Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
101. Terjerat Pesona Istriku



Kursi malas di tepi kolam renang, tepat di bawah teduhnya payung yang dilindungi rindangnya pohon palem.


Menjadi saksi bisu antara Rich dan Alda yang masih bercumbu di sana dengan mesranya, meleburkan kemarahan dalam manisnya lomba pagutan bibir.


"Boo, apakah kau sudah memaafkanku?" tanya Alda setelah ciuman itu terlepas dengan nafas terengah-engah, ketika Rich tak memberinya celah bernafas.


Kerinduan bersembunyi di balik cinta yang terpancar dari mata Rich, tatkala manik hijau zamrudnya saling memenjara dengan manik hitam Alda yang menyeretnya jatuh ke dasar pesonanya.


Rich tersenyum lembut memandang wajah cantik sang istri yang kini terlihat segar dengan bibir lebih bervolume. Mata Alda pun tak berkedip memindai wajah Rich dari setiap titik, tak ada cela. Dia terlalu tampan untuk seukuran pria normal.


Jika ada yang mengatakan Richard Louis jelek. Maka mata orang itu sedang sakit dan perlu memeriksakan ke klinik.


"Sweety ..." Rich menarik lembut kepala Alda bersandar di dadanya yang keras, lalu mengusap punggung Alda dengan sedikit membungkuk untuk mencium bahu polosnya yang terbuka.


"Uhh ..." Alda menggeliat seksi, memejamkan mata. Menikmati hangatnya bibir Rich menyapu kulitnya yang dingin, diikuti kedua tangannya erat melingkari punggung sang suami.


Bagaimana Rich bisa marah padanya yang semanis gula-gula kapas itu?


Aroma tubuhnya selalu menarik dirinya untuk mendekat. Lembut suaranya, desah nafasnya, wajahnya yang cantik,  dan segala yang ada pada diri Alda Danurdara Louis itu. Selalu meningkatkan laju detak jantungnya dan  membuat Rich sulit mengontrol diri.


"Kau suka memelukku?" Rich bertanya dengan suara beratnya, serak dan menantang.


"Ya, Boo. Sangat suka."


Jawaban dari Alda menerbitkan seulas senyum lepas di bibir pria tampan itu, hatinya berdesir senang.


"Apa tak kedinginan setelah berendam lama di air begini, hum?" tanya Rich lagi sambil mengapit paha Alda, merabanya dengan sentuhan nakal.


"Um, aku tak akan kedinginan karena berada dalam pelukanmu," kata Alda yang masih memejam mata. Jemarinya perlahan mengusap punggung Rich, sambil menghirup aroma maskulin dari tubuhnya.


Mungkin semua yang melihat pasti iri dan nekat ingin memiliki suami seperti Rich. Sayangnya itu hanya mimpi karena  di dunia ini tercipta satu dan hanya untuk Alda saja. Eh, masih ada satu lagi, yaitu Efrain yang sedang menunggu jodohnya. 


Rich senang sekali mendengar Alda merasa membutuhkannya. Ya, memang Alda kini sangat mencintai Rich. Lebih tepatnya sudah terpikat oleh parasnya yang tampan, macho, agak nakal, suara baritonnya yang seksi. 


Tapi itulah daya pikat seorang Rich yang sukses membuat Alda jatuh cinta setiap hari pada papinya Noah itu. 


"Aku mau kita selalu mesra begini setiap hari, bahkan selamanya. Tak ada yang perlu dimaafkan karena di masa lalu kita berdua memang tak ada benarnya, terutama aku sendiri. Mengungkit masa lalu hanya akan menggoreskan luka, biarlah luka itu terkubur dan kita tutup semuanya dengan membuka lembaran baru. Antara kisah kita berdua dan anak-anak kita nanti. Aku hanya minta padamu untuk tetap setia walau badai menghadang, selalu percaya padaku kalau aku juga tak akan pernah selingkuh."


"Bisakah aku mempercayainya? Omong-omong selain ... um, Cello. Berapakah banyak mantanmu di masa lalu?" tanya Alda penasaran.


Rich membenamkan ciuman di kening Alda dengan lembut. "Perlukah aku menjawab itu?"


Pertanyaan dari Rich membuat Alda gamang dalam pikir, lalu Rich melanjutkan bicaranya lagi.


"Kau akan pingsan jika tahu seluruh jumlah mantanku," jawab Rich membulatkan mata Alda, punggungnya seketika menegak dan sontak melepas pelukan.


Alda menarik nafas panjang lalu memicing kesal dengan dada membusung yang kembang kempis itu.


Detik berikutnya memangku wajah Rich dengan kedua tangannya, seolah meminta hanya dia saja yang ada di hati pria itu untuk selamanya.


"Tuh, kan. Baru mendengar begitu saja sudah emosi, maka dari itu lebih baik tidak tahu sekalian sweety. Tutup mata dan telingamu. Asal kau tahu?" Rich semakin merapatkan tubuh Alda dengan tubuhnya lalu berbisik, "Mereka semua hanya pelarian dan pelampiasan. Waktu itu aku masih suka berpetualang. Biasa, anak muda."


