
Pukul 22.00 Wib, Bali.
Hujan lebat yang mengguyur sejak siang pemakaman Morren Edinghard, barulah reda di kegelapan yang diiringi bunyi khas serangga dan amphibi yang bersahutan.
Rumah bernuansa Gotik itu kini terasa lengang kembali, ketika penghuninya telah pulas dan keluarga Rich telah pergi lebih awal ke hotel pasca redanya hujan. Menyisakan Rich di sana, karena Noah merengek ingin tidur ditemani oleh papinya.
Sangat hati-hati Rich menutup pintu kamar Noah. Ia tersenyum lega putranya itu akhirnya tidur, setelah ia mengisahkan sebuah dongeng. Kini, ia berganti mengetuk pintu kamar Alda untuk berpamitan pergi.
“Al, apakah kau sudah tidur?”
Lama tak mendapat jawaban, Rich nekat membuka kamar Alda dan masuk. Ternyata Alda tak ada di kamarnya.
Rich menarik napas panjang. “Dia ke mana ya? Apa mungkin dia sedang di dapur,” pikirnya lagi.
Dan benar saja, Rich melihat Alda di dapur sendirian tengah mengaduk cangkir. Alda tak tahu Rich bersandar di pintu memperhatikannya sambil tersenyum. Alda mengenakan hot pants sepaha dan kaos longgar yang tak memperlihatkan seolah dia mengenakan celana.
'Apa si seksi itu berniat menggodaku?' Batinnya menahan diri.
“Ah!” pekik Alda terperanjat, saat ia merasakan dua tangan kokoh yang melingkari perutnya tiba-tiba. Alda mengangkat wajahnya yang tepat menghadap wajah Rich.
“Sedang buat apa, hum?”
Alda seketika membuang pandangannya ke cangkir teh itu dengan tangan gemetar.
“Buat teh, kau mau boo?”
“Mau tapi punyamu saja. Secangkir berdua, boleh 'kan? Bolehlah.”
Wajah Alda bersemburat merah. Dia yang bertanya dan menjawab sendiri. Alda tersenyum mendengar tingkah Rich yang konyol lalu mengalihkannya dengan hal lain. “Baiklah terserahmu. Apakah Noah sudah tidur, Boo?”
“Humm, sudah.”
Napas Rich yang hangat dengan bau mint itu, membuat seluruh permukaan kulit Alda meremang. Terlebih bibir Rich terus menciumi lehernya, jantung Alda jadi semakin berdebar-debar.
Alda menggeliat sambil memejamkan matanya. “Bunny, em. Ahh ... Nanti Ibu li-lihat?”
“Biarkan saja, supaya malam ini kita dinikahkan segera.”
Astaga! Tunangannya ini punya seribu alasan untuk mengelak. Alda dibuat keki karena terus kalah berdebat. Bisa-bisa Rich tak akan melepaskannya jika begini dan kini, Alda memutar otak mencari cara supaya bisa kabur dari cengkraman Rich yang agresif.
“Nanti kalau Noah lihat bahaya!”
Barulah setelah alasan itu diberikan. Rich berhenti mencium lehernya dan malah memutar tubuh Alda ke hadapannya. Bahkan justru menghimpit Alda tak lagi bisa bergerak, dengan pelukan yang semakin dipererat.
“Kalau begitu, give me one kiss sebelum pergi?” suara Rich terdengar berat dan serak-serak basah. Begitu mata kehijauan zamrudnya itu, yang tak sekalipun berkedip. Memandangi wajah cantik Alda malam itu. Dengan jari-jarinya membelai lembut pipi Alda yang mulus lalu memainkan rambutnya.
“Di pipimu?” Alda lekas mencium pipi Rich. “Sudah 'kan, ayo pergi!” sambil kedua tangannya berusaha mendorong dada Rich.
Rich menggeleng dengan suara seksinya itu. “Aku ingin bibirmu.”
Tubuh Alda berjengit menelan saliva. Saat Rich memajukan wajahnya dan melihat itu, telapak Alda dengan cepat membekap bibir Rich.
“No! Bunny,” katanya malu-malu.
“Kenapa tak boleh? Kau itu milikmu Alda,” tekannya yang membuat tubuh Alda semakin rapat dengan tubuhnya, hingga sekujur tubuh Alda berkeringat.
“Ya, tidak boleh. Nanti saja kalau sudah menikah. Um ... Well ... Berada di dekatmu membuatku haus Rich. Kau terlalu panas!”
“Panas? Teh itu yang panas.” Rich menyipitkan mata saat Alda meminum tehnya sambil memandangi Rich. “Kau menggodaku istriku?”
Uhuk!
Alda tersedak mendengar itu, buru-buru Rich mengambil cangkirnya dari tangan Alda dan meletakkan cangkirnya ke samping meja dapur.
“Kau membuatku terkejut hingga tersedak. Dasar!” Alda terkekeh. “Kita belum menikah boo, tapi kau sudah menyebutku istri? Bukankah lebih tepatnya calon istri?” Alda membenarkan Rich yang malah mengulum senyum.
Rich pun mendadak ikut nyempil meminum dari tepi cangkir yang sama. Sehingga mata mereka berdua saling mengunci.
