Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
30. Mempertaruhkan Nyawa



Ckrrekkk!


Pria yang menodongkan senjata pada Rich pun berjengit, mendengar bunyi pelatuk ditekan keras dari belakangnya persis. Satu senjata lawan dua senjata api menodong di kulit kepalanya.


"Oh! Well, tikus mau lawan buaya." Rich menyindir tajam.


Pria itu berseringai tidak terima. "Kau belum tahu sudah berurusan dengan siapa?"


"Memangnya siapa kau? Aku tak peduli, bahkan kau anak raja iblis sekalipun?" Rich bertanya sembari mendekat, jiwa Louis tidak akan gentar. Bagi siapapun yang mengusik, mereka jarang memberi ampunan. Karena hanya kematian lah yang pantas di peroleh.


"Aku bagian..."


Rich menyela dengan cepat dan menambahkannya lagi. "Sekalipun kau anggota gangster, mafia atau organisasi apa saja. Aku tidak peduli dan tak akan pernah takut. Camkan itu banci!"


Satu kedipan mata Rich, mengisyaratkan dua anak buahnya. Peluru langsung memberondong isi kepala pria itu.


DEZIING!


Pria tersebut jatuh terkapar bersimbah darah. Tapi nyatanya, pesta senjata belumlah terakhir. Letusan peluru bagaikan kembang api di tahun baru, saling menyusul setelahnya.


"Bersiap!"


Satu komando dari Rich. Membuat ia yang awalnya seolah hanya sendiri, ternyata hanya tipuan.


Para anak buahnya yang tidak kasat mata, kini perlahan muncul bagai segerombolan nyamuk. Jarumnya menyisap darah lewat pistol, menembakkan timah panas ke tubuh musuh.


Baku tembak sulit terelakkan. Pengunjung murni di bar ketakutan, jejeritan membahana di tiap sudut mini bar.


“Run, run! Come on!”


Seorang pengunjung  berteriak. “Aaargh!”


Nahas, ia meregang nyawa terkena sasaran tembak musuh. Tangisan sayup pun berbaur suasana mencekam.


Barkeep yang melihat tiap orang menangis ketakutan dengan berjongkok. Menyerunya pelan, “come to me!” supaya ikut bersembunyi di kolong meja mencari  aman.


Alda masih tetap dipanggulnya, tangan Rich memegang kaki wanita itu. Berada di balik sekat gerbong, kepalanya sajalah yang bercokol keluar.  Mengeluarkan senjata berjenis double-action S&W model 29 dari dalam jas dark grey. Salah satu revolver terkuat di dunia yang biasa digunakan kepolisian Negara Washington - AS.


Keahlian Rich menembak sasaran tidak perlu di ragukan. Dengan hanya satu tangan, revolver berselancar indah, mengeluarkan isinya ke tubuh musuh.


Dua penyerangnya mati. Erangan menggema ke segala penjuru mini bar. Terlihat dari sisi belakang pria berbaju lapis ala prajurit, bertopi flat cap. Mengenakan celana cut bray, datang mengendap. Sedang mengerahkan senjatanya pada Rich.


Bola mata Firheith melebar, bisikan dari bibirnya lirih. “Sir, awas. Di belakangmu!”


Namun, sayangnya Rich tidak mendengar. Pria itu fokus membidik peluru ke lawan yang terus menyerang dari depan.


Firheith berdecak, tetesan  bulir keringatnya yang mengalir deras. Karena takut sang Bos celaka, membuat perih di mata. Tangannya sekali mengusap, pemandangan lain terjadi. Rich yang disangkanya akan berakhir tamat, malah musuh tadi sudah tergeletak dengan serangkaian peluru di perut.


“Yes, buddy. Kau memang luar biasa.” Firheith tersenyum pelan.


Detik itu, Rich memang fokus ke depan. Tapi jangan salah, walau begitu. Ia dapat melihat pantulan pria bertopi flat cap dari dinding gerbong yang berbahan baja tersebut.


Alih alih tidak tahu dan lengah, kesempatan palsu diberikan oleh Rich menjaring musuh. Dengan sombongnya pria tadi merasa akan menang telak. Ia pun menekan pelatuknya.


“Peek a boo.”


Bagai angin berhembus, dengan gesit Rich merunduk ke bawah kursi penumpang . Berjongkok tepat di hitungan pas, saat peluru nyaris akan menembus punggungnya.


KLAANG.


Peluru itu meleset. “Sialan, brengsek. Malah kena dinding gerbong kereta!” umpatnya marah.


Waktu sempit digunakan Rich, menggeser kakinya. Sembari mengintip dari posisinya berjongkok, ganti tangan kirinya memegang revolver. Ia membidik kaki pria itu.


“Aaarrhh!” Pria itu memekik keras sebelum tubuhnya ambruk. Rich bangkit dari persembunyian, menghadiahkan-nya lagi beberapa tembakan di inti tubuhnya.


“Merry christmas and happy new year, buddy!” ucap Rich sembari menendang kaki jasad pria itu yang sudah tidak bernyawa.


Berbalik badan, menengadahkan wajahnya ke atap kereta. Menghirup aroma darah yang kental, ia tersenyum smirk.


Menatap mayat bergelimpangan di sekitar mini bar. Ia berjalan lurus menuju Firheith yang sedang membuka kerah salah satu musuh mereka. Tato black skull menandai persis di punuk mayat itu.


“Kita sudah berurusan dengan salah satu gangster berbahaya Black Shadow, Sir.” Firheith menoleh pada Rich yang berekspresi datar.


