
BYURRR.
Rich melompat ke dalam kolam renang. Menenggelamkan tubuhnya ke air jernih berdasar lantai biru. Dengan kedua tangannya yang kekar silih berganti mengayuh, mendinginkan terjangan hawa panas di tubuhnya— berpadu dingin segarnya air kolam yang berdekatan dengan bibir pantai.
Berada di ujung kolam. Rich menyembulkan diri ke permukaan, seraya menyugar rambutnya ke belakang dan mengambil nafas lebih banyak. Sebelum terjun lagi ke dalam air.
Namun, telinganya sarkas mendengar suara-suara keras dari decapan bibir yang saling bercumbu tak jauh darinya. Mengail lirikannya tajam ke belakang, pada si pelaku itu.
One and only ...
Firheith yang tengah duduk di kursi malas itu, tampak memangku seorang wanita berbikini dan memadu kasih.
"Astaga, Fir. Bibirnya tak bisa diam sehari! Dapat dari mana dia itu? Baru ku tinggal menyelam, si brengsek itu sudah mendapat mangsa. Dasar kadal buntung!" gerutu Rich menggelengkan kepala, lalu iseng mengerjainya. "Woi, ada razia! Razia!"
Tetap saja himbauan dari Rich, diabaikan oleh Firheith yang kini tangannya sudah lancang meremas dada wanita itu dan Rich tahu apa yang terjadi setelahnya. Pastilah akan berakhir ke dalam hotel.
Rich tersenyum smirk. Dengan tangannya, merauk air begitu cepat lalu mencipratkannya ke arah Firheith dan wanita itu yang membuat cumbuan mereka berdua terlepas paksa. Karena terkejut bukan main, atas ulah Rich yang iseng.
"Ooh! Bisa tidak, sekali saja tidak mengganggu kesenangan orang lain. Dasar brengsek! Mengaku saja kalau kau iri. Iya, kan?" cibir Firheith, menoleh dengan tatapan kesal dan wanita yang bersama Firheith pun tampak malu kemudian bersembunyi di balik punggung lebar pria berlesung pipi itu.
Rich berdecak. "Untuk apa aku iri? Bibirku yang seksi ini ..." dengan gaya sensual, Rich meraba bibirnya. "Tidak sembarangan di obral seperti kau!"
"Halah!" ekspresi ringisan muak, seketika ditunjukkan oleh Firheith. "Bibirmu itu penuh racun mematikan Rich, dan sudah terbukti banyak menimbulkan korban jiwa. Contohnya si gurita—mu itu."
"Kalau Cello beda lagi. Bukan aku yang mau, tapi dia yang gatal."
"Ya, kau sendiri tak menolak?" tuding Firheith.
"Gratisan jangan disia-siakan—"
Tiba-tiba saja debat antara dua pria mesum itu terjeda. Saat biji mata mereka berdua, dikejutkan oleh penampakan seorang wanita seksi yang menghentakkan pinggulnya dengan berlenggang kaki tengah melintas.
"Fiuw ..." Firheith pun bersiul, tak peduli pahanya diremas teman kencannya yang kesal karena diabaikan. "Cantik, kemarilah! Duduk di pangkuanku?" sambil menepuk sebelah pahanya yang kosong.
Wanita itu pun menoleh sok jual mahal sambil bersedekap jengah. Memperhatikan Firheith dengan bibir kemiringan 90 derajat. "Astaga, Tuan! Mau kau pangku aku di sebelah mana lagi? Pahamu sudah terisi penuh bokong wanita itu, yang ada aku malah terjungkal ke kolam renang karena sesak!"
Rich mengudarakan tawanya di sana. Adapun Firheith yang mata keranjang, masih menebar gombalan pada wanita seksi di depannya. Hingga kemudian pipinya langsung mendapat hadiah tamparan keras dari wanita yang ia pangku.
Plaakkkk!!
"Ouch!" Firheith menggosok pipinya yang terasa pedih, menatap wajah merengut teman kencannya itu. "Baby. Kenapa kau menampar pipiku, jika mencium itu lebih nikmat?"
Teman kencan— Firheith menyipitkan mata sangat kesal. "Sudah merayuku habis-habisan dan mencumbu ku. Masih saja, kau gatal melirik wanita lain. Dasar otak mesum. Kita putus!"
"Baby, baby. Tunggu!" Firheith menghalaunya pergi. Namun, hanya sekedar kiasan. Ia lebih tertarik pada wanita seksi ini yang mengundang gairahnya seketika naik. "Hey, sini aku pangku. Sekarang banyak ruang kosong dan khusus hanya untukmu seksi ..." rayunya teramat manis, dari pendar mata Firheith yang mendamba itu.
