Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
84. Dunia Hanya Milik Berdua



The Queen Boutique Luxury yang berada di Kuta, Bali. Sengaja dipilih Trecy untuk memesan pakaian pernikahan untuk sang menantu dan putranya di hari itu. Karena Trecy mendapat rekomendasi butik ini dari designer langganannya di Kongo selain koleksi gaun pengantin dan jas nya yang berkualitas.


"Kau pilih gaun yang model mana bunny?" dari awal menjemput Alda di rumahnya hingga di butik, Rich terus menempel pada Alda seakan tak terpisahkan.


"Boo, menjauhlah sedikit. Tak enak dilihat mommy." Alda agak menggeser tangan Rich yang selalu memeluk pinggangnya sangat rapat.


Trecy yang menemui mereka akan menunjukkan rancangan gaun di album foto pun, berdecak sambil geleng-geleng melihat tingkah putranya yang agresif.


"Ehm, Rich ..." panggilnya disertai deheman keras.


Sehingga Rich dan Alda seketika gelagapan, Rich refleks melepas pelukannya di tubuh Alda. Sedangkan Alda pura-pura membenahi rambutnya karena gugup.


"Eh, ada mommy. Di mana Noah?" tanya Rich mengalihkan perhatian.


"Ada bersama Abelle, Hazel dan Lord."


"Kalau begitu, aku permisi mau coba kebaya yang di manekin itu ya, Mom." Alda pamit sekalian sengaja menghindari Rich.


"Ya, Sayang." Trecy tersenyum sambil menyerahkan album foto. "Bawalah album berisi contoh rancangan design ini dan pilih yang kau suka. Tidak usah tanyakan harga, kalau kau suka ambil saja."


Alda tahu Mommy mertuanya ini sangat baik dan keluarga Louis sangat kaya raya. Ia tak bisa menolak, karena hanya akan menyinggung mereka. Maka dari itu, demi menyeimbangi mereka dan menjaga nama baiknya. Alda pun tak membantah keinginan mertuanya itu.


"Terima kasih banyak, Mommy.” Alda pun pergi sambil melirik Rich yang keberatan ditinggal.


Rich akan mengejar Alda. Namun, tangannya seketika ditarik oleh Trecy.


"Hmm. Mau ke mana? Di sini saja bersama Mommy atau kau ... Aku ikat di hotel dan tak boleh bertemu Alda sama sekali!" ancamnya langsung membuat Rich mendengus kesal.


"Mom."


"Apa?! Jaga sikapmu, Rich. Jangan terburu-buru! Pernikahanmu hanya kurang seminggu saja kau sudah tak sabaran. Ingat! Jangan terlalu agresif, walaupun Mommy tahu kau kebelet nikah. Tapi kalau kau mengganggunya terus. Kapan selesainya fitting gaun pengantin ini? Sore nanti kau dan Alda 'kan harus prewedding juga." Trecy memperingatkan.


Wajah Rich seketika berubah masam. Tapi semua perkataan mommy—nya itu benar dan lagi pula percuma untuk saat ini. Ia tak akan pernah berhasil mendekati Alda. Karena Mommy-nya sudah seperti pengawas yang menghalanginya terus menerus.


"Siap mommy ku yang cantik dan seksi. Apakah mommy tak rindu Daddy?"


Mata Trecy memicing. "Tak usah merayu dan mengalihkan topik. Itu tidak mempan. Mommy sudah hafal kelakuanmu."


Rich nyengir kuda. Sementara di tempat duduknya sana, Alda bersebelahan dengan Abelle pun menertawainya.


Awas kau, Bunny! Rich punya seribu cara!


Trecy menjewer telinga putranya. "Ayo ikut bantu mommy mengurus pesanan catering untuk resepsi pernikahan kalian! Daddy mu, Efrain dan Nick sedang sibuk mengurus sewa hotel untuk menginap keluarga kita, gereja, resepsi outdoor mu dan yang lain. Biar masalah gaun Alda, jasmu dan Noah, diurus oleh Abelle."


Dengan sangat berat langkah, Rich mengiyakan. "Pilihan Abelle tak terlalu buruk. Okelah kalau begitu Mom."


