Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
49. Kemarahan yang Meluap



Tatapan manik hijau zamrudnya yang begitu mengesankan dari  Rich. Pasti membuat siapa pun akan terhipnotis, Alda akui itu. Hingga ia pun terbuai akan ketampanan-nya, begitu juga Rich yang sudah tak tahan lagi. Begitu melihat bibir ranum merekah milik Alda yang ingin dicecap dan dirasakan.


“Honey …” Rich mendekatkan bibir, suara baritonnya yang berat membuat Alda memejamkan mata termasuk juga Rich.  Karena ingin menghayati ciumannya kali ini. 


Namun,  gelora cinta di hati Alda kini diimbangi kekecewaan berat. Tatkala hampir bibir Rich akan memagutnya, beriringan pula foto-foto tak senonoh antara Rich dan Cello hadir dalam ingatannya secara tiba-tiba dan menenggelamkan keinginan berciuman itu.


“Pergilah  dari rumahku!” Alda mendorong dada Rich dengan tangan penuh tepung sekuat tenaga.


Alis Rich bertaut ketika tersentak mundur akan dorongan Alda. Dia mengangkat kedua tangannya ke atas. “Why bunnies? What wrong with you?” Rich sungguh tak mengerti, melihat sikap Alda yang seakan jijik padanya dan tak ingin disentuh. 


“Tolong pergi,” katanya begitu singkat sambil membelakanginya dan mencuci tangan di wastafel.


Rich memandangi Alda dari tempatnya berdiri, melihat Alda kesulitan mencuci tangan di kran dengan rambut tergerainya yang menjuntai basah oleh air, dia pun mendekat. Menjulurkan kedua tangannya, ikut membantu Alda mencuci tangan dan hal ini tentu membuat posisi Alda serba salah.


“Aku bisa sendiri.”


“Tapi kau kekasihku. Apa pantas aku berdiam diri jika melihat kekasihku sedang kesulitan?” balas Rich beradu argumen, seketika membungkam Alda yang menarik napas sempit.


Betapa tidak? Posisi Rich yang berdiri di belakangnya mepet seperti ini, dia bisa merasakan milik pria itu menempel di bokongnya begitu mengeras. Oh, tidak. Alda harus segera menjauh, mempercepat cuci tangannya. Sebelum Rich bertindak jauh, sedikit banyak dia hafal kebiasaan pria itu yang mesum.


“Sekarang kau sudah membantuku, pergilah dari sini. Aku sibuk dan jangan ganggu aku!” ucap Alda bernada marah.


“Hanya karena semalam aku tak jadi meneleponmu lalu kau marah? Aku sungguh minta maaf kalau begitu, Honey. Bagaimana kalau hari ini aku seharian menemanimu melakukan apa pun? Yes, I’m free khusus untukmu Alda. Memasak, aku bisa. Juga membuat kue atau jalan-jalan?” tawar Rich sungguh tidak enak jika diabaikan begini.


Rich suka Alda yang manja dan bersikap manis. Tapi kali ini dia melihat perubahan sikapnya yang begitu aneh.


“Bukan karena itu dan aku tak mau kau bantu. Aku hanya ingin kau tak menemuiku lagi,” putus Alda menatap Rich.


“Lalu karena apa?” Rich juga menatap Alda sambil memegangi kedua bahunya. Matanya melihat kesedihan yang terpancar di kedua bola mata Alda yang berkilauan dan kini setetes buliran bening jatuh di pipi sang kekasih. Jemari besar Rich menyekanya. “Honey, sebenarnya apa salahku? Kenapa kau semarah ini?” desaknya.


Alda terdiam dengan nafas memburu sambil menepis bahunya dari tangan Rich. Namun, Rich tak ingin menyerah begitu saja dan terus mendekati Alda untuk meminta jawaban. 


“Hiks, jangan sentuh aku. Aku jijik sekali, cih!” Alda memalingkan wajah ketika Rich akan menciumnya lagi. Semua bayangan-bayangan itu membuat Alda muak dan ilfeell dengan Rich.


“Kau juga tak mau dicium?” tanya Rich sudah terpancing emosi, kesabarannya sangat tipis. Dia mengukung Alda ke dinding hingga Alda tak bisa bergerak ke mana-mana walau berontak.


Alda menyoroti Rich dengan kemarahan. “Plak!” tamparan keras dilayangkan, membuat Rich menyodorkan pipinya kembali.


“Tampar lagi pipiku, kalau perlu sepuasmu. Supaya kau tak marah lagi, Honey!” suruh Rich. “Aku lebih baik mendapat banyak tamparanmu atau kau habiskan uangku untukmu berfoya-foya tak masalah. Daripada aku harus melihat kemarahanmu dan ngambek terus. Itu sungguh menyiksa batinku.”


