Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
87. Malu-malu tapi Mau



Entah keberapa kalinya, Alda sulit menghitung. Dengan jeda istirahat hanya sebentar, makan dan tidur menjadi tak nyenyak. Disebabkan oleh ulah Rich semalaman, yang menggempur tubuh Alda habis-habisan hingga dini hari. 


"Ngh!"


Alda menggeliat tertahan, tak bisa bangun. Tubuhnya yang masih tak mengenakan apa-apa itu, dilingkari lengan kekar suaminya. Memeluk dadanya dengan tubuh padatnya itu menghimpit terlalu rapat. 


"Suami, bangun. Ini sudah siang? Ah, ayo!" rengek Alda. 


Bukannya tergerak setelah dibangunkan, suara lembut Alda malah terdengar seperti dendangan lagu pengantar tidur. Semakin membuat Rich larut ke alam mimpi. 


Alda membuang nafas kesal, merotasikan matanya. "Oh, Tuhan. Sampai kapan aku akan begini? Aku juga ingin mandi dan menelepon Noah. Rich, ayo bangun!" 


Wajah tampan Rich, tampak mengukir senyum dengan menampilkan deretan gigi putihnya. Alda curiga kalau Rich hanya pura-pura tidur. Ia pun meniup telinganya dengan nafasnya yang hangat. 


Mulanya Rich tahan, tapi lama-lama tiupan Alda justru membangunkan yang lain dan ia meraih tangan lembut istrinya untuk memegang itu. 


"Aaahh!" jerit Alda terkejut, merasakan tongkat berurat yang mengeras dengan jantung berdebar-debar. 


"Em, terus sweety … Ooh! Ya, begitu." Rich melenguh, menikmati sentuhan Alda yang ia arahkan dengan masih memejamkan mata. 


Bahkan mulutnya yang tak bisa diam itu, kini melahap puncak gunung terindah. Rich menikmatinya hingga Alda ter*ngs*ng.


"Boo … Sudah cukup. Aauh …" Alda menggelinjang sambil menjambak rambut Rich. 


"Salah sendiri menggodaku. Hmm … Jadi aku akan menikmatimu lagi sekarang," ucap Rich serak, berat yang semakin membuat Alda blingsatan. 


Gerakan lidah basah pria ini menyalurkan gelombang panas, menyebabkan Alda mulai tak bisa lari dari jeratannya. Ada yang berdenyut tapi bukan nadi, seperti ingin buang air tapi mengalir pelan. 


Rich tersenyum puas melihat Alda yang menginginkan lebih dari sekadar sentuhan. Ia pun menekuk kedua kaki Alda dan membenamkan kekuasaannya di sana. 


"Aaah …" suara lembut Alda berganti desauan rendah yang terdengar seksi membelai telinga Rich. 


"Katanya tak mau, hum?" Rich memandangnya sambil bergerak maju dan mundur. 


Jemari lentik Alda memeluk punggung Rich sangat erat, karena goncangan itu yang dahsyat. Tanpa sadar ia pun refleks melandaikan bibirnya di perut six pack suaminya itu, yang padat nan seksi. 


"Boo … Kenapa kau sangat tampan?" Alda terpesona memandangi wajah Rich yang terlihat jantan dengan peluh itu. 


"Hah, apa? Katakan sekali lagi. Aku tak dengar kau menyebutku apa, Seksi?" tanya Rich terputus-putus saat ia masih menghentakkan miliknya semakin dalam. 


Wajah Alda merona merah dan sayu. Malu-malu dia mengatakannya dan membelai rahang kokoh Rich. "Tampan, I love you."


Rich tersenyum gemas. "I love you too bunny, honey, sweety." 


Tak tahan lagi melihat bibir penuh Alda. Jarinya menaikkan dagu lancip istrinya itu, lalu mencium bibirnya rakus. Alda pun membalas ciuman itu, yang ternyata begitu nikmat. 


"Mengapa kau sangat sempit, Bunny! Katakan?" tanpa berhenti Rich terus membuat Alda terantuk-antuk membentuk headboard. 


"Aahhh … Boo …" desah Alda memperkuat cengkramannya di bahu lebar Rich. Ia sudah dibuat lumpuh dan mengakui betapa hebatnya  permainan Rich melambungkannya ke surga dunia. 


"Faster, hum?" bisik Rich di telinga Alda. 


Alda yang ingin mencobanya pun mengangguk dan benar saja. Ia sampai hampir terjatuh ke bawah ranjang, karena goncangan maha brutal. 


"Aahhh! Uhh, boo …!" jerit Alda pasrah ketika merasakan sebuah semburan lurus. 


Rich mengerang keras bersama hentakannya yang semakin cepat itu, setelah perlahan energinya terbuang ke suatu titik. 


"Bunny, aku tergila-gila padamu …!" 


