
Tanpa pikir panjang, Rich membawa pandangannya ke wajah bocah lelaki itu, yang kebetulan tengah memandanginya. Keduanya saling memandangi satu sama lain agak lama.
Mata hijau zamrud Rich tanpa berkedip mengamati keseluruhan wajah dari bocah yang masih ia dekap. Warna bola mata Rich dan anak itu memang berbeda.
Alisnya sama-sama hitam, jika alis Rich tebal. Maka anak ini alisnya malah terukir rapi. Walau ia mengakui jika anak ini sepertinya blesteran. Antara ke Eropa atau Amerika Latin, dari pengamatannya. Di samping kulitnya yang seputih susu dan kedua pipinya yang kemerahan terbias sinar matahari.
Hingga jemari mungil bocah itu menyentuh, lalu memencet ujung hidung bangirnya. Seketika membuat Rich mengerjap karena tak bisa bernapas.
"Hidung Om bule, persis hidungku. Sama-sama mancung! Bedanya warna mata Om bagus banget." Bocah tersebut mengatakannya penuh kekaguman, melihat lurus tepat ke bola mata hijau zamrud Rich.
Firheith pun tak merubah posisi pengamatannya dari bocah itu sambil terus tertawa dan Rich menghembuskan napas lega yang tak sengaja menerpa ke permukaan wajah bocah itu.
Akan tetapi, bocah itu berceloteh lagi dengan suaranya yang empuk.
"Humm ... Bau mulut Om bule juga harum," kata bocah itu menghirupnya dengan memejamkan mata, seolah itu adalah parfum langka yang belum pernah ada di dunia.
"Haha," akhirnya Firheith tak tahan meledakkan tawanya dan menyukai kelakuan bocah kecil itu, yang merubah wajah Rich menjadi kusut. "Rich, aku rasa dan aku amati ... Bocah ini, sama menyebalkannya sepertimu. Aku curiga. Jangan-jangan ... Dia adalah wujud nyata dari benihmu yang tak sengaja tersebar sembarangan," bisiknya yang segera mendapat tatapan tajam dari Rich.
"Benih?" anak itu memberikan tatapan tanya, dengan wajah polos kepada dua pria itu karena tak sengaja mendengarnya. "Maksudnya benih padi atau ikan?"
"Omong kosong. Jangan bicara sembarangan di depan anak kecil kau, Fir!" tegur Rich mendelik tajam pada Firheith.
"Maaf ..." ucap Firheith nyengir.
Kemudian Rich berganti menatap bocah itu. "Nak. Lupakan Om itu, dia memang suka membual. Tak usah didengarkan." Walau anehnya ia agak terpengaruh pernyataan dari Firheith tadi. Apalagi wajah anak itu mengingatkan ia akan seseorang, jika diperhatikan lebih lama. Meski diakuinya, ada sedikit kemiripan dari bocah itu dengannya dari segi sikap. "Kau tidak apa-apa, kan?"
Bocah itu mengangguk.
"Well, Om bule menyelamatkanku." Lalu ia memeluk leher Rich dengan tiba-tiba. "Thank you so much, My superhero."
Deg ... Deg!
Laju detak jantung Rich menjadi cepat, setelah dipeluk bocah ini lagi. Anehnya, ia merasakan hal lain dalam dirinya membuncah-buncah. Entahlah, tiba-tiba ia sangat menyukai bocah ini dan menyayanginya hingga tak ingin melepas pelukan.
"You're welcome, Baby. Syukurlah kau tidak apa-apa. Tadi kenapa tidak lari saat tertabrak?" Rich bertanya dan refleks saja mencium pipi bocah itu.
"Aku sangat takut, Om. Jadi aku panik dan nggak tahu harus berbuat apa."
Rich tersenyum sambil mengacak rambut anak itu. "Ooh ... Ya sudah. Sekarang kau sudah aman. Siapa namamu tampan?"
"Aku—"
"Noah! Kau tak apa-apa sayang? Maafkan Bu guru. Tak tahu jika kau menyeberang sendirian? Kenapa tak menunggu Pak satpam saja?" seorang guru wanita tampak cemas, berjalan bersama dua guru lain dan satpam.