Nafas Alda berhembus cepat ketika membenamkan wajahnya di leher Rich yang kini tampak memejam, bibir Alda meliuk ke permukaan kulitnya memberi ekstraksi kecupan-kecupan kecil. Justru memancing bawahnya mengeras sekali.


"Tapi kau pakai pengaman kan, begitu melakukannya dengan mereka?" tanya Alda tiba-tiba dengan dada yang terbakar, tapi juga penasaran ingin tahu. "Jangan sombong! Aku hanya tak ingin tertular penyakit! Aku masih mau hidup lama menemani Noah!"


Seketika Rich membuka mata, setelah kecupan dari Alda di lehernya berubah menjadi gigitan mirip vampir kecil, katakanlah nyamuk.


Rich menggaruk pelipis sambil meringis, bingung cara menjelaskannya. Jujur takut salah dan bohong malah dia marah.


Duh! Jadi serba salah mantan casanova ini.


"Haruskah aku menjawabnya sweety?" 


"Harus," tekan Alda.


Rich menghirup udara sebanyak mungkin, sebelum sesak. Menggigit bibir dengan jantung berdentuman saat menyampaikan itu, di tambah memperoleh tatapan Alda bak predator yang siap menerkam.


"Eh, aku pakai pengaman. Hanya pernah tidak pakai denganmu dan Cello karena kelupaan saat mabuk."


PYAARR.


Tubuh Rich seketika bergidik, begitu merasakan gelegar petir berasal dalam diri Alda yang memancarkannya lewat mata.


Rich mendadak kaku, menelan ludah seakan kerikil dan sebelum petir itu menghanguskannya.


Rich cepat melahap bibir Alda, membiarkan kemarahan itu teredam dari setiap hisapan kasar yang membuat bibirnya berdarah. Namun lama kelamaan ciuman itu berubah lembut setelah Rich berhasil membuatnya lemah. 


"Istriku, cintaku, manisku, kelinciku yang mungil.  Rasakan debaran jantungku?" Rich merayu  dengan mengarahkan jemari lentik Alda ke dadanya.  


"Lalu?"


"Apakah berdetak cepat?" tanya Rich menatap Alda lamat-lamat.


Alda mengangguk. 


"Setiap detakannya hanya menyebut nama, Alda ... Alda dan Alda."


Mendengar hal itu, wajah Alda yang cemberut seperti lemon  seketika tersipu malu, Rich meliriknya gemas.


"Jika seorang pria sudah menemukan pelabuhan terakhirnya. Ia tak perlu lagi berlabuh untuk mencari hati lain, Sweety. Noah bukti cinta kita berdua dan kitalah yang membuatnya walau berawal dari kecelakaan," terang Rich penuh  perhatian.


"Um, terdengar sangat manis sekali. Terdengar seperti rayuan?" lirih Alda yang memilin bulu yang tumbuh di dada Rich.


"Tapi sekarang bahan rayuanku sudah habis."


Alda mengerutkan kening dengan alis terangkat naik.


"Kenapa bisa habis, Boo?"


"Lalu, bagaimana cara mengisinya?" tanya Alda tampak polos dan itu semakin mengobrak-abrik Rich yang tak sabar ingin menerjang.


"Kaulah yang harus mengisinya, Sweety. Dengan ..."


Pandangan Alda  serius menyapu wajah Rich yang sayu itu. Ia bukan tak tahu, tapi memang sengaja menunggu jawaban sang suami yang tampak seperti orang kelaparan.


"Dengan tubuhmu, aku ingin bercinta denganmu Alda. Ya, aku sudah tak tahan lagi. Bolehkah?" ragu-ragu Rich berucap sambil mengelus ke area itu.


Alda seketika memejamkan kelopak mata, menikmati sentuhan Rich yang membuat seluruh tubuhnya gemetar.


"Um, lakukan boo. Aahh! Aku juga menginginkanmu ..."


Seketika Rich mengangkat tubuh Alda ke bahunya layaknya memanggul karung beras, membawanya masuk ke dalam lift yang menuju kamar mereka berdua.


Klik.


Rich mengunci pintunya cepat, berbalik badan lalu menunduk untuk menyatukan bibirnya dengan Alda. Beradu nafas yang sama, menikmati lembutnya bibir Alda sambil mendorongnya ke dinding.


Keheningan di kamar itu kini terisi berisiknya decapan bibir yang berkejaran, saling memburu kenikmatan.


Tangan Rich melingkari tubuh Alda, melepas kaitan bikini di punggung itu yang menunjukkan betapa indahnya bulatan kembar itu yang membuat jemari Rich meremas di sana.


Intensitas ciuman bertambah, ritmenya semakin liar ketika sentuhan dari lidah Rich bergerak panas ke titik pusat gairah itu. Menghisap kuat hingga Alda seketika menjambak rambutnya dengan kaki melingkari pinggul sang suami.


"Ahh, ahh!"


Alda meloloskan suara manjanya yang amat seksi, membuat Rich semakin tertantang memberi kenikmatan lebih. Jantung Rich dan Alda berkobar memburu,  seirama dalam hembusan nafas terseok-seok. Memandang satu sama lain terbalut gelora menggebu, terutama Rich yang miliknya telah memberontak ingin dibebaskan.


