
Richard sulit menolak ambisi Cello, terlebih setelah lama ia tak pernah merasakan kenikmatan yang begitu luar biasa ini. Wanita itu tahu, di mana pusatnya.
Seperti vakum cleaner, menghisap kuat. Semakin menekan ke dalam dan menyeluruh. Tegangannya yang begitu dahsyat mengalir hingga ke saraf. Memerintahkan bagian lain ikut terseret ke dalamnya dan terperangkap.
“Ogh!”
Tetapi kemudian Richard sadar, jika ia tak akan bisa memenuhi apa yang diinginkan Cello. Sehingga ia pun memutus tali kenikmatan semu ini sebelum terlambat. Ia takut ketahuan oleh Cello dan terbongkar aibnya. Maka harga dirinya nanti sebagai seorang pria akan jatuh.
Sial, sial, sial.
Rich sungguh frustasi. Kenikmatan yang tadi menggetarkan tubuhnya, mendadak hampa. Ingin disudahinya, tapi Cello malah memancingnya lagi dan pantang menyerah.
“Celo, arrh!”
“Biarkan aku menikmati ini, sayang.”
“Tidak sekarang, Cello. Mengertilah!” Richard mendorong wanita itu, sementara ia beranjak akan pergi.
Goddamn.
Tetapi Cello memaksakan kehendaknya dan memimpin permainan itu. Tanpa menunggu kesepakatan Richard, mau atau tidak.
Entah kenapa di saat Richard kalut. Wajah Alda tiba-tiba melintas di pikirannya.
Rich seolah dialiri tekanan listrik berkekuatan tinggi yang menyerbu sekujur tubuhnya dengan hawa panas. Terbakar panas akan gairah dan bagaimana ia menemukan sebuah rumus. Rumus bukan sembarang rumus yang dia dapat tiba-tiba. Mengarah ke sebuah kunci rahasia tentang sesuatu yang dibanggakan seorang pria.
Ya, aku akan mencoba bercinta dengan Cello seolah membayangkan jika aku melakukannya bersama Alda.
Senyum liciknya tersungging. “Jangan salahkan aku Celo, karena kau sendirilah yang memancingku begini.”
“Aaahhh!” jerit manja Celo, ketika Richard membalik tubuhnya.
“Kamu suka, heum?” tanya Richard melambungkan wanita itu yang terus berisik.
“Bagaimana tidak suka tampan? Kau ahlinya, I love you Rich. Love you so much, do you love me baby?”
“Tapi aku tidak mencintaimu. We're just having fun!” kata Richard membalik situasinya semakin tak terkendali.
Gila, impian Cello terwujud. Ia merindukan ini sekian lama dan mendapatkan ini seperti sebuah keberuntungan.
“Alda... Aku mencintaimu sayang. Ohh! Ini luar biasa. Apa kau juga demikian?”
Richard berimajinasi seolah wajah memerah dengan peluh menitik itu, adalah Alda. Celo mengernyit keheranan, hatinya terbakar cemburu tapi riskan juga untuk menanyakan itu sekarang. Tatkala kenikmatan yang tiada tara kini berada di puncak sulit untuk dihentikan.
“Rich... Ahh!”
Plakk!
Richard menampar Cello sangat keras, herannya Cello menyukainya meski ia tak nyaman.
“Alda. Ini yang kumau.”
Rich menekannya lebih dalam, sambil mencengkram kedua bahu Cello. Puas sekali setelah lama kehilangan apa yang ia banggakan.
“Celo! Aku Celo, Rich. Bukan Alda!” akhirnya ia tidak terima.
“I don’t care, jangan ganggu fantasiku brengsek!” marah Richard pada Cello yang dianggapnya tak tahu diuntung.
Dia yang menantang, maka dia lah yang harus menanggung segala akibatnya sendiri. Jangan mengeluh di saat coba-coba membangunkan singa lapar, jika tak mau berakhir tragis.
“Rich!” pekik Cello dengan wajah merah padam, tubuhnya terasa remuk dan begitu merasakan sakit seolah tersayat-sayat.
“Alda. Aku mencintaimu!” Richard menengadahkan wajahnya ke langit kamar, bersama hangatnya aliran deras itu menemui muara kenikmatan.
Siapa wanita bernama Alda?
Dada Celo terengah-engah, saat mengingat nama itu yang terus terngiang di kepalanya seperti hujaman batu meteor ke bumi. Pelukan Richard semakin kuat melingkari perutnya, tertidur dengan nyenyak. Tidak mempedulikan hati Celo yang dongkol.
***
Malam terasa dingin, udaranya membelai kepolosan Richard yang menggeliat di atas ranjang. Aroma kopi jenis cafe con miel, menyerbu indra pembaunya hingga membangunkannya dari mimpi indah.
“Kau bangun, sayang.” Celo mengecup pipi Richard.
“Emh, ini jam berapa Celo?” tanya Richard, sedikit melirik jam di ponsel.
“Pukul sebelas malam, tidurlah lagi jika kamu mengantuk. Aku tidak bisa tidur,” kata Celo kurang bergairah.
Richard tidak peduli. Celo menyodorkan kopi itu padanya dan ia langsung menyeruputnya dengan tiupan pelan.
Senyum tipis di bibir mungil agak menebal karena ciuman dari Richard waktu lalu. Agaknya menjadi candu bagi Cello yang kini bergelayut manja di dada Richard.
“No, aku pesan dari coffee shop di bawah. Aku mana bisa membuat kopi, sayang?” jawab Celo terus memepet Richard, terutama bibirnya. Tanpa sungkan ia cium bibir pria itu dan Richard pun meladeninya.