...***...


Tengah hari semuanya pun beres. Berpisah dari butik untuk tujuan masing-masing. Trecy, Noah dan Abelle beserta kedua anaknya itu, diantarkan oleh sopir untuk kembali ke hotel. Sebab Trecy ingin menghabiskan banyak waktunya bersama Noah, setelah lama terpisah.


Berbeda jurusan dengan Rich dan Alda yang diantarkan Chandra langsung, menuju lokasi prewedding yang berada di hutan Mangrove yang terletak di Denpasar.


"Dari kemarin malam, Mutia kok tak bisa dihubungi ya, Boo? Padahal aku tadinya ingin mengajaknya sekalian ke butik," kata Alda di sela perjalanan.


"Firheith pun sama. Ponselnya non aktif, jangan-jangan ..." Rich mengusap kumisnya yang tumbuh.


Alda menatapnya seksama. "Jangan-jangan apa?" yang ternyata kesempatan itu, digunakan oleh Rich untuk memeluknya lebih erat. "Boo ada Pak Chandra!" protesnya sungkan pada Chandra di depan. Tapi Rich tak mempedulikannya.


"Pak Chandra tak akan mengurusi kita, tenang saja. Soal Firheith, mungkin dia sedang nina ninu dengan wanita sewaan di hotel. Biasalah ... Player wanita dia!"


Mata Alda memutar malas sambil membuang napas kesal. Dia tahu, jika Rich pun sama bejatnya dengan Firheith. Tapi firasatnya menusuk kuat, takut jika Mutia akan diapa-apakan oleh pria itu, mengingat kejadian di pesawat tempo lalu.


"Sedang berpikir apa my sweety, Bunny?" tanya Rich yang tanpa absen, menciumi punggung tangan Alda.


"I don't know." Alda mengedikkan dagu, tak ingin mengatakan feelingnya itu pada Rich yang dipikirnya pasti akan membela Firheith.


"Harum sekali parfummu my sweety, aku jadi lengket terus. Bagaimana ini?" Rich tengah melancarkan rayuan maut.


Astaga. Si budak cinta ini, selalu saja membuat Alda sesak napas dengan tingkahnya yang macam-macam.


"Parfum itu pasti hanya alasanmu saja, Boo. Kau ini cinta sekali padaku, ya?"


"Ooh ... Jangan ditanyakan lagi. Aku sangat mencintaimu dan seluruh yang ada pada dirimu, termasuk ini." Rich tersenyum nakal memegang ke-wa-nitaan Alda yang membuat mata wanita itu terbelalak. "Termasuk ini."


"Auw!" pekik Alda refleks, melepaskan tangan Rich dari sana.


Mengail atensi Chandra mengira ada sesuatu lantas bertanya cemas, "Ada apa Mbak?"


Wajah Alda yang gugup memerah, plus melirik Rich dengan tajam.


"Ada kecoa nakal, Pak Chandra. Kecoa nya besar dan suka jahil!" kesal Alda membuat kini Chandra tahu siapa yang disebut kecoa itu.


"Pak Chandra kalau mau tertawa. Tertawa saja, tidak usah ditahan. Nanti malah buang angin lagi?" Rich melipat tangan sambil berdecak, jengkel dikatakan oleh Alda sebagai kecoa.


"Iya, Sir." Chandra menyahut dengan kekehannya yang merembet keluar.


...----------------...


"Sir, Mbak Alda. Kita sudah sampai di tujuan." Chandra memberitahu.


Rich menempelkan jari di bibirnya ketika Chandra meliriknya dari balik kaca spion.


"Pak, tolong bukakan pintunya. Biar Alda saya gendong. Kasihan mungkin dia lelah jadi ketiduran. "


"Oh! Baik-baik, Sir."


Chandra membukakan pintu, Rich keluar dengan menggendong Alda hingga ke tempat Photo Shoot Prewedding akan dilakukan. Di mana beberapa kru Photographer dan MUA telah bersiap menunggunya sedari tadi.


"Kapan di mulainya, Mister?" tanya seorang MUA pelan, karena Rich tak mau Alda terbangun.


