Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
37. Break



Borghonce cafe, sore waktu setempat.


Senyum penuh arti menghiasi gurat tampan Efrain yang membawa buket bunga di belakang punggung. Langkah lebarnya dibuat sedikit berlari menuju meja yang telah dipesan untuk bertemu sang kekasih.


Bahkan tiap wanita yang tidak sengaja melihat senyumnya, jadi salah sangka. Mengira Efrain tersenyum padanya, hingga membuat mereka tersipu malu.


Tapi, senyum mereka luntur. Ketika mendapati pria itu tampak mendekati wanita yang duduk sendiri di mejanya, tepat di bawah pohon pucuk merah.


“Beautiful roses for beautiful women, spesial for you?” Ef mengeluarkan buket mawar itu tepat di depan wajah Alda yang nampak terkejut.


“For me?” tunjuk Alda ke dirinya.


Efrain mengangguk, walau ragu Alda pun tetap menghargai untuk menerimanya.


“Terima kasih, Ef.”


“Ya.”


Lantas Ef pun mengawali obrolannya tentang kesibukannya hari ini yang banyak menguras tenaga. Semenjak Abelle dan Richard vakum dari C&L Diamond, ia benar-benar kewalahan. Hingga tidak ada waktu untuknya mengajak Alda berkencan.


Alda kesulitan menyela, Ef terlalu aktif bicara. Tapi ia harus menuntaskan ini semua, sebelum terlambat.


“Ef!” sela Alda mengeraskan suara.


“Sorry, aku terlalu antusias. Oia, Sayang. Kau mau bicara apa, hum?” Efrain mengulurkan tangan akan menyentuh pipi Alda.


Namun, sebelum tangannya sampai. Efrain tercengang mendengar kalimat yang terucap dari bibir ranum Alda.


“Maaf, Ef. Aku mau kita putus.”


***


“Alda? Kau mendengarku sayang?” Efrain menggerakkan telapak tangannya ke depan wajah Alda yang termenung.


Barulah Alda tersentak dan kesadarannya kembali. Ternyata apa yang dialaminya barusan hanyalah lamunan. Jadi, pernyataan putus yang ia lontarkan tadi belum terlaksana.


Oh! Ya Tuhan. Alda meraup wajahnya, lemas memaku tatap pada Efrain dengan tak bergairah.


Lihatlah pria tampan itu! Dia memang perfect dari bawah hingga ke atas. Setiap kaum hawa di sekitar mejanya, kerap mencuri pandang. Walau begitu sejatinya masih ada minus dalam dirinya.


Jangankan membawa bunga atau kejutan manis. Dia datang menemuinya di sini hanya dengan tangan kosong. Tak seperti yang ada dalam lamunannya tadi


Ayolah Alda? Jangan berharap lebih, mana pernah Ef seromantis itu padamu. Dia pria dingin, kaku dan pasif. 


Berbeda jauh dari Rich walau mereka kembar. Rich memang agresif dan minus akhlak. Tapi kalau soal perhatian, dialah juaranya.


Rich mampu membuat Alda terkesan dan nyaman. Apalagi sentuhannya yang panas, selalu meninggalkan getaran aneh yang sulit untuk ditolak Alda.


“Maaf sayang, aku datang terlambat. Di jalanan tadi terjebak macet,” kata Efrain tak enak, berpikir hal itulah yang membuat Alda murung.


Alda tersenyum simpul sembari meminum jus di gelas. “Emm, tak apa. Santai saja."


Sambil berpikir keras, bagaimana cara menyampaikan semua kemelut yang ada dalam hatinya kini.


“Panacotta di cafe ini begitu enak. Apalagi dinikmati saat cuaca panas begini dengan ditemani segelas jus. Cobalah?” tawar Efrain sambil tersenyum menatap Alda sekilas, lalu asyik memakannya sendiri. Tanpa embel-embel mau menyuapinya seperti orang berpacaran pada umumnya.


“Nanti saja, Ef. Aku masih kenyang,” tolaknya halus. Kemudian Alda iseng menscroll laman instagramnya dan melihat video serta foto yang ada di reels.


Netra Alda terbeliak saat tak sengaja melihat foto Rich sedang duduk berdua dengan seorang wanita yang pernah ia temui di Volayared insurance.