Wanita seksi itu acuh tak acuh, serta merta berpaling menghampiri Rich yang lebih segala-galanya. "Tampan, boleh kita berkenalan? Namaku Luna. Kau?"
Rich yang masih berada di dalam air pun hanya sekilas tersenyum, tanpa membalas uluran tangan Luna.
“Aku sedang tak ingin diganggu, pergilah!” usirnya yang membuat Luna meradang, lalu menarik lagi tangannya dengan kesal.
“Dasar sombong!”
Umpatan Luna tak dipedulikan, Rich kembali berenang semakin jauh dan kini, Luna ganti ditertawakan oleh Firheith.
“Memangnya enak sok jual mahal! Haha.” Setelah puas menyindir Luna, Firheith pun berlalu meninggalkan Luna yang menghentakkan kakinya di lantai karena kedua pria itu mengabaikannya.
...----------------...
🍃 The Bar Of Como Ubud — Bali 🍃 (Anggap aja sudah malam, ya)
Tenggorokan kering telah dibasahi beberapa tegukan wine di bar yang berada di tepian kolam renang Como Resort — Ubud. Rich memegang shooter glass itu dengan gaya menawan, yang tentu saja dipadukan paras tampannya malam itu yang banyak mengundang perhatian para wanita seksi di sana.
Namun, entahlah. Rich yang biasanya langsung menerima umpan dari mereka dan tak segan menghabiskan one night stand. Kini tak berselera dan gairahnya itu mendadak lenyap.
Terlukiskan sebuah kehampaan, dari jauh iris hijau zamrudnya. Duduk merenung seperti patung sambil menekuk punggung tangannya ke tulang pipi. Seolah yang terlihat sekarang hanya raganya saja yang bersemayam dan jiwanya telah menyasar jauh di Jl. Cinta No. 115 — Rumah Tuan Morren.
Persisnya, semenjak tadi siang. Rich melihat keluarga kecil Alda yang tampak bahagia itu, membuatnya merasa miris dan mengasihani dirinya sendiri. Karena harapan besarnya ingin berkeluarga dengan wanita pujaan hatinya itu seketika kandas.
Firheith menepuk kesadarannya. “Rich, dengar aku. Kau harus menemui Alda dan meminta penjelasannya soal ini. Siapa anak itu dan apakah dia benar-benar sudah menikah dengan polisi tadi."
"Hey! Kau dengar tidak, aku bicara?!"
"Hmm," sahutnya. "Bicara saja, pasti kudengar."
Firheith merotasikan bola matanya. "Begini. Jangan sampai usahamu datang ke Indonesia jauh-jauh menjadi sia-sia! Mana, Rich yang biasanya aku kenal? Yang agresif, macho dan tak pantang menyerah? Tunjukkan itu padaku lagi.”
"Sekarang, Rich yang kau kenal sedang hibernasi," ucap Rich tak berselera.
"APA?"
Firheith menepuk keningnya sangat keras dengan mata melotot lalu mengguncang kedua bahu sahabatnya itu.
"Memangnya kau ini katak, beruang, kelelawar dan sebagainya? Ada-ada saja. Hey, bajingan! Kalau kau terus begini dan tak berminat lagi pada your bunny, sweety mu itu. Biarkan aku yang mengejar Alda dan kujadikan dia istriku!"
Seketika Rich pun bereaksi mengangkat wajahnya penuh emosi.
"Bajingan tengik! Alda itu milikku. Kalau Cello mau kau ambil silakan! Aku malah tak keberatan?" Rich berapi-api mengecam Firheith. Padahal Firheith hanya bertujuan mengobarkan semangatnya yang kendor dan tak ingin melihat Rich sedih terus menerus. "Awas saja jika kau mendekati Alda. Langkahi dulu mayatku!"
"Eits! Slow down, Bastard! Aku hanya bercanda tapi kau sudah kebakaran brewok!“ sergah Firheith saat tangan Rich sudah mengawang akan meninjunya.
Perlahan-lahan, Rich mengatur nafas lalu menurunkan tinjunya. "Bercandamu kelewatan. Aku tak suka!"
"Kemarahanmu itu salah tempat, Bro. Harusnya kau lampiaskan pada si polisi itu, bukannya padaku. Oke Richard Louis, sekarang aku mau bicara serius—"
"Serius kalau Alda ternyata sudah menikah, lalu aku harus apa? Menikung suaminya dan merusak rumah tangganya supaya bercerai? Begitukah maksudmu. Tuan Fir?” pandangan Rich menatap lurus ke depan sambil menimang-nimang shooter glass yang tinggal separuh. Ia sudah menghabiskan dua botol, tetapi belum juga mabuk.
Firheith meringis lalu terdiam sejenak.
“Maksudku bukan begitu. Jika sebaliknya polisi itu bukan suaminya, apa kau tak menyesal?”