“Huh?” Alda mendengus kesal dengan tangan terlipat di dada lalu pada akhirnya tertawa sumbang dan menunjuk-nunjuk dada Rich penuh emosi. “Si merasa paling tersakiti, hah?”


“Apa maksudmu?” Rich menatap serius, tak berkedip.


“Wait!” tahan Alda pada Rich supaya tak mengikutinya masuk ke dalam kamar.


Tapi dasar Rich yang tak bisa melihat kesempatan, dia pun menyusul Alda tanpa peduli jika nantinya kekasihnya itu akan semakin marah besar. Alda yang tak tahu, bahwa Rich mengikutinya masuk. Dia lalu mengambil ponselnya di atas meja.


Alda begitu terkejut dengan tubuh berjengit saat mendengar suara pintu dikunci, sontak menoleh. Sayangnya dia kalah cepat tatkala Rich sudah mendorongnya ke atas ranjang lalu mengangkat tubuhnya seakan tak berat dan memindahkannya ke atas pangkuan.


“Aku mau turun!” pekik Alda memukuli dada Rich, sulit sekali lepas dengan tenaga Rich yang begitu besar.


“No! Jelaskan dulu semuanya, kalau tidak. Kau tak akan kubiarkan lepas!” Rich membalik situasi.


“Kau memang kepala batu, seenaknya sendiri!” maki Alda membuang muka.


“Apa katamu?” Rich menekan pipi Alda dengan kuat, hingga bibirnya maju dan ia melahap bibir Alda sangat bergairah. Walau Alda tak mau membuka bibir, Rich terus mendesak. 


Bahkan tangannya menyusup dan meraba dada Alda, sehingga pertahanan Alda goyah.


"Rich, ahh!"


Kini, Rich bisa mengeksplor bibirnya leluasa. Membelit dan rakus menciumnya ketika Alda membuka bibir.


“Ooh honey …” desah Rich ketika ia menikmati bibir Alda yang benar-benar manis. Dia tak mau menyudahinya dan ketagihan. Hingga Alda tanpa sadar mengimbanginya. Kedua tangannya mengalung di leher Rich.


Ciuman itu semakin panas, keduanya meredam amarah lewat ciuman. Tanpa sadar telah berada di atas ranjang, Rich menaikkan baju Alda dengan perlahan melepas kaitan bra. Matanya terpukau, melihat dada bulat itu tak segan menciumnya.


“Ahh, Sayang!” suara Alda terdengar menggoda, tubuhnya melengkung mengikuti gerakan Rich. Pria itu tahu di mana titik kelahan Alda dan ketika dalam hati Alda juga tergiur menginginkan ini.


Tetapi mendadak ingatan tentang foto-foto itu, membuat Alda lekas sadar. “Stop!” dengan nafas tersengal-sengal Alda menjauh. Karena hampir saja dia melewati batas, sentuhan Rich membuat Alda lupa diri dan sesaat melayang dalam kenikmatan.


Rich memandangnya kecewa. “Ada apa honey?” tanya Rich saat melihat Alda begitu gugup dan ketakutan begitu dia akan memeluk.


“Ja-jangan sentuh aku! Kau buaya darat!” hardik Alda dengan tangan gemetar, merapikan dress-nya dan meraih ponsel.


“Astaga honey.” Rich membuang nafas berat. “Jelaskan padaku ada apa? Jangan buat aku mati penasaran?” desak Rich yang melihat Alda sibuk menatap ponsel dengan menggulir layar nya begitu gugup.



“Lihat ini baik-baik!” tunjuk Alda disertai air mata berlinang yang tak mampu dicegah.


Rich sangat terkejut menatap foto antara dirinya dan Cello dengan posisi tak pantas itu. Matanya membulat penuh, kobaran api tak hanya memantul dari mata hijau zamrudnya. Tetapi dadanya juga terbakar hingga mencapai otak dan akan meledak sebentar lagi.


Tak dapat berkata-kata, sesaat tubuhnya mematung ketika pusaran ombak ganas menggulung kemurkaan seorang Rich. Bahkan suaranya mendadak habis, begitu melihat Alda yang menangis terisak-isak di sana. Tak kuat memegang ponselnya dan dibiarkan terjatuh ke lantai begitu saja.


‘Jadi ini penyebabnya Alda marah? Wajar saja, aku yang salah? Tidak-tidak.. Bukan aku tapi si wanita keparat itu.' Batin Rich terduduk lemas di lantai.


“Aku mau … Kita … Putus …” suara Alda terbata-bata menyatakan itu. Dirinya sudah tak percaya akan adanya cinta, sudah berkali-kali hatinya dipatahkan oleh pria itu. "Sekali playboy tetaplah playboy. Tak akan pernah berubah sampai kapan pun. Aku sudah habis kepercayaan padamu, Rich. Sekarang tidak lagi!" tatapnya tajam pada Rich.