Rich tengah memberinya buket bunga mawar seukuran big pillow dan mengajaknya makan malam romantis di sebuah restoran bintang lima yang terkenal se Kongo.


Mendadak hatinya tercubit dan panas. Sampai ia nekat membuat akun palsu dan memberi spam komen di instagram wanita itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


celorich_myworld


21.465 likes


View all 473 comments


celorich_mywold To me he is the most handsome man in the world (emote love) I love you so much, baby @rich.rich


Comments:


burger.crispy:  Oh! God. Beruntung sekali, dia bisa bersanding dengan walikota.


zacofa1029: Pria sepertinya memang langka. Jika ada satu lagi, tak akan kubiarkan dia lepas. Aku akan mengikatnya di ranjang dan menemaniku bercinta setiap waktu? (emote berharap)


matajulid.official: Aku bahkan rela tak mengenakan bra, jika yang tidur di sebelahku adalah Senor @rich.rich.


fefocaterine145: Pasangan serasi (emote love)


anna_rebecca: Ups, sorry guy! Aku pernah bermimpi basah dengan pria tampan di sebelahmu itu. Iya, Senor @rich.rich yang seksi itu. Maaf aku selalu menjadikannya fantasi liarku, bagaimana tahan punya kekasih seperti dia? Oh, my God. Dia harus dinobatkan sebagai pria terseksi 2023. Melihat fotonya saja, bawah ini jadi basah lagi… yah! (emote bikini)


Alda rasanya ingin muntah membaca itu, tangannya gatal ingin cepat selesai memposting komen-nya.


beauty_boy_pictures: @celorich_myworld kau lebih cocok jadi penjual bunganya atau tukang kebun. Darpada menjadi kekasih @rich.rich (emote muntah)


Efrain keheranan memperhatikan Alda sedari tadi yang kini malah tersenyum-senyum sendiri.


“Ehem! Apa yang membuatmu sebahagia itu, Sayang?” penasarannya.


Wajah Alda terangkat, membalas senyum Efrain. Sambil logout dari akun fake-nya itu.


“Ah! Tak ada, Ef. Hanya iseng melihat instagram," ucapnya lega berhasil mengerjai Celo.


“Oh! Aku kira sedang apa?”


“S-sedang apa maksudmu, Ef?” walau begitu, mendadak Alda berfirasat tak enak.


“Aku paling tak suka dengan wanita yang suka berselingkuh, apalagi di belakang. Lebih baik terus terang di depan jika sudah tak mencintainya lagi.”


Deg!


Alda menelan ludah susah payah, wajahnya yang ceria kini memucat seketika. Gelisah melandanya lagi, terlebih ekspresi tenang Efrain itu susah ditebak. Hal itulah yang justru membuat Alda tak nyaman dan jarang terbuka satu sama lain.


“Ef, apa aku boleh tanya sesuatu padamu?” ucapnya agak takut.


“Tanyakan saja," sahut Efrain.


“Tapi, jangan salah paham dulu, ini hanya misalkan?" Alda ragu dengan ucapan menggantung.


Mata Ef menyipit dengan senyuman curiga. “Kau sepertinya tampak gugup?”


“Oh! Benarkah?” tanya Alda menetralkan diri. Dengan mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya pelan.


“Wajahmu pucat. Apa kau sakit?” Efrain hendak menyentuh keningnya untuk memeriksa. Namun, lagi-lagi Alda menjauhkan diri.


“Aku… Baik-baik saja. Sungguh, hehe…” Alda memaksakan tawanya itu.


“Oke. Kau tadi mau bicara apa, Sayang?” teringat Efrain.


Alda mengangkat wajahnya dengan gugup. “Misalkan suatu saat kau berada di posisi yang diandaikan tadi tadi. Bagaimana responmu dan apa yang akan kau lakukan, Ef?” tanyanya gugup.


Alda was-was menanti jawaban dari Efrain. Gelisah merongrongnya tak tenang, apalagi Efrain hanya diam saja setelahnya.


“Jika itu pria, aku akan membunuhnya!" sahut Efrain.


Membuat jantung Alda nyaris berhenti berdetak mendengar itu.


“Sayangnya aku bukan homo. Aku hanya menyukai lawan jenis,” Ef menipiskan bibir. “Aku tidak berandai-andai. Tapi jika kau berani berselingkuh di belakangku, aku pasti sangat membencimu Alda.”


