Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
85. Happy Wedding Day



Undangan telah tersebar ke seantero keluarga Rich dan Alda di Bali dan beberapa negara. Termasuk sepupu dari Rich, yang ada di Jepang, Spanyol dan  Korea Selatan. Terutama kakeknya, Lucas yang masih bersinggungan dengan sang Mommy. Dengar-dengar juga akan turut menghadiri acara pernikahan itu hanya demi  Rich. Sang cucu kesayangannya, yang akan diselenggarakan kurang dua hari lagi.


“Si Bli Rendra itu undang saja, Bunny. Supaya dia tahu kalau kau itu telah sah menjadi istriku nanti dan dia tak berani macam-macam!” suara Rich terdengar emosi dan posesif saat melakukan video call dengan  Alda. Karena semenjak photo shoot prewedding, ia dilarang mommy-nya untuk saling bertemu menjelang pernikahan.


You know lah, Rich sedang dipingit. Karena ia sempat ketahuan oleh Himesh yang melapor pada Trecy, jika Rich mengajak Alda ke hotel. Dan sebagai seorang Ibu, Trecy ingin menjaga nama baik keluarga Bu Rukma di sana. Mengingat dulunya, Rich sudah pernah berbuat kesalahan. Jadi, Trecy tak ingin hal itu terulang untuk ke beberapa kalinya.


“Tenang saja, Boo. Tak ada yang terlewat, semua aku undang. Kecuali Eve yang tak bisa hadir,” ucapnya sedih.


“Kenapa dia tak hadir? Apa si Eve sibuk bekerja sampai-sampai sekadar menghadiri pernikahan sahabatnya saja tak sempat!” omel Rich di sana tak ingin Alda kepikiran.


“Bukan begitu, Boo. Mommy-nya sakit keras, jadi dia kembali ke Singapura buru-buru.”


“Oh! Begitu.” Rich mengangguk, “Singapura dan Indonesia dekat, Bunny. Dia bisa naik kapal laut lewat Bangka, lalu naik pesawat ke Bali.”


“Ya, dia mengatakan akan mengusahakannya demi aku. Tapi aku tak ingin memaksanya, malah aku ingin mengajakmu menemuinya ke Singapura setelah pernikahan kita. Jika Eve benar tak bisa hadir, Boo. Eve sudah seperti saudaraku sendiri.  Kau mau ‘kan menemaniku pergi ke Singapura?”


Tentu saja Rich dengan senang hati tak akan menolak. Bahkan, otaknya yang terlalu cerdas itu mencetuskan sesuatu.


“Demi kau apa yang tidak sih, sweety? Well, sekalian honeymoon seru juga,” kata Rich yang membuat wajah Alda merona.


“Ah, kau ini. Pikirannya ngelantur ke sana terus. Jangan macam-macam! Apa kau tak takut jika kedengaran mommy?” 


“Iya, sih. Tapi tenang saja, karena aku sekarang ada di rooftop hotel. Mommy tak akan tahu kalau aku sedang video call denganmu, istriku.”


Alda tersenyum kikuk, ketika Rich terus memposisikan wajahnya begitu dekat. Lantas ia pun mengalihkannya dengan hal lain. 


‘Noah bagaimana kabarnya? Dia betah sekali tak ingin pulang ke rumahku?’


“Bagaimana anak kita tak betah? Grandma dan Grandpa-nya saja terlalu memanjakannya. Noah juga senang bermain dengan Hazel dan Lord. Bunny …” panggil Rich lembut.


“Ya?”


“Aku senang, meskipun Noah baru kali ini bertemu dengan semua keluargaku. Ia cepat akrab dan mudah berbaur, kau mendidiknya sangat baik istriku sayang.” Rich yang suaranya rendah nan berat itu, berisikan  desakan rindu yang teramat berat sampai ia tak tahan ingin berjumpa.


“Aku tak lebih banyak berperan mengasuh Noah, Boo. Papi dan Ibu yang mendidiknya selama aku tak ada, juga Mutia yang selalu mengantar jemput Noah selama sekolah dari mulai taman kanak-kanak.”


Setelah mengucapkannya, Rich merasakan jika Alda tengah menyimpan duka dan ia tahu pasti sekarang calon istrinya sedang merindukan papinya.


“Mutia baik sekali. Nanti aku akan berterima kasih padanya. Tentang papimu, Bunny. Ikhlaskan lah papi. Beliau sudah di surga, pengorbanan beliau memang tak akan pernah bisa kubalas. Maka dari itu, yang bisa aku lakukan cuma satu. Memenuhi janjiku pada papimu, I love you so much Alda, I miss you.”


