Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
17. Hampir Saja



Richard akan bicara, tetapi suaranya terhambat dering ringtone dari ponsel Alda. Tak lama memperhatikan gelagat wanita itu setelah mengangkat telepon, bibirnya melukiskan senyum. 


“Apa? Mereka marah-marah? Oh, tidak!” Alda terkejut melebarkan mata.


Wanita itu tampak gelisah dan menarik nafas dalam-dalam sambil sebelah tangannya memijat kening. Richard bergaya santai menyandarkan punggungnya ke badan pohon, masih setia menunggu hingga telepon Alda selesai. 


“Bagaimana?” tanya Richard melirik Alda. 


Alda terdiam dengan bibir mengerucut. Sekalian saja Richard jual mahal. 


"Teo, kita berangkat sekarang!" suruh Richard. 


"Siap Bos tampan,” sahut Teo lalu keluar dari mobil dan membukakan pintu untuknya. 


Alda semakin merana setelah itu, melihat Richard malah meninggalkannya pergi tanpa menawarkan tumpangan lagi. 


Gengsi dong, harus mengiyakan secara to the point. Mau ditaruh di mana muka Alda? 


Tangan dan gerakan bibir Alda ingin mengatakan sesuatu padanya, diperhatikan Richard dari pantulan kaca mobilnya yang mengkilat. Sengaja jalannya diperlambat, memberi kesempatan pada Alda. Tanpa ia harus susah payah menawarinya lagi. 


Bagaimanapun, sesekali wanita itu harus diberikan sedikit pelajaran. Supaya tak meremehkannya. 


Un… 


Deux… 


Trois… 


"Um, Rich!" Alda memanggil ragu sambil menggigit bibir. 


Yes, Richard tepat memasang umpannya. Pria ini menoleh seakan tak butuh dan memasang wajah polos. 


"Kau memanggilku?"


Alda menganggukkan kepala, menyeret kakinya terlampau berat menghampiri Richard yang tetap di posisinya berdiri.


"Ee, eee …" Alda memilin jari dengan gugup, bingung harus mengawalinya dari mana. Katakanlah gengsinya ini sebesar gunung. 


"Kau mau ke toilet?" tanya Richard. 


Alda menggeleng cepat dengan wajahnya yang sedikit menunduk itu. 


"Ban mobilku tidak kempes," Richard sedikit membungkuk memeriksa ban itu kendati sebagai pengalihan dramanya, lalu mengeluarkan tawanya perlahan sambil menutup mulut. Sementara Alda blingsatan di tempatnya. Rasakan! 


"Rich?"


"Ya …" dilogatkan Richard agak menye-menye ala wanita. 


Huh? 


Alda membuang nafas jengkelnya ke udara. 


‘Kenapa susah sekali mengatakan ingin menumpang saja?’ batin Alda kalang kabut. 


Richard menegakkan badan, tangannya dikibaskan dan menarik pergelangan tangannya yang terdapat arloji. "Waduh! Aku sudah terlambat meeting. Teo, kita berangkat sekarang!" ucapnya meyakinkan. 


"Baik, Bos Richard."


Richard melewati Alda begitu saja, masuk ke dalam bangku kedua di belakang sopir. Sementara Teo akan menutup pintu, ketika itu pula secepat kilat Alda menyerobot masuk ke dalamnya dan duduk di sebelah Richard. 


Blakk! 


Teo menutup mobil, beriringan Richard seolah terkejut melihat keberadaan Alda. 


"Astaga, Al. Kukira siapa yang duduk di sebelahku?" Richard mengusap-usap dada, menoleh ke Alda yang juga sedang menatapnya dengan ekspresi menahan malu. 


"Ya … Aku setuju menerima tawaranmu menumpang," ucap Alda susah payah. 


"Lalu?" sengaja Richard mengulur kata. 


"Bisakah t-tolong a-antarkan, um…” Alda berdecak sulit mengatakannya. 


Sementara Richard sabar menunggu rangkaian ucapan Alda selesai dengan menahan tawa. 


"Katakan pelan-pelan, honey …" Richard memberi instruksi lalu mengambil botol air di sela pintu mobil dan memberikannya pada Alda. "Minumlah?"


"No, thanks." Alda menggeleng, meski sebenarnya ia haus tapi sengaja ditahan. Lantaran takut jika botol air itu, sudah di jampi-jampi oleh Richard atau mungkin diisi sesuatu. 