'Oh, jadi namanya Noah? Bagus juga namanya.' Rich bergumam di hati.
Satpam menunjukkan penyesalan. "Maafin pak Bejo juga, ya Noah. Untung ada Mr. Bule, kalau nggak ..." Kepala satpam itu langsung tertunduk sedih, sambil tangannya mengusap punggung Noah. Saat diturunkan oleh Rich dari gendongan.
"Nggak apa-apa Bu Ajeng, Bu Hesti, Pak Aji dan Pak Bejo. Noah baik-baik saja," ucap Noah meyakinkan dengan senyuman manis.
"Kami sebagai perwakilan sekolah, mengucapkan terima kasih banyak pada Sir semua karena telah menolong anak didik kami. Sekali lagi terima kasih banyak." Bu Ajeng mewakili yang ditujukannya pada Rich dan Firheith.
"You're welcome, Ma'am." Rich dan Firheith menjawabnya bersamaan dengan bahasa Inggris, ketika Bu Ajeng berkomunikasi dengan bahasa tersebut.
Memandangi Noah yang perlahan pergi digandeng Bu Ajeng sambil melambaikan tangan dari kejauhan padanya. Rich tampak kecewa dan merasa berat hati. Seakan-akan, ada yang hilang darinya terbawa anak itu.
"Ayo pergi Rich!" Firheith menepuk bahunya.
Dan Rich menoleh dengan ekspresi lemas. Berjalan seperti robot, lalu mengambil duduk di boncengan belakang. "Kau saja yang bawa motornya, Fir!"
"Oke." Firheith tak keberatan, melajukan motornya sesuai maps lagi ke lokasi tujuan.
Siang itu, matahari sedang terik-teriknya. Berpikir berjemur sekalian berkendara dan mengenakan kaos oblong serta celana pendek. Ternyata pilihan yang salah, ketika hal tersebut membuat kulit Rich dan Firheith jadi terbakar.
"Kita lupa pakai sunblok, Fir! Jika begini terus, kulitku yang putih dan wajahku yang tampan ini bisa gosong!" Rich berteriak dari belakang, menyembunyikan tangannya di belakang punggung Firheith sambil bergidik,bsaat hantaman panas semakin merajalela.
"Apalagi aku? Bisa-bisa ketampananku juga memudar. Di depan ada mini market. Kita beli sun blok di sana saja!" tunjuknya pada toko berwarna merah — Kuning dengan logo lebah itu.
Setelah memarkirkannya dengan benar. Kedua bule yang wajahnya kini berubah kemerahan itu pun masuk ke dalam Alopomart.
"Welcome to Alopomart ..."
Rich dan Firheith melempar senyum pada pegawai di sana yang saling sikut, usai menyapa Rich dan Firheith dengan mulut terperangah. Lebih-lebih yang berjenis kelamin perempuan, sudah bersiap memegang ponsel.
"Beli lima botol sekalian yang ukurannya besar, Fir. Jadi kita punya stok!" suruh Rich sambil membuka lemari pendingin dan membuka soft drink yang kemudian diminumnya segera. "Ahh! Segar! Dari tadi haus sekali, terasa di padang pasir."
"Give me a bottle!" Firheith juga kehausan, tangannya memegangi leher.
Rich melempar kaleng minuman segar berwarna hijau itu dan Firheith menangkapnya. "Thank you."
Kaleng minuman soft drink separuh kosong, beberapa lagi dibeli sebagai cadangan dan kedua bule itu lalu membawanya ke depan kasir yang antreannya terlihat cukup panjang.
"Ma, aku mau beli Kondir Joy? Sama mobil-mobilan itu!"
Telinga Rich semilir mendengar rengekan seorang anak kecil, yang agaknya berdiri paling depan di urutan antrean kasir. Perawakannya yang kecil, terhalang para orang-orang dewasa sehingga Rich tak bisa melihatnya dengan jelas.