Di saat itulah, dengan cepat Rich membuat teh itu berpindah ke meja dan ia memagut bibir Alda tanpa ampun hingga Alda kewalahan menyeimbanginya.
Menyalurkan kerinduan pada bibir ranum itu yang menyegarkan dahaganya. Bibir seksi yang manis telah lama tak pernah ia rasakan. Rich memperdalam ciumannya, lidahnya menari-nari dan membelit lidah Alda sambil jemarinya merasuki kaos Alda. Meremas dada yang penuh itu dengan gairah tak terkendali.
“Boo ...” napas Alda tersengal-sengal begitu Rich melepas ciumannya karena melihat Alda sulit bernapas. “To—tolong hentikan tanganmu, ahh!” desahnya memejamkan mata dengan kepala menengadah. Rich terus memainkan tangannya di bulatan itu yang sudah tak mengenakan kacamata.
“Aku ingin merasakannya, boleh 'kan?” tanya Rich napasnya tak kalah memburu. Dengan wajah merahnya itu yang terselimuti gairah, akan menyibak kaos Alda tapi Alda menahan kepala Rich.
“Nakal. Jangan sekarang, please. Ada ibu, di sana!” Alda mengedikkan dagunya ke arah pintu.
Rich percaya dan mengikuti petunjuk Alda. “Di mana ada ibu?” Lalu ia mengendurkan himpitannya pada tubuh Alda.
Sehingga Alda mempergunakan itu untuk segera turun dari meja dapur dan mendorong Rich sampai keluar pintu.
“Cepat pergi, Boo. Sudah malam!” suruh Alda sambil menyilangkan tangan di depan dadanya yang terasa tak nyaman, karena terus dipandangi oleh Rich.
“Awas, ya. Sudah membohongiku!” desis Rich pura-pura marah.
Alda tertawa pelan, tak tahu jika kebetulan Rendra tengah melintas dengan motornya. Mengamati tingkah Rich dan Alda diam-diam dari motornya yang disembunyikan ke semak-semak.
“Kau sih, nakal!” kata Alda malu-malu.
“Hmm, baiklah. Aku pergi, tapi jangan lupa besok aku dan mommy akan menjemputmu untuk fitting gaun pengantin dan izinkan Noah pada gurunya, supaya dia bisa ikut. Karena anakku harus dipilihkan jas yang sesuai ukurannya di pernikahan kita nanti.” Rich mengingatkan.
“Tentu saja boo, terima kasih sudah menyayangi Noah dengan sepenuh hati,” ucap Alda.
“Dia anakku, darah dagingku. Aku pasti menyayanginya, juga maminya.” Rich mengedipkan sebelah matanya pada Alda yang seketika tersipu malu. “Masuklah ke dalam! Aku tak ingin mata jahat pria lain melirik calon istriku yang cantik ini!”
Alda mengangguk, “Aku masuk dulu, ya. Selamat malam boo. Sampai bertemu besok.”
“Selamat malam bunny,” balas Rich saat melihat tubuh Alda terhalang pintu itu yang akan segera tertutup sempurna. “Tunggu bunny, ada yang ketinggalan!”
Alda gegas membuka lagi pintunya dengan kepala menyembul dan Rich mengikis jaraknya dari Alda.
Cup!
Ciuman singkat Rich benamkan di bibir Alda yang terkesiap membolakan mata. Rendra yang melihat itu pun terbakar api cemburu yang ia lampiaskan dengan mencengkram dedaunan sangat kuat.
“Boo ...!” rengek Alda kesal.
Rich mengusap bibir Alda yang basah dengan jarinya. “Satu sama. Kita impas, kau bohong. Aku juga bohong.”
Brakk!
“Astaga, dia ngambek!” Rich menggeleng ketika Alda menutup pintu rumahnya begitu saja. Ia pun melenggang pergi sambil menggerutu. “Wanita memang selalu benar dan tak mau salah.”
Namun, Rich dihadang oleh Rendra ketika akan memasuki mobilnya.
“Kenapa malam-malam begini ada di rumah anak gadis orang? Apalagi Tuan Morren baru saja meninggal. Jadi tidak pantas kau bertamu selarut ini. Dasar memang bule tak tahu sopan santun! Sukanya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan!” protes Rendra yang membuat Rich menyeringai.
“Alda calon istriku, Noah anakku. Apa salah aku menemui mereka? Lagi pula yang salah itu kau. Sudah ikut campur urusan orang lain!”
Rendra terkejut dan bingung. “Calon istri? Noah anakmu?” tanyanya yang tak tahu, karena ia baru pulang dari luar kota dan hanya mendengar berita kematian Morren saja. Maka dari itu ia segera pulang ke Ubud hendak melayat.
“Sekarang kau sudah tahu semuanya. Jadi, menjauhlah dari Alda atau kau akan berurusan langsung denganku. Ingat! Aku tak pernah takut pada siapa pun dan perlu kau juga tahu. Papi Morren sudah memberiku restu dan menyerahkan Alda padaku sebelum ia tiada. Camkan itu baik-baik, Brigadir!” Rich memperingatkan Rendra dengan gaya santai, sambil membenahi tag name pria itu yang miring.
Kemudian masuk ke mobil Ferrari nya, melenggang pergi darinya dan tak mempedulikan Rendra yang masih mematung.
***