Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
107. Ending



Sembilan bulan kemudian.


Keringat deras mengguyur tubuh dengan nafas cepat, rasa sakit membuat Alda terbangun dari lelapnya tidur di tengah malam itu karena perutnya sangat mulas. Wajah cantiknya yang chubby meringis, sesekali merintih pelan yang membuat Rich terusik dari mimpi.


"Boo, sakit ..." Alda menggapai pinggang suaminya yang ia guncangkan.


Rich terkesiap duduk, melihat Alda kesakitan dirinya menjadi panik.


"Sweety, kau kenapa? Kita ke dokter sekarang ya?" tanya Rich kebingungan langsung menyambar kunci mobil di atas nakas.


"A-aku sepertinya mau melahirkan, Boo. Auw! Hhh ... hhhh ... to-tolong panggilkan ibu, cepat!" suruh Alda yang terlihat meringkuk dengan mata setengah terpejam menahan sakit luar biasa yang hilang timbul.


"Ya, aku akan segera kembali." 


Rich berlari ke kamar Rukma yang langsung terbangun dan mengikutinya menuju kamar.  Di sana Rukma terkejut karena melihat cairan yang mengalir dari bawah kaki Alda.


"Rich! Cepat angkat istrimu ke mobil dan bawa Alda segera ke rumah sakit. Ketubannya sudah pecah dan Alda akan segera melahirkan.  Biar ibu setelah ini menyusulmu kalian berdua ke rumah sakit sekalian  membawa perlengkapan bayi dengan Noah," tukas Rukma sangat cemas.


"Ba-baik, Bu."


Rich menggendong Alda dengan perasaan was-was, panik, gelisah, takut bercampur aduk menjadi satu. Meletakkan Alda di sisi kemudi dengan dia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata karena tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Alda yang terus mengerang kesakitan.


"Bertahanlah sweety, aku yakin kamu pasti kuat," ucap Rich  sambil mengecup tangan Alda, terbesit rasa tak tega melihat Alda seperti itu. Sedikit sesal menghamilinya kalau tahu melahirkan itu mengerikan.


Suster dan dokter langsung mendorong brankar Alda ke ruang bersalin, setelah Rich tiba di rumah sakit. Rich menunggu di luar ruangan dengan hati tak tenang,  berjalan mondar mandir. Berdiri menatap pintu itu yang belum sama sekali terbuka sejak setengah jam yang lalu hingga Rukma, Kadek dan Noah datang menghampirinya.


"Papi!" panggil Noah yang berlari.


Rich memeluknya sangat erat hingga tak sengaja air matanya pun luruh saat mendekap putranya itu.


"Mami mau melahirkan ya, Pi?" tanya Noah menatap wajah Rich yang kusut.


Rich hanya mengangguk sambil mencium kening Noah tanpa berkata apa pun.


"Mister, istri Anda minta ditemani Anda saat ini," sela dokter Intan memberitahu.


Pandangan Rich menuju Rukma yang mengisyaratkan bahwa ia menyuruh Rich untuk masuk dan biarlah Noah ditemani olehnya. Di dalam ruang bersalin, Rich melihat Alda terbaring setengah duduk. Meniup-niup nafas dengan wajah dipenuhi keringat.


"Dok, apa tidak caesar saja? Aku tidak tega melihat istri saya kesakitan begini?" usul Rich sambil memegang erat tangan Alda.


"Sudah pembukaan sepuluh, Mister. Kepala bayinya sudah keluar," kata dokter.


"Apa?" Rich terkejut dengan mata membola.


"Ngggh ... hhhh ... aaaahhh!" jerit Alda semakin meremas bahu Rich. "Boo, sakiit!"


Rich menggulirkan air matanya, menangis melihat perjuangan istrinya melahirkan sambil sesekali mengecup keningnya dan memberinya semangat sebagai kekuatan.


"Kamu pasti bisa sweety. Pukul, gigit atau tampar aku kalau itu bisa meredakan sakitmu. ya?" ucap Rich yang hanya diangguki Alda.


Terdengar suara dokter menginstruksi berpadu dengan erangan Alda yang semakin menjadi.


"Sedikit lagi, Nyonya. Anda pasti bisa, tarik nafas ... buang. Hempaskan nafas Anda perlahan-lahan dan mengejan."


"Uuhhh ... mmmmh ... aaaahhh!"


"Oweeek ... oweekkk!" bayi itu diangkat dokter hingga membuat Rich seketika menoleh dengan senyuman sekaligus air mata haru. 


Baru kali ini ia menyaksikan langsung proses melahirkan dan detik itu ia berjanji dalam hati tak akan pernah lagi meminta Alda memberinya anak karena dia tak ingin Alda menderita. 


