
"Bunny … Jangan menangis lagi. Ada aku di sisimu."
Rich menarik tubuh Alda ke dalam hangat dekapannya. Selepas Alda menceritakan kisah masa lalunya yang berliku tajam. Ia sesak dan tak sanggup membayangkan, bagaimana susah payahnya Alda berjuang keras membesarkan Noah tanpanya.
"Iya, Boo. Aku tidak apa-apa, semuanya telah berlalu. Aku… " Alda memejamkan mata, bibirnya bergetar tak kuasa meneruskan kalimatnya. Ia menarik nafas dalam-dalam. Semakin erat melingkarkan kedua tangannya di punggung lebar Rich dan mendesakkan wajahnya di dada sekal yang berhimpitan dengan tubuhnya, membiarkan bulir-bulir air matanya jatuh di sana.
"Tolong maafkan semua kesalahanku selama ini bunny. Aku telah banyak memberimu dan Noah penderitaan. Aku akan menebusnya," sesal Rich mengaku salah.
"Aku sudah memaafkanmu sejak aku mulai mencintaimu, Boo."
Ungkapan Alda yang tulus itu tak diduga sama sekali oleh Rich. Ternyata istrinya ini benar-benar berhati mulia. Mau berlapang dada dan tak menyimpan dendam.
"Benarkah bunny? Oh, beruntungnya aku memilikimu?" Rich bahagia, seluruh wajah Alda ia kecup tanpa terlewat.
"Boo…" rengek Alda kegelian, sampai wajahnya menengadah ketika lehernya dihisap Rich begitu kuat. Alda berusaha menetralkan nafasnya setelah Rich melepas bibirnya itu. "Hanya satu… yang aku minta," ucap Alda ragu lalu menunduk.
Rich yang masih memeluk Alda, menaikkan dagu wanita cantik itu menghadap wajahnya dan memandangnya penuh cinta. Lalu memagut bibirnya yang dingin sekilas.
"Katakan, hum? Mulai detik ini, setiap penderitaanmu akan kutebus dengan kebahagiaan dan apa pun yang kau minta akan aku penuhi."
"Serius? Apa pun?" ulang Alda memastikan.
Rich mengangguk-angguk.
"Aku hanya minta jangan pernah bermain hati lagi. Jangan pernah selingkuh dariku dan jaga Noah kita baik-baik," pinta Alda menatap Rich, dengan membingkai wajahnya yang tampan sambil menunggu keputusannya.
"Hanya itu saja?"
"Maksudnya?"
Alda bingung dengan pertanyaan Rich. Tapi ia terperanjat saat jemari besar nan kokoh suaminya itu, tiba-tiba mengusap perutnya. Rich tersenyum, memeluk Alda lagi. Debaran jantungnya masih bertalu-talu, bahkan jantung Alda pun demikian saat berdekatan seperti ini.
"Apakah istriku sudah siap memberi Noah adik? Jika iya, papinya juga siap. Barangkali adik Noah nanti kembar?" bisiknya tepat di telinga Alda.
Hingga membuat bibir ranum Alda melukiskan senyum yang selalu menggetarkan hati Rich. Juga paling sulit untuk dihindari bila tak menciumnya. Namun, Rich melihat keraguan di balik ekspresi riang Alda.
"Bunny, kalau kau belum siap tidak apa. Aku tak akan memaksamu. Karena memiliki Noah dari hasil buah cinta kita saja, sudah membuatku sangat bahagia." Rich meyakinkan Alda sambil mencium puncak kepalanya.
"Yakin boo?"
Rich menengklengkan kepalanya miring, dengan alis bertaut heran, "jadi bagaimana?"
"Jadi, aku sudah siap hamil lagi. Tapi kita tanyakan pada Noah dulu, dia mau atau tidak? Karena dia baru saja mendapat kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya. Terlebih darimu, aku khawatir dia nanti cemburu pada adiknya," papar Alda berpikir jauh.
"Astaga! Kau benar juga bunny? Istriku memang tak hanya seksi tapi juga idaman dan bijaksana. Aku jadi semakin mencintaimu?" ungkapnya tulus dengan gaya tatapan mesumnya itu seolah menelanjangi Alda.
Jemari Alda menutup mata Rich, perlahan ia beranjak keluar dari bathub sambil tertawa. Meninggalkan Rich yang mematung, sementara ia membilas tubuhnya di bawah shower kemudian masuk ke dalam kamar.
...----------------...
Rich mengajak Alda untuk menemui kedua orang tuanya di hotel yang berbeda, selain menjemput Noah. Ia ingin membicarakan suatu hal penting pada mereka. Mulanya Alda sempat menolak keinginannya itu, karena takut dianggap menguasai Rich setelah menikah. Namun, Rich meyakinkan Alda. Bahwa ia sudah memikirkannya semalaman. Hingga tak ada alasan lain bagi Alda untuk melarang.
