Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
69. Kandas?



Waktu tiba-tiba berputar lebih lambat. Jantung Rich seketika tak berdetak, dengan lirikan tertuju pada Noah yang duduk di atas motor sedang memainkan mobil Hot Wheels-nya.


Dan Firheith pun menangkap ekspresi gusar yang berasal dari Rich itu, yang kemudian ditanyakannya sambil mengedikkan dagu. Tetapi Rich menggeleng dan memberinya tanda untuk mendekat.


“Apa maksudmu Noah tak pernah bertemu papinya sejak lahir, Mutia? Di mana sekarang papinya— Noah berada? Katakan?"


Rich menanyakan itu dengan perasaan tak menentu. Langkah Mutia perlahan bergulir mundur, kelasah-kelusuh tergambar dari wajahnya. Begitu ia menanggung dua tatapan lurus dari kedua pria bule di depannya ini, saat lidahnya kelepasan.


“Eee, siapa yang bilang itu?” Mutia tertawa sangat dipaksakan. Ia benar-benar mengumpat kebodohannya sendiri yang lancang pada orang yang baru dikenal. Harusnya ia lebih menjaga sikap, tetapi entahlah. Begitu melihat Rich, seolah dirinya secara sukarela tanpa dipaksa mengemukakan rahasia yang selama ini ditutupnya rapat-rapat. 'Oh, Mutia. Ada apa dengan dirimu? Kau harus menghindari manik-manik hijau pria itu. Sepertinya berisi hipnotis!' desisnya dalam hati penuh kecemasan.


Ya, Rich dan Firheith kini berpikiran sepaham dengan mata saling bertaut yakin di tambah gelenyar curiga bertalu-talu.


"Kau tiba-tiba terserang pikun, Mutia?" lontar Rich. "Telingaku masih berfungsi normal, bahkan debaran jantungmu sekarang pun aku merasakannya."


Mutia membeliakkan kelopak mata dengan desiran nanap. “Omong kosong. Bercandamu lucu sekali Rockie. Mungkin kalian salah pendengaran, Ro-Rockie, Frenkie. Ya, ya…”


Rich memangkas jaraknya dan memanggil lirih. “Mutia?”  


Wajah Mutia diserang ketakutan, aliran peluh melintasi keningnya dari ubun-ubun. Meremas jalinan jarinya dan semakin tersudut. "A-aku harus segera pulang, Rockie, Frenkie. Suamiku pasti sudah menungguku di rumah karena …”


"Karena apa?" tanya Firheith yang berdiri di belakang Mutia. Mutia yang mundur menabrak pria jangkung itu tak sengaja dan meringis semakin pias merubah warna wajahnya kini.


Di imbuhi suara barithon Rich yang keheranan. “Suami? Bukankah katamu tadi? Noah belum pernah melihat papinya sejak lahir—”


Perkataan Rich langsung di sanggah Mutia. “Oh, aku salah bicara Rockie. Maksudku itu bukan Noah yang ini tapi Noah tetanggaku. Ya, hehe. Kebetulan namanya kembar. Jika suamiku sendiri ada di rumah dan barusan pulang dari berlayar. Permisi!” cepat-cepat Mutia kabur dan menaiki motornya dengan ketakutan lalu menyalakan mesin motornya yang tentu saja memancing atensi Noah.


“Kenapa mama wajahnya pucat?” Noah menoleh pada Mutia yang akan tancap gas.


Tetapi Mutia justru merebut paksa mainan Hot Wheels dari tangan Noah dan memasukkan mainan itu ke kantong kresek terburu-buru. “Nanti bermainlah lagi di rumah, Noah. Sekarang kita harus pulang, soalnya perut mama tiba-tiba mulas.”


“Mama kebelet buang air besar?” tanya Noah perhatian.


“Ya, ya.” Mutia terpaksa berdusta, padahal dia benci hal itu. Seumur hidup ia jarang berdusta jika tidak kepepet.


Lantas Noah setuju dan tak membantah. “Oke mama, let’s go!”


Deru mesin motor jenis beat telah bergerak keluar dari Alopomart ke tepi jalanan. Firheith dan Rich cukup memperhatikan gestur aneh Mutia yang tak sedikitpun menoleh. Lain Noah yang sempat melambaian tangan kepada Rich dan Firheith. Anak itu begitu ceria dan terlihat menyukai Rich.


