
Alda menyangga tangan di bawah dagu. Ia melihat ke depan jalanan ketika ibu-ibu lain akan berangkat ke Pura untuk sembahyang. Tapi pikirannya malah terpenuhi oleh ucapan Morren hingga pagi itu dan sekarang ia paham, bahwa secara tak langsung papinya menyuruhnya untuk menikah. Tetapi bagaimana bisa ia melepaskan belenggu Rich dari hatinya? Sedangkan melupakan pria itu saja begitu sulit.
"Hey, melamun aja. Lagi mikirin buka salon, ya? Terus mau cukur keteknya si Agung? Hahaha!" tawa Mutia membahana saat menggoda temannya itu yang duduk melamun di teras rumahnya. Ia tahu, Alda sedang bersedih maka dari itu ia menghiburnya.
Terlebih, jarak rumah mereka berdua hanya berjangka lima rumah. Sehingga Mutia kerap menghampiri Alda, sebelum pagi ia berangkat mengajar dan sembari menunggu mesin motornya panas.
"Nggak kok." Alda yang sedang tidak mood, lalu menceritakan keinginan Morren semalam pada Mutia. "Terus aku harus gimana? Aku belum mau menikah. Mungkin butuh waktu yang lama."
Mutia jadi ikut bersedih dan membuang napas naga. "Al, apakah kau nggak coba hubungi cowok itu?" pelannya agak berbisik, karena Morren masih belum berangkat ke sawah.
Alda menggeleng. "Nomor ponselnya udah ku blokir. Aku juga masih sakit hati sama dia, keingat juga kesal tapi ya susah buat lupain dia."
"Hmm. Repot!" Mutia menepuk udara kosong, kemudian tersenyum saat mendapat ide cemerlang. "Gimana? Kalau nanti sore, kau ikut sama aku ke pantai purnama! Cari bule. Siapa tahu ada yang nyangkut! Buat gantiin bule yang di hatimu itu."
π Real β Pantai Purnama π
"Nggak, ah! Aku malas Mumut. Nanti mau ke sawah aja sama papi!" tolak Alda yang bosan dengan bule.
"Yeah ..." Mutia mendesah kecewa. "Terus ke mana dong? Belanja, makan-makan di cafe atau ke Pura? Kali aja kau mau tobat?" godanya membuat Alda mencebikkan bibir.
"Astaga! Memangnya aku tersesat? Kau ini suka mengada-ngada."
Seru-serunya mengobrol, kedua wanita itu tercuri dengar suara mesin motor lain yang baru masuk ke pekarangan rumah Alda. Wajah Mutia secerah matahari pagi itu yang malu-malu, tidak Alda yang seketika wajahnya semendung gerhana total.
"Bli Rendra!" pekik Mutia terperanjat senang dengan senyum semanis gula Jawa, menyongsong pria itu yang mendekat.
Pria gagah idamannya yang entah kenapa malah menghampiri Alda dan hanya tersenyum simpul pada Mutia sekilas. "Hey, Mut."
"Hey, juga Bli." Mutia terpukau melihat Rendra yang ternyata sudah mencukur kumisnya, hingga Mutia hampir tak mengenali jika sekarang Rendra jadi semakin tampan di matanya.
"Al, apa kabar?" sapa Rendra mengakrabkan diri. Memandangi wanita itu penuh kekaguman. Menurut Rendra, Alda adalah kembang desa di daerahnya. Karena wajahnya begitu cantik, perpaduan dari blesteran Indonesia β Jerman.
"Baik Bli," jawab Alda singkat tanpa menoleh. Ia pun memanggil sahabatnya. "Mutia, temenin Bli Rendra dulu. Pasti Bli cari papi, kan?" potong Alda yang malas dengan pria itu, apalagi ia tahu jika Mutia menaruh hati pada Rendra.
"Oke. Siap Alda!" Mutia menyahut sambil membulatkan jari kesenangan.
"Eee, Alβ" tangan Rendra menggapai dan panggilan Rendra juga tak didengar, karena Alda berjalan dengan terburu-buru masuk ke dalam rumahnya untuk memanggil Morren yang hanya dijadikan alasan. Sebenarnya ingin menghindari Rendra demi Mutia.
β’β’
β’β’
Lain halnya Rich dan Firheith yang sudah bersiap-siap setelah sarapan, tengah duduk di restoran yang berada di dekat kolam renang kala itu untuk menyusun strategi.
