
Suasana masih mencekam, diterka dari wajah-wajah semua staf yang tertunduk pucat dengan peluh dingin menghujam tubuh.
Lain kiranya, senyum puas membingkai sikap arogan Cello yang tak sekalipun mengalihkan pantauan bengisnya dari mayat Lisa yang bersimbah darah. Ia bahkan tak menyadari, jika Rich telah memindahkan pisau itu dari tangannya dengan tisu dan memasukkan ke kantong plastik.
“Urus mayat Lisa!” titah Rich pada dua security sambil menyerahkan kantong plastik itu.
Mereka pun langsung mengangkut mayat Lisa yang ditudungkan kain ala kadarnya lalu menyingkirkannya dari TKP dan cleaning service bergerak cepat membersihkan sisa bercak darah itu.
"Jangan sampai berita ini tersebar keluar dan jika aku mendengar sendiri ada yang membocorkannya. Maka bersiaplah!” pandangan tajam Rich mengarah pada semua staf di sana lalu menggertaknya, dengan jari telunjuk Rich mengarah ke setiap gurat ketakutan mereka penuh penekanan. "Esok hari kalian tak akan pernah melihat matahari lagi di dunia ini! Camkan itu baik-baik!"
Tubuh semua staf berjingkat atas gertakan Rich yang mengerikan. Sorot matanya bagai devil pembunuh, terlebih mereka tahu jika basic Rich adalah seorang mafia berdarah dingin dan mereka pun menjawab serempak. "Ya, Senor."
"Bubar dan kembalilah bekerja!” sentak Rich tersebar ke segala penjuru ruang Fire Base yang lengang.
Derap kaki semua staf berjempalitan saling tubruk karena takut, segera menjauh dari amukan sang owner Fire Base yang mengintervensi. Bagaimana kejinya Cello, Rich tetap melindungi. Bukan karena sayang atau peduli. Melainkan sebagai balas budinya selama ini telah membantunya bangkit dari bawah menuju puncak.
"Ikuti aku!" Rich menarik tangan Cello dan menggelandangnya paksa untuk masuk ke ruangannya.
Duduk di sebelah Cello yang masih terdiam dengan membuang muka. Rich menyulut rokoknya lagi. Namun, Cello merebut dan mematikan batang rokoknya ke asbak.
"Hey, kau ...!" geram Rich menyoroti Cello dengan tajam, tak suka rokoknya dimatikan.
Cello menatapnya balik tak kalah sengit. "Apa maksudmu bergumul dengan si pelacur itu di kantor. JAWAB!"
"Haruskah aku meminta izin padamu jika aku berhasrat?"
Pertanyaan Rich yang menyebalkan, membuat tubuh Cello lemas. Ia tak habis pikir dengan Rich yang suka tergiur dengan para pelacur itu.
"Jika kau ingin, bilang padaku dan setiap saat aku akan datang," jawab Cello
"Aku bosan denganmu!"
Cello sesak napas. "Bo-bosan katamu? Permainanku bahkan lebih liar daripada Lisa yang cuma bisanya mengangkang saja. Aku punya style baru baby. Kalau mau? Kita bisa coba sekarang?"
"Damn it! Kau sudah longgar."
"Apa?" Cello terkejut mengangakan mulut dengan mata membola. "Lo-longgar?"
"Ya! Tidak enak." Rich menambahkannya lagi, sehingga wajah Cello menunjukkan bahwa dia sangat syok.
Cello rasa, Rich hanya mencari-cari alasan. Bagaimana dia mengatakannya ceplas-ceplos begitu tanpa mempedulikan Cello sakit hati atau tidak.
Demi Rich, Cello selalu rutin merawat kewanitaannya. Pup smear, senam kegel, penguapan spa ratus dan melakukan tindakan Thermiva supaya selalu sempit. Bahkan jika perlu, ia akan melakukan operasi?
"Bajingan kau, Rich. Mengataiku begitu, padahal kau lah yang brutal dan menyebabkanku seperti ini!" umpat Cello begitu kesal.
"Memang aku bajingan? Kau baru tahu? Hah. Jadi, sekarang kau menyerah dan kita tak jadi menikah. Oh God! Syukurlah ... Bilang pada daddy-mu pernikahan kita batal, mumpung undangan belum tersebar." Rich tersenyum senang dan mengatakannya dengan gaya menyebalkan.
Kepala Cello seakan disiram bensin lalu tersulut api. Meledak-ledak dan membuat ia berteriak penuh amarah sambil menjambak rambutnya sendiri. " Aaaaahhhh! Kau ini bajingan Rich!"
Rich meliriknya kesal, tangan besarnya mencengkram dagu Cello dan mengangkatnya tinggi. "Kenapa kau harus membunuh Lisa di hadapan semua orang?!"
"Ya, karena aku cemburu!" Cello mengatakannya berapi-api. Rich menekan keras jidat Cello yang membuat ia menahan jari tangan Rich, lalu masuk ke dalam pelukannya. Rich jengkel setengah mati, cepat merenggangkan tubuh Cello yang lengket.
"Cemburumu tak elegan! Malah seperti orang gila. Dasar bodoh! Di mana akal sehatmu Cello? Kau menjatuhkan harga dirimu sendiri dan nama baikku di depan semua staf? Harusnya kau menyerahkan urusan itu sepenuhnya padaku."
"Elegan?" Cello tertawa rendah, setelah melepas pelukan dari Rich. "Menyerahkan padamu yang notabene hanya berdusta. ****! Aku tak percaya. Pasti kau akan menyimpan wanita itu sebagai cadangan."
