan tanpa mengatakan apapun, tangannya terus digenggam oleh Rich sembari menyetir mobil. Tak dibiarkan lepas walau sedetik.


Hingga mobil yang dikendarai Rich tiba di pinggiran sebuah pantai, yang berada jauh dari pusat Kongo. Barulah pria tampan itu pun melepas genggamannya di tangan Alda.


“Silahkan keluar, cantik?” ucapnya terdengar sangat seksi di telinga Alda. Membuyarkan Alda dari lamunan.


Mengerjap runtut dan terbata-bata menanggapinya. “I-iya Rich. Terimaka-kasih,” balasnya ketika Rich rela keluar memutari mobil, demi membukakannya pintu.


Nyatanya langsung mendesirkan hati Alda. Terenyuh sebab baru pertama kali ini. Ia diperlakukan spesial oleh seorang pria.


Rich… 


Kerlingan matanya berembun syahdu, tertuju pada pria tampan itu. Yang tak sedikitpun melepas genggaman di tangannya. Saat bersisian langkah menuju bibir pantai.


Begitu mesra, Alda pun terkesan dan meleleh dengan sikap manisnya. Hatinya kini jatuh. Iya? Dia semakin jatuh cinta oleh pesona Richard Louis.


Tubuhnya bahkan membeku, ketika Rich melepas kaca mata hitamnya. Pria itu memiliki aura yang memukau, tampilan senyumnya begitu memikat.


Apalagi saat Rich menatap Alda sembari mendekatkan tubuhnya. Buru-buru lah Alda berpaling, berkata dengan gugup tanpa melihat Rich.


“Kau m-mau apa—”


Ucapannya belumlah selesai.


Cup!


Tubuh Alda berjingkat, bagai tersetrum listrik. Sontak menoleh cepat. Ketika mendapati sengatan berupa kecupan di pipinya, secara tiba-tiba dari Rich.


Alamak.


Ternyata menghadapkannya tepat ke wajah Rich yang berada tepat di depan wajahnya. Ada pun bibirnya, tak disangka menabrak bibir pria itu. Yang langsung disambarnya penuh gairah.


Eumphth…


Tengkuk Alda ditekan semakin dekat. Hingga ciumannya menempel lebih dalam dan durasinya menjadi panjang. Lama kelamaan berubah liar, dipenuhi nafsu.


Menguntungkannya lagi, kondisi pantai cukup sepi. Meluasakan keduanya semakin hanyut berciuman. Alda mengikuti gerakan Rich mengulum bibirnya, lidah Rich menjelajahi mulutnya. Berbelit, menyesap. Apalagi Rich yang handal memainkan ciuman, membuat Alda bertekuk lutut menikmatinya.


“Al, aku sangat menyayangimu, hum?” Rich melepas ciumannya saat Alda kehabisan nafas. Memandangi Alda penuh cinta, lalu mengecup keningnya.


Pelangi memantul di bola mata Alda, menitik bulirannya jatuh ke pipi yang segera diusap Rich dengan ibu jarinya.


“I Love You Rich.”


“Coba katakan lagi, sweety?” Rich tersenyum bahagia mendengarnya, tak dapat dipungkiri akhirnya selama ini cintanya pun terbalas. Rich membelai surai Alda penuh kasih sayang.


“I love you, I need you… You are my everything. Sorry i have let you down in the past. I'm really sorry…” Alda terisak lalu berhambur naik ke gendongan Rich, mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu.


Rich mengecup bibirnya sebentar, menggesekkan hidung bangirnya ke hidung Alda. Menggigit dagu kecilnya gemas, sebelum ******* bibir wanita itu lagi.


“I love you so much sweety, you are my love. Do not leave me?” Rich memutar tubuh Alda yang masih dalam gendongan, kemudian terhenti dengan gelak tawa keduanya yang nampak sangat bahagia dan tak terpisahkan.


“Yes, I do,” jawab Alda sembari mencium pipi Rich.


“Cium aku tepat di bibirku?” pintanya memandangi Alda.


Alda malu-malu, berdebat lama dengan hatinya. Hingga membuat Rich yang tak sabaran pun segera mencumbu bibirnya dengan ganas. Tak memberikan Alda ruang sedikitpun untuk membalas ciumannya yang benar-benar membuat Alda kewalahan.


Kini, tanpa melepas ciuman itu. Rich membawa Alda ke sebuah cottage terapung di atas pantai. Masuk ke dalam sweet room itu, menurunkan tubuh Alda perlahan ke bawah dan mengunci pintunya. Hanya ada mereka berdua di dalam. Lalu siapa lagi?