"Jadi, kau tak memakai lagi brewok menggelikanmu itu dan berpakaian seperti ini, Rich? Wah! Gentleman. Apa kau tak takut terkena damprat Tuan Morren jika kau langsung ke rumah Alda?" tanya Firheith sambil sesekali menggoda gadis lewat dan menyegarkan mata dengan pemandangan gadis berbikini yang berenang di kolam.
Firheith manggut-manggut setuju. "Idemu oke. Semoga usahamu tak sia-sia, Bro!" karena ia kasihan pada Rich yang terus merana dan gelisah setiap saat.
"Ayo kita berangkat sekarang!" Rich berjalan penuh semangat yang menggebu-gebu tak sabar, ingin sekali melihat wajah Alda lagi setelah sekian lama tak bertemu.
Kedua pria bule tampan itu keluar dari resortnya, menaiki motor yang sudah dipersiapkan oleh Chandra sebelumnya di parkiran. Rich berboncengan dengan Firheith membelah jalanan kota Ubud siang itu dan tak menemui kesulitan menemukan dan membaca arah jalan, karena ia menggunakan google maps begitu ia telah mengganti nomor ponselnya dengan kartu perdana Indonesia yang berawalan +62.
Melewati sebuah sekolah dasar, yang ramai dengan anak-anak itu akan menyebrang jalan. Rich menunggu dengan sabar bersama Firheith di atas motor sampai anak-anak itu selesai.
Tetapi Rich tak sengaja melihat seorang anak laki-laki yang tertinggal sendiri di belakang. Anak itu baru saja keluar dari gerbang sekolah akan menyebrang. Celingukan tak berani melangkahkan kakinya, yang kemudian gara-gara keraguannya itu, sang anak tak menyadari jika ada motor lain melintas dari arah berlawanan.
"Hey, Nak. Hati-hati. Awas ada motor!" teriak Rich memperingatkan dari jauh dengan cemas dan jantung berdebar debar. Entah kenapa hatinya terpanggil.
Namun, sayang. Anak itu yang ketakutan menjadi panik. Hingga bingung harus berbuat apa dan masih bergeming di tengah jalan, malah berjongkok sambil menutupi wajahnya dan terlihat menangis.
"Oh astaga!" Rich menyugar rambut dengan kesal. Gemas sendiri pada anak itu yang menyebalkan. "Hey, larilah! Ada motor itu!" peringatnya lagi.
Sementara satpam sekolah juga tak sempat menyusul anak itu dan berdiri tergemap, karena ia terhalang kendaraan yang mulai banyak selain ia juga harus melindungi anak-anak lain.
Rich langsung mengambil tindakan sebelum terlambat. "Fir! Bawa motornya!" ia tergesa turun dari motor, tanpa memberi persiapan dulu pada Firheith yang membuat motornya hampir jatuh.
"Woi! Rich! Ee ... Eee ...." Untung saja Firheith sigap menahan motornya dan ia sangat terkejut, saat melihat Rich berlari secepat kilat. Untuk menolong anak lelaki yang hampir tertabrak motor, dengan segera menggendongnya sekali angkat ke tepi jalan.
Wusssh!
Tin, tin!
Pengendara motor itu melintas tanpa meminta maaf, setelah berhasil kabur.
"Brengsek kau! Ke mana matamu bodoh!!" umpat Rich begitu marah pada pengendara itu yang diacunginya dengan jari tengah "**** you" sambil mendekap tubuh bocah lelaki itu yang masih meringkuk dipelukannya.
"Hiks, hiks. Mami .... Nono, aku takut ..." lirih bocah itu menangis sesenggukan.
Rich semakin mendekapnya erat lalu mengusap pucuk kepalanya dan Firheith menghampiri keduanya, setelah memarkirkan motor. Berikut satpam sekolah dan guru-guru di sana yang baru mengetahui hal itu, kemudian mulai mendekat.
"Sayang, sudah jangan menangis lagi. Kau sudah aman." Rich menenangkannya.
"Hiks ... Benarkah, Om?" tanya bocah itu pada Rich yang belum mau mengangkat wajah.
"Ya, apakah kau terluka sayang? Coba buka matamu, aku bukan orang jahat. Jangan takut, ya?" Rich bicara dengan lembut, sehingga bocah tersebut merasa yakin untuk mengangkat wajahnya perlahan-lahan.
Tetapi Firheith di sebelah Rich yang melihat wajah bocah lelaki itu duluan. Seketika menyeletuk refleks dengan mata membulat sempurna.
"Oh God! Wajah bocah lelaki ini mirip denganmu sewaktu kecil, Rich! Lihatlah cepat!"