Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
93. Sedikit Bermain dengan Lawan



Rukma menggeleng tak tahu, sejak kapan juragan Indra merambah bisnisnya menjadi tengkulak gabah dan hal ini tentu saja semakin memperkuat kecurigaan Rich yang mengaitkan hal ini dengan Rendra.


“Pak, bisa tolong tinggalkan kami bertiga?” pinta Rich kepada buruh tani itu.


“Baik Mister.” Sang petani mengangguk paham lalu pergi.


Menyisakan Rich yang tak sekalipun melepas gandengannya dari Alda dan Rukma yang kemudian diajaknya duduk di gubuk tak jauh dari tempatnya berdiri, untuk mendiskusikan masalah itu.


“Oia, Sweety. Dengar-dengar Rendra itu anaknya juragan Indra, kan?”


“Iya, memangnya kenapa?” tanya Alda, berpikir jika Rich masih cemburu pada polisi itu.


“Tidak ada apa-apa, aku hanya memastikan saja bahwa dugaanku tak salah sweety,” jawab Rich berusaha tenang walau sekarang ia tengah berpikir keras.


Alda mengusap punggung tangan Rich, ketika ia melihat suaminya melamun. Sehingga tubuh suaminya itu, agak berjingkat lalu meliriknya dengan tersenyum.


“Pagi-pagi jangan bengong, tidak baik boo,” peringat Alda.


Rich mengangguk, “Bu, apa aku boleh memberikan saran?” tanya Rich sebelum mengutarakan maksudnya yang mengganjal.


“Ya, katakan saja Rich. Tidak perlu sungkan, aku sudah menganggapmu seperti putraku sendiri,” jawab Rukma membuat Rich lega.


Diam-diam kekaguman Alda pada Rich bertambah. Setelah detik ini ia melihat cara bersikap suaminya yang sangat menghormati ibunya itu dan tahu bagaimana berbicara sopan kepada yang lebih tua. 


“Terima kasih sebelumnya, Bu.  Menurutku, sebaiknya gabah di sawah ini jangan dijual pada juragan Indra,” saran Rich membuat Alda dan Rukma saling bersilang pandang heran.


“Maksudmu bagaimana, Rich? Jika aku tak menjualnya pada juragan Indra lalu gabahnya mau dijual pada siapa lagi? Di sini hanya dia saja yang mau beli,” kata Rukma.


Alda juga ikut buka suara. “Ibu benar boo, jika gabahnya tak dijual hari ini dan seandainya turun hujan. Aku takut gabahnya rusak? Lihatlah awan itu!” tunjuk Alda ke langit, diikuti pria itu yang juga melihatnya, “sekarang saja sudah mulai mendung.”


“Kalian tak usah khawatir, nanti akan aku carikan tengkulak lain yang berani membayar gabah milik ibu dengan harga yang masuk akal. Bukan seperti juragan Indra yang licik itu!” ucap Rich begitu tajam, saat ia memperhatikan gaya memuakkan juragan Indra, yang tampak memarahi anak buahnya dan para petani dari kejauhan.


Rukma belum menjawab, masih memikirkan saran dari sang menantu yang seketika mengingatkannya pada mendiang Morren. Dulu, Rukma dan Morren pernah kesulitan ekonomi semenjak Alda pulang dari Kongo sehingga Morren terpaksa menjual rumahnya di Jerman dan menyewakan rumahnya yang ada  di Bali untuk membeli lahan pertanian. Morren berjuang keras hingga berhasil seperti sekarang dan Rukma tak ingin jerih payah suaminya menjadi sia-sia.


“Rich, aku setuju dengan saranmu. Aku mendukungmu, Nak,” tutur Rukma. “Tapi, mau disimpan di mana semua gabah sebanyak dua ton ini?” pikirnya gelisah.


“Ibu tak perlu pusing, kita bisa gunakan garasi mobil yang ada di rumah untuk menyimpan gabah sementara aku mencari tengkulak baru dari luar Ubud,” putus Rich.


“Ide bagus, Boo. Kau sangat pintar!” puji Alda sambil menyandarkan kepalanya ke bahu sang suami.


“Suami siapa dulu?" tanya Rich melirik Alda dengan memainkan alis.


“Alda Danurdara Louis,” jawabnya diiringi senyum.


“Kalau begitu, biar aku memberitahu juragan Indra soal pembatalan jual beli ini sekarang,” sela Rukma akan pergi.


Namun, Rich menahannya dan meminta izin pada sang ibu mertua untuk membereskan segalanya. Karena selain ingin mengenal dekat pria tua itu, Rich juga ingin menyelidikinya.


“Baiklah kalau begitu, tapi hati-hati ya, Nak. Jaga bicaramu dengannya, karena juragan Indra termasuk orang terpandang di desa ini. Aku tak mau kau terkena masalah nantinya,” himbau Rukma.


“Ibu tenang saja, serahkan semuanya padaku. Kalian tunggu di sini atau…”


Alda menyela sambil matanya fokus melihat pesan di grup yang ada di ponsel.  “Boo, ternyata Noah hari ini pulang lebih cepat karena gurunya sedang rapat. Biar aku menjemputnya sekalian mengantar ibu pulang, apa boleh?”


“Tentu saja boleh, Sweety. Biar aku pesankan taxi atau aku minta tolong Firheith untuk mengantar kalian?” Rich mengambil ponselnya di saku baru akan menekan tombol panggil.


Belum sempat ditekan, Alda menutup layar ponselnya dan menggeleng. Rich mengedikkan dagu menanyakan apa maksudnya.