"Apa? Tidak, jangan katakan itu honey." Rich menoleh lemas pada Alda. Matanya menunjukkan keputusasaan. "Selama ini aku sudah bertobat. Percayalah honey ... Hanya kau saja yang berhubungan denganku. Aku tak pernah melakukan itu lagi bersama dia?" terangnya.


Alda muak mendengar itu.


"Tidak! Keputusanku sudah bulat. Ya, putus. Kita harus akhiri hubungan tak sehat ini." Alda terangguk-angguk, genangan di matanya tak habis-habis membasahi wajah. Dia rasa keputusan ini sudah tepat. "Berhubungan denganmu hanya akan menambah borok dan luka yang tak pernah ada habisnya. Bagaimana kau mengatakan bisa setia hanya padaku? Sementara foto itu saja sudah membuktikan semuanya jika kau tak bisa tegas dalam berkomitmen!" sanggah Alda.


"Honey ... Foto itu rekayasa?"


"Rekayasa katamu?"


"Ya."


"Kau nak*d begitu dan ... Dan ... Dia menikmati tubuhmu sedemikian rupa, kau bilang rekayasa?" sumpah Alda bingung antara harus tertawa atau menangis.


Rich terdiam kali ini dia kalah membujuk. Ketika foto sudah mewakili kebodohannya yang mudahnya kecolongan sikap culas dari Cello. Wanita munafik itu mengambil keuntungan darinya ketika dia dalam keadaan tak sadarkan diri. 'Brengsek! Setan wanita!' kecam Rich dalam hati, ingin membuat perhitungan dengannya nanti. 'Awas kau Cello!'


"Cukup, Rich. Aku rasa kita tak cocok. Kita harus jalani kehidupan kita masing-masing ..." nada suara Alda begitu lemah, menyiratkan wanita itu begitu sangat terluka.


Rich merangkak ke arah Alda yang bersimpuh ke lantai dengan pandangan kosong. "Jangan bicara begitu honey? Di hatiku hanya ada kau ..." ucapnya menggebu-gebu tak ingin kehilangan kepercayaan dari Alda. Mendapatkannya tidaklah mudah dan Rich tak mau Alda terlepas lagi.


"Bullshit! Di depan kau mengatakan ini dan di belakang kau menusukku? Jahat!" Alda meraung-raung untuk menyuruh Rich pergi dari hidupnya dan menepis semua sentuhan Rich. "Jauhkan tanganmu yang tercemar itu! Kau sudah terkontaminasi oleh tubuhnya!"


“Honey, aku bisa jelaskan semua. Cello lah yang melakukannya tanpa persetujuanku. Aku dalam keadaan tak sadar? Tolong, percayalah kali ini saja …” bujuk Rich ingin mendapatkan kesempatan dan maafnya  hingga suaranya serak,  menahan antara marah dan air mata dalam dada.


“Tidak! Aku tak percaya dan aku tak mau terus kau bodohi. Kau pengkhianat! Kau pembohong!” teriak Alda marah bercampur kecewa, meringkuk dan terus menangis. Baginya kali ini kesalahan Rich sangat fatal dan tak layak untuk  dimaafkan. “Pergi! Aku membencimu!”


"No, Alda. No! Aku sangat mencintaimu, aku bisa gila jika kita putus." Rich sangat hancur mendengar pernyataan itu dari Alda dan jujur dia tak siap untuk berpisah.


"Terserah!" Alda kehilangan harapan, muak ia pun melepas cincin pemberian dari Rich. "Ambil cincinmu lagi, aku tak butuh cincin kepalsuanmu!"


Alda melempar cincin dari Rich ke tangannya. Rich menggenggamnya dengan hati mencelus. Sesak dalam gemuruh di dada membuat Rich tersentak mundur, sambil menyugar rambutnya dan berteriak sangat keras. “BAJINGAN KAU CELLO!!” geram Rich lekas bangkit dengan nafas memburu, keluar dari kamar Alda. 


BRAKK!


Yessa di luar mengelus dada ketika melihat Rich berjalan lebar dengan wajah merah padam dan membanting pintunya sangat keras.


BRUMM ...


Rich mengendarai mobilnya kembali ke mansion Cello membawa kemurkaan besar, kecepatan odometer dioptimalkan, menyalip semua mobil di jalanan tak peduli klakson dari mereka ketika dia sempat menabrak mobil lain. Ambisinya mengikis seluruh kesabarannya tak lagi ada, sekarang tak akan bisa diredakan kecuali terlampiaskan dengan memberi pelajaran pada Cello.



📌Note: Hai kesayangan ... Jika suka cerita ini, tolong Follow akun Author, subscribe buat yang belum dan berikan penilaian rate 5. Berikan vote, like juga komen juga tebar bunga mawarnya biar Ay semangat update ... Terima kasih, happy reading🌹🌹