“Ya, aku sudah menebak demikian.” Richard melepas ciuman itu, lalu meminum lagi kopinya hingga setengah cangkir.
“Rich, aku boleh tanya sesuatu?” Cello menatap pria itu begitu dalam, suaranya menandakan bahwa dalam dirinya kini menyimpan sejuta kecamuk rasa sakit yang terlampau menyiksa batin.
“Tanya saja,” sahut Richard seraya berlalu ke kamar mandi.
“Siapa Alda?” ceca Cello menanyakan itu penuh kemarahan. Hari ini juga ia mau jawabannya, tak peduli nanti atau besok.
Langkah kaki Richard tercekat di ambang pintu. Berbalik badan dengan tubuh menyandar pada dinding kamar mandi.
“Wanita yang sekarang menghuni hatiku,” jawab Richard dengan enteng.
“A-apa?” terkejut Cello, hatinya terasa seperti diiris sembilu yang membuatnya sangat perih. “Kau tidak mencintaiku? B-bahkan setelah apa yang tadi kuberikan?”
Kini Celo mendekatinya, mata kecoklatan itu sudah terisi buliran bening mengambang dengan wajah memucat.
“Tega sekali kamu Rich. B-bercinta denganku tapi yang kamu bayangkan itu wanita lain?” Celo tidak habis pikir. “Kamu jahat!” lalunya memukuli dada Rich.
“Hei!” Richard menahan kedua tangan Celo sangat kuat. Menatap dalam iris mata itu yang menitikkan air mata. “We're just having fun, baby? Ada apa denganmu? Bukankah sudah aku katakan, aku tidak mencintaimu? Pikir!” Richard mengetuk kening Cello agar kewarasannya kembali.
Hiks, hiks.
“Tapi...”
“Why not? Kau yang memaksaku bukan? Bagiku se* is just sport, kau tahu dari dulu aku seperti itu. Tapi kenapa kau masih mau?” Richard tersenyum culas.
“Kau hanya milikku, Rich!” pekik Celo berintonasi tinggi.
Richard mengeratkan gigi, menepis kasar tangan Celo dari tubuhnya. Kemudian mengenakan pakaiannya kembali tanpa mendengar rengekannya.
“Dalam mimpi?” desis Richard tak ingin diperbudak.
“Shit! Bukan mimpi tapi real. Ayolah, please …” rayu Cello dengan segala cara.
Banyak hal dikatakan wanita itu hingga berbusa, Richard seakan jual mahal. Sementara Cello bagaikan seorang pengemis, yang mengais cinta darinya.
“Oke, kau bisa mendapatkan tubuhku kalau kau mau. Tapi tidak dengan hatiku. Camkan itu, Cello!” hardik Richard menatap tajam pada Cello yang berisakan tangis.
Meninggalkannya begitu saja, kini bersimpuh ke lantai karena tidak berhasil menghalaunya pergi.
“Rich, jangan tinggalkan aku. Kumohon!” teriak Cello memanggil, hingga mengejarnya ke arah basement. Tapi Richard mengacuhkannya dengan segera menaiki taksi online yang sudah dipesannya beberapa menit lalu.
“Jalan, Pak!” perintah Richard pada sopir taksi. Terlihat sibuk menelpon seseorang dan membicarakan hal penting.
***
Beberapa menit kemudian.
Kericuhan menyambut kedatangan sang casanova yang terlahir kembali. Meja casino dipenuhi penjudi. Seseorang mendekatinya dengan pelukan, disertai sambutannya yang hangat dan senyum ramah, seolah lama tidak pernah bersua dan begitu menghormatinya walau terbilang usianya lebih muda darinya.
“Bagaimana kabarmu, Paman?” tanya Richard pada sosok pria beruban ini yang termakan usia, tetapi masih terlihat bugar dan gagah.
Marco menepuk bahu Richard, Richard tersenyum simpul dan mengikutinya duduk di sebuah ruangan khusus. Katakan itu vip, karena tak ada lagi orang selain mereka berdua di sana.
“Aku baik dan bisnismu juga kelihatannya semakin berkembang,” tutur Marco seraya mengajak Richard kemudian berkeliling ke setiap sudut ruangan bercahaya remang-remang itu.
“Semua berkat, Paman. Terima kasih,” ucap Richard sambil menyulut rokok.
“Hanya sekadar bantuan kecil. Mengingat jasa daddy-mu padaku dulu, Nak. Itu tidak seberapa,” imbuhnya.
Bukannya senang, mendengar hal itu Richard memalingkan muka dan berdecak kesal.
“Tolong paman. Bisakah kau tidak menyebut nama itu lagi di depanku mulai sekarang?”
Richard mengejutkan Marco yang menatapnya penuh tanya, tapi tiba-tiba pemuda itu malah ngeloyor pergi ke meja paling sudut usai bicara. Meminta pelayan untuk memberinya alkohol.
Wajah pria tua tadi, nampak keheranan. Diliputi penasaran berlebih, lantas menghampirinya. Kini, turut menggeser kursi di sebelahnya duduk, karena ingin mengutarakan suatu hal.
“Maaf kalau aku menyinggungmu, tapi... sebenarnya masalah apa yang terjadi. Sehingga kau membenci daddy mu, Nak?” tanya Marco menatap Richard, belakangan ini dia kurang up to date. Karena terlalu sibuk mengurus usaha club malam milik Richard.
“Cukup paman.” Richard menggebrak meja, sontak menyita perhatian semua orang melihat ke arahnya. “Kubilang jangan sebut dia lagi!” geramnya sangat emosi.