Black shadow merupakan kartel n*rk*b* tertua dan paling aktiv hingga kini. Gangster yang terkenal kejam dan tidak segan menghabisi nyawa musuh. Menerornya dengan memberi hukuman memenggal kepala.


“Hmm, I see.”


“Berikan mereka pada Bruno! Dia pasti senang.” Rich menyeringai.


“Siap, Sir.” Jawab Firheith sambil tersenyum miring.


Kemudian sekilas pandangannya, tidak sengaja melihat wajah Alda yang begitu cantik. Walau dalam keadaan tertidur.


Di tambah angin yang datangnya dari celah jendela kereta, menyibak rambutnya hingga membuat wajah Alda tampak shiny.


“Apa dia yang pernah kau ceritakan dulu?” tanya Firheith.


“Bukan!” tepis Rich tak ingin mengakui hal itu, kendati rasa sakit di hatinya pada Alda masihlah membekas.


“Kekasih?” tebak Firheith lagi.


“Diam berisik!” sentak Rich mengelak.


Firheith tertawa pelan, hanya ia yang berani menggodanya terang-terangan. Karena selain pria itu menjadi orang kepercayaannya, Firheith juga adalah sahabatnya.


Doorrrr!


“Rich...” Pekik Firheith melihat kaki sahabat sekaligus bosnya itu tertembak. Dadanya mendadak panas dan ia pun tak terima.


Sialan yang terbujur kaku di tengah kursi penumpang, dikiranya mati. Ternyata masih bernafas. Firheith langsung mengeluarkan revolver dari balik punggung dan mengarahkannya pada pecundang itu.


“Matilah kau ke alam baka, bertemu Raja Lychan. Pecundang!” Firheith menembakinya beruntun hingga pelurunya habis, sebagai pembalasan dendam telah melukai Rich.


"Beres!" kata Firheith tersenyum puas dan menyimpan lagi senjatanya.


Firheith lalu menyongsong Rich yang berjalan sempoyongan itu. Bermaksud menggantikannya untuk menggendong Alda. Tapi sepertinya niat baiknya tak diterima.


“Tenang, aku tidak apa-apa. Hanya terkena mercon.”


Firheith ingin memukul kepala Rich dengan balok kayu supaya dia sadar. “Matamu itu mercon, Rich. Itu peluru konyol!” kadang di saat mereka hanya berdua, ceplas-ceplos kasar Firheith kerap tidak berfilter. “Kakimu nanti bengkak dan infeksi?”


“Itu sudah jadi tugasmu untuk mengobatiku, keparat.” Rich menatap Firheith dengan tajam.


Lantas berjalan terseok-seok menuju kamarnya, diikuti Firheith dari belakang. Sementara mayat-mayat Black shadow, diurus oleh anak buahnya yang lain.


***


“Nggh!”


Geliatan manja itu terdengar, bagai sebuah tarikan magnet untuk para lelaki. Menindihnya ke atas ranjang dengan sentuhan panas yang menggelora.


Alda terbangun sembari mengucek netranya, terlonjak kaget mengetahui jika ia sudah pindah lokasi hanya waktu semalam saja.


“Kamar s-siapa ini?” bibirnya gemetar, nafasnya pun mengeja langsung memeriksa bawah selimutnya. “Huh, aman.”


Tapi bola matanya terbeliak lebih lebar kali ini, mendapati sosok pria yang menjadi musuh bebuyutannya.


“Rich, bangun!” sentak Alda, menarik kasar selimutnya hingga pria yang tidur di sofa itu, terpaksa membuka mata.


Hanya sebentar menatap wajah cemberut itu. Lalu ia menarik selimutnya kembali dengan posisi tubuh miring untuk melanjutkan tidur. Rich acuh tak acuh, malas menanggapi Alda dan tak ingin berdebat karena tubuhnya benar-benar lemas kali ini.


“Aku masih mengantuk, jangan ganggu aku.”


Bibir Alda berkedut, seolah tidak kapok. Ia menarik selimutnya lagi. Hingga Rich terpaksa bangun, dengan ekspresinya yang datar.


“Kau apa kan aku, selagi tidur. Hah?!” marah Alda bersungut-sungut.


“Memangnya kau polos. Tidak, kan? Jangan berlebihan dan buka matamu itu lebar-lebar.” Rich memperhatikan wanitanya yang terus menerocos seperti kereta. “Bajumu saja masih melekat?”


Sudut bola mata Alda bergerak-gerak, bibirnya digigit, merasa tersudut untuk mencari jawaban. Entah kenapa melihat bibir ranum itu, Rich ingin menciumnya sebentar.


Gejolak rindu akan tubuh wanita itu dalam tubuhnya pun seolah bangkit dengan sendirinya. Tanpa ia rencanakan.


“Eeee... Bisa saja, kau hanya beralasan. Kau melucutiku, lalu mengenakan pakaianku kembali dalam keadaan tidak sadar?” kilah Alda tidak mau kalah debat.


Alda pikir, Rich menipunya dengan segala alasannya itu. Sedangkan menurut Rich, Alda tak pernah mau mengerti akan dirinya dan selalu saja menganggapnya salah.


Pusing dengan ocehan Alda, Rich pun menghela nafas dalam-dalam, memutar bola matanya. Lantas ia pun melakukan sesuatu secara refleks.


“Seperti ini kan, maumu?”


“Auwh, Rich!” pekik Alda saat Rich menarik tubuhnya, dengan posisi Alda berada di atas dan Rich di bawah.