Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
33, Celaka



"Loh! Di mana Rich? Perasaan dia tadi ada di…" Alda merasa malu mengingat kejadian yang tak disangka-sangka itu. Bibirnya digigit dan tersenyum. Alda yakin sekali ia tadi bertabrakan dengan Rich. Tapi pria itu sekarang tiba-tiba menghilang. Tidak masalah, tetapi hati Alda masih geram setelah mendapati Rich sedang berfoto mesra sambil merangkul beberapa gadis di depan matanya langsung.


"Tega sekali pria itu? Kenapa tidak menolongku bangun dan malah genit pada mereka? Keterlaluan!" pikir Alda sambil melangkah kesal menuju Rich dan menyeret tangannya. Semua gadis itu meneriakinya, bahkan Rich pun bingung atas sikap Alda yang aneh.


"Kau ini masih saja menjadi playboy!" protes Alda sambil membawa Rich ke tempat sepi. Rich mengerutkan kening "Kau kerasukan jin mana tiba-tiba melarangku bertemu dengan gadis-gadis itu?" tanya Rich.


Alda tidak bisa menjawab dan hanya diam sambil membuang muka. Sepersekian detik kemudian, ia marah-marah tak jelas hingga membuat Rich semakin bingung.


"Aku memang bukan siapa-siapamu. Tapi sebagai mantan korbanmu, aku tidak tega melihatmu kelabui mereka. Paham!" Alda berusaha mempertahankan keputusannya.


"Klise," Rich tersenyum menindas lalu mengukung Alda ke tembok dan berbisik dengan suara serius hingga Alda merasa hatinya berdebar dan memejamkan mata.


"Dengar, jangan suka ikut campur urusanku lagi dan tidak usah sok peduli kepadaku! Salahmu sendiri, dulu kau menyia-nyiakanku. Terus kenapa sekarang kau bersikap aneh? Kau menyesal dan ingin kembali? Maaf, aku sudah tidak mencintaimu lagi. Hatiku sudah terisi dengan wanita lain. Permisi!" ucap Rich dengan tegas.


Perkataan Rich menusuk hati Alda dan air matanya jatuh berderai setelah kepergiannya yang membuat luka di hatinya semakin dalam. Sementara Rich sendiri di dalam mobilnya, membuyarkan pikiran itu dengan ditemani oleh dua wanita seksi yang mengapitnya di sebelah kanan dan kiri. Mereka bergelayut manja, membiarkan mereka mencumbu pipinya dengan berbagai kecupan.


 


Taksi yang mengantar Alda dari bandara akhirnya sampai di sebuah perumahan elite yang baru saja dibelinya. Alda memutuskan menjual apartemennya dan pindah ke lingkungan ini, setelah pulang dari Indonesia. Ia ingin menyediakan tempat yang lebih luas jika keluarga besarnya berkunjung ke Kongo.


"Ini uangnya, Pak. Terima kasih sudah membantu," ucap Alda pada sopir pengangkut barang yang membantunya menurunkan barang-barang dari truk.


Sopir itu hanya mengangguk dan anak buah Alda yang baru datang turut membantunya membersihkan rumah barunya.


"Pizza time!" Alda membawa dua kotak pizza penuh dan menyerahkannya kepada anak buahnya setelah kurir pizza datang. "Ayo, makan dulu, kalian pasti lapar."


"Sama-sama, Madam. Kami senang membantumu. Tenang saja, pasti kami akan memberikan bonus gaji bulan ini!" kata Ale sembari menyerbu pizza.


Mereka makan dengan lahap hingga kenyang dan kembali bekerja dengan semangat untuk menata rumah itu setelah dijanjikan bonus gaji.


Tak terasa semuanya selesai lebih cepat dan langit sudah berubah gelap. Anak buah Alda pun berpamitan satu persatu, menyisakan Alda dan Yessa yang Alda perintahkan untuk menginap.


"Madam, apakah kamu tidak lelah setelah melakukan perjalanan yang panjang dan bekerja malam-malam seperti ini?" heran Yessa melihat Alda yang masih sibuk mengetik di layar laptop pada jam sebelas malam, padahal dia sendiri sudah tak kuat membuka mata.


"Pembukuan ini harus segera selesai, Yessa. Aku meninggalkan banyak pekerjaan selama berlibur," jawab Alda sambil terus bekerja. Ia sengaja sibuk dengan pekerjaannya untuk mengalihkan perasaannya yang kacau.


"Baiklah, Madam. Kalau begitu, aku izin tidur terlebih dahulu karena aku sangat mengantuk. Tidak apa-apa, kan?" Yessa merasa tak enak.


