Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
39. Kejutan untuk Rich



Kebimbangan pun nampaknya dirasakan si mata hijau zamrud. Gulungan benang rapi yang terberai kusut, itulah gambaran yang tepat untuk isi kepala Rich saat ini. Kepalanya terasa berat memikirkan beban yang tidak bisa ia bagi dengan siapapun, terkecuali dirinya sendiri.


Rich mendesahkan nafas sembari mengangkat secangkir kopi hitam yang diseruputnya sedikit.


“Kopi pahit ini saja, tidak lebih getir dari hidupku?”


Tepat setelahnya, ruang kerjanya diketuk oleh seseorang dari luar. Rich melihat orang yang mengetuk pintunya dari layar monitor, tahu jika itu Teo. Ia pun menekan tombol interkom dan menyuruhnya untuk masuk.


“Pagi, Bos.” Teo membungkuk hormat dengan senyum landai menghias wajah kotaknya.


“Jika tidak ada urusan penting, keluarlah. Aku sedang sibuk!” ucap Rich lebih ke mengusir.


Muka Teo yang ceria bagai sinar ultraviolet pun seketika padam, menghela nafas berat. Sebelum kakinya menyeret lemas ke depan meja Rich.


“Saya datang kemari membawa kabar bahagia, Bos. Mengapa saya disuruh pergi?” protes Teo menatap lemas pada pria tampan yang kini, malah mengenakan kaca mata baca dari atas meja.


“Hmm, kabar apa sialan?” tanya Rich, tanpa melihat Teo.


Rich sengaja mengalihkan fokusnya dengan sibuk mengamati sketsa design rancangan gaun terbaru kiriman para desainer.


Sekaligus memilah-milah foto-foto wanita seksi yang mengikuti casting untuk ajang fashion show bulan depan, sembari menyeruput kopinya lagi.


“Ibu dan dua adik Anda sedang ada di lobi, mereka ingin menemui Anda—”


BYUURRR!


Kopi di mulut Rich, langsung menyembur ke wajah Teo saking terkejutnya. Pria itu mematung dengan wajahnya kini yang berubah hitam, seperti suasana hatinya. Jengkel tapi pasrah, tidak berani protes jika dia tidak ingin kehilangan nyawa.


Ah! Nasib bawahan yang harus ia terima dengan sukarela.


“M–Mommy ku??” ulang Rich bertanya pada Teo, raut kebahagiaan terpancar dari wajah tampannya yang diiringi senyuman lebar.


“Iya, Bos.” Teo menjawab sambil mengelap wajahnya dengan tisu.


Begitu ia membuka mata sepenuhnya. Rich ternyata sudah tidak berada lagi di tempatnya.


“Ya ampun, Bos. Anda di mana? Bos menghilang? Cepat sekali!" Teo celingukan dan segera menyusul keluar dengan tergopoh-gopoh.


Untung saja Teo masih menemukan Rich berdiri di depan pintu lift, hampir saja kakinya melangkah masuk. Teo pun menghalaunya.


“Tunggu, Bos!”


Suara menyebalkan Teo, membuat Rich menoleh dengan ekspresi datar.


"Hmm, ada apa?" sahut Rich begitu malas.


“Saya harus ikut mengawal Anda.”


Rich masa bodoh, menatap lurus ke depan. Hingga tombol angka dua menyala, dengan bunyi khas dentingan nyaring. Pintu lift pun terbuka, tepat menghadap lobi.


Kini Rich bisa melihat jelas Trecy duduk menyilang kaki di sofa, tengah mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Bertepatan pula tatapan Mom dan putranya ini bertemu.


“Rich!" sebut Trecy dengan mata berkaca-kaca, beranjak dari duduk.


Putranya langsung berlari kencang menemuinya, saat Trecy membentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Begitu keduanya berhadapan, tangis Trecy tak kuasa pecah. Rich menubrukkan dirinya ke dalam pelukan sang mommy.