Ya, Alda harus waspada jika berada di dekat makhluk berbahaya ini. Richard itu licik dan licin seperti belut. 


"Oh, ya sudah." Richard mengembalikan botol itu lagi dengan santai. 


Duduk menghadap lurus ke depan menyilang kaki. Sambil berselancar di dunia maya dengan ponselnya. 


Waktu terus bergulir, mobil telah separuh perjalanan membelah Kinshasa. Tapi sejauh itu pula Alda diam gelisah, tak mengatakan tujuannya kemana dan hal itu sengaja dibiarkan Richard. 


Diliriknya diam-diam memperhatikan wanita itu. Ternyata Richard tak serius bermain ponsel, hanya dijadikan saja sebagai alasan. 


"Alda?" akhirnya Richard lah yang tak kuat mendiamkannya lama-lama.


"Ya."


"Kalau boleh tahu kau mau ke mana? Tujuanku sebentar lagi akan sampai, well. Otomatis aku tak bisa mengantarmu ke tujuanmu, jika kau sendiri tak mau bercerita," putus Richard. 


"Sebenarnya … Aku mau ke Firebase agency. Tetapi mobilku tadi tiba-tiba ban-nya kempes, jadi aku terpaksa naik bus." Alda menceritakan itu sambil melihat keluar jalanan. 


"Wow! Suatu kebetulan yang tak disangka-sangka. Ternyata tujuan kita sama!" sambar Richard langsung menolehkan Alda ke arahnya. 


"Really?"


Alda mengernyitkan kening dengan kepala miring, lantaran curiga. Tapi langsung dibalas Richard dengan mengedipkan sebelah mata. 


Seolah ditransfer aliran listrik bertegangan tinggi, tekanannya menyetrum dahsyat ke tubuhnya lantas berjengit. 


Goddamn


Alda mengerjap sadar, menelan salivanya susah payah ketika salah fokus memperhatikan bibir Richard. 


"Buat apa aku bohong, bunny."


"Kau tak hanya sekadar mencocok-cocokkan saja tujuan kita, kan? Supaya aku terkesan padamu begitu?" tuduh Alda tak percaya, karena Richard ini rajanya gombal plus tukang tipu. 


Tentu saja Richard menepis tuduhan itu. Kali ini tidak ada motif apapun, dia berkata jujur.


"Oh! My God, Alda," kata Richard yang lelah kemudian menepuk kening. "Terserahlah jika kau tak percaya, memang aku ini selalu buruk di matamu. Jujur salah, berniat baik pun tak pernah kau anggap." 


Richard mengasihani dirinya sendiri. Hingga keduanya terdiam lagi cukup lama. Senyap, hening situasinya begini seperti di kuburan dan Richard pun tak tahan lagi. 


Terpaksa mengawali kesunyian ini. Repot memang berurusan dengan yang namanya makhluk Tuhan satu ini. 


Di mana-mana wanita itu mau menangnya sendiri. Seperti saat menyalakan lampu sen kendaraannya.


Lampu sen ke kanan, malah beloknya ke kiri. Jika diperingatkan marah-marah dan tak mau kalah. Tak lebih kurang Alda juga demikian. 


Haduh, Richard menggeleng lalu menarik nafas sebelum bicara. 


"Bunny, honey, sweety. Kau sariawan, ya?" 


"A-apa kau bilang?" Alda menggetarkan bibir di tanya begitu. "Bibirku baik-baik saja."


Richard tersenyum, "oh, aku kira sariawan. Jika iya, aku punya obatnya."


Alda merasakan gelagat tak beres. 


"Jangan macam-macam kau, Rich!" kecam Alda langsung melindungi bibirnya dengan telapak tangan dari mata jahat Richard.


"Tenang saja, Al. Aku tak akan menciummu, kok." 


Santainya Richard bicara, Alda sampai keheranan mengapa pria itu bisa membaca isi pikirannya. Kini Alda menarik nafas lega. 


"Rich, aku sedang tak ingin berdebat denganmu. Tolong untuk kali ini … saja, please?" pinta Alda. 


"Siapa yang mau berdebat? Aku bicara baik-baik, tetapi kau terus begitu Alda. Fine, apa maumu? Tak mau dipanggil honey, oke. Lalu maunya dipanggil apa?"


"Cukup Alda saja, jangan pernah mengganti nama pemberian dari orang tuaku." Alda menekan suaranya tinggi di setiap kata yang diucapkan. 


Richard mengangguk paham. Kalau sudah menyangkut orang tua. 