"Tidurlah di kamar, aku tidak keberatan melanjutkan pekerjaan sendirian. Selamat malam, Yessa." Alda melempar senyum pada Yessa.


Terasa sangat sunyi di ruangan yang besar itu setelah Yessa tidur. Namun, Alda tidak merasa takut dan tetap fokus mengerjakan pekerjaannya. Hingga tiba-tiba suara beberapa mobil dan kegaduhan penumpangnya berasal dari rumah sebelahnya, mengalihkan konsentrasinya.


Alda tidak bisa membiarkan pesta tetangganya itu terus berlangsung dengan musik disko yang memekakkan telinga. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk tidak tahan lagi dan memeriksanya.


"Woi! Tolong buka pintunya!" teriak Alda sambil menggedor pintu rumah tetangganya yang tak kunjung kembali.


Tidak lama kemudian, seorang pria membukakan pintunya.


"Siapa kau?" tanya pria itu.


Pria itu yang nampaknya sudah mabuk mencoba membuka mata. Alda menutup hidung karena bau alkohol yang memekakkan hidung muncul saat pria itu membuka mulut.


"Oh! Tetangga? Aku kira kau bagian dari wanita penggoda yang kami sewa?" seringai pria itu menatap liar pada Alda, dari ujung kakinya yang terlihat sangat mulus ketika mengenakan rok hingga tepat ke bagian dada Alda yang membusung itu. "Wow! Big size!"


Jakun pria itu naik turun, Alda memundurkan langkahnya ke belakang untuk berjaga-jaga. Ternyata ia salah datang ke tempat, itu bukan rumah melainkan kandang simpanse.


"Stop!" larang Alda, ketika pria itu hendak maju.


"Ck, kau bilang kita bertetangga. Jadi, kita harus berkenalan manis? Tak kenal maka tak sayang. Kalau sudah kenal kita harus bersenang-senang. Mari masuk!" pria itu menggigit bibir penuh minat pada Alda.


Alda mendesahkan nafas dan menggeleng, "Terima kasih atas tawaranmu, permisi!"


Kemudian ia mengambil langkah seribu untuk segera kabur, namun tidak berhasil karena pria itu mencegatnya dan menarik tangannya dengan kasar.


"Mau lari ke mana, cantik? Kita harus beramah tamah dulu. Ada cemilan di dalam yang harus kau nikmati. Tidak sopan jika menolak niat baik tetangga baru, iya kan?" paksa pria itu, kedipan matanya memberi kode pada temannya di dalam.


Langsung keluar dan membantu memegangi pinggang Alda, sehingga wanita itu tak bisa kabur bahkan sekadar berteriak untuk meminta tolong.


"Emmpht!" gumam Alda sambil berontak. Satu harapan besarnya seseorang datang menyelamatkannya dan nama itu kini ia jeritkan di dalam hati.


Dugh!


Sekuat tenaga, Alda berhasil menendang pria yang memegang pinggangnya. Pria itu terjerembab, sementara temannya tak terima dan langsung memukul tengkuk Alda dari belakang.


BUGH!


"Aaaahhh!" pekik Alda sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit dan sangat berat. Kepalanya terasa berputar-putar dan pandangannya hampir kabur ketika ia tak bisa berdiri dengan kokoh.


Berusaha berlari, Alda memegangi tembok untuk mencapai pagar yang terlihat membayang. Ia harus pergi sebelum terlambat. Namun, pria tadi tidak menyerah karena menjambak rambut Alda dari belakang hingga terdongak.


"Lepaskan aku! To...tolong!" teriak Alda sekencang mungkin meski suaranya terputus-putus sambil mendorong bahu pria itu yang terus mengincar.


Namun begitu, Alda hampir saja mencapai pagar, kedua pria itu mengangkat Alda secara paksa, walaupun Alda berontak.


"Jangan sentuh aku! Rich..." harap Alda akan datang, meski hanya bayangan saja. Setidaknya itu akan memberinya kekuatan.


Plakkk!


Plakkk!


Alda digampar dan kini tak sadarkan diri karena pingsan. Kondisinya yang lemah dan kehabisan tenaga membuatnya tak bisa lagi mempertahankan diri, walaupun ia bersikeras ingin melawan.


"Haha!" mereka tertawa puas.


Dengan semangat membopong kaki Alda, satu pria bertato dengan perawakan besar itu memegang kuat kedua tangannya, tak mau buruannya lepas. Alda segera dibawanya masuk ke dalam rumah.


"Santapan besar malam ini. Kita berdua akan memberikan kehangatan yang tak akan pernah kau lupakan seumur hidup, seksi!"