“Mom,” ucap Rich gemetar. “Aku sangat merindukanmu?” pelukannya kian dipererat.


Trecy mengusap punggung Rich, menciumi pucuk kepalanya. “Mommy juga sangat merindukanmu, sayang. Sangat…” tak mampu lagi Trecy bicara dengan lancar. Serbuan tangisnya menghalau suaranya keluar.


Bagaimanapun seorang anak melakukan kesalahan. Orang tua tidak akan pernah bisa marah terlalu lama. Kasih sayangnya sepanjang masa, tidak bisa ditakar dengan apapun.


Terlebih selama sembilan bulan, Trecy mengandung ketiga buah hati kembarnya itu susah payah. Berjuang penuh air mata untuk dapat menghadirkannya ke dunia ini.


Cinta kasih, ketulusan dan kasih sayang seorang Ibu dalam membesarkan anaknya tak akan ternilai. Terkadang jika anaknya terluka, hanya seorang Ibu saja yang peka. Dapat merasakannya lewat ikatan batinnya yang terhubung.


“Mom, maafkan aku. Aku banyak salah dengan mom, aku tidak lebih baik dari, Ef…”


“Tidak,” kepala Trecy menggeleng pelan, membelai rambut ash brown putranya penuh kasih. Sebelum menciumi kedua pipi Rich. “Jangan bilang seperti itu sayang. Bagi Mom, semua anakku membanggakan. Tiap anak memiliki kelebihannya masing-masing. Kau dan Ef sama hebatnya. Juga adik-adikmu,” pandangan Trecy menyudut pada Brylee dan Heave yang memandang sendu pada kakak tertuanya itu.


“Kak Rich?” panggil mereka berdua tampak sedih.


“Heav, Bree. Kemarilah adikku sayang,” panggilnya lalu Heaven dan Brylee memeluk Rich bergantian penuh haru.


“Kau semakin cantik, Heav.” Rich memuji adiknya itu, mencium pipinya yang kemerahan.


“Ah! Wajahmu juga semakin tampan dan kelihatan berwibawa saat memberi pidato di pelantikan kemarin, sampai teman-temanku mengidolakanmu, Kak?” Heaven tersenyum menatap Rich yang juga melemparkan senyum padanya.


Brylee pun ikut menyela. “Kau hebat sudah berhasil membangun bisnis Fire Base dengan kerja kerasmu sendiri, Kakak.”


Rich tersenyum, merangkul adiknya itu yang tubuhnya kini lebih tinggi darinya. Ada sedikit kemiripan wajah dengannya, tapi Brylee dan Heaven cenderung menurun dari campuran wajah Trecy dan Cal.


“Kau sendiri juga hebat, nilaimu selalu bagus,” pujinya balik sontak membuat Brylee terkejut sekaligus bingung. Di tambah kalimatnya ini. “Diam-diam kau juga mengambil sekolah penerbangan, bukan??”


Mata Brylee membelalak, mengajak Rich agak menjauh dari mommy-nya dan Heaven. Ke tempat yang sedang direnovasi, sebab ia tak mau ketahuan.


“Dari mana kak Rich tahu semua itu?”


Rich memukul lengan Brylee pelan. Tapi yang dirasakan oleh adiknya, seperti pukulan yang amat keras.


“Aduh!” ringis Brylee.


“Spy ku ada di mana-mana!” Rich menjawab dengan enteng.


“Apa?" Brylee terkejut sampai-sampai menjatuhkan rahang.


“Oia, lantas… Bagaimana kabar daddy kita?” Rich berbisik amat pelan ke telinga Brylee. Melirik ke kanan dan ke kiri, tampak mommy-nya sedang berbincang dengan Heaven.


Terkadang juga melihat-lihat suasana kantor pusat Fire Base yang nampak megah. Rich tidak mau mom –nya tahu jika ia menanyakan hal itu pada Brylee. Walau ia membenci Sang Daddy, di hati kecilnya ia sangat menyayanginya.


“Ya, sudah kalau begitu,” timpal Rich tidak mau memperpanjang.