Eh! Maksudnya calon mertua. Terpaksalah dia harus mengalah. 


"Janji tidak memanggilku begitu lagi? Rasanya aneh," balas Alda tak suka. 


Richard menatapnya dengan gayanya yang santai itu. "Bukan makanan, kenapa harus dirasa? Honey itu berarti madu. Kalau bunny sejenis marmut atau beruang. Seperti kau yang mood nya berubah-ubah. Jika kau sedang sweet maka kau mirip marmut, tapi jika kau galak. Ya … kau tidak ada ubahnya dengan beruang?" Richard mengulum senyum setelah berkata itu. 


Alda memutar bola matanya malas sambil melipat tangan. Tapi kemudian marah-marah dan memukul-mukul Richard. 


"Rich …!" teriak Alda keras-keras. 


Suaranya yang menggema ke seisi mobil. Membuat telinga Teo sampai pengang, kemudian segera ditutup dengan sebelahnya tangannya lagi sembari menyetir. Sementara bosnya itu dan teman wanitanya, masih sibuk bertengkar. 


Hubungan macam apa itu? 


Alda geram, nafasnya memburu menatap Richard penuh kemarahan."Kau mengibaratkan aku sebagai beruang, hah?!"


"Eh, eh!" cegah Richard saat tangan Alda akan menjambak rambutnya. 


Kedua tangan Alda dengan cepat ditahan Richard. Tidak bisa lagi menyerang. Bahkan gara-gara Alda sendiri yang melakukan perlawanan, membuat dirinya jatuh tepat ke atas tubuh Richard. 


"Aaahhh!" jeritan Alda yang mengencang berhenti seketika. 


Saat kedua bola matanya bertautan lekat dengan manik hijau zamrud milik Richard. Debaran jantungnya dirasakan sama. 


Alda bisa mendengar detak jantung Richard di dadanya yang berpacu cepat. Begitupun Richard terus menelan salivanya. Merasakan kelembutan jelly dan empuknya marshmallow kini. 


Glek, glek!


Oh, tidak. Ular lain juga mendadak sinkron, ingin keluar dari sarangnya. Tahu saja di mana sarang baru yang lebih koheren. 


Tatapan saling mengunci. Beradu nafas dan terpaku di posisi itu lumayan lama. Sudah tentu membuat Richard kepanasan, apalagi Alda sedikitpun tak mau bangun. 


Apa dia tidak sengaja atau memang sengaja menggodanya? 


"Bunny."


Satu panggilan Richard tidak mendapat respon. 


Tuhan … 


Richard tak kuat jika begini. Sekalian saja, dia mencium bibir wanita itu yang menggemaskan. 


Dag, dig, dug. 


Jantung Richard semakin tak kondusif. Perlahan ia bersiap memejamkan kelopak matanya. Dengan bibir bergerak maju ke permukaan bibir Alda. 


Alda pun diam saja, bodohnya lagi-lagi terhipnotis akan pesona playboy itu. Ikut memejamkan matanya, bersiap menerima ciuman dari Richard. 


Perlahan-lahan akan menyatu kedua bibir itu dan tepat di permukaannya. Suara Teo tiba-tiba menginterupsi. 


"Bos, kita sudah tiba di tujuan. Bos?" beritahu Teo sambil menoleh ke bangku Richard dan Alda dengan mata terbelalak lebar. "K-kalian?" terkejutnya melihat keduanya saling tindih.


Seketika Richard dan Alda gelagapan, bangun dari posisinya lalu mencari alasannya masing-masing. Alda duduk membelakangi Richard sambil membenahi rambutnya yang berantakan. Richard pura-pura membenahi dasinya yang mengendur.


"Dasar mengganggu saja!" gumam Richard memelototi Teo yang seketika berbalik badan dengan takut-takut kena semprot setelah ini. 


Sementara Alda terburu-buru keluar dari mobil tanpa menunggu Richard hingga melupakan sesuatu. Richard melihat tas Alda ketinggalan, lantas ia memanggilnya. 


"Alda, tasmu!"


Wanita itu menoleh dan berhenti, kendati ia masih gugup. Richard keluar dari mobilnya lalu menghampiri Alda, menyerahkan tas itu. 


"T-terima kasih," jawab Alda terbata-bata, sambil menundukkan wajah karena malu atas kejadian tadi. 


Richard tersenyum lalu mencondongkan tubuhnya ke sisi Alda dan membisikkan sesuatu. "Tidak ada yang gratis di dunia ini, bunny."