“I miss you too, Boo. Aku tutup dulu, ya. Ibu memanggilku, karena ada pamanku yang dari Jawa sudah datang.”


“Oke, titipkan salamku pada Ibu dan keluargamu ya. Sampai bertemu di pemberkatan nikah kita, calon istri.”


“Humm. Pasti, aku pun tak sabar untuk itu.” Alda menggigit bibir sementara Rich terus mengusap layar pada bibir Alda itu.


“Apa iya? Omong-omong, ciumanmu masih terasa bunny. Manis dan legit, aku … Jadi ingin mengulanginya lagi?”


Tapi Rich terperanjat ketika layar ponselnya menjadi berkedip-kedip dengan notif peringatan.


Low battery.


“Damn it! Aku lupa mencharge. Aaargh!”


...----------------...


Bali, Kamis 06 Juli 2023 di sebuah Gereja.


“Mulai hari ini. Aku, Richard Louis. Disaksikan orang tua kita berdua, seluruh keluarga, pendeta dan seluruh tamu. Aku memilihmu menjadi istriku, Alda Danurdara Edinghard. Tidak hanya di dunia tapi sampai di kehidupan berikutnya. Genggaman tanganku tak akan terlepas. Aku berjanji akan selalu setia, mencintaimu, menyayangimu, menjagamu, baik suka maupun duka, sakit maupun sehat, selamanya hingga nafas terakhirku berhembus.”


Air mata Alda berlinang, terharu. Hatinya bergetar dan bergejolak diiringi senyum melandai indah, tepat setelah mendengar janji pernikahan yang diucapkan Rich dengan begitu tulus. Begitupun semua keluarganya yang hadir. Terutama Noah yang akhirnya resmi punya Ayah, yang akan selalu menyayangi dia dan maminya di sepanjang usia.


Kini, giliran Alda mengucapkan janji pernikahan. Suaranya gemetar terpecahkan gelombang air mata yang tak pernah surut. Menyelami manik hijau zamrud itu yang teduh nan hangat, memberi ketentraman bagi dirinya yang selama ini dilanda kegersangan.


“Aku, Alda Danurdara Edinghard. Menerimamu sebagai suamiku, Richard Louis. Aku menguatkan genggaman tanganku di tanganmu, hingga di kehidupan berikutnya. Aku juga berjanji akan selalu setia mendampingimu, baik suka maupun duka, sakit maupun sehat, mencintaimu, menyayangimu untuk selamanya dan sampai mati.”


“Now you may kiss your bride,” kata Pendeta menatap Rich dan Alda bergantian.


Rich membasahi bibirnya. Alda menundukkan wajahnya ke bawah, saat Rich perlahan membuka vail-nya. Tanpa sedikitpun mengalihkan kerilingan mata hijau zamrudnya itu, yang diselingi debaran jantung memompa lebih cepat dan tegukan saliva. Menjalari jakun Rich yang naik turun.


“Sekarang kau sudah sah menjadi istriku, my bunny.” Rich berbisik ke telinga Alda dengan nafas yang semakin tak teratur.  


Bahkan, Rich terpukau hingga seakan-akan ia melihat sosok bidadari yang menjelma dalam diri Alda. Rich telah terjatuh, sejatuh jatuhnya  ke dalam pesona Alda  yang membuatnya terhipnotis dan semakin tergila-gila.



Jika saja tak ada ritual lempar bunga setelah ini, pasti Rich akan memboyong Alda ke hotel terdekat. Karena bagian bawahnya sudah tak bisa diajak berkompromi lagi saat ini.


“Iya suamiku, aku sangat gugup.” 


“Rileks, Sweety. Ah! Alda … Kau menggemaskan sekali."


Suara Rich berubah berat nan rendah bergelora, ketika ia mulai membenamkan bibirnya ke bibir Alda yang bergetar dan terasa dingin.


Namun, tak lama bibir Alda menjadi hangat. Berkat pagutan dari bibir Rich, yang mengalirkan hormon oksitosin, dopamin dan serotonin yang membuat Alda semakin sulit untuk melepas ciuman Rich yang terasa nikmat.


Tak peduli riuhnya saudara-saudaranya meneriaki. Rich menekan tulang pipi Alda dan membelitkan lidahnya. Sementara Alda memeluk Rich kian erat. Keduanya terus bercumbu mesra dan hanya berhenti ketika mengambil napas saja.


“Berhenti woi, sudah malam!” goda Himesh sambil bersiul.


