Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
22. Fatal



“Sial! Selimut dan bedcover ku sedang di laundry.”


Begitu Rich telah memeriksa seluruh isi lemarinya yang hanya berisi pakaian dan dalaman. Ia pun sangat kesal, meremas rambutnya sangat kuat. Membawa pandangannya ke Alda yang polos itu, tampak semakin menggigil.


“Jika aku membelinya pun pasti butuh waktu, aku takut Alda terkena hipotermia.”


Rich membelai rambut Alda sambil memandangi wajah cantiknya yang pucat itu begitu lekat. Duduk di sebelahnya, menahan gejolak itu mati-matian, setelah mengecup kening Alda dan kedua pipinya penuh minat.


Meraba turun ke lengan Alda yang mulus itu, ternyata kulitnya memberi respon. Rich terkejut, saat tiba-tiba Alda langsung memeluknya seperti guling begitu erat.


Rich mengerang pelan. “I don’t give a damn!” lalu menaikkan kakinya ke atas ranjang, membalas pelukan Alda dan tak bergerak di posisinya.


Dalam keadaan begini, jangankan Rich bisa tidur. Bernafas saja tak teratur, karena tubuh Alda mengukungnya rapat dan tak mau bergeser.  Walau ia mencoba untuk merenggangkan, tetapi wanita ini kembali lagi dan lagi memeluknya.


“Honey, please. Jangan mengujiku? Imanku tak setebal tembok,  tapi juga tak lebih tipis dari lembaran tisu,” gumam Rich gelisah, memandangi Alda yang tampak nyaman seperti koala.


Seluruh tubuhnya terbakar, panasnya mengalir hingga ke otak. Jangan ditanya keadaan bawahnya bagaimana? Sudah on fire sejak tadi melepas pakaian Alda.


“Bunny, tolong menyingkir sedikit?” pinta Rich dengan suara beratnya yang menahan sesuatu itu.


“Engh!” 


Alda malah menggeliat manja dan mengeluarkan nada sensual itu. Rich kelabakan tak bisa lagi berpikir jernih. Langsung saja membenamkan ciuman di bibir Alda yang pucat, perlahan dan lembut. Bahkan tak ingin berhenti, kini menginginkan lebih.


Ritmenya kian bertambah, menghantarkan gelenyar lain bagi Alda yang dalam keadaan tak sadar. Seolah ia bermimpi melakukan itu, kini mulai mengimbangi ciuman Rich. 


Gayung bersambut, Rich merubah ciumannya menjadi sentuhan panas yan menggerakkan erotis liukan tubuh Alda.


Apalagi Rich lebih mendominasi aktif, berselancar pada gunung indah itu begitu rakus.


“Aaahh!”


Kedua tangan Alda mencengkram apa-apa di depannya, kebetulan bahu lebar Rich yang ia jadikan pegangan.


Lenguhan sensual mengiringi pergolakan malam itu, membasahkan Alda di bawah sana setelah Rich menyambanginya.  Menjadi saksi bisu, dua anak manusia menyatukan tubuh begitu liar.


“Ahhh, ahh!”


“Honey, aku sangat mencintaimu.” Rich memandangi Alda yang masih terpejam itu dengan wajah yang dipenuhi keringat, tampak seksi dan menggoda. 


Lantas ia pun menciumnya dengan sekali dorongan, berikut derasnya semburan lahar memenuhi Alda yang perlahan tenang dan bernafas teratur. Tidak jauh beda Rich yang tersenyum lega karena tak lagi tegang, 


Ikut terlelap bersama Alda yang ia peluk erat, bahkan Rich tak ingin kesyahduan malam ini cepat berlalu. Berharap setelah malam ini, ada malam-malam lain yang bisa ia habiskan berdua dengan Alda.


***


Pagi yang sejuk, entah kenapa udaranya dirasakan gerah bagi Alda. Tubuhnya  seakan lengket di tambah ingin buang air kecil. Akhirnya  memaksanya bangun walau ingin tidur lebih lama.


“Aaaaahhhh!” jerit Alda beroktaf tinggi sambil membolakan mata, ketika ia baru sadar tengah berada dalam pelukan Rich. 