"Tunggu sepuluh menit lagi, biarkan calon istriku istirahat sebentar. Kasihan dia kelelahan setelah fitting gaun pengantin sedari pagi di butik," jawab Rich.


Ternyata Alda terbangun karena mendengar suara Rich barusan. Lalu Rich pun menyuruh MUA itu pergi. Karena Rich menginginkan bahwa hanya dia seorang lah, yang dilihat Alda. Jika pertama kalinya terbangun dan membuka mata.


"Um, Boo. Kenapa tak membangunkan aku kalau sudah sampai? Maaf, aku ketiduran." Alda menyesal sambil mengucek matanya.


"Tidurlah lagi jika masih mengantuk."


Alda tersenyum menatap Rich yang sangat tampan dan seksi itu dengan kumis tipisnya. Entahlah, semenjak kapan hatinya terpaut pada pria bule itu yang selalu membuat darahnya mengalir deras jika berdekatan. Alda benar-benar beruntung memilikinya, walau Rich mesum dan agresif. Tapi soal perhatian, dialah juaranya.


"Kalau aku tidur, kita tak jadi photo shoot prewedding, dong?" Alda tertawa gemas.


Dan tanpa aba-aba, Rich mencium bibirnya sekilas, hingga ia membulatkan matanya dengan sempurna karena terkejut. Saat diliriknya para kru dan MUA itu, langsung membuang muka semuanya sambil menahan senyum. Sehingga Alda terpaksa refleks menggigit bibir Rich, supaya ciumannya terlepas.


"Aargh!" Rich mengusap bibirnya yang sedikit berdarah.


"Maaf, Boo. Sakit tidak?" sesal Alda yang mengamati luka di bibir Rich.


Rich menghembuskan napas berat, tak bisa marah pada Alda. "Tidak, tapi kau nanti harus bertanggung jawab."


"Dengan apa aku harus tanggung jawab?" kening Alda mengernyit.


"Menciumku duluan!" paksanya.


"Ta—" Alda baru akan membuka suara, tapi Rich menyela cepat.


"Tak ada penolakan atau ..." Rich memindai seluruh tubuh Alda seperti tatapan pria mesum.


Alda menelan ludahnya susah payah, seketika bangun dari pangkuan Rich dan berjalan terbirit-birit ke arah MUA untuk minta dirias. Sementara Rich menyusulnya setelah berganti jas, dan duduk tak jauh dari Alda sambil melempar senyum.


**


**


"Roll camera action!"


Blitz!


Blitz!


Sejumlah photo diambil photographer dari pasangan bahagia itu, dengan berbagai gaya dan dari beberapa sudut hutan mangrove.


"Take photo selanjutnya, Mr. Rich berhadapan dengan Mbak Alda lalu menyatukan kening." Photographer mengarahkan gaya.


Rich dan Alda melakukan itu atas arahannya yang membuat Photographer tersenyum.


"Seperti ini?" tanya Rich yang memeluk pinggang Alda, sedangkan Alda mengalungkan kedua tangannya di leher Rich dengan saling mengaitkan mata yang begitu dalam.


"Perfect!"


Cekrek!


"Terakhir, pose berciuman?" kata photographer yang tak perlu mengarahkan lagi, hanya menyebutkan gayanya saja. Karena photo mereka berdua dari tadi, tak ada yang gagal dan tak perlu men take ulang, padahal Rich mengharapkan itu.


Rich tersenyum penuh kelicikan. "Kalau itu serahkan semuanya padaku, aku ahlinya."


Alda yang malu karena dilihat orang banyak. Namun, berkat tuntunan Rich. Alda yang semula kaku dan tegang, lama kelamaan menikmati ciumannya.


Blitz!


Cekrek!


"Sudah selesai Mister, Mbak. Photonyaaah ..." Photographer saling lirik melongo dengan krunya, sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal.


Perkataannya tak didengar, Rich dan Alda malah terlalu menikmati ciuman itu. Terlebih momennya yang pas. Dengan nuansa berdiri di atas jembatan kayu di dekat bibir pantai yang dikelilingi pepohonan rindang itu, membuat dunianya serasa milik mereka berdua.



Photo Prewedding Rich❤ Alda


Bersambung ...