Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
7. Nelangsa



“Fuck it! Kenapa pakai ketemu si blonde segala? Haduh!” gumam Richard pelan sambil menepuk jidat.


Mimpi apa Rich semalam, sampai ia merasa apes bertemu si Zoya. Salah satu kekasihnya yang nomor lima. Warna rambutnya berwarna pirang keemasan, kulitnya khas Meksiko ada bintik-bintiknya. Playboy itu lebih suka memanggilnya, si blonde dari pada nama aslinya.


“Uh! Sayang?” manja Zoya tahu-tahu nemplok memeluk Richard seperti koala. Plus bibirnya lancang mencium pipi pria itu sebanyakdua kali.


Sial! Entah ini rejeki ataukah bencana, nyatanya Richard pasrah menerima ciuman dari Zoya.


Astaga!


Richard mendadak lupa, jika teleponnya masih tersambung dengan Alda. Sudah tentu netra gadis itu terbeliak dengan bibir berkedut, jijik membayangkan kelakuan Richard yang terekam jelas di otaknya saat ini. 


[ Dasar buaya buntung! ]


Klik.


Jari lentik Alda bukan hanya terampil menonaktifkan sambungan teleponnya. Tapi, ponselnya juga. Hatinya berurai dongkol dengan emosi membuncah. Komat-kamit mengucap sumpah serapah di dalam hati untuk mantan teman ranjangnya itu.


“Al, kamu baik-baik saja?” tanya pria yang bicara pada Alda, memecah lamunan.


Mata Alda mengerjap sebagai kode, dengan senyum dipaksakan.


“Oh! Aku baik. Tadi hanya orang iseng, biasalah baru pegang ponsel baru katanya. Hehe … Kita tadi bicara sampai mana?” sengaja Alda mengalihkan topik, demi membuang sial kenangan Rich.


***


“Blonde, lepaskan pelukanmu. Tidak enak dilihat orang?” pinta Rich dengan sudut mata bergerak gelisah.


“Aku masih kangen, sayang? Please, lima menit saja atau satu jam,” Zoya makin ekstra memeluk Rich.


Yang benar saja, gara-gara Zoya. Kini setiap pasang mata yang lewat, selalu menuju mereka berdua. Sebagian maklum, yang lain nampak agak ilfeel.


“Rich! Keterlaluan ya, bermesraan disini?!” teguran suara berat dari Himesh berkacak pinggang. Mejingkatkan Richard, seketika berhasil menarik dirinya dari pelukan Zoya.


“B-bhai?” gugup Rich, tidak mau Himesh salah paham dan mengadukan ini pada sang Daddy atau mommy—nya. “I-ini tidak seperti yang kamu kira.”


Himesh terdiam namun memicing, mengawasi gerak-gerik Richard yang salah tingkah. Sedangkan Richard menarik tangannya paksa menuju  ke bibir pantai untuk bicara serius.


Tapi desah manja suara Zoya, mencekatkan kaki Richard ber ide cemerlang.


“Sayang, dia siapamu? Kok tampan plus manis begitu, persis candy. Apalagi bulu-bulu di rahangnya itu lhlo, bikin gemes!!”


Richard pun memutar badan dengan senyuman cerah, mengurungkan niatnya mengajak Himesh bicara. Malah pria beraut khas India itu di tumbalkannya menemani Zoya.


“Bhai, titip si blonde sebentar. Aku kebelet ke toilet!” Rich langsung berlari setelahnya, meninggalkan Himes dan Zoya hanya berdua.


“Tunggu Rich!” sergah Himesh setengah berteriak memanggil.


Namun, bayangan tubuh seksi Zoya menghadang Himesh pergi. Menjabat tangannya paksa untuk mengajak berkenalan.


“Aku Zoya Bright, namamu siapa buy?” desis Zoya salah sebut, sambil tubuhnya meliuk-liuk malu.


“Bukan Buy, Nona. Tapi Bhai, Panggilan Kakak dalam bahasa India, namaku Himesh,” jawabnya terpaksa meladeni.