Alda melompat duduk setelah menghempas lengan Rich dari dadanya. Rich yang terkejut setelah mendengar jeritan keras Alda pun, jadi ikut terbangun dan memandangnya dengan mata setengah mengantuk.


“Honey, kau kenapa? Sudah baikan?” tanya Rich hendak menyentuh Alda yang menyilangkan tangan ke bagian terlarang itu tengah terisak pelan.


“Tega-teganya kau melakukan ini padaku lagi, Rich!” kecewa Alda.


“Kita terpaksa melakukan itu, Bunny. Kau kedinginan, aku hanya menghangatkanmu dan kau meresponku. Bahkan kau lah yang memancingku duluan, walau aku sempat menolak?” jelas Rich tak mau Alda salah paham, menyalahkan dirinya sendiri. Ia takut kejadian waktu dulu terulang lagi dan Alda membencinya.


“Cukup!” teriak Alda menyorot sinis pada Rich. “Kau …. aahh!” Alda menjambak rambutnya sendiri begitu kesal.


Turun dari ranjang dan mencari pakaiannya yang telah basah di atas kursi, kini telah mengering. Alda menyambarnya langsung, dibawanya masuk ke dalam bathroom lekas mengenakannya walau terus menangis.


“Alda? Aku tak berbohong, dengar aku dulu.” Rich menjelaskannya lagi sambil menggedor pintu bathroom. Tapi Alda menutup kedua telinganya. 


Kepalan tangan Rich membatu, berikut tubuhnya. Saat melihat Alda di ambang pintu, melewatinya begitu saja tanpa sepatah kata.


Rich menghadang dalam keadaan polos, Alda membuang pandangannya.


“Mulai detik ini, jangan pernah temui aku lagi!” tegas Alda menekan.


“Kau mau aku bertanggung jawab, menikahimu? Mari kita pergi ke catatan sipil sekarang!” Rich memegang pergelangan tangan Alda, memberi tatapan yakin.


“Alasan klasik. Dulu kau pun juga begitu dan dengan keadaanmu yang polos begitu? Cih. Malah mereka akan menganggapmu orang gila!” sengit Alda sambil menghempas pegangan Rich di tangannya. 


Alda menyeret kakinya dengan jalan mengangkang, Rich memanggil dari jauh sambil mengenakan pakaiannya tergesa. 


Begitu melihat Alda yang telah mencapai pintu luar dan tak terlihat lagi. “Fuck it! Alda, argh!” teriak Rich frustasi.


Berlari menyusul Alda ke seluruh lantai apartemen hingga ke basement. Tapi ia tetap tak menemukannya. Hingga pandangannya jatuh ke pinggir jalan, saat Alda akan menaiki taksi.


“Tunggu!” 


Alda menoleh terkejut, mengetahui Rich hampir  mendekat. Gara-gara gugup dan takut bercampur jadi satu, kaki Alda pun sulit digerakkan.


“Stop disitu dan jangan maju!”  Alda mencegah dengan wajah merah padam dan air mata yang tak berhenti mengalir.


“Tolong maafkan semua kesalahanku,  Al. Oke, aku janji tidak akan mengulanginya dan berusaha memperbaiki kesalahanku. Tapi please, beri aku kesempatan sekali ini saja.”


Alda menertawai masam dirinya sendiri dengan bibir gemetar. "Hampir saja aku mempercayaimu. Tapi kau sendiri yang menghilangkan kepercayaan ini.”


Air mata Alda gugur, diusapnya perlahan sambil membuang muka. Rich tersayat perih melihat kesedihan di mata Alda. Baru menyadarinya jika ia terlalu egois. 


“Tolong… Biarkan aku hidup dengan tenang,  Rich. Aku bukan wanita murahan yang haus belaian pria,” kata Alda menyatukan tangan. 


Rich tersentak mundur. 


“Aku tak pernah menganggapmu begitu, Al. Aku tulus mencintaimu?”


“Tapi apakah cinta harus dibuktikan dengan sek*, seperti yang kau lakukan padaku secara paksa. Tidak, kan? Harusnya menyayangi, bukan menyakiti jika cinta. Aku sudah lelah, Rich. Lelah mempercayaimu …” ungkap Alda terisak. 


