Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
20, Nafas Buatan



Bahaya itu semakin mengintai Alda, keadaannya memprihatinkan. Ia sudah tak kuat menahan nafasnya lama-lama. Berjibaku kala air mulai masuk dan terhirup ke paru-parunya. Ia merasa berada di antara hidup dan mati karena sulitnya bernafas.


“Papi, help me!” 


Volume teriakan Alda mengecil, tangisannya hanya bisa terjerit dalam hati. Di saat tubuhnya melemah. Kini dalam ingatannya terlintas bayangan  papinya. Biasanya jika ia berada dalam kesulitan atau bahaya. Papinya selalu datang menolong dan kini ia berharap hal itu akan menjadi kenyataan. Tapi bisakah?


Tuan Morren saja berada di Negara berbeda dengannya, yang ada hanya Richard. Namun, pria itu malah bergeming di pinggiran danau. Bisa-bisanya mengira Alda tak betulan tenggelam, hanya berpura-pura mengerjainya saja. Karena tadi sempat ngambek.


Hingga terdengarlah suara celetukan seseorang yang berdiri di belakangnya. “Kudengar dari pengunjung kedai es krim ini.  Di tengah-tengah danau  airnya lebih dalam. Ya, jika tak salah kurang lebih seribu dua ratus meter.  Tapi tak lebih dalam dari danau baikal di Siberia, sih?”


Wanita muda disisinya menambah kepanikan Richard kian menjadi. “Bagaimana jika ada ikan piranha di dalam danau, buaya, ular atau reptil berbahaya lain menyerangnya? Aku tidak yakin wanita yang tenggelam itu bisa selamat.”


“Kau pikir ini amazon? ****! Kau terlalu berlebihan, Moana.”


“Yeah, aku saja takut sayang. Makanya aku berasumsi begitu. Tapi lihatlah kekasihnya, kenapa malah diam saja dan tak memberinya pertolongan?” desis wanita ini melirik jengkel pada Richard. 


“Yang mana kekasihnya?” tanya pria itu mencari-cari.


“Itu yang tampan tapi tolol!” sindir wanita bernama Moana itu mengedikkan dagu pada Richard yang berada di depannya. “Jika aku di posisi wanita itu, seandainya nanti selamat. Pasti aku langsung memutuskan hubunganku dengan dia dan lebih memilih menikah dengan pria lain. Dia terlalu menyebalkan, dasar banci!”


“Hei, seseorang tolong wanita itu! Panggil rescuer atau siapa saja!” teriak orang lain mulai berkerumun, menyaksikan Alda yang tenggelam.


Bola mata zamrud Richard melebar sepenuhnya, berikut kecemasannya membuat jantungnya sempat berhenti. Gara-gara otaknya yang eror dan mendapat sindiran banci oleh wanita itu  pula, ia terpacu dan langsung bertindak. Apalagi sudah dua menit berselang, Alda berada dalam air. Richard takut Alda tak bisa bertahan.


“Oh, damn! Tubuh Alda tak terlihat!” decak Richard meraup wajahnya dengan kasar.


BYURR!


Richard melompat ke  danau tanpa melepas sepatu dan atribut lain yang melekat di tubuhnya. Berenang cepat, dari tepian danau ke tengah-tengah untuk mendekati Alda yang malang. 


‘Papi …’ sebut Alda dalam hati. Karena kepanikan dan ketakutan berlebih. Ia tak kuat menahan nafas lebih lama, bahkan untuk menangkal air yang masuk. Sehingga ia hilang kesadaran dan kini tubuhnya tak terlihat lagi di permukaan. Perlahan tenggelam ke dasar air danau.


“Alda!” teriak Rich sangat keras, di saat ia hampir putus asa. Tak menemukan Alda di titik awal wanita itu terlihat.


Lantas ia kembali menyelam, berenang lebih jauh dan muncul lagi ke permukaan. Memanggil-manggil nama Alda dengan frustasi. “Aaaarh!” danau itu berukuran luas, sulit baginya mencarinya sendiri.


Rich membutuhkan bantuan rescuer kali ini. Beruntungnya setelah itu, ia mendengar mesin boat yang mendekat. Suara tim rescue pun ikut memanggil Alda dengan pengeras suara –sejenis subwoofer.


“Tuan, maaf kami terlambat datang,” sesal salah seorang mewakili, dia mengenakan atribut lengkap di tubuhnya saat menyelam.


“Oke, sekarang kita harus berpencar. Tolong jangan buang waktu kita!” pesan Rich yang tampak kacau, dihantui rasa bersalah selain rasa takut terbesarnya akan kehilangan Alda.


Mereka setuju usulan Rich. Lima orang rescuer yang  turut menceburkan diri ke dalam air danau, menyelam sesuai pembagian arah. Selatan ke utara, timur dan Rich bergerak ke arah barat. 


Nihil! Sudah berputar-putar macam orang gila. Rich tak menemukan Alda, danau itu terlalu dalam. Ia nyaris hilang harapan, tetapi sewaktu ia akan naik ke permukaan gespernya tersangkut sesuatu.


Rich menurunkan pandangannya yang sempat berkabut, karena perih terlalu lama berendam di dalam air. Netra hijau zamrudnya itu terbeliak. Jantungnya yang seakan berhenti berdetak kembali terpompa. 


