Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
10. Kisruh



"Ef, apa kau baik-baik saja?" dengan wajah sembabnya yang terus mengalirkan air mata. Alda menatap sedih pada Efrain.


Sejenak Efrain terdiam menatapnya dengan belas iba. Memegangi kepalanya yang masih terasa pusing akibat tertimpa reruntuhan buku.


Tanpa nyana, ia tiba-tiba menarik Alda ke dalam pelukan. Memeluknya sangat erat dan mengusap surainya dengan lembut.


"Jangan menangis lagi. Penderitaanmu sudah berakhir, Al. Rich tak akan berani lagi mengusikmu. Aku... berjanji akan menjagamu."


Alda tersentak mendengar pernyataan Efrain. Ia hampir tak percaya dan tertegun hingga tak dapat berkata-kata. Bak gayung bersambut, semua rasa menyerbunya jadi satu.


Gembira, hangat, haru jadi satu. Yang diharapkan dari dulu, sekarang menjadi nyata. Efrain yang sulit digapainya sedari dulu. Kini malah memeluknya, apakah ia sedang bermimpi?


Astaga. Astaga.


Jantung Alda berdebar sangat kencang, senyum yang lenyap kini terukir tanpa ia sadari.


Keduanya terdiam cukup lama. Entah kenapa memeluk Alda seperti ini. Efrain juga turut merasakan gelenyar lain. Rasa ingin melindunginya begitu besar di samping belas kasihnya.


Ledakan panas amarah, menyerbu dada Efrain yang merutuki perbuatan saudara kembarnya—Richard. Ia sangat muak dan kini merasa harus ikut bertanggung jawab atas perbuatannya yang memalukan.


"Aku... Sudah kotor Ef. Rich... Hiks, sudah melakukan itu..." terputus Alda tak sanggup bicara lagi. Karena air matanya yang ia tahan, sejatinya berguguran sangat deras.


Ia tahu diri lalu melepas pelukan Efrain dan  menundukkan wajah hendak menyingkir. Namun, Efrain menahan kedua bahunya lalu menggeleng. Mengejutkan Alda lagi, ketika jari Efrain terulur ke wajahnya dan mengusap air matanya tanpa jijik.


"Tidak ada manusia kotor di dunia ini, Al. Hanya perbuatannya saja yang mencerminkan kualitas orang itu baik ataukah buruk. Rich yang salah bukan kau. Maka dari itu, aku..." tertunduk sesal Efrain menggertakkan gigi mengecam Richard. Lalu mengangkat wajahnya lagi menggenggam tangan Alda. "Mewakilinya sebagai saudara, aku meminta maaf padamu, Al. Maafkan aku yang tak bisa menasehati saudaraku yang biadab itu!" Efrain menatap Alda dalam-dalam.


"Maaf, Ef. Aku masih sulit memaafkan Rich, bahkan untuk hari ini. Luka yang dulu ia torehkan belum sembuh dan sekarang Rich menancapkannya lagi. Mungkin butuh waktu lebih lama untuk menyembuhkannya." 


"Ya, aku mengerti, Al. Dia memang tak pantas untuk dimaafkan. Dia bodoh dan sakit!"


Alda terharu mendengar Efrain, apalagi dia bisa sedekat ini dengannya. "Kamu berbeda dengan Rich, meski wajah kalian sangat mirip. Kau lebih bijaksana, baik dan tak pernah menyakiti perasaan wanita. Beruntunglah siapapun yang akan menjadi istrimu kelak Ef,” katanya tulus.


Efrain tersenyum dan senyumnya itu nampak menawan bagi Alda. Hingga rasanya membawa dia melayang ke langit ke tujuh.


"Aku akan menyembuhkan lukamu."


Perkataan Efrain barusan sukses membuat jantung Alda nyaris berhenti berdetak. Ia sampai ingin pingsan karena terkejut.


***


"Brengsek kau Ef. Mengganggu usahaku saja! Padahal sedikit lagi Alda berada dalam genggamanku tapi kau bagai semut rang-rang yang tiba-tiba menggigitku. Dasar penjilat!" Richard mengamuk, semua benda di kamarnya sore itu dilemparkannya ke sembarang arah.


Berikut erangan kemarahannya yang meledak setelah kamarnya hancur berantakan. Richard keluar dari kamarnya sembari menyarungkan sesuatu di balik punggungnya. Kebetulan di lihat Cal tak sengaja saat berada di belakangnya. Ia mengamati gerak-gerik putra pertamanya yang mencurigakan. Lalu ia pun menghentikan kepergiannya.


"Rich, mau kemana?"


Pertanyaan Cal membuat kaki Richard tercekat. Tak bergeming walau Cal memanggilnya berkali-kali.


"Kau dengar panggilan Daddy, tidak Rich? Kenapa kau diam saja. Jawab!" sentak Cal begitu keras.


Suaranya menggema hingga ke seisi castle. Sampai Trecy dan Abelle yang kebetulan berkunjung, sedang berada di dapur bersamanya dengan maid. Buru-buru menemuinya di lokasi dengan perasaan tak menentu.


"Rich!" bentak Cal lagi sewaktu memutar tubuh sang putra dengan marah. Cal paling tak suka diabaikan seseorang jika bicara, sekalipun anaknya sendiri.