Ia lebih memusatkan pandangannya ke Trecy yang kini sedang mengeluarkan kotak makan dari paper bag. Senyumnya mengembang, adik lelakinya segera ditarik duduk menuju sofa.


“Harumnya? Apakah mom bawa makanan kesukaanku?” tanya Rich berharap dengan ekspresi puppy eyes– nya itu. “Aku rindu masakan mommy?”


“Sayang, mommy akan menyuapimu,” kata Trecy seraya menepuk sofa agar Rich duduk di sebelahnya.


“Terima kasih mommy,” Rich segera duduk.


“Kakak tahu?” sela Heaven yang mengunyah Pan Con Tomate.


“Apa adikku sayang?” Rich merangkul gadis bermata biru itu, sementara Heaven bergelayut manja di lengannya.


“Pagi-pagi buta, Mom sampai meminta sopir dan memaksa Bibi Adeena juga beberapa maid untuk ikut ke swalayan demi membawa belanjaannya yang segunung itu. Mengira kakak akan pulang kemarin?” lesu Heaven mengungkap.


Betapa terkejutnya Rich hingga matanya mengembun memandang sang Mommy yang tersenyum tulus.


Kedua tangan Trecy digenggamnya, bibir Rich menciumnya sambil memandangi wajah cantik mommy-nya itu yang kini basah teraliri buliran bening yang segera ia usap.


“Pulang ya, Sayang? Demi mommy?” pinta Trecy sembari menitikkan air mata.


Rich terdiam, lalu menghela nafas dalam-dalam. Memejamkan matanya sebentar lalu menatap Trecy.


“Tidak sekarang, Mom. Aku belum siap.” Rich membuang pandangannya, dadanya terasa sesak mengingat putaran kejadian malam itu. Hatinya masih sangat sakit.


“Tapi kapan?” cerca Trecy yang tidak sabar.


“Nanti.”


“Nanti kapan? Sampai mommy menghadap Tuhan begitu!” ucap Trecy agak menyentak, penuh kecewa berikut air matanya yang semakin deras. Tubuhnya bergetar hebat.


“Mommy!” bentak Rich menggeleng, lalu menarik tubuh momm-nya ke dalam pelukan.


Brylee dan Heaven saling berpelukan tak kuasa ikut bersedih, sementara Teo yang berdiri di pojokan sedari tadi memperhatikan mereka. Kini memeluk dirinya sendiri ikut terharu sampai menangis sesenggukan.


Suasana lobi ketika itu, mendadak jadi terasa hanyut dalam kesedihan. Putaran waktu seolah terhenti.


Tiada yang angkat suara, hanya terdengar suara tangis bersahutan dari keluarga itu yang tengah dirundung pilu. Berkecamuk dalam masalah keluarga yang belum tertuntaskan.


“Jangan berkata demikian, Mom. Aku sangat menyayangimu?” Rich berkata dengan nyeri di dada.


“Kalau sayang pada kami, pulanglah! Walau daddy mu keras begitu, mommy yakin jauh di lubuk hatinya dia sangat merindukanmu," ungkap Trecy berusaha melunakkan hati Rich yang sekeras batu karang.


Rich mengepalkan tangan, netra zamrudnya berubah memerah. Ia dan Abelle menuruni sifat keras kepala dari Cal. Namun, Abelle cenderung cengeng dan mudah rapuh.


Berbeda halnya Rich lebih bebal dan darah mafianya juga lebih kental mengalir ke dalam tubuhnya.


Sementara Trecy dan kedua adiknya itu masih menunggu jawaban darinya. Akhirnya Rich pun membuka suara.


“Beri aku waktu, Mom,” putus Rich.


Kendati berat, Trecy tidak bisa berbuat banyak. Setidaknya kini, Rich sudah memberi kepastian.


Trecy memahami setiap karakteristik anak-anaknya yang berbeda-beda. Lagi pula, ia pun tidak mau jika Rich malah semakin menjauh darinya dan Cal nantinya. Seandainya ia terlalu memaksa.