"Seperti suara anak kecil tadi yang di sekolah dasar?" Rich mengangkat kepalanya hendak menengok dan mencari tahu.
"Sembarangan! Mereka bukan tipeku. Ingat! Alda bisa saja di mana-mana tanpa aku tahu. Bahaya jika melihatku kalau kegenitan dengan wanita lain? Bisa-bisa dia ilfeel dan usahaku sia-sia datang kemari!" Rich ngegas sambil menyepak kaki Firheith gemas.
"Eh, eh!" Fieheith menghindar. "Iya, juga ya? Lalu sebenarnya apa yang kau intip-intip itu?"
"Coba dengarkan baik-baik suara anak kecil yang berasal dari depan! Mirip suara Noah— anak yang kutolong tadi di sekolah."
Firheith kemudian coba mendengarkan lalu terangguk-angguk. Sementara wanita yang disebut Mama oleh anak itu, sepertinya menolak untuk membelikan apa yang si anak inginkan dan rupanya hal itu membuat resah para pengantre lain, yang kakinya kram berdiri dari tadi.
"Uangnya kurang Noah, mainan Hot Wheels mahal. Beli kondir joy saja, ya?" bujuknya.
"Tapi aku maunya Hot Wheels." Setelah bersikeras menunjuk mainan itu, suara Noah mulai serak dengan air mata sebagai jurus andalan.
Wanita yang bersama Noah mengintip dompetnya dengan mata sebelah. Uangku tinggal dua puluh ribu, mana belum beli bensin lagi? Belum gajian, dan ..."
"Bu, cepetan dikit dong! Lama amat bayarnya! Keburu lebaran haji lewat!" celetuk gregetan Mas-mas di belakangnya yang bersedekap dengan wajah merengut.
"Iya-iya, Mas. Ini juga mau dibayar, tapi anak saya masih susah dibujuk? Mintanya mainan itu!" tunjuknya ke etalase kemudian melirik kasir. "Mbak, mainan Hot Wheels nggak dijual, kan? Itu cuma pajangan?" sambilnya mengedipkan mata sebelah, supaya kasir itu sependapat.
Terpaksalah kasir itu mengiyakan walau nyatanya dia harus berbohong. Sehingga air mata Noah surut. Namun, Rich sang superhero muncul di tengah mereka.
"Hey, Noah. Ternyata kau si biang keladi antrean ini menjadi panjang?" sapa Rich tersenyum menawan yang membuat anak itu bangun dari lantai dan tersenyum, langsung nemplok memeluk Rich.
"Om, ada di sini juga? Sendirian?" lanjutnya bertanya sambil mendongak ke atas karena tubuh Rich yang menjulang tinggi.
Rich menunjuk Firheith yang membawa botol sun blok dan sepuluh soft drink di antrean paling belakang. "Itu, sama teman Om."
"Hey, Noah!" Firheith menyapa dari sana.
Noah melambai senang, sementara wanita yang bersama Noah yang campur aduk rasanya bertemu bule tampan. Kemudian menarik tangannya dan berbisik. "Kamu kenal bule-bule itu? Sejak kapan?"
Noah menceritakan semuanya dan wanita itu pun mengangguk sambil sesekali melirik Rich dan Fieheith bergantian.
'Ganteng-ganteng banget! Ya ampun!' ucapnya dalam hati, bibirnya digigit dengan rona malu di wajah, agak salah tingkah berdiri bersebelahan dengan Rich.
"Jadi begitu ceritanya, Ma." Lanjut Noah sehingga wanita yang disebut Mama itu pun lalu mengucapkan terima kasih.
"If I'm Mutia. What's your name?"
"Pakai bahasa Indonesia saja, Nona. Kalau aku Rockie dan itu temanku Frenkie," jawab Rich yang tak asal mengungkap identitas.
"Oh ..." Mutia terkikik malu. "Saya kira kau tak bisa bahasa Indonesia."
"Aku bisa sedikit-sedikit. Tetapi kalau temanku Frenkie tidak bisa," ungkap Rich yang kemudian menggandeng tangan Noah ke depan kasir. "Kau masih ingin mainan Hot Wheels?"