Keringat sebulir biji kurma tiba-tiba menggumpal di kening Alda yang menetes deras. Disekanya berulang dengan tisu yang diberikan oleh Efrain.


“Kenapa kau jadi ketakutan begitu, Al? Apa kau bertanya itu karena jangan-jangan kau berselingkuh?” tanya Ef semakin membuat Alda ingin pingsan saat ini.


“Ti—”


“Minumlah?” Efrain menyodorkan ice coklat padanya. “Coklat akan menenangkan perasaanmu, Sayang.”


“Te—terima kasih, Ef.” Alda menerimanya dengan tangan gemetar. Meminumnya barang sececap, sebelum ia menghela nafas dalam-dalam sekali tarikan.


“Sama-sama."


Lantas Ef menceritakan hari-harinya yang sibuk di kantor. Alda mendengarkannya setengah hati, kadang bibirnya menuai senyum terpaksa demi menanggapi itu.


Tapi tetap saja, ia tak akan tenang jika ganjalan di hatinya tak secepatnya diutarakan.


“Cuaca akhir-akhir ini sering tak menentu. Terkadang paginya cerah, siang terik tiba-tiba mendung. Sepertinya akan turun hujan sore ini?” cetus Ef, menggerakkan Alda menengadahkan wajahnya ke langit.


Memang benar, langit Kongo sudah berubah kelabu. Angin kencang mulai berhembus, menusuk ke dalam tulang dan Alda mulai menggigil kedinginan mengusap lengannya yang terbuka.


Tapi Efrain tak peka, meminjamkan jas nya atau memeluknya pun tidak?


“Musim pancaroba. Kau harus jaga kesehatan sayang, meminum vitamin C dan berolahraga,” saran Efrain yang dibalas senyuman tipis oleh Alda.


“Kau benar, Ef.”


“Sepertinya hujan turun sebentar lagi?” Ef mengetes air hujan dengan telapak tangannya. “Kau ke sini bawa mobil atau naik taksi. Jika tidak biar aku antar?” tawarnya sambil beranjak.


“A-Aku naik taksi ke sini," sahut Alda.


“Baiklah, ayo kuantar?” Efrain membelakanginya sambil membayar bill ke waiters.


Tidak ada waktu lagi. Sekaranglah yang tepat menurut Alda. Daripada nantinya Alda kian tersiksa dan makin menyiksa perasaan Efrain terlalu lama. Ia harus mengutarakan niatnya mengajak bertemu.


“Ef, tunggu!” cegah Alda menahan tangannya pergi.


“Ya?” Efrain menoleh.


Irish Alda banjir, diiringi gerimis yang mulai turun. Semua orang di meja cafe berlarian meneduh. Menyisakan keduanya berdiri berhadapan dengan perasaan tak menentu.


“Ef?" bibir Alda bergetar dan air matanya runtut. Sehingga Efrain akan maju untuk menghapusnya. “Maafkan aku, Ef. Aku…” sulit sekali Alda mengeluarkan kalimat itu. Matanya dipejamkan dengan menelan ludahnya sekali teguk. Kini menatapnya tak tega. “Lebih baik kita putus.”


Guntur memecah langit, tepat perkataan Alda menyentak tubuh Efrain mundur. Pria ini mematung tanpa ekspresi. Coba mencerna pernyataan Alda yang sungguh mengejutkannya dengan tiba-tiba.


“Haha…” Efrain tertawa dan memegang kedua bahu wanita itu sambil menatapnya lekat. “April Mop, Sayang? Wah! Ini sudah lewat. Sekarang tanggal enam April?”


Alda melepas tangan Efrain di bahunya perlahan.


“Memang bukan April Mop, Ef. Aku sungguh-sungguh. Aku mau kita putus!”


Tubuh Ef mematung, ia tak menampilkan ekspresi apapun karena therapy shock yang ia terima secara mendadak. Membuat Alda khawatir dan takut ketika hendak menyentuhnya.


Efrain memandang Alda dengan tatapan tak percaya. “Kau bercanda, Al?”


“Tidak, Ef. Tolong m-maafkan aku,” Alda memejamkan mata dengan tubuh berguncang karena menangis sesenggukan.


Hujan deras mengguyur tubuh keduanya. Petir bersahutan seolah menyaksikan hati yang terluka.