Noah berteriak keras di belakang boncengan Mutia. “Bye-bye, Om Rockie dan Om Frenkie!! Semoga kita bertemu lagi!”


“See you Noah!” balas kedua bule mesum itu juga yang membalas lambaikan tangan Noah.


"Amen." Kemudian secara lirih, bibir Rich menyebut itu dari hati yang terdalam.


Dengan sejurus tajam dari mata-mata awas Rich dan Firheith, yang tak juga berpindah mengamati motor Mutia dari kejauhan.


Rich mengelus rahang kokohnya dengan kepala terangguk angguk, menatap Firheith yang lantas menyiku lengannya. Seolah sepemikiran dan sehaluan dari tautan mata mereka.


“Ayo kita berangkat!” ajak Firheith yang segera naik motor, setelah dibantu tukang parkir memundurkan posisi yang pas moncong motornya ke jalan raya.


“Kau paham maksudku, Fir?” tanya Rich sambil menghempaskan bokongnya di jok motor. Kini dia membelotkan tujuannya pada Mutia.


“Yes brother. Kalau aku tak paham, buat apa aku mengajakmu gegas naik motor? Come on! Kita ikuti si ... Siapa tadi namanya ibu-ibu itu?” tanya Firheith yang lupa namanya, karena menurutnya nama Mutia susah dieja dan dihafal.


“Menurutku dia masih gadis dan belum menikah. Dia hanya beralasan saja untuk mengelabui kita. Begini-begini, aku bisa membedakan mana yang perawan dan yang tidak hanya dari luar. Apalagi dari dalam?” kekeh Rich bercanda lalu disambut gelak tawa dari Firheith.


“Ya, kau memang ahlinya, Bro. Firasatku juga begitu dan sejak pertama aku  melihat si Muti-muti itu, dia seperti memendam sebuah rahasia. Terlebih setelah kelepasan menyebut papinya Noah yang sempat sekilas kudengar,” ungkap Firheith di sela perjalanan mereka, mengintai dari jarak yang cukup jauh. Tepat di belakang mobil kijang yang bergerak seperti siput mereka mengulas itu.


...----------------...


Motor Vario yang dinaiki Rich dan Firheith berkelok ke jalan tikungan sebuah pedesaan. Anehnya, ternyata jalan yang diambil Mutia itu sesuai dengan alamat yang mereka tuju dan itu membuat Firheith menoleh pada Rich. 


“Fir, Fir!”


"Kau merasa kita mendapatkan sebuah petunjuk dari Tuhan dan seolah Tuhan menuntun kita lewat Mutia?" tanya Rich yang mendapatkan sebuah signall. Otak mafianya sering terasah dan kini muncul secara dadakan, menganalisis teka-teki ini.


"Hum. I see. Lihatlah plang jalan di sebelah kanan itu!" tunjuk Firheith dengan jari kanannya, melepas setirnya sesaat.


“Itu Jl. Cinta 115, Ubud. Gianyar — Bali, seperti alamat yang diberikan oleh Yessa? Jangan-jangan …” Manik-manik hijau zamrud Rich membulat sempurna dari kaca spion yang langsung dilirik Firheith sepintas, sebelum fokus menyetir lagi. 


Ini bukan negaranya, jadi mereka tak boleh merajai jalanan seenak jidat  dan harus ikuti aturan negara yang kini mereka kunjungi. Salah-salah marka jalan dan membuat masalah yang nantinya malah menjadi bumerang untuk mereka sendiri, bilamana berurusan dengan pihak berwajib.


“Jangan-jangan Mutia ada hubungannya dengan Alda, Fir?” cetus Rich beranggapan.


“Feelingku juga begitu!” ucap Firheith agak dikeraskan, ketika suaranya berbaur dengan angin yang cukup kencang siang itu. “Wah! Tuhan kali ini berbaik hati pada bajingan sepertimu yang berlumuran dosa, Rich. Berarti ini pertanda jika kau nanti harus bertobat dari dunia perselangkangan!” tajam Firheith sungguh-sungguh.


Sehingga kepalanya langsung ditoyor oleh Rich dari belakang. Tapi Firheith tak marah, mereka berdua sering begitu dan sudah biasa.


“Damn it! Cepat kejar Mutia, jangan sampai lolos!” suruh Rich tak ingin kehilangan jejak. Begitu ada mobil bak terbuka yang  menghalangi jarak pandang Rich dari motor Mutia.


