Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
43. Candle Light Dinner




Commonwealth Resort Hotel, UGANDA. Hanya sekedar visualisasi semata.


...----------------...


Rich membalik tubuhnya setelah mengunci pintu, menatap Alda yang bergeming di hadapannya yang menunduk malu.


"Apa ada yang salah di wajahku sehingga kau enggan melihatku, bunny?" Rich meraba-raba wajahnya sendiri.


”Tidak begitu, aku hanya sedikit kikuk. Kita ... Baru saja jadian, kan? Aku hampir tak percaya, si mesum ini sekarang menjadi kekasihku." Alda meringis dan itu membuat Rich semakin gemas.


"Mesum?"


Tangan Rich segera merengkuh pinggang Alda, menariknya lebih dekat dengan tubuhnya hingga tidak berbatas lagi.


Alda terkejut dan memekik. "Rich!" sambil menumpu kedua tangannya di dada Rich, tak segan lagi menyandarkan kepalanya di sana. "Tapi anehnya, aku menyukaimu."


"Telingaku sepertinya bermasalah, coba ulangi kau tadi bilang apa?" Rich menempelkan telinganya ke dekat wajah Alda.


"Aku menyayangimu, Rich."


"Lagi?" Rich tersenyum dengan hati berbunga-bunga. Akhirnya sekian lama kalimat yang ingin didengar bisa terwujud. Cintanya tak bertepuk sebelah tangan.


Walau rintangan dan aral datang menerjang. Berbagai kemelut dihadapi, pasang surut kepercayaan serta ketidaksadaran diri akan cinta di hati.


Menunggu waktu yang tidak sebentar hingga kisah asmara ini terjalin. Nyatanya jodoh pasti bertemu dan tidak akan pernah tertukar.


"Sudah lah, aku lelah. Kau tak mengatakan apa pun?" rajuk Alda membuang muka.


Rich bukan tipe orang yang suka berbasa-basi, diciumlah bibir Alda sebagai pembuktian. Tanpa melepas tautan, Rich menindih Alda di peraduan.


"Apa ini sudah cukup atau masih kurang?" tanya Rich masih terengah-engah nafas, dia mencium Alda begitu rakus hingga Alda nyaris kehabisan oksigen.


Alda mengusap bibirnya yang terasa lengket itu. Bibirnya manyun dengan dada membusung. "B-bisa turun sebentar?" gugupnya merasakan sesuatu yang bergerak dan itu bukan ular.


Sebenarnya gairah dalam diri Rich sudah tak mampu dicegah ketika berada di dekat Alda. Wanita ini mengalirkan energi pembangkit, seperti aliran listrik bertegangan sangat tinggi. Yang membuat sekujur tubuhnya menegang dan menegakkan sesuatu yang bukan tiang secara refleks.


"Oh, baiklah!" Rich menggelepar di sisi Alda sambil meletakkan lengannya di bawah dan memandangi langit kamar yang bisa menembus langit.


Karena separuh atapnya dari kaca dan bisa ditutup lagi secara otomatis.


"Bunny, lihatlah langit itu!" tunjuk Rich ke atas.


Alda menatap ke langit, Rich meraih tangannya dan mencium punggung tangan Alda.


"Aku sangat mencintaimu, Alda. Kau milikku, " lantas Rich membawa pandangannya ke Alda yang juga sama memandang.


"Kau tahu, Rich?"


"Tahu apa my bunny, sayangku?" Rich menggesekkan ujung hidungnya ke pipi Alda yang lembut, Alda memejamkan matanya dengan nafas cepat.


"Wajahmu itu selalu bergentayangan dan menggangguku setiap waktu. Apa kau juga sama?" tanya Alda memberanikan diri.


Entahlah, jika bersama Rich dia seolah bebas. Tak ada kekangan dan membuatnya tak ragu mengungkap seluruh isi di hatinya.


"Memangnya aku hantu, hum?" elak Rich sambil meniup-niup mata Alda. Tapi jujur, aku juga sama. Aku sebenarnya tersiksa dengan perasaan ini, bunny. Kau tak membalas cintaku padahal aku sudah memperjuangkan mu dengan sangat keras. Puncaknya aku sangat marah ketika kau mencium, Ef!" Rich meninggikan suara.


Alda merasa bersalah.


"Sayang, tolong maafkan aku. Waktu itu aku belum menyadari perasaanku untukmu," kata Alda yang menangkup rahang Rich dengan kedua tangannya.


"Cium aku kalau begitu?" pinta Rich meminta bukti.


"Di mana?" polos Alda.


Rich memanyunkan bibirnya. "Di sini."