Otak Rich semakin buntu. Sepertinya tak ada harapan lagi memperbaiki hubungan dengan Alda. Sekalian nekat lagi saja. Karena pasti jika terus dipaksa, lama-lama Alda tak menolak. 


“Auw!” pekik Alda saat ditarik Rich masuk ke dalam taksi itu ke bangku belakang. 


Menindih dan menekan tengkuk Alda memaksa untuk mencium bibirnya.


“No! Anyone help me!” histeris Alda meminta tolong, menghalau bibir Rich dengan telapak tangannya. 


Sopir taksi terkejut lantas keluar dari kemudi menolong Alda, berusaha menarik Rich. Tetapi ia malah ditendang pria itu hingga terjungkal ke trotoar. 


“Biarkan aku menciummu sekali saja?” Rich terus memaksa.


Alda semakin ketakutan. “Tidak... Huhu! Lepaskan aku!” rengek Alda memohon, tapi Rich tidak mempedulikan itu. 


Bibir ranum Alda terlalu menggairahkan untuk ditolak. Rich ketagihan ingin merasakannya lagi dan hampir saja bibirnya terpagut. Kerah jaket Rich tiba-tiba ditarik seseorang dari belakang.


“Kurang ajar.”


Bukh!


Rich terhuyung, sudut bibirnya mengalirkan darah segar. Lantas matanya tajam menyoroti kembarannya sendirilah yang berbuat demikian.


“Brengsek kau, Ef!” teriak Rich murka, lalu memukulnya balik.


“Argh!”


Bukh! 


Keduanya pun bertengkar dan saling serang. Alda mendekatinya untuk melerai.


“Hentikan! Cukup, Rich!” teriak Alda tidak digubris oleh Rich yang membabi buta memukul Efrain. 


Efrain tersungkur ke jalanan, Rich menungganginya kemudian menghajar wajahnya lagi.


“Sialan. Dasar tukang adu! Anak manja!” umpat Rich melampiaskan emosinya yang meluap. 


“Rich. Ingat kalian bersaudara!” peringat Alda menghalau. Terduduk di depan Efrain dan menjadi tameng yang semakin membuat Rich bertambah geram.


“Saudara macam apa kau. Tega mengadukanku pada daddy!” maki Rich, nafasnya terengah-engah sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah. "Dan sekarang kau mau jadi pahlawan kesiangan lalu merebut Alda dariku. Hah?"


“Rich. Apa maksudmu merebut? Aku bukan  kekasihmu dan aku juga bukan milik siapa-siapa!” tekan Alda begitu marah.


“Persetan!” tangan Rich menyingkirkan Alda tanpa sengaja, saat Rich yang kesetanan akan menghajar Efrain lagi. Hingga membuat Alda terjatuh menghantam aspal.


“Auw!” Alda meringis ketika sikunya berdarah karena hantaman itu. 


Rich tersadar dari kesalahannya, akan menolong Alda. Tapi kalah cepat dengan Efrain yang sudah mendekati Alda. 


“Sakitkah?” tanya Ef nampak cemas lalu meniup lukanya. 


Kepala Alda mengangguk, Efrain meneruskan lagi meniup siku Alda yang berdarah dan membersihkan. 


Rich tidak terima, kemudian menyingkirkan Efrain dari sisi Alda. “Enyahlah kau!”


“Pergi!” usir Alda menggebu-gebu pada Richard sambil berteriak.


“Maafkan aku Alda. Aku tidak sengaja melukaimu,” sesalnya hendak memberi perhatian. Tapi Alda menjaga jarak, ia mendekatkan dirinya pada Ef.


“Sikap kasarmu itu yang semakin membuatku benci. Kamu temperament! Urakan!” rutuknya mengeluarkan unek-unek yang selama ini terpendam.


Wajah Rich tertunduk lesu, lututnya bersimpuh di depan Alda yang tidak disangka membulatkan netra zamrudnya.


Saat tiba-tiba Alda nekat menangkup pipi Efrain. Kemudian mencium bibir saudara kembarnya itu di depan matanya langsung.