"Oke, Senor! Siap 76!!"


Firheith lalu menyalip mobil bak terbuka itu setelah melihat celah dari depan jalan yang kosong. Wussh! Meliuk-liuk dengan bermain hand rem, kemudian memelankan laju motornya.


Persis, ketika memasuki area jalan cinta dan Mutia yang menyalakan lampu sen ke arah kanan hendak menyebrang. Firheith menjaga jarak dan mengatur posisi.


“Berhenti di sini, Fir!” Rich menepuk pundak Firheith yang langsung paham dan membuat motornya berhenti agak jauh. "Kita tunggu apa yang mereka lakukan dan tutup helm mu!" suruhnya.


Keduanya pun beriringan menutup kaca helm full face-nya,  supaya tak terlihat oleh Mutia yang memarkirkan motornya di depan halaman rumah Alda. Rumah dengan bangunan unik bergaya gotik — Khas nuansa Jerman yang begitu terasa.



Terlihat nyaman, indah dan dari pandangan pertama, membuat siapa saja ingin tinggal di sana. Bahkan, tak terkecuali Rich yang seolah terpanggil untuk masuk ke sana dan menempati rumah itu. Berikut mimpi manisnya yang berharap bisa menjadi bagian dari keluarga tersebut.


Dengan tak melupakan sorot tajamnya yang tak sedetikpun lolos memperhatikan gerak-gerik mereka di posisinya kini berada.


Satu detik, dua detik, tiga detik dan selanjutnya. Membuat detakan jantung Rich semakin tak terkendali, begitu detik itu berlalu ke menit saat waktu dirasanya mengacaukan segala Perasaannya.


Di pertambah sakau hasratnya. Begitu Noah turun dari motor itu, sambil membawa dua kantong belanjaan pembelian Rich. Ia bisa mendengar dengan jelas dari motornya. Jika Noah disambut seruan dari suara lembut seseorang yang teramat ia rindukan siang dan malam.


Kecantikan wajahnya tak pernah luntur, senyumnya yang indah dan manis. Selalu menggetarkan jiwa-jiwa usang Rich yang telah mati. Berdesir desir darahnya menjalar ke setiap denyut nadi, kala rasa ingin mendekatinya terlalu menggebu dan menyiksa.


“Alda … My honey, bunny, sweety …” di tiap kalimatnya berisi makna cinta yang mendalam.


Firheith melirik antara Rich lalu ke Alda, matanya membulat sempurna dan tak mungkin salah pendengaran. Ketika Alda berjongkok ke bawah sambil merentangkan tangan pada Noah.


“Anak tampan Mami sudah pulang!”


“Mamiii …!!” Noah berseru kencang lalu menabrakkan tubuhnya ke pelukan Alda yang memeluknya sangat erat. Mencium kedua pipi Noah, yang dibalas juga oleh anak itu. “Gimana sekolahnya? Apa semua baik-baik saja? Maaf ya, Mami tak bisa menjemputmu.”


Lalu Rendra pun muncul dari dalam rumah Alda yang seketika mendekatinya, di susul Morren dan Rukma. Rendra mengusap rambut Noah yang seolah-olah menimbulkan kesan, bahwa mereka memiliki hubungan khusus. Berdasar anggapan mata telanjang Rich yang melihat dari sisi sepihak.


“Alda sudah menikah, Fir. Itu anaknya dan pria berseragam polisi itu?” suara berat Rich berubah serak, menahan gemuruh sesak di dadanya yang merongrong berat. Ia bahkan tak sanggup menyaksikan hal itu, ketika hatinya luluh lantah dan lekas  berpaling wajah, demi menghalau kesedihannya.


“Rich …” Firheith memanggilnya lirih, merasa kasihan dan tak tega. Sampai ia menatap sinis dengan mencengkram kuat setir dan menahan emosinya yang sudah meledak di kepala.


Rasanya Firheith pun ingin berlari ke rumah itu dan menyeret Alda untuk meminta penjelasan.


Namun, saat Firheith  hendak turun. Rich menyergah gerakannya dengan gelengan lemas, yang menggambarkan sebuah keputusasaan berat. Dari pemilik manik hijau zamrud itu, yang kini meredupkan secercah harapannya menjadi sebuah kepasrahan dini.


“Kita kembali ke resort saja.”


 Bersambung,