Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
56. Mimpi ataukah Nyata



Sejak Perpisahannya waktu itu di bandara dengan Alda. Rich dihantui rasa penyesalan. Kenapa dia tak mengejar Alda? Mengapa hanya sekadar mengucap perpisahan begitu saja tak sanggup dia lakukan? Dan masih banyak lagi yang ingin diungkapkan.


Rich memejamkan matanya di sofa. Bersandar letih, meletakkan punggung tangannya di atas kening yang agak hangat. Belakangan, ia kurang menjaga kesehatan dan makan tak teratur.


Selain sering murung, sikapnya pun cenderung lebih tertutup dari biasanya. Apalagi setelah mendengar kabar mengejutkan dari Cello, bahwa wanita itu tengah hamil. Otomatis berita itu mengguncangkan jiwanya dan berdampak besar pada Rich yang kurang bersemangat menjalankan apa pun.


"Positif. Garis dua!" dengan senyuman cerah, Cello menunjukkan test pack itu pada Rich yang tubuhnya seketika lemas.


"Ha-hamil? Benarkah?" tanya Rich dengan terbata-bata, diangguki oleh Cello yang segera menyerahkan surat dari dokter kandungan.


Rich menerima surat itu, membukanya dengan tangan gemetar. Begitu syok dan tak bisa berkata-kata saat matanya dibuat melebar, oleh keterangan bercetak tebal POSITIF.


"Cello, katakan kau hamil dengan siapa?" tanya Rich masih tak percaya, jika benihnya tersangkut di rahim Cello.


Cello nampak heran, memandang Rich yang pucat ketika itu. Kedua pipinya dicubit gemas. "Baby, kita memproduksinya berdua. Sering dan kau juga menikmati itu ..."


"Tapi aku selalu memakai pengaman," bantah Rich.


"Apa kau lupa? Jika pernah dua kali lupa pakai pengaman? Sekali waktu kau mengira aku wanita setan itu di jam dua dini hari dan kedua kali saat kau mabuk," terang Cello secara detail.


Mendengar itu semua, membuat Rich ingin lari dari masalah ini dan kabur sejauh mungkin.


"Oh God! Aku sudah melakukan kesalahan!" Rich menghempaskan bokongnya ke sofa sambil memijit kepalanya yang mendadak berat. Seperti tertimpa reruntuhan bangunan.


"Ka-kau menyesal Rich? Tak mengakui anak dalam perutku adalah benihmu?" wajah Cello mengguratkan kecewa, sambil terisak ia mengelus perut.


"Tentu saja iya. Sebenarnya aku hanya berniat bersenang-senang denganmu dan tak ingin menanam benihku padamu. Bukankah kau juga sama?" Rich membalik ucapan Cello yang justru semakin menyakiti hatinya.


"Kau jahat Rich!" maki Cello begitu marah. Entengnya pria itu berucap, membuatnya seolah tak bermartabat.


"Dari dulu aku memang begini adanya? Kau sendiri yang mengejar-ngejarku. Apa perlu diingatkan siapa yang memancing, membuka dan merayuku saat aku tidur? Itu kau! Kau yang berbuat. Kenapa aku yang harus bertanggung jawab? Kita melakukannya atas dasar kerelaan. Kau mau aku pun menerima," ucap Rich seolah tak punya salah.


Tangisan Cello semakin keras, meraung-raung. Memukuli dada Rich yang kemudian marah besar.


"Pergi kubilang dan jangan pernah tunjukkan batang hidungmu lagi! Itu bukan anakku!" bentaknya membuat Cello geram.


"Dasar brengsek! Ingat Rich! Aku tak akan tinggal diam! Kau harus menjadi milikku seutuhnya. Apalagi aku sudah hamil anakmu!!" teriak Cello sebelum pergi membawa kemarahan. Membanting pintu kamar Rich dengan keras dan merencanakan sesuatu yang tak terduga.


Aku ingin mati saja kalau begini atau kabur ke mana? Rich dibuat gila sementara waktu, lumayan stress menghadapi kenyataan pahit yang tak dia inginkan.


Tetapi di mana pun ia bersembunyi atau berlari ke ujung dunia sekali pun. Moreno Izakh akan tetap menemukannya dan memintanya untuk bertanggung jawab.


Apalagi kedua orang tuanya juga sudah tahu mengenai hal itu, karena Cello dan Izakh bergerak lebih cepat. Mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi agar Rich tak lari dari masalah ini. Mengingat Rich sudah dua kali menipunya dan pernah meninggalkan Cello.


Terpaksalah Cal dan Trecy menyetujui hubungan itu. Walau kedua orang tuanya terlihat kurang sreg jika Rich memilih Cello sebagai pendamping hidup.


Banyak pertimbangan, dari sisi lain yang menurutnya Cello kurang cocok dengan Rich. Sifatnya yang terlalu manja, terlihat lebih dominan mengekang Rich. Terutama Izakh adalah musuh bebuyutan Cal selama ini.


Namun, apa mau di kata. Nasi sudah menjadi basi. Rich harus bertanggung jawab atas perbuatannya dan sebagai kedua orang tua. Cal dan Trecy hanya mampu memberi restu jika Rich sudah memutuskan pilihan hidupnya.