Betapa hancur hati Ef, wajahnya menengadah ke langit. Demi menahan air mata sakit itu agar tak keluar.


Hening diantara keduanya, tak ada yang saling bicara.


“Selama ini ternyata aku salah jatuh cinta, Ef. Aku mencintai Rich, bukannya kamu? Maafkan aku ...”


"A-apa?"


Efrain terkejut lalu mengguncang kedua bahu Alda penuh kekecewaan.


“Kenapa kau baru mengatakannya sekarang di saat aku sudah benar-benar mencintaimu, Al?”


Alda menatapnya sendu tanpa bisa mengeluarkan suara. Buliran beningnya jatuh berderaian.


“Kau mempermainkan ku!” tuduh Efrai nampak sangat murka. “Jawab!" bentaknya membuat tubuh Alda tersentak mundur.


“Tidak Ef, hiks…” Alda terisak tangis.


Efrain membentak sangat kesal bercampur dan kecewa. “Ya! Harusnya sejak awal aku tak pernah kasihan padamu. Karena rasa kasihan inilah, hatiku sekarang hancur berkeping-keping!”


“Maafkan aku… Tolong maafkan aku, Ef,” gemetar Alda memohon dengan menyatukan tangan.


“Aaargh!!” Efrain mengerang, dadanya begitu sakit. Seolah ditusuk pedang tajam yang menembus jantung.


Apa saja yang berada di sekitarnya dibanting, ditendang, termasuk meja dan kursi. Sehingga orang-orang yang melihat berlarian ketakutan untuk menjauhkan diri.


Sementara petugas keamanan yang berusaha menenangkannya pun malah terkena pukulan dari Efrain. Melihat itu, Alda berteriak histeris. Tubuhnya merosot dan kakinya bersimpuh di bawah Efrain dengan masih menyatukan tangan. Supaya mantan kekasihnya ini mau berhenti melakukan itu.


“Kau tahu?” nafas Ef terengah engah menahan amarah. “Mulanya memang aku tak pernah berpikir mencintaimu, tapi aku berusaha mencobanya. Melihat kesungguhanmu. Sekarang… setelah aku terlanjur mencintaimu dan berharap cinta kita ini akan berlabuh lebih jauh. Seenaknya kau memutuskannya sepihak? Gara-garamu aku dan saudaraku saling bermusuhan. Wanita memang setan! Seenaknya mau menangnya sendiri?!” Efrain mondar-mandir, sulit baginya melampiaskan emosi. Ketika semua barang-barang di sana telah habis dihancurkan.


Tidak mungkin ia akan menghajar Alda. Ia bukan banci yang akan melawan wanita. Posisinya begitu sulit, antara sakit hati, syok, terluka batin kian bersatu menerjang Efrain seolah siap menenggelamkannya hidup-hidup ke dalam panasnya kerak bumi. Meluluhlantahkan sekujur tubuhnya remuk tak bertulang.


“Oh, Tuhan ...!” Efrain meremas rambutnya dan berteriak keras. Gelegarnya membuat siapapun yang mendengar pun bergidik ngeri. “Puaskah kau menghancurkanku seperti ini, Al? Kenapa kau tega sekali padaku!"


Tubuh Alda berjingkat sesenggukan. “Ef, maaf…”


“Permintaan maafmu tidak akan mengubah segalanya, brengsek!” umpatnya murka, menahan geraman di dada. Netra ambernya berubah sewarna merah darah, kobaran api menyala di seluruh tubuhnya.


Hatinya luluh lantah. Kesakitan perih yang tak berdarah. Namun, lebih sakit dari apapun.


“Aku tak akan pernah memutuskanmu. Tapi ingat satu hal, Alda? Mulai detik ini aku membencimu!!”


Tangis Alda mengencang, ia bangkit hendak mengejar Efrain untuk meminta maaf. Tapi Efrain tak menoleh sedikit pun.


“Ef… tunggu aku Ef!"


Brakk!


Pintu mobilnya dibanting keras, Efrain masuk ke dalam bugatti-nya. Menjalankan mobilnya kesetanan, meninggalkan Alda yang ambruk ke tanah menangis sendiri, di bawah guyuran hujan yang teramat deras. Sederas tangisan nya kini yang dihujam penyesalan berat.