“Tidak usah repot-repot, Boo. Aku bisa naik motor kok, mana kuncinya?” tagih Alda.


“Jangan bohong sweety! Sejak kapan kau bisa naik motor? Tidak, tidak. Nanti kau yang terjatuh, aku tak mau itu terjadi!” larang Rich sebab tak pernah melihat Alda mengendarai motor selama berhubungan.


“Ayolah, Boo? Sungguh aku bisa naik motor sendiri. Kalau kau tak percaya coba tanyakan itu pada ibu,” rengek Alda merayu Rich yang tampak alot.


“Benarkah yang Alda katakan itu, Bu?” tanya Rich.


Rukma mengangguk, “benar Rich. Sejak SMA dia sudah bisa mengendarai motor karena papinya yang mengajarkan.”


Sekarang tak ada alasan lain bagi Rich  untuk melarang Alda lagi, jika Ibu suri sudah bertitah dan membeberkan bukti. Dengan terpaksa ia menyerahkan kunci motornya pada Alda.


“Aku pergi dulu suamiku yang tampan,” kata Alda berpamitan.


“Hati-hati dan jangan ngebut!” Rich menasehati Alda setelah istrinya itu mencium punggung tangannya, dan ia sendiri mencium kening Alda.


Walau sebenarnya ia tak rela, karena takut terjadi sesuatu pada Alda. Alangkah parnonya dia, tak sertamerta membiarkan Alda begitu saja pergi. Tapi secara diam-diam, ia mengirimkan spy untuk mengawasi istrinya itu dari jauh.


...----------------...


Setelah menyuruh sebagian para buruh tani bergerak ke rumah sang mertua untuk mengosongkan garasi dan menyulapnya menjadi tempat penyimpanan gabah sementara. Rich langsung menghubungi Chandra supaya mencari tengkulak gabah dari luar desa Ubud, yang berani membayar mahal gabahnya yang berkualitas.


“Oke, saya beri waktu dua hari buat Pak Chandra mengurus semuanya,” tegas Rich.


“Baik, Mister. Ada lagi yang bisa saya bantu?” tanya Chandra.


“Oia, tolong selidiki seluk beluk si sapi itu!" suruh Rich yang geram.


"Si sapi?" Chandra bingung siapa yang dimaksud bosnya itu.


Rich memijat kepala. "Maksudku, juragan Indra yang katanya juragan sapi itu Pak Chandra. Wait! Ralat, sekaligus merangkap jadi juragan gabah.”


“Ya, saya tahu dia. Siap laksanakan, Mr. Rich!”


Kemudian Rich menutup teleponnya yang berseri iphone itu, menghampiri juragan Indra yang terus menyorotinya tajam semenjak ia berjalan dari arah sawah Rukma.


Terlihat sinis dari ekspresinya, saat Rich datang. Tak menyambut ramah juga langsung berpaling muka dan terus menghindar. Karena sakit hati, melihat gabah hasil panen dari sawah Rukma malah diangkut keluar.


“Selamat pagi juragan Indra,” sapa Rich ramah sambil mengulurkan tangan.


Lama tangan Rich tak disambut, akhirnya ia menarik tangannya lagi dan tersenyum tipis melirik juragan Indra yang acuh tak acuh. Tapi ia tetap mengutarakan maksudnya secara gentle walau tak disambut baik.


“Saya ke sini ingin menyampaikan, bahwa ibu mertua saya tidak jadi menjual gabahnya pada juragan Indra karena harga yang ditawarkan terlalu rendah,” tandas Rich membuat juragan Indra kini memicing sinis padanya.


Juragan Indra tersinggung. “Aku sudah tahu itu! Kau pikir mentang-mentang kau ini bule, bisa seenaknya mempengaruhi petani pribumi di sini supaya tak menjual gabahnya padaku, hah?” decak juragan Indra kesal, “aku tak akan membiarkan kau ikut campur urusanku dan merusak citra baikku brengsek!”


Rich bertepuk tangan sambil mengitari tubuh juragan Indra dengan santainya, kemudian menyimpan kedua tangannya di balik punggung dan tersenyum remeh hingga membuat wajah pria bertubuh bongsor itu semakin kebakaran jenggot.


“Well, sekarang aku tak perlu repot-repot berpura-pura baik di depanmu juragan Indra. Karena kau sendiri sudah menunjukkan belangmu dan kuakui tuduhanmu itu memang tepat sekali! Sekalipun kau mengancamku atau menindasku, aku tak akan pernah takut!” lantangnya berdiri berhadapan dengan juragan Indra dengan kepala tegak dan dada membusung, mengibarkan bendera perang.


Sementara itu, para petani dan anak buah juragan Indra yang kebanyakan hanya orang bawah tak berani ikut campur. Menyaksikan dengan tegang, menelan salivanya berat. Bagaimana dua orang berkuasa itu saling melempar tatapan mengintimidasi.


“Dasar sombong!” celetuk Juragan Indra menggerutu, saat Rich berbalik badan dan melangkah menuju tepi jalan.


Memang sengaja Rich tak menggubrisnya karena menurutnya juragan Indra bukanlah lawan seimbang. Namun begitu, tetap tak boleh dianggap remeh. Juragan Indra hanya belum tahu siapa Rich yang sebenarnya?


Oh! Mafia ingin bermain-main dengan mafia? Kelihatannya itu seru, Rich bahkan sudah tak sabar menantikan serangan itu terjadi. Tangannya sudah gatal lama tak menghajar orang dan mungkin juragan Indra bisa dijadikannya sebagai pengganti samsak.