"Sweety?"  suara Rich terdengar parau, menggoda. "Kau menyukainya?"


"Um, sangat boo. Please, sentuh aku lebih ... auw!" jerit Alda tiba-tiba ketika Rich menurunkan kain bawahnya.


Alda dapat merasakan sebuah kenyalnya sesuatu yang terus bergerak menghabiskan cairan itu. Tidak hanya pelan tapi terburu-buru dan berubah menjadi gesit. 


"Uh ... yeah, Boo!"


Rich mendongakkan wajahnya yang  memerah itu, menjeda sesaat ingin melihat reaksi istrinya yang terus mendesah tak karuan oleh gerakannya yang panas. Dia sangat cantik dan sungguh terlihat seksi dengan pose wajahnya yang dipenuhi keringat.


"Enak?"


Sambil mengatur nafas, Alda tersenyum mengangguk lalu merengek karena menginginkan lebih dari itu. Alda berlenggak lenggok seksi menuju peraduan, memanggil Rich dengan gerakan jari.


"Boo, kemarilah ..."


Rich mendatanginya, tapi dia dibuat terkejut saat Alda malah beralih di bawahnya dan memberi kepuasan yang tak pernah ia duga sebelumnya.


"Oh ... yes sweety!" lenguh Rich menikmati itu, rambut tergerai Alda diburaikannya ke udara dengan jemarinya. 


Di mana Alda tak bisa berkata apa pun saat ini ketika mulutnya telah sesak sambil memandangi Rich.


Alda menambah ritmenya yang membuat Rich blingsatan. Sehingga tak tahan lagi kemudian menukar posisinya dan menjerumuskan miliknya ke dalam kegelapan itu yang sempit.


"Ahh, ahh! Boo ..."


"Oh! Sweety ... kau sangat sem-pit dan menje-pitku. Ini sungguh nikmat!" ucap Rich yang tak henti mendorong pinggul itu.


Peluh menetes dari keduanya yang belum berhenti semenjak satu jam yang lalu. Tubuh semakin memanas dengan gejolak tak tertahankan,  hanya beristirahat sebentar sebelum melanjutkan penyatuannya lagi dan lagi.


"Sweety, aku mau keluar!" 


Lolongan penuh ambisi itu hanya mampu disahuti Alda dengan desahannya yang merdu. Ia dibuat tak berdaya  di bawah kekuasaan sang pria perkasa yang terus mengalirkan sesuatu memenuhi dirinya. Hangat, sesak, penuh dan membuat otaknya hanya terisikan nama Rich di sana.  


Kini pria itu tergolek lemas di sisi polos tubuh Alda, memeluknya erat. Bersahutan nafas memburu dengan senyum kepuasan yang mengukir wajah tampan dan cantik itu saling berpandangan intens.


"Terima kasih sweety, I love you so much," bisik Rich sambil mencium kening Alda. Ia sangat lega karena ketegangan dalam dirinya telah sirna.


"Love you too, Boo. Aku sangat menyayangimu." Alda mendesakkan wajahnya di dada Rich, mengatur posisi nyaman.


"Aku juga sweety, semoga kita selalu bersama sepanjang usia. Karena aku bisa gila jika jauh darimu," kata Rich sangat tulus, membuat Alda tersanjung.


"Ya, aku harap juga begitu. Boo, aku lelah ..." rengeknya manja.


Rich mencium pucuk kepala Alda lalu mengusap punggungnya lembut.


"Tidurlah sweety, aku akan menemanimu dan tak akan mengganggumu."


Alda percaya lalu memejamkan matanya dengan nyaman, hingga lama kelamaan nafas keduanya mulai teratur karena Rich juga ikut terbawa ke alam mimpi bersama Alda.


...----------------...


Satu jam kemudian,


Tidur nyenyak Alda dan Rich terusik, dikejutkan oleh  suara bell dari luar kamarnya yang membuat keduanya terbangun dengan muka bantal saling melempar pertanyaan lewat tautan mata.


"Siapa yang berani-beraninya mengganggu kemesraan kita?" kesal Rich dengan suara khas bangun tidur yang malah terdengar seksi.


Alda tak mau melepas pelukannya dari Rich, sangat nyaman sekali berbalut selimut hidup itu. Tapi bell terus berbunyi, sehingga Rich lekas bangun.


Rich terpaksa berjalan malas ke dekat meja, mengeceknya lewat monitor dengan matanya yang semula menyipit karena kantuk. Kini jadi membulat sempurna, setelah tahu si pemencet bell itu adalah putranya sendiri. 


"Sweety, cepat kenakan pakaian. Noah sudah di depan pintu!" Rich panik, berusaha membangunkan Alda dengan mengguncang pelan bahunya.


"Apa? Ada Noah?"


Keduanya pun sontak kocar-kacir tanpa sehelai benang, berlari ke arah wardrobe dengan jantung melompat lompat berkejaran dengan waktu. Sebab Noah tampak menangis di luar sana ternyata tak sendiri, tapi  ditemani sang mommy.