Nick dan Abelle saling lirik menginginkannya juga, tapi terhalang kedua anaknya yang harus ia tutup matanya selama momentum kissing itu berlangsung.


Berbeda dengan Mutia dan Firheith yang saling berjauhan mengikis jarak, hingga Mutia memutuskan ingin pulang lebih awal lalu berpamitan menemui Rukma.


“Jangan pulang dulu, Mut. Pasti nanti Alda akan mencarimu, tetap di sini menemani aku?” pinta Rukma menahan Mutia pergi dan ia pun terpaksa menurutinya karena sungkan.


“Baik, Wak.” Mutia menjawab, suaranya terdengar serak dan habis. 


Apalagi Rukma memperhatikan wajah Mutia itu tampak sembab dan pucat. Antara seperti habis menangis atau sedang kurang enak badan.


“Betulkah yang Wak pikirkan, Mut?” tanya Rukma daripada penasaran.


Selintas, Mutia melirik Firheith yang acuh tak acuh. Bahkan, bule tak peka itu. Dari tadi tak sekalipun melirik ke arahnya, semenjak acara pemberkatan nikah Alda dan Rich.


Seolah-olah di antara mereka berdua tak pernah terjadi sesuatu, yang membuat Mutia kehilangan respect pada bule sialan itu.


“Mut, Mutia? Kau dengar aku bicara?” ulang Rukma sambil mengguncang bahu gadis itu yang melamun.


“Ah, iya. Maaf, Wa Rukma tadi bicara apa?” tatap Mutia yang tampak lemas dan linglung.


Rukma membelai rambut Mutia lalu memeluknya. Dalam benaknya merasakan kejanggalan yang dipendamnya sendiri. “Tidak ada, Nak. Sudah di sini saja bersama Wa Rukma, ya.”


Mutia menganggukkan kepala, sedikit nyaman dirasakannya berada dalam pelukan Rukma yang menenangkan.


**


**


Sementara di luar Gereja kini. Baik dari keluarga Louis, Wilson dan keluarga Alda. Telah berkumpul di belakang kedua mempelai, yang tak pernah melepas genggaman tangannya sedari tadi. Mereka tampak tak sabar, menunggu Rich dan Alda melempar buket bunga itu ke arah mereka.


“Istriku, apa kau sudah siap?” Rich bertanya sambil memepet Alda dan mencuri ciuman bibir darinya.


Namun kemudian, ciuman mereka terlepas paksa. Berkat teriakan Brylee dan Heaven yang suka usil.


“Kakak, ayo lempar bunganya! Nanti saja lanjutkan ciuman kalian di kamar!” teriak Brylee yang cekikikan menatap Heaven.


Cal, Trecy dan Rukma. Juga Firheith dan keluarganya yang lain, sampai geleng-geleng kepala. Melihat Rich yang terus mencari kesempatan, tak ingin melepas Alda barang sedetik pun.


“Oke. Siap-siap, ya!” Rich menoleh sekilas, pada mereka yang ada di belakang.


Lantas menujukan pandangannya ke Alda sambil menautkan tangan jadi satu, untuk memegang buket bunga itu dan menghitung mundur bersama-sama.


“Tiga, dua, satu …!”


Rich dan Alda melempar bunga itu sangat tinggi, ke atas kepala orang-orang yang saling berebut bunga. Bunga itu teremas-remas tangan mereka yang saling senggol, hingga kelopak mawarnya rontok tersapu angin dan jatuh menyirami tubuh Mutia.


Sedangkan buket bunga pengantin yang utuh itu, malah mendarat sempurna di pangkuan Firheith yang sedang bersantai merokok. Ia sengaja tak mengikuti acara lempar bunga itu, yang dianggap tak penting.


“Hey! Siapa yang dapat bunganya?” tanya Rich dan Alda, bersilang pandang pada mereka semua yang manyun. Karena tak memperoleh buket bunga pengantin.


Himesh, Flo, Rafael yang menjadi perwakilan keluarga Wilson pun menunjuk bersamaan tanpa suara,  ke arah Firheith yang membeku dan syok berat memegang bunga itu.


“Fir?" Rich mengerutkan kening dan alisnya terangkat. "Oh, my God! Tak kusangka, sebentar lagi kau akan menyusulku dan Alda. Tapi, siapa wanita yang mau menjadi korbanmu, ya?”


Rich tertawa disusul Alda yang membekap mulut.


Mutia lekas menunduk dengan wajah pucat. Perlahan melangkah mundur dan  kabur dari sana saat itu juga tanpa berpamitan.


*To be continued