"Terang saja dia diam, Dad. Karena si pecundang itu melakukan perbuatan menjijikkan!" sahut Efrain yang tiba-tiba muncul di hadapan Cal dan Rich. Bersamaan pula dengan Abelle dan mommy-nya yang berwajah tegang namun diam.


"Diam kau, Ef. Jangan ikut campur urusanku! Tutup mulutmu atau..."


"Aaaahhhh!" Abelle dan Trecy menjerit keras, melihat Rich menodongkan senjata api ke kening Ef.


Membuat Cal terpaku sangat syok. Sontak mengepalkan tangannya langsung maju dan merebut senjata itu dengan cepat dari tangan Richard.


BUGH!


Cal memukulkan senjatanya ke wajah Richard seketika, hingga tubuh Richard langsung tumbang ke lantai tanpa perlawanan.


"Mau jadi pembangkang kau, hah?!" Cal sangat murka.


"Cal... Cukup jangan pukuli Rich lagi!" Trecy menjerit histeris dengan tangisan berderai. Bersimpuh ke lantai memeluk Rich sangat erat. "Its oke sayang. Daddy hanya marah sebentar."


Richard terdiam dipelukan Trecy tanpa berucap sepatah kata. Kemarahannya hampir sama seperti Cal, jika dia mengalami masalah diam tapi brutal. Namun, semenjak pertambahan usianya yang semakin menua. Cal cukup bisa mengendalikan diri.


Trecy menatap wajah suaminya yang merah padam dan kedua putranya satu persatu. Sementara Abelle lebih memilih menenangkan Cal.


"Sabar daddy..." kata Abelle sambil memeluk lengannya.


"Katakan, Ef. Sebenarnya apa yang terjadi diantara kalian berdua dan apa yang dilakukan Rich sampai kamu menuduh saudaramu seperti itu, Nak?" tanya Trecy.


"Rich sudah memperk*s* Alda, Mom, Dad. Bahkan hari ini, kali kedua si biadab ini mencoba memperk*s*nya lagi. Aku benar-benar kecewa dan malu. Entah kenapa Rich bisa seperti itu, padahal kalian sudah mendidiknya dengan baik dari kecil." Ef menjawab pertanyaan Trecy dengan ekspresi sedih.


Semuanya seketika syok mendengarnya, bahkan Trecy langsung mengarahkan tatapan sinisnya kepada Cal. Sedangkan Cal memegangi dadanya karena nyeri dan teringat masa kelamnya dulu. Baik pada Trecy dan wanita-wanita lain.


"Daddy!" pekik Abelle dan Ef membantunya duduk di sofa.


Maid nampak mengangsurkan segelas air pada Abelle yang langsung diberikan pada Cal. Sedangkan Ef memberikan obat dari dokter untuk diminum setelahnya.


Suasananya mendadak hening. Hanya terdengar isakan Trecy yang menyulut Cal menatapnya lamat-lamat ketika Richard berdiri menyongsong sang Mommy.


"Mom, Dad. Aku minta maaf, ini semua aku lakukan karena aku mencintai Alda. Aku hanya berjuang mendapatkan cintaku—"


PLAKKK!


Sebuah tamparan melesat di pipi Richard dari Trecy yang memotong ucapannya. Wajah  wanita cantik di usianya yang menginjak menua nampak merah padam  dengan pancaran merah di mata birunya yang ikut sewarna.


"Tidak seperti itu mendapatkan gadis yang kau cintai Rich. Mom kecewa berat padamu. Begitu kau melukai hati wanita, apa tak kau pikirkan. Jika kau punya dua saudara perempuan dan seorang Ibu. Itu sama artinya kau melukai kami juga. Di mana akal sehatmu Rich?  Pikir! Wanita bukanlah permainan dan jangan kau mainkan!" kecam Trecy begitu murka.


"Mom..." sela Richard meraih tangan Trecy namun disingkirkan.


"Jangan sentuh Mommy. Minta maaflah pada wanita yang kau nodai dan kau harus bertanggung jawab. Nikahi dia!"


Richard tertawa sengit menemukan tatapan sinisnya pada Efrain yang kebetulan menatapnya dengan sulut sama. 


"Aku sudah mencobanya, Mom dan sejak hari itu. Namun kebencian Alda padaku terlalu dalam. Ia tak mau aku nikahi karena Alda mencintai Ef, bukannya aku!" tudingnya pada sang kembaran yang bergeming.


"Apa?"


Semua pasang mata terbelalak kembali syok. Terutama Efrain yang baru mengetahuinya kali ini.


"A-Alda mencintaiku? Apa itu benar?" tanya Efrain mendekati Richard.


Richard menatapnya nyalang. "Benar dan kau telah menggagalkan usahaku kali ini. Di mana Alda hampir luluh dan kau muncul seperti lalat pengganggu untuk hubungan kami!"


Bruuuk!!


Efrain yang tak siap kemudian didorong Richard hingga terjungkal ke bawah. Cal bereaksi, beranjak dari kursi seketika mengangkat senjata api itu ke atap-atap langit.


Dooorr!!


"Cal!"


Trecy memekik sambil menutupi kedua telinganya rapat-rapat, begitu pula Abelle yang lututnya gemetar kemudian pingsan.