Tuhan masih berbaik hati, doa pendosa ini didengar. Ternyata benda yang tersangkut di gespernya itu adalah tali sling bag milik Alda yang masih terselempang di tubuh wanita tersebut.


“Honey?” bahagia Rich tak dapat diukur dengan apapun selain bisa bertemu Alda lagi. Lebih dari sekadar binar mata seseorang kala melihat berlian atau dollar hijau.


Rich segera memeluk pinggang Alda. Membawanya berenang ke atas permukaan air dengan cepat. Melihat itu pun, tim rescue turut bersyukur. Berlomba membantu untuk menaikkan tubuh Alda dan Rich ke atas boat. 


Rich menggendong tubuh Alda ala bridal, setelah turun dari boat. Melangkah tergesa-gesa ke arah  kedai dan membaringkannya perlahan ke tempat datar berposisi terlentang.


“Honey, bangun?” cemas Richard memanggil-manggil Alda  sambil menepuk kedua pipinya. "Jangan begini, Al. Bangun honey, my bunny. Please, ini tak lucu. Aku sangat mencintaimu, jangan pernah tinggalkan aku ... Oh! God, tolong Alda." Rich menaikkan matanya ke atas, menahan serbuan air mata itu agar tak jatuh. "Panggil dokter atau tim medis!" seru Rich berteriak pada pihak staf di kedai itu.


"Mereka sedang dalam perjalanan kemari, Tuan. Semoga setelah ini mereka sampai," Manager kedai mengatakannya.


Rich mengangguk, "terima kasih." Ia panik seperti lantaran tak ada respon dari Alda yang tak sadarkan diri.


Lalu Rich pun mendekatkan kepalanya ke dada Alda untuk memeriksa denyut jantungnya. Pelayan lain datang menyerahkan handuk yang segera dibalutkan Rich ke tubuh Alda supaya tak kedinginan. Ketika ia mengetahui seluruh tubuh Alda yang pucat begitu dingin. 


“Bagaimana, Tuan? Apakah dia masih bernafas?” tanya salah seorang rescuer pada Rich.


“Iya.”


Semua pun lega mendengar itu, terlebih Richard. Tak lama bantuan medis datang menghampiri. Setelah tadi kejadian Alda tenggelam, pihak kedai langsung menghubungi dokter.


“Rich?”


Suara pria ini begitu familiar membelai telinga Rich, membuatnya  lekas  menoleh dengan tubuh berjengit. “Nick? K-kau dokternya?” tunjuk Rich tak percaya melihat iparnya sendiri.


“Ya, kebetulan kedai ini bekerjasama dengan rumah sakitku. Dokter umum yang biasanya kemari, sedang penuh pasien. Aku longgar sehingga aku yang datang. Berhubung ini emergency, tak kusangka aku malah  bertemu denganmu, my brother.”


Nick tersenyum memeluk Richard, begitupun kembaran istrinya itu. Reuni keluarga berlangsung singkat, ketika Nick harus cepat-cepat memberi bantuan medis pada Alda.


“Dadanya harus dipompa, Rich. Seperti ini …” Nick akan melakukan itu, tangannya baru akan terulur ke tubuh Alda. Tetapi langsung ditahan Rich yang melarang.


“Biar aku saja, dr. Nick. Jangan kau yang melakukannya atau nanti kau akan kulaporkan pada Abelle!” kecamnya setengah galak.


Alis Nick terangkat naik mendengar itu.  Bagaimana kredibilitasnya sebagai dokter diragukan? Goddamn. Apalagi menurutnya alasan Rich tak masuk diakal. 


Oh, kini Nick tahu.  Ia bisa  menangkap sinyal khusus yang tebakan jitunya berputar-putar di otaknya. Jika ada something antara Richard dan wanita yang habis tenggelam itu.


“Baiklah. Ikuti instruksi dariku,” Nick mengalah, lalu memperagakan dengan gerakan tangan. Sedangkan Rich mempraktekkannya langsung pada Alda.


Kedua tangannya bertumpu di dada Alda, sesuai instruksi dari Nick. Menekan sesuai hitungan mundur, tetapi selama itu pula belum membuahkan hasil maksimal. Nick mencoba memeriksa denyut jantung Alda dengan stetoskop, lalu mengecek pupil matanya.


“Alda pasti bisa selamat kan, Nick? Ku mohon, selamatkan dia…” pinta Richard dengan permohonannya yang tulus itu menatap Nick tampak begitu sedih. Bahkan getar suara di tambah gelagatnya pun, ia seakan takut kehilangan wanita ini.


Tidak biasanya sikap Rich begitu melow. Bukankah terkesan aneh dan tak cocok untuk style seorang Rich yang slengean, konyol, happy man, tengil dan bastard. 


What happened to him, has he been blinded by love? 


Kendati Nick sendiri penasaran sekali, ada hubungan apa antara iparnya itu dan wanita ini. Dirasanya bertanya sekarang, bukanlah waktu yang tepat.


“Dia hanya pingsan dan paru-parunya terisi sedikit air, maka dari itu harus segera dikeluarkan airnya,” jelas Nick.


“Caranya?” tanya Richard mendesak, ia tak mau nyawa Alda sampai tak tertolong dan jika itu sampai terjadi. Ia tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri seumur hidup, 


“Berikan dia nafas buatan.”