Dengan tangan gemetar Rich menggendong bayi perempuannya, mencium seluruh wajahnya dan menoleh pada Alda ingin menunjukkan hal itu.


"Sweety, lihat bayi ki--"


Ucapan Rich terpotong, saat ia melihat Alda kesulitan bernafas. Dokter dan perawat seketika memberi bantuan medis dan menanganinya semaksimal mungkin, tapi Alda yang matanya hampir tertutup itu tampak menyeru Rich untuk mendekat.


"Kemarilah boo ..." lirih Alda sangat pelan, nyaris suaranya tak terdengar jika Rich tak mendekat. 


"Dok! Pasien pendarahan?" pekik suster panik hingga membuat jantung Rich berdebar kencang sambil menggendong bayinya dengan perasaan tak karuan.


"Sweety..." Rich terisak-isak melihat Alda yang kesulitan bernafas dengan tangan berusaha meraih wajahnya yang kemudian Rich dekatkan.


Rich memperlihatkan bayi perempuan mereka, Alda mencium pipi bayinya.


"Boo ... maafkan kesalahanku selama ini. Jangan pernah bersedih kalau seandainya aku pergi. Aku titip anak-anak kita dan jaga mereka dengan baik ..." Alda menarik nafasnya panjang sebelum dadanya terasa menyempit.


Dari mulai kaki Alda merasakan sesuatu ditarik dalam dirinya, sakit perlahan dengan keringat mengalir dari atas kepala menuju kening. Ia merasa Tuhan akan mengambil nyawanya, bahkan bayangan Morren pun tampak tersenyum melihat Alda.


"Papi ..." lirih Alda memanggil, membuat Rich menoleh dan tak menemukan siapa pun di sana, Kecuali dirinya dan Alda juga petugas medis.


"Tidak sweety, jangan melantur. Bertahanlah, aku yakin kau hanya berhalusinasi," sela Rich berfirasat tak enak dan sangat gelisah


"Oweekk!" bayinya pun menangis tanpa henti.


Rich seketika panik saat genggaman tangan Alda di lengannya terlepas.


"Alda, sweety. Jangan tinggalkan aku! Tidak!" geleng Rich menangis berderai-derai  merengkuh tubuh Alda dengan satu tangannya.


"Boo, aku sangat mencintaimu ... sangat. To-tolong jaga anak-anak kita dan ... jadilah," ucapan Alda terhenti wajahnya meringis di tambah bunyi monitor holter yang memperdengukan nada panjang lurus dengan satu titik terhenti.


Alda menutup mata selamanya dengan bibir tersenyum, sudut matanya menggulirkan buliran bening dan tak tubuhnya tak bergerak lagi. Hingga Rich menjerit histeris setelah memberikan bayinya pada suster.


"Tidak! Sweety ..." Suara Rich gemetar, terbenam gemuruh dadanya yang terasa sesak oleh hujaman air mata. "Jangan pergi ... Tolong jangan tinggalkan aku. Aku tak bisa hidup tanpamu Alda ... aku bisa gila. Tidak, tidak." Rich meraung tak rela.


Sebuah usapan dirasakan Rich dari dokter Intan, menatapnya iba dan tak kuasa pula menceraikan air mata.


"Ikhlaskan kepergian Ny. Alda, Mister. Ny Alda ... sudah tiada—"


Rich menepis dengan senyuman getir. "Kau bohong, dok. Istriku hanya tidur. Iya, kan?" walau Rich sendiri merasakan tubuh Alda sangat dingin dan tak bergerak atau merespon saat ia panggil.


"Maafkan kami, Mister. Kami sudah mengupayakan segala sesuatunya secara maksimal, tapi Tuhan berkehendak lain—"


"****!" Rich seketika mencekik leher dokter itu hingga suster melerai.


Tapi tak lama Rich melepaskannya saat mendengar suara tangisan bayinya.


"Dok, tolong suntik mati aku saja. Aku tak akan sanggup hidup tanpa istriku ... aku mohon ... " pinta Rich yang merasa dirinya sangat hancur.


Lantas berjalan gontai untuk memeluk tubuh Alda sangat erat, tak bisa lagi berkata apa pun karena tubuhnya seakan mati rasa.


Melihat jiwa dan cintanya yang terbawa pergi jauh oleh Alda ke tempat lain, yang membuat keduanya terpisah dengan batas dunia berbeda.


***


Terima kasih yang sudah mengikuti kisah ini hingga akhir. Semua info mengenai seputar novel. Bisa kalian peroleh dari instagramku


@meidiana.ayyara