Di hadapan Cal dan Trecy juga keempat saudaranya itu. Tanpa Alda yang sedang di kamar lain menemani Noah, Hazel dan Lord bermain. Rich berbicara serius mengenai keputusannya untuk tinggal di Bali dan menitipkan perusahaan C&L Diamond miliknya yang ada di Amerika.
"Mom, Dad, Abelle, Ef dan kalian berdua." Pandangan Rich lalu tertuju pada kedua adik kembarnya, Heaven dan Brylee yang tampak kurang setuju. "Aku mohon pengertian kalian semua. Aku hanya ingin mandiri setelah menikah."
"Sayang, C&L Diamond yang di Amerika itu adalah hakmu. Jika bukan kau yang mengurusnya, siapa lagi? Kasian Himesh, dia harus bolak-balik dari Kongo lalu ke Amerika." Trecy coba memberi pengertian pada sang putra.
"Tapi kasihan juga Ibu mertuaku sepeninggal Papi, Mom? Dia pasti kesepian jika kami tinggal ke Amerika. Apalagi di sini mengurus sawah Papi Morren yang berhektar-hektar itu sendiran. Lagi pula, Noah juga terbiasa hidup di sini. Kalian jangan khawatir, nanti jika Noah libur sekolah aku dan Alda akan ke Amerika menyambangi perusahaan itu juga sekalian mampir ke Kongo."
Abelle menyela, "jangan katakan kalau kau ingin jadi petani, Rich?"
"Sepertinya begitu!" celetuk Efrain beranggapan.
Cal sedari tadi diam memikirkan semua itu. Menurutnya keputusan yang diambil terkesan terburu-buru. Tapi putranya sudah dewasa dan telah menikah, sehingga ia tak bisa ikut campur terlalu jauh. Meskipun ia berat menyetujuinya, karena ia masih merindukannya setelah lama berpisah.
"Kak, jangan sampai kau menyesali keputusanmu. Menjadi petani memang bukan hal buruk dan kami pun tak berhak melarang. Tapi kau juga punya usaha Sweedie Bar di Kongo, bukan? Apakah tempat itu akan kau biarkan terbengkalai begitu saja?" tanya Brylee mengingatkan, supaya kakaknya itu tak gegabah.
Rich sudah tahu kalau keluarganya pasti menentang. Maka dari itu ia sudah mempersiapkan mental yang kuat supaya tak terpengaruh.
"Sweedie Bar aku serahkan pada Firheith dan selama ini pun dia lah yang mengurusnya," jawab Rich.
"Lalu Fire Base Agency?" lanjut Heaven bertanya lagi.
"Untuk Fire Base Agency masih bisa aku kendalikan dari sini, Heaven. Zaman sekarang serba virtual, kau tahu otakku cerdas. Jika kau mau, kau juga bisa membantuku untuk mengelola?" Rich malah menawarkan itu pada Heaven yang menggeleng.
"No! Aku masih kuliah, lagi pula jurusanku berbeda. I hate fashion, you know?" sangkal Heaven menolak keras.
Cal berdiri seketika melerai perdebatan itu sehingga mereka semua terdiam dan tak ada yang berani membantah.
"Kalian belum ada di posisi Rich untuk sekarang, sehingga kalian bisa mudah mengatakan itu!" tegas Cal menyoroti wajah Efrain, Abelle, Brylee dan Heaven yang menunduk. Lantas ia menunjuk pada Rich yang menatapnya penuh haru. "Dia juga sudah memberi solusi dan setelah kupikir lebih lanjut. Rich berhak menentukan hidup keluarganya sendiri, jadi kita tak bisa ikut campur. Tolong hormati keputusannya dan jangan memaksanya lagi."
Setelah mendengar pernyataan sang Daddy. Rich langsung memeluk Cal sangat erat.
"Terima kasih banyak sudah mendukungku, Daddy. Aku tak tahu harus bicara apa lagi, selain hanya mengucapkan itu."
Cal mengusap punggung sang putra, menyalurkan segala kerinduan dan hal ini membuatnya seketika teringat masa kecil Rich.
"Kewajiban Daddy sudah selesai. Bagi kami para orang tua, tidak ada hal yang paling membahagiakan di dunia ini selain melihat anak-anaknya hidup rukun dan tak menderita, Nak." Cal memberinya wejangan, lalu memanggil semua anak-anaknya dan istrinya untuk dipeluk bersama-sama.
"Maafkan kami, Rich. Semoga jalan apa pun yang kau pilih selalu membuatmu bahagia," ucap semua saudaranya itu.
"Terima kasih banyak telah menghargai keputusanku. Aku menyayangi kalian semua," ungkap Rich tulus dari lubuk hatinya terdalam.
Sore itu adalah perpisahan Rich dengan semua keluarganya. Rich, Alda dan Noah mengantarnya hingga ke bandara karena mereka akan kembali menggunakan jet pribadi milik sang Daddy.
Rich tersenyum ke arah mereka semua sambil memeluk Alda. Membiarkan Noah masih diciumi oleh Grandma dan Grandpa-nya, meski rasanya berat baginya untuk berpisah sampai masa libur sekolah Noah tiba.