Noah mengangguk. Mutia mencegah begitu menangkap gelagat Rich yang akan membelikannya.
"Tidak usah repot-repot Mr. Rockie, Noah sudah punya beberapa di rumah. Dia memang suka mengoleksi mainan itu dan suka minta dibelikan kalau ke Alopomart." Mutia sungkan dan tak ingin berhutang budi. "Ayo Noah kita pulang!"
Rich menahan tangan Mutia yang seketika jantungnya berdebar-debar. Bahkan kakinya gemetaran dengan wajah merona merah tak sanggup lama-lama ditatap dan tangannya dipegang oleh Rich.
"Sudahlah, hanya sekadar mainan. Kalau perlu setokonya aku beli!" kelakar Rich membuat biji mata Noah, Mutia, Kasir dan para pengantre lain membelalak penuh. "Ada berapa buah mainan Hot Wheels nya Kasir? Saya beli semuanya sekalian dengan Konder Joy nya!"
Kasir yang sempat menjatuhkan dagu belum sepenuhnya pulih, lalu tergesa men total semuanya.
"Mau apalagi sayang?" tanya Rich sambil mencubit gemas pipi Noah dan Firheith juga sekalian menaruh barang belanjaannya di meja kasir.
Noah menggelengkan kepala. "Om, itu kebanyakan. Dua saja cukup yang warna red dan blue."
"No problem, Sayang. Anggap itu hadiah dari Om sebagai perkenalan kita. Karena kau sangat manis dan menggemaskan." Rich memeluk Noah lagi. Ia merasakan kenyamanan dan Noah pun begitu senang hingga tak mau melepas genggaman tangan Rich. "Mau es krim juga?"
"Tidak, Om. Itu sudah banyak sekali." Noah tak serakah walaupun bisa saja Rich menuruti semua keinginannya kalau mau.
"Totalnya satu juta lima ratus ribu rupiah." Suara Kasir menginterupsi, Mutia membulatkan mata karena uang yang digelontorkan Rockie terlalu banyak dan membuat ia sungkan.
Rich menyerahkan atm nya yang berupa black card. Mutia dan semua orang kembali terperangah. Bahkan tangan kasir pun gemetar saat menggesekkan black card itu di mesin.
"Nah! Ini untukmu, sayang. Belajar yang pintar, ya. Lain kali kalau minta sesuatu harus dengan cara yang baik. Laki-laki tak boleh menangis," ucap Rich yang tersenyum sambil mengacak lembut rambut Noah yang menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Siap, Om. Terima kasih banyak! Om, baik deh! Sini Om, membungkuk!" pinta Noah yang kemudian dituruti oleh Rich. "Cup, cup!" dua kecupan diberikan Noah di pipi kanan dan kiri Rich. "Hehe, aku tak sampai karena tubuh Om yang tinggi seperti jerapah."
"Dasar anak nakal!" goda Rich, Noah tersenyum kegirangan melihat dua kantong penuh berisi mainan dan konder Joy di tangannya.
"Sekali lagi terima kasih, Mr. Rockie dan Mr. Frenkie. Saya nggak tahu harus bilang apa. Maaf juga kalau Noah terlalu manja padamu meski baru kenal," tutur Mutia nampak sedih. Begitu mereka telah berada di luar teras Alopomart.
Rich benar-benar terusik ingin tahu, sehingga ia yang penasaran langsung menanyakan itu dan Firheith hanya memperhatikan tanpa mau berkomentar. Asyik menggoda Noah yang juga langsung akrab dengannya.
"Kenapa Noah begitu Mutia? Sorry. Bukankah anak-anak seperti itu atau kau butuh pekerjaan?" tanya Rich hati-hati.
Mutia menggeleng cepat.
"Bukan-bukan. Aku sudah punya pekerjaan Mr. Rockie—"
"Panggil Rockie saja. Telingaku gatal kau panggil Mister terus," tolak Rich yang merasa risih.
Mutia tersenyum. "Ya, karena dari lahir. Noah belum pernah bertemu dengan papinya."