
“Ternyata di sana!”
Bibir penuh Rich mengembangkan senyum. Troli nya segera didorong, untuk mendekati wanita cantik yang berdiri di depan kasir. Wanita seksi versinya yang cantik, manis, imut, jinak-jinak merpati dan galak.
Kebetulan tidak ada antrian pembeli di minimarket itu, kecuali dirinya dan Alda. Jadi Richard leluasa mengantre di belakangnya. Sambil menikmati pemandangan indah, bumper sintal Alda yang begitu menarik perhatiannya. Rich sampai gemas ingin mencubit.
Kau ini bunny, terbuat dari apa sih? Sayang jika dilewatkan. Manis seperti candy, empuk seperti marshmallow, lembut seperti sponge cake. Auwh! Ingin kugigit rasanya.
“Semua totalnya sekian.” Kasir memberitahu pada Alda. Richard terus memperhatikannya tanpa berkedip. Dengan menyangga sikunya ke atas pegangan besi troli.
Hingga pada saat Alda merogoh credit card di dalam shoulder bag miliknya, ia tiba-tiba dikejutkan kemunculan Richard. Tidak hanya itu, tangan kekar pria ini juga terlihat mengulurkan sebuah kartu elit untuk kalangan sultan.
Yang warnanya hitam itu, terbuat dengan bahan titanium. Dilengkapi design mewah dan elegan. Tidak dimiliki sembarang orang dan hanya kalangan tertentu.
“Pakai ini saja,” kata Richard sambil bergaya parlente, melirik Alda dengan alis turun naik.
Kasir terpukau melihat black card itu untuk pertama kali, lain halnya Alda yang biasa saja memiringkan bibir.
“Sombong!” decih Alda.
Richard mendengar, tubuhnya sengaja digeser lebih dekat menyeimbangi Alda kemudian berbisik pelan.
“Bibirmu gatal, ya? Kalau minta digaruk, bibirku siap.”
Santainya habis menggoda, Richard pun bersiul-siul penuh kemenangan. Berhasil menaikkan suhu kemarahan Alda yang meletup-letup setelahnya. Wanita ini memberengut lalu mencubit pinggangnya.
“Rasakan!” geram Alda.
Richard meringis, “aaargh! Bunny, sakit?” manjanya.
“Masa bodoh,” kata Alda puas membalas Richard, tak tahu jika pria itu kebal dan hanya berpura-pura kesakitan.
Kasir bingung menyaksikan perdebatan pasangan itu, hingga tanpa sadar antrean pun bertambah.
“Apakah yang di depan sudah selesai?” tegur pembeli lain di belakang secara halus.
Richard dan Alda menoleh bersamaan ke belakang, sambil mengangguk sungkan pada orang itu.
“Maafkan kami,” ucap dua sejoli itu kompak. Kemudian saling lirik tanpa sengaja.
Ditatap Richard adalah kesialan bagi Alda. Jangan sampai gara-gara sihir pria itu, ia terhipnotis dan bertindak di luar logika seperti waktu lalu di studio make up nya.
Oh! Tidak. Alda cepat membuang muka dan berbalik badan secepatnya, lantas membayar belanjaannya dengan terburu-buru menyerahkan uang cash. Tetapi sebelum itu terjadi, ia keduluan Richard lagi.
“Baiklah Tuan,” ucap kasir menerima black card milik Richard..
Lirikan tajam dari Alda, mengarah ke wajah pelaku itu. Sontak merebut black card dari tangan kasir dan mengembalikannya ke tangan Rich.
“Tidak usah sok baik. Aku bisa membayarnya sendiri!” ketus Alda segera mengganti card miliknya tidak jadi cash.
Rich membuang nafas pasrah. “Ya, sudah kalau tidak mau.”
Kasir tersenyum melihat tingkah keduanya saling berebutan membayar, lalu menyelesaikan belanjaan Alda.
“Terima kasih sudah berbelanja di Armelo minimarket. Silahkan datang kembali,” ucap Kasir dengan ramah pada Alda.
Alda tersenyum simpul kemudian pergi. Lalu Rich terburu-buru menaikkan troli nya langsung ke atas meja kasir, karena takut ditinggal oleh Alda.
“Cepat total!” suruh Richard pada kasir itu yang keheranan sekaligus kesal, troli nya malah dinaikkan ke atas meja.
Sungguh tak sopan.
“Hai, Tuan! Kau ini tak punya etika, seharusnya menaikkan barang belanjaan milikmu satu persatu. Jika begini kau akan merusak mejaku,” tegur kasir memprotes.
Richard sudah tak tahan lagi akan ocehan kasir itu yang dianggapnya berisik dan menghambatnya bertemu Alda. Lantas ia menempelkan jari di bibir.
“Ssst, cepatlah!”
“Huh,” kasir mendengus kesal melipat tangannya di dada.
“Berapa sih, harga meja rongsokan kasir ini? Biar nanti ku ganti!” enteng Richard tak mau ambil pusing.
Mata kasir membola. “Apa katamu Tuan? M-meja rongsokan? Hei, kau tidak hanya kurang sopan tapi suka menghina!” tersinggung kasir itu tak terima direndahkan.