Rich terkesiap penuh lalu menghentak keras shooter glass di meja. “Astaga. Kenapa aku tak berpikir ke arah sana, Fir? Bodohnya aku.”
“Kau tak bodoh, cuma emosimu yang kau dulukan. Well, bagus juga kita kembali siang tadi ke resort dan seandainya siang itu kau menemui Alda langsung sambil meledak-ledak emosi. Apa tidak semakin membuat kesan pertamamu jelek di depan Tuan Morren?”
“Ya, kau benar. Tumben selalu cerdas!”
“Karena aku waras dan jika suatu hari nanti aku mencintai seseorang. Maka aku akan cepat mengambil langkah seribu, seperti saran yang kuberikan padamu kemarin. Bukan seperti kau yang suka menarik ulur hubungan!”
“Dasar brengsek! Bisa-bisanya kau sampai mengajak kawin lari anak orang dan mengataiku!” omel Rich.
Firheith tersenyum kecut, mengingat papanya di rumah. Ia merasa kasihan padanya yang selalu mengalah pada mamanya yang suka menang sendiri. Terlebih kilas balik hubungan mereka berdua, didasari sebuah kecelakaan yang membuahkan dirinya tanpa adanya cinta.
“Jika wanitanya mau dan mencintaiku. Aku akan mengajaknya kawin lari, meski keluarganya menentang. Jangan sampai kejadian yang menimpa papaku terulang lagi padaku, Rich. Tidak, aku tidak mau. Cukup papa yang mempunyai pengalaman buruk itu.” Firheith lalu menyesap rokoknya dalam-dalam dan mengepulkan asapnya ke udara.
Rich terusik satu hal dan tak segan menanyakannya langsung. “Memangnya hingga detik ini. Apakah Aunty Glady tidak mencintai Uncle Gabriel?”
“Cinta sih, meski terlambat dan apakah kau tahu?” tanya Firheith.
“Aku tak tahu karena kau belum memberitahu,” jawab Rich yang membuat Firheith mengumpat.
“**** it!” lalu Rich tertawa diikuti dirinya. “Lebih baik dicintai daripada mencintai? Atau lebih baiknya lagi, seperti kembaranmu itu. Nona Abelle dan Prof. Nick yang saling mencintai. Itu terlihat sangat indah …” Firheith tersenyum lepas sambil menopang dagunya dan berharap tertular kisah asmara yang seperti itu di kemudian hari.
Mengamati sekitar kolam renang dan hiruk pikuknya para gadis berjoget mengikuti hentakkan lagu disco yang dimainkan Disk Jockey. Berbaur dengan para pria mabuk, yang terlihat juga asyik bercumbu. Namun, matanya terbelalak ketika ia tak sengaja menangkap sosok yang diresahkan oleh Rich.
“Hey, bastard! Li-lihatlah … Di sebelah …” Firheith menelan ludahnya susah payah, begitu sulit hanya untuk sekadar mengatakan. Jika ia melihat keberadaan Alda di meja resepsionis.
“Apa sih? Kenapa denganmu? Seperti melihat hantu saja. Minumlah dulu.” Rich menyodorkan segelas wine pada Firheith yang langsung ditenggaknya habis. “Sekarang bicaralah pelan-pelan. Tarik nafas, hembuskan …”
Firheith mengikuti instruksi dari Rich dan setelah ia merasa tenang. Ia langsung menarik tangan Rich dan menyeretnya tanpa mengatakan sepatah kata. Hingga membuat Rich kebingungan.
“Eh, kok main tarik saja. Kita mau ke mana, Fir?” tanya Rich mendesak.
“Ah, sudahlah. Tidak usah banyak tanya dulu, Rich. Percayalah, pasti setelah kau bertemu dengan dia. Kau akan berbunga-bunga, berterbangan dan ingin menerjangnya ke ranjang?” Firheith memainkan alisnya sambil mengulum senyum dan Rich semakin tak keruan gelisah gara-gara itu.
Pasrah saja ke mana Firheith menggelandangnya pergi dengan jantungnya yang tiba-tiba berlompatan, saat ia pun tak tahu sebenarnya ada apa. Firheith langsung memutar kepala Rich yang tertunduk ke bawah, menghadap ke depan wajah seseorang yang dari tadi membuatnya gelisah.
"Ri—Rich?"
"Alda ..."
Rich menyebut namanya penuh kerinduan, sangat lembut dan manis. Banyak kalimat yang ingin Rich ungkapkan, banyak waktu yang terbuang ingin dihabiskannya bersama Alda detik ini. Sedangkan Alda yang terkejut melihat Rich ada di hadapannya sekarang, tubuhnya seketika membeku hingga tak dapat berkata apapun. Selain diam saling berpandangan lama dan hanya menyalurkan komunikasi lewat mata yang saling bertautan.