Keduanya terdiam setelahnya. Rich tak sedikit pun iba pada Cello yang mengurai air matanya dan mengelap dengan tisu berkali-kali.
"Baby ..." Suara Cello melunak. Ia berharap Rich sadar dan mau mendengarnya karena ia sangat mencintai Rich dengan segenap jiwa dan raga. "Dalam hitungan hari kita akan menikah. Tapi kau masih saja bermain-main dengan wanita murahan itu. Kau sungguh tega dan tak memahami perasaanku. Hargai aku sedikit saja, tolong ..."
"Minta dihargai tapi tidak menghargaiku? Wow! Did you forget to give me the freedom to **** any whore except Alda?"
Seketika bibir Cello bungkam. Tak lagi merutuk dan berganti mematung dengan wajah masai yang pipinya dibasahi genangan air mata.
"Hiks, apakah selamanya tak ada sedikit saja cintamu untukku baby ... Sedikit saja? Satu tetes?" Cello mengucapkannya dengan suara serak. Hatinya luluh lantak terasa sakit.
"Tidak ada dan tidak akan pernah. Aku menikahimu karena terpaksa, you know? Hanya nama Alda yang selamanya ada di hatiku!" tekan Rich dengan tegas.
Seakan menggambarkan dinding tinggi menjulang yang menghalangi Cello untuk masuk, meski melewati jalur manapun sulit untuk menembus. Berikut kalimat sarkas dari Rich yang menggema. Suaranya bahkan memekakan di telinga Cello yang terus berulang.
"Alda lagi. Alda lagi!! Bosan aku mendengarmu menyebut nama wanita sialan itu!!" Cello berteriak tak terima.
Rich berdiri membelakangi Cello, hilang sudah respect untuknya. "Lain kali jika masih ingin terus bersamaku. Biarkan aku melakukan apapun sesuka hati. Jangan pernah melarangku dan mengekangku."
"Tapi aku ... Tak bisa melihatmu bersama wanita lain, Rich?" Cello berlutut di kaki Rich, menjatuhkan harga dirinya untuk mengemis cinta pria tampan itu.
Rich tersenyum mencemooh. "Aku heran denganmu Cello. Bukankah di luar sana banyak pria. Kenapa kau tak memilih mereka untuk menjadi pasangan hidupmu dan memilih aku yang jelas-jelas termiliki oleh wanita lain?"
Pertanyaan itu langsung dijawab oleh Cello.
"Karena aku sudah jatuh cinta lebih dulu padamu sejak pandangan pertama, Baby. Hanya kau tipe pria idamanku. Tampan, gagah, perkasa dan menawan. Apalagi sentuhanmu yang panas itu? Selalu membuatku melayang. Selain berada di dekatmu aku mendapatkan kenyamanan yang tak pernah kudapatkan dari pria mana pun, tak terkecuali daddy ku sendiri." Cello mengungkapkannya dengan tulus. Ia sangat berharap Rich menyukainya seperti dulu.
Rich tersenyum memegangi kedua bahu Cello yang menatapnya penuh cinta. Berupaya menyadarkannya dari kehaluan.
"Cello ... Pria seperti itu hanya ada di dalam dongeng. Aku tak sesempurna itu dan memiliki kekurangan. Lagi pula jika cinta sepihak dan terlalu dipaksakan juga tak baik? Kau hanya akan tersiksa jika terus bersamaku? Baiklah, begini saja. Ya, aku akan memberimu solusi. Aku akan tetap menikahimu dan menunggu sampai bayi itu lahir. Kau boleh menyematkan namaku juga sebagai ayah di akte kelahiran bayimu nanti. Tapi dengan satu kesepakatan..."
"Kesepakatan apa?" firasat Cello mulai tak enak.
"Kita akan bercerai setelah bayimu lahir. Kau bebas dan nama baikmu tetap terjaga, kau juga bisa mencari pria lain yang sesuai tipikalmu?"
Tentu saja Cello langsung menolak keras. "No! Aku hanya mau kau, baby. Bukan pria lain—"
Rich kehabisan kata-kata, membuang napas kasar sebelum bicara lagi. "Oke. Tapi kau harus menerimaku apa adanya. Termasuk tetap melakukan hubungan dengan pelacur atau membiarkan Alda menjadi istri kedua untukku. Bagaimana?"
"Tidaaaakk!" Cello berteriak histeris. "Kau hanya milikku sampai kapanpun. Pelacur bahkan tak terkecuali Alda. Alda tak boleh jadi istri keduamu. Hanya aku! Hanya aku!!" Cello emosi lalu membanting semua perkakas yang menjadi inventaris di ruangan Rich.
PRANG ...
Vas bunga dilempar, semua buku dibuang dan apapun menjadi sasaran pelampiasan kemurkaannya. Cello tak terima, dadanya panas dan tak rela jika Alda masuk dalam kehidupan Rich. Wanita itu hanya akan merebut Rich darinya.
Sedangkan Rich yang sudah lelah atas sikap Cello yang egois pun memberikan keputusan menohok. "Hentikan!! Apa-apaan kau Cello? Kau gila!!"
"Ya, aku tergila-gila padamu baby. Please ... Aku tak bisa hidup tanpamu. Jangan membuatku nekat, Rich ..." ucap Cello dengan suara gemetar.
"Lebih baik bunuh saja aku supaya kau puas!"
Cello menggeleng dengan tatapan sendu, tapi ia tercengang saat Rich mengambil pisau bekas membunuh lisa dalam plastik itu, yang diserahkan Rich pada Cello. "Ambillah dan habisi aku!"