Alda tergemap menelan ludahnya, perlahan ia langsung mencium bibir Rich walau ia amatiran. Tapi begitu ia menjelajah, Rich mengeksplorasinya. Membelit lidah Alda dan merubah atmosfer kian memanas.


"Rich, kumohon berhenti ... Ahh!" lirih Alda mendesis ketika setiap jengkal bagian atasnya disentuh pria itu.


Tanda merah cintanya tertinggal, apalagi pada bulatan yang daritadi diincar. Rich tak ingin berhenti dan terus berdiam di sana memuaskan diri.


"Bunny?" suara berat Rich berubah parau, menatap damba pada Alda yang menjauhkan diri dan memperbaiki penampilannya yang kacau.


"Aku belum siap, Rich. Mengertilah!" Alda berusaha menetralkan nafasnya yang memburu.


"Tapi aku menginginkanmu, Bunny ..." Rich mendekatinya sambil memeluk. Memberinya pengertian dan pujian cintanya yang tak putus. "I love you my bunny," katanya persis di daun telinga Alda.


Alda memejamkan mata, menarik nafas panjang ketika merasakan sekujur tubuhnya bergetar diserang sebuah damba. Memang terlalu sulit menolak Rich, setiap kali disentuh olehnya Alda sudah lupa diri dan menjadi hilang akal.


"Ini terlalu cepat, aku takut kau meninggalkanku dan mencampakkan aku begitu saja setelah mendapatkannya," terang Alda menggebu-gebu.


Kini Rich memahami kegelisahan kekasihnya. Nampaknya ia harus lebih banyak bersabar.


"Maafkan aku bunny," sesal Rich.


"Aku juga minta maaf, jika menurutmu aku tak seperti yang kau harapkan. Ada titik trauma setelah dulu kau berbuat itu padaku."


Alda menjelaskan kondisinya pertama kali, pasca Rich merenggut kehormatannya. Ia sangat hancur ketika itu dan tidak memiliki kepercayaan diri. Bahkan Alda membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuknya kembali normal.


"Tidak! Aku yang salah, Bunny. Tolong maafkan aku. Aku telah banyak menyakitimu selama ini." Rich menyeka air mata Alda yang berguguran.


Melihat air mata Alda, keinginannya pun musnah. Tak lagi ingin menyakiti Alda, Rich perlahan membuang jauh rasa itu.


"Terima kasih sudah memahami ku, Rich," ucap Alda yang serak dengan mata berkaca-kaca memandang pria itu. Akhirnya Rich tak memaksa dan bertindak brutal padanya. Setidaknya ini membuktikan jika Rich mencintainya dengan tulus.


"Supaya kau percaya aku tidak melakukan sesuatu padamu. Malam ini sebelum aku mengantarmu pulang besok. Kau bisa tidur di kamar ini sendirian dan aku tidur di kamar sebelah, oke?" putus Rich.


Alda menganggukkan kepala, tersenyum dan tak bersedih lagi. Senang karena Rich bisa menghargainya, Rich menunjukkan bahwa dia adalah pria sejati dan Alda tak salah menjatuhkan pilihannya pada Rich.


"Terima kasih sayang," ucap Alda membuat Rich senang mendengarkan panggilan itu.


"Katakan lagi, dua puluh kali?"


Alda terhenyak membulatkan mata. "Dua puluh kali?"


"Heum."


"Baiklah!" Alda menarik nafas panjang dengan sekali tarikan dia mengucapkan cepat kata yang diminta oleh sang kekasih dan yang terkahir bernada panjang. "Sayang, sayang, sayang ... Aku menyayangimu my Rich, kekasihku yang nakal!" Alda mengucapkannya lima puluh kali sebagai bonus untuk Rich.


Rich tergelak tawa. "Oh my bunny. Aku mabuk mendengar kata sayang darimu. Aku jadi semakin mencintaimu, cintaku ..."


Bibir Alda tersenyum lalu terkekeh. Detik berikutnya ia mengamati Rich dan terpaku saat kekasihnya tiba-tiba mengecup keningnya begitu lama.


"Bersiaplah, malam ini ada kejutan untukmu bunny! Pukul tujuh aku akan menjemputmu."


"Apa itu?" tanya Alda penasaran.


Rich mengedipkan sebelah matanya ke Alda dan memberikan kiss bye. "Mmuach!"


"Sayang, ayolah!" desak Alda ingin tahu kejutannya.


"Surprise jika diberitahukan, bukan namanya surprise kelinciku?" kekehnya gemas membuat Alda tersipu malu di atas ranjang sana.


...----------------...