***


Selepas percintaan itu yang panjang, Alda dan Rich mandi bersama. Rich menggosok punggung Alda dengan sabun cair ekstrak buah dari Australia. Baunya yang harum, memberikan sensasi rileks. Seketika lelah itu sirna berganti ketenangan. 


"Ini sabun mandi pemberian dari mommy, Boo. Salah satu kirimannya selain kosmetik dan lulur. Aku bangga, mommy sangat pandai memilih barang dan menjaga kesehatan kulit di usianya kini yang tak lagi muda," puji Alda sambil menikmati pijatan Rich. 


"Mommy ku memang is the best. Apakah kau benar-benar suka, hum?" tanya Rich yang memijat tapi juga mencumbu bibir Alda. Setiap berdekatan Rich tak pernah melepas Alda, semua ekspektasi dan obsesinya direalisasikan sekarang.


"Suka sekali."


"Nanti kalau habis, aku akan memborong satu pabriknya untukmu."


Alda terkekeh, membingkai wajah Rich dengan membalurkan busa di wajahnya yang tampan.


"Jangan berlebihan. Aku bukan wanita materialistis, Boo. Secukupnya saja dan jangan memanjakanku. Aku sudah terbiasa hidup mandiri," kata Alda yang bernada sedih. 


"I know. Karena itu, aku tak hanya mencintaimu dari parasmu yang ayu ini, Bunny. Bukan pula sekadar tubuhmu yang seksi. Tapi juga dari kesederhanaanmu, aku terpikat olehmu." Rich berkata tulus. 


"Terima kasih sudah mencintaiku, Boo." Alda tersenyum lega, ternyata keraguannya selama ini tentang Rich salah besar. Dia penyayang, perhatian dan sangat baik. 


"Andai dulu kau mau aku nikahi, Bunny. Setelah peristiwa aku …" kelunya mengucap, "aku memperk*samu. Pasti  kita akan hidup bahagia bersama Noah dan aku tak perlu bertamu Cello."


Rich menyesal, Alda berusaha meredam penyesalannya. 


"Ini semua sudah takdir. Mungkin jika tak melalui Cello dan kehadiran Noah, kita tak berjodoh—"


Kepala Rich menggeleng, jarinya membungkam Alda. Melarangnya bicara sembarangan. 


"Aku dan kau berjodoh. Kau tahu? Bahkan aku sudah jatuh cinta sejak pertama kali melihatmu, di antara ribuan mahasiswa di Harvard University waktu itu. Kau sudah menjeratku dengan segala kesederhanaanmu Alda," beber Rich jujur. 


Alda tertawa pelan. "Mantan-mantanmu banyak yang cantik dan lebih segala-galanya dariku."


"Tapi kau istimewa dan berbeda dari yang lain?" Rich dengan cepat menyanggah. 


Kening Alda mengernyit lalu tersenyum manis. "Istimewa? Aku merasa biasa saja."


"Senyummu ini," urai Rich dengan jemari terulur menyentuh bibir Alda. "Selalu membuatku meleleh. Wajahmu membuatku terpikat dan semuanya yang ada pada dirimu membuatku sulit melupakanmu Alda. Sungguh ..."


"Suamiku memang benar-benar pintar merayu. Pantas saja semua gadis langsung takluk dan jatuh dalam pesonamu boo …" lontar Alda mengetahui seluk beluk Rich dulunya seperti apa. 


Keduanya pun tertawa untuk beberapa saat. Menghabiskan waktu berdua yang intim tanpa canggung lagi. 


"Aku jadi teringat dan ingin tahu, bagaimana dulunya saat kau hamil anak kita Noah," selanya penasaran dan merasa inilah momen yang tepat untuk bertanya. 


Alda sesaat terdiam, wajahnya menunduk demi menyembunyikan rentetan air mata yang tiba-tiba menerjang. 


"Jangan ragu memelukku mulai sekarang. Aku adalah tempatmu bersandar bunny. Bagilah suka dukamu hanya padaku." Rich menghela nafas sesak, membayangkan betapa kerasnya perjuangan Alda. Ia mengangkat wajah Alda dan menghapus air matanya. 


"Boo …" pekik Alda langsung menabrakkan tubuhnya dalam dekapan Rich yang hangat. Menumpahkan air matanya deras tanpa ragu, sementara Rich memeluknya sangat erat. 


"Tenang ya, cerita pelan-pelan dan tolong maafkan perbuatanku di masa lalu, Bunny. Aku mencintaimu ..." serak Rich menahan gelombang penyesalan. Ia merutuki dirinya yang menyebabkan Alda pasti menanggung malu dan berada dalam masalah besar.


"Waktu itu …" Alda terisak-isak mengulas masa silam. 


🌹 Bersambung, besok lagi … Pov Alda hamil Noah.