“Ya, sudah kalau begitu. Kapan pun kau mau pulang, pintu Anoola Castel terbuka lebar untukmu, Senor?” lirih Trecy yang kemudian merubah suasana hati Rich kembali tak seburuk tadi.


Bibir Trecy mengulaskan senyum, sehingga ketegangan yang merubah atmosfer panas di ruang lobi kini mencair.


“Well, aku seperti menonton drakor barusan,” canda Heaven membuat Rich sedikit tersenyum atas candaannya. “Kau tahu Kak, cacing-cacing di perutku sudah berdemo meminta makan. Ayolah! Siapa yang tidak tergoda Tortilla Espanola dan Albondigas yang dimasak oleh, Mom?” kedua alis Heaven naik turun, mengarahkan matanya ke kotak makan warna pink di atas meja sana.


“Hey, itu makanan favoritku, Mom? Tapi kenapa harus ditaruh ke dalam kotak pink?” desis Rich memprotes, ia sangat membenci warna pink dan sejenisnya. Rasanya ingin membuangnya ke luar angkasa.


“Hahaha!" Trecy dan adik-adik dari Rich, serta Teo yang bagai anak hilang di sana ikut tertawa keras.


“Kau juga ikut tertawa, Teo. Rasakan sepatuku ini!” Rich melempar sebuah sepatunya tepat di wajah Teo, sehingga pria melas itu wajahnya bertambah menyedihkan.


“Sayang, kasihan dia,” halau Trecy yang menjewer telinga Rich. Tapi Rich nyengir dan semakin manja pada mom nya itu. “Teo, ambil sekotak makanan ini untukmu?” tawarnya berbaik hati.


“Sungguh Ma’am?” tanya Teo dengan wajah berbinar membawa sepatu Rich mendekat.


Trecy memberikan kotak itu, Teo senang bukan kepalang hingga berkali-kali mengucapkan terima kasih.


“Mom, lebih baik kita semua makan di ruang kerjaku saja. Di sana lebih luas dan nyaman,” ajak Rich yang menggandeng lengannya, berjalan lebih dulu disusul adik-adiknya yang bersisian kanan dan kiri.


Sementara barang bawaan Trecy dibawakan oleh Teo dan anak buah Rich yang lain. Tak pelak semua mata terus mencuri tatap pada sang owner Fire Base itu, mommy dan dua adiknya.


Ketika mereka semua akan memasuki lift, ada yang menabrak dinding karena terpukau. Juga berdecak kagum, mengangakan mulut akan pesona keluarga itu yang luar biasa.


“Bibit premium memang beda, ya? Apalah kita yang burik ini bisa menggapai langit? Ternyata Senor Rich yang tampan itu berasal dari benih berkualitas?” celetuk seorang wanita yang terjedot dinding.


“Kalau aku suka dengan adiknya Senor yang tinggi itu, wajahnya tegas, tampan dan hidungnya itu. Auw! Ingin kugigit?!” desis wanita seksi yang kelonjotan saat tak sengaja Brylee menatapnya.


“Oksigen, aku butuh itu!”


“Kusiapkan peti mati saja, ya?” goda teman di sebelahnya yang langsung mendapat injakkan kaki begitu kencang hingga terseok ketika berjalan menuruni tangga.


Di antara orang-orang yang sibuk bergosip itu, dua orang pria yang mengenakan setelan jas formal. Tubuh atletis bersembunyi di dalamnya, wajah tampannya juga aura misterius tampak mendominasinya.


Saat berpapasan keluar dari lift lalu menyapa Rich dan berbincang sebentar sebelum pergi. Matanya terus mengincar salah seorang wanita, di antara Trecy atau Heaven


“Cari tahu nama gadis itu!”


“Dia Heaven Elizabeth Louis, Tuan. Memangnya kenapa?” tanya asisten pribadi pria itu yang sangat mengenal keluarga Louis.


“Aku menginginkannya!"