Apa tidak tahu jika nanti kasir itulah yang harus mengganti biayanya dengan potong gaji. Tak habis pikir kasir ini dengan pembelinya yang berkelakuan aneh.
Richard merasa kasir ini sangat cerewet lalu ia menyuap mulutnya itu dengan sejumlah uang. “Nona. Waktuku hanya sedikit, istriku tadi sedang ngambek. Jangan sampai gara-gara kau, dia tidak memberiku jatah malam nanti. Total semua termasuk kerusakan meja rongsokanmu, akan aku bayar!”
“Terima kasih,” ucap Richard menerima belanjaan dan black card miliknya lagi lalu menyimpannya ke dompet.
“Sama-sama Tuan—” terkejut kasir melihat Richard yang lari terbirit-birit keluar dari mini market setelahnya. “Dasar suami mesum!” cibirnya.
***
Untung saja ketika Richard sampai di luar teras, Alda masih di sana. Rupanya sedang menunggu taksi
“Al, lagi nunggu taksi?” tanya Rich agak terengah-engah menemuinya. Bersyukur Alda belum jauh dan masih berada di teras minimarket.
Namun, pertanyaannya itu hanya dibalas lirikan sekilas dari Alda. Sebelum mata legamnya terfokus ke layar ponsel.
“Cantik, kenapa diam saja? Aku antar kamu pulang, ya?” tawar Rich dengan lembut.
“No, thanks.”
“Sini, aku bawakan kantong belanjaanmu. Pasti itu berat. Aku tidak mau lenganmu jadi kekar gara-gara membawa kantong belanjaan.” Rich merebutnya dari Alda.
“Hentikan, Rich! Aku bisa sendiri!” tolak Alda bereaksi merebutnya kembali, tapi Rich menghalanginya dengan menyembunyikan kantong itu di belakang tubuhnya yang tinggi.
“Kamu bisa mendapatkannya lagi, jika mau kuantar pulang?” Rich menebar pesonanya, senyum memabukkan itu hampir membuat Alda terkecoh.
Lantas ia segera berpaling sambil bersedekap di dada, mencebik kesal.
“Ambil saja. Aku bisa membelinya lagi!” jengkelnya Alda memutar tubuh, hendak kembali masuk ke mini market.
Tapi sebelum terjadi, Rich lebih dulu menghadangnya.
“Minggir!”
“Tidak.”
Alda melotot sinis pada Rich, berjalan ke arah berlawanan. Tapi, lagi-lagi Rich tidak membiarkannya lewat.
“Kenapa selalu menguntitku? Apa kamu tidak ada pekerjaan lain?!” protesnya jengah.
“Ada sih,” Rich tersenyum maut saat menatap Alda. “Kerjaanku itu ya... mengejar cintamu.”
“Hah? Omong kosong!” Alda mengibaskan tangannya ke udara lalu bersedekap.
“Dibilang serius tidak percaya. Mau bukti apa sayang?” tanya Richard perlahan mensejajari Alda.
Alda melangkah mundur sambil menuding-nuding Rich.
“Jangan pernah menggangguku dan biarkan aku hidup dengan tenang, bisa?” pinta Alda berekspresi datar.
Rich menghela nafas dalam-dalam, memijat keningnya lalu memandang wajah yang diliputi kemarahan itu.
“Aku yang tidak akan pernah bisa hidup dengan tenang, jika kau menjauhiku Alda sayang.”
“Kau membual terus. Dasar playboy cap kaleng rombeng!” dengkus Alda berbalik badan ke jalanan.
Belum sempat terjadi, Rich menahan tangannya.
“Lepas Rich!” Alda memberontak.
“No, sebelum kau memberi aku kesempatan.” Rich tidak mau menyerah.
“Ah! Tidak enak dilihat orang. Please, lepaskan tanganku!”
Sekuat apapun Alda berusaha melepas tangannya. Usahanya pun gagal, karena Rich semakin kuat mencekal tangannya. Malah tubuhnya kini, ditarik paksa hingga menabrak dadanya yang keras.
“Kenapa tidak enak? Di enak-enakan saja, mengapa harus peduli pada semua orang? Anggap saja mereka itu sampah.”
Mata Alda melotot mendengar itu, pria ini kalau bicara suka seenak jidatnya. Tapi bagaimanapun inilah Richard, pria unik, mesum dan tengilnya minta ampun.
Jika keinginannya belum terealisasi, dia tak akan pernah menyerah dan berhenti. Kini tubuh keduanya jadi berhimpitan dengan mata saling bertaut. Bahkan nafas hangat dari Rich yang beraroma mint, terhempas sejuk menerpa wajah Alda. Juga tatapan bersirat damba ke wanita itu.
“Kenapa begitu membenciku, Al?” tanya Rich, berikut suaranya yang berat itu. Berbisik ke dekat daun telinga Alda.
Memicu pergolakan kuat di jantung Alda secara tiba-tiba berdebar kencang dan sekujur tubuhnya pun jadi meremang.
Nafasnya pun terengah-engah, gemetaran berada sedekat ini dengan Richard. Hingga pada saat bibir Rich tidak sengaja menyentuh permukaan daun telinganya.
Alda sontak memejamkan matanya tanpa sadar, Richard memanfaatkan itu. Perlahan memajukan diri dan membenamkan kecupan singkat di bibirnya.