...----------------...


"Hatsih! Hatsih!" Rich menggosok hidungnya hingga memerah, tubuhnya meriang karena kemarin malam dia kehujanan.


Bagaimana tidak?


Demi menuruti ngidam Cello yang ingin bermain hujan-hujanan di malam hari diiringi petir menggelegar. Rich terpaksa menemaninya kurang lebih tiga jam, walau tubuhnya kurang fit.


Akhirnya, gara-gara itu Rich pun tumbang. Hari ini, dia bahkan memutuskan pulang lebih awal ke apartemen-nya dan bekerja setengah hari. Tanpa melepas sepatu kulit juga pakaian formalnya. Rich terlelap di sofa yang membuatnya nyaman dan tertidur lebih cepat, setelah dua jam lalu meminum obat demam.


°°


°°


Perahu kecil baru saja menepi di pinggiran pantai. Dengan Richard terdampar di dalam perahu itu bergaya ala pantai.


Begitu seksi menampilkan otot tubuhnya yang di sejukkan angin.


Senyumnya melandai, jiwanya tentram. Kendati baru kali ini, ia mengenali tempat asing itu.


Tak jauh dari pasir yang ia pijak dengan bertelanjang kaki. Netra hijau zamrudnya melihat taman bunga indah di sebelah timur.


Bunga tulip semerbak harum mengguncang seluruh raga. Begitu rimbun menutupi taman bunga, sehingga taman-nya dominan berwarna-warni dari kejauhan. Menambah indahnya suasana pagi itu.


"Astaga, indah sekali?"


Richard berdecak kagum, kakinya menelusuri tiap kelokan taman bunga tulip. Satu ia petik, diciumnya dalam-dalam.


Tanpa sadar keelokan tulip-tulip itu, telah membuatnya lupa akan segalanya dan membawanya jauh dari tepian pantai. Tak lagi bisa mendengar deruan ombak seperti awal mula.


Namun, sayup-sayup tertangkap oleh telinga. Rich tiba-tiba mendengar suara indah dari seorang wanita yang tengah bernyanyi. A Thousand Years dari penyanyi aslinya— Christina Perri. 


Seketika hati Rich berdebar-debar. Richard pun tanpa sadar, kian mendekati suara itu. Suara wanita itu begitu merdu dan mirip dengan penyanyi aslinya. Bahkan menurut Rich, suara wanita asing itu, seakan memilki ciri khas dan mendapatkan feelnya tersendiri di setiap lirik yang dia nyanyikan.


Richard mencari-carinya tanpa lelah. Ke mana suara itu, kakinya pun mengikuti.


"Ya Tuhan, suaranya membuatku tenang. Aku tak pernah se damai ini? Bisakah aku menemuinya barang sejenak?" desisnya tersenyum lebar. Entah mengapa Rich sangat ingin bertemu dan tak sabar.


Kakinya yang tak beralas terus berlari dan terus mengejar suara merdu itu yang semakin jelas. Seolah suara dari wanita itu menarik dirinya untuk agar segera mendekat.


Apalagi saat penekanan lirik kalimat.


Darling don't be afraid I haved loved you for a thousand years. 


Gelenyar listrik seolah menyengat seluruh tubuhnya. Mengejutkan dada yang menyebar ke aliran darah, tepat ke jantungnya menjadi debaran yang teramat kencang.


Srakk!


Crash!


Kening Richard mengernyit, saat telapak kakinya menginjak sesuatu. Dilihatnya benda tersebut adalah sebuah ranting kayu tajam, yang menusuk telapak kakinya hingga mencuatkan noda.


Ya, itu darah segar yang mengalir begitu deras.


Namun, aneh! Rasa sakitnya bahkan tak seberapa, mengalahkan penasarannya yang menguat pada sesosok punggung seorang wanita, yang menyanyikan lagu A Thousand Years. 


Wanita itu berdiri memunggunginya, dengan bergaun putih terbuka bagian bahu dan menjuntai bawahannya hingga ke bawah rerumputan. Topi anyaman bundar yang lebar, seketika mengingatkan Rich akan bayang-bayang masa lalu.



Harum semerbak tulip dan bunga lain menyeruak, dipadu khas rambut kecoklatan nya yang tergerai angin sepoi-sepoi. Membuat Rich seakan diterbangkan. Kulit wanita itu tampak putih mulus terbias mentari, terlihat dari lehernya yang jenjang membuat Rich ingin menyentuh meski tertutup lebarnya topi.


Dan tanpa berhenti menyanyikan lagu. Jemari lentik wanita itu, memegangi deretan tulip berwarna merah muda yang telah dipetiknya memenuhi keranjang yang berada di sepanjang taman yang bergradiasi warna. Karena dipenuhi bunga yang berasal dari Turki Ottoman itu.


Richard tersenyum dan berjalan mengendap, mendekati wanita tersebut yang tak menyadari keberadaannya sama sekali.


Semakin dekat jaraknya, jantung Rich juga semakin berderap-derap. Perlahan jemari besarnya menyentuh bahu polos wanita itu begitu lembut.


"Hai ..."


Nyanyian wanita itu seketika terhenti dan wajahnya pun menoleh ke arah Rich.


Bersambung ...