Pukul 19.00 waktu malam setempat, Rich memenuhi janjinya. Ia menjemput Alda di depan kamarnya dan memanggil Alda begitu lembut dengan suara baritonnya yang berat.


TOK! TOK!


"My bunny, apa kau sudah siap?"


"Sebentar sayang, aku keluar!" sahut Alda dari dalam kamar.


Alda muncul dan membuka kamarnya, menyambut Rich dengan senyuman hangat lalu ciuman di pipi. "Cup!"


Tentu saja Rich langsung membalasnya, tapi di bagian bibir.


"Wow! Kau sangat mempesona malam ini my pretty girl?" pujinya tulus, memandangi dari bawah kaki Alda yang jenjang hingga ke kepala.


Wanitanya pandai memadupadankan pakaian. Kakinya yang putih mulus mengenakan Stiletto forgotten pink ber-high 5 cm dengan gaun merah tank dress. Dadanya menggumpal indah, teramat seksi untuk ukuran tubuh Alda yang padat berisi.


"Sayang?" Alda memanggil tapi Rich cuma diam saja dengan tubuh membeku.


Pria itu tak berkedip memandangi Alda yang membuat imannya goyah. Rasanya Rich ingin memakan Alda sebagai menu dinnernya malam ini. Sementara Alda terpaksa mengguncang bahu kekasihnya itu yang melamun.


"Kau mendengar ku sayang?"


"Ah, iya. Maaf honey, aku terhipnotis olehmu makanya aku tak fokus saat kau mengajakku bicara."


Alda menggigit bibir. "Aku bukan seorang magician, Sayang," kekehnya disambut Rich dengan tawa ringan. "Oia, apa gaunku terlalu mengundang perhatian? Jika kau tak menyukainya, aku akan menggantinya?" tanyanya meminta persetujuan.


"Tentu saja bunny. Lihatlah ikan-ikan kecil di bawah air itu dan ubur-ubur di ujung resto sana! Kepalanya sampai bersinar gara-gara melihatmu yang terlalu seksi! Hingga aku ingin mematahkan tulang lehernya supaya tak melirik-mu lagi!" ucap Rich dengan posesif.


Benar saja, mata jelalatan pria di sana terus memaku pada Alda dan Rich selalu menghalangi dengan tubuhnya yang tinggi. Baginya keseksian Alda hanya ia saja yang boleh menikmati. Hanya di dalam kamar tentunya.


"Pakai jasku untuk menutupi bahumu yang mulus! Tidak usah ganti lagi, karena aku sudah lapar dan biasanya perutku tak bisa diajak berdiskusi. Jangan sampai aku nekat memakan yang lain! Paham?" gertak Rich memandang penuh minat pada Alda.


Alda bergidik melihat sorot Rich yang digelapkan nafsu itu. "I-iya sayang. Tolong jangan makan aku, dagingku tak enak."


"Daging yang lain enak, pink juga kacangnya?" gumam Rich begitu pelan.


"Kau bicara apa?" heran Alda melihat Rich yang membasahi bibir dan melihat ke bagian bawahnya.


"Ah! Sudahlah, nanti kita terlambat!" Rich mengalihkan topik lalu segera menggandeng tangan Alda dengan sangat erat.


Tak dibiarkannya pria mana pun melirik Alda, maka Rich akan menghunus tatapan sengit sambil memperlihatkan revolver di balik jas.


Sukses! Kini tak ada lagi yang berani memandang Alda kecuali Rich. Hingga jeep yang mengantar pasangan itu telah sampai ke meja di pinggiran pantai.


Lilin di meja, hidangan candle light dinner tersaji dan di bawah kaki meja diputar wall—lamp berwarna kuning menerangi temaram-nya malam.


Beratapkan langit dan disinari terangnya rembulan malam purnama. Menambah keromantisan Alda dan Rich yang duduk semeja ber genggaman tangan.


Tak henti-hentinya Alda berdecak kagum akan surprise yang diberikan oleh Rich. Ia merasa tersanjung bahkan terharu dan menitikkan air mata. Apalagi saat ia mendengar pemain biola memainkan aransemen lagu A Thousand Years dari Christina Perri.


"Aku sangat mencintaimu, Alda Danurdara." Rich melafalkan itu dengan fasih menggunakan bahasa Indonesia.


Alda dibuat terkejut sampai membeku di tempat, kemudian ia tersenyum lebar sementara Rich menghapus air matanya dengan jari.


"Iya my bunny. Tiang tresna ajak ragane ..." kini Rich malah mengatakannya dalam bahasa Bali.


Hati Alda kian bergetar, hingga ia pasrah dan menangis kian deras dipelukan Rich. Begitu pria itu menyematkan cincin berlian di jari manisnya.