Richard mendesahkan nafas lega, terbebas dari belenggu Zoya. Berbeda Himesh yang terkekang, diekori kemanapun ia pergi. Sampai merasa risih, saat Zoya terus mengapit lengannya seperti sepasang kekasih baru jadian.


Ia pusing dan lelah. Harus menyangkal setiap prasangka orang-orang yang mengira Zoya kekasih barunya. Tanpa ia tahu, jika Raymond memperhatikannya dari jauh dengan tatapan kesal.


“Aaarrghh, sial! Kenapa ponselmu tidak aktif my bunny?” Richard berdecak kesal, ia tidak berhasil menghubungi Alda lagi.


Kepala atas bawahnya merasa pusing. Ia menghembuskan nafas kasar, sambil menendang pasir pantai.


“Rich!” teriak Cal mengecam, refleks melindungi wajahnya dengan telapak tangan agar pasir itu tidak mengenai mata. Dan meskipun ia menutup mata, ia sudah bisa menebak siapa pelakunya yang tak lain dan tak bukan putra kembarnya sendiri.


Pemuda itu menahan nafas. Ketika Cal mulai menurunkan telapak tangannya dari wajah, lirikannya begitu tajam menghampiri Rich.


“D-daddy?” gugupnya menelan saliva dengan wajah tertunduk.


“Apa yang kamu lakukan tadi itu membahayakan orang lain Rich! Untung tidak kena mata Daddy!” peringrratnya dengan tegas, menjewer kencang telinga Rich sambil menyeretnya ke tempat sepi.


“Aduh Dad, sakit? Ampuni aku Daddy, Richarad meminta maaf. A-aku tadi tidak sengaja.”


Kiranya itulah sikap Rich merengek seperti anak kecil di depan Cal, mode casanovanya seketika berubah seperti tombol remot anti touchscreen. Dan memeluk Cal menjadi jalan ninjanya, memperoleh ampunan supaya terbebas dari kemarahan besarnya.


Sesaat Cal membuang nafas lalu menurunkan jeweran, berganti memeluk balik sang putra. Diiringi senyuman tipis di wajahnya yang masih terlihat tampan.


“Hmm, ya sudah Daddy maafkan. Tapi sebenarnya apa yang terjadi denganmu sampai menendang pasir segala? Apa karu ada masalah? Cerita sama Daddy, siapa tahu bisa membantu?” tawar Cal melihat wajah putranya sedikit murung. Sedikit banyak ia paham apa yang di rasakan darah dagingnya sendiri.


Namun Richard kemudian terdiam, seperti berat membuka bibir. Meskipun Cal mencoba membujuknya berulang kali.


“Oke, kalau kamu tidak mau bercerita. Berbaurlah dengan saudara-saudaramu dan para tamu, Daddy tinggal dulu.”


“Dad, bisa tolong ajarkan aku caranya mendekati seorang wanita. Seperti dulu sewaktu daddy mendekati mommy?”


Cal mengerutkan kening mendengar pertanyaan dari Richard, sepertinya ia tidak sanggup menjawab. Buktinya ia masih membelakangi Richard, dengan pikiran bercabang sulit mendeskripsikan bagaimana perasaannya saat ini. Risau, malu, bingung, menyesal, gelagapan campur aduk jadi satu.


“Mati aku, kenapa dia tanya begitu?” gumam Cal sangat pelan, mengetuk dagunya dengan kepalan tangan.


“Dad, kok diam?” tanya Rich heran, ia sangat penasaran hingga memberanikan diri menepuk pelan bahu sang Daddy.


Cal menoleh kikuk, berusaha santai menatap putranya seolah tidak terjadi sesuatu dan memulas senyum terpaksa.


“Nanti kapan-kapan Daddy cerita ya, tapi sekarang Daddy harus pergi menemui tamu penting dari Dubai. Oke tampan!” Cal beralasan, padahal ia hanya menghindar.


“Baiklah,” jawab lesu Richard melihat kepergian Cal yang terburu-buru.


***


Ponsel Alda yang tidak bisa dihubungi dan bayangan wajah gadis cantik itu seolah memantul dari permukaan air laut. Mengubah suasana hati Rich menjadi suntuk dan tidak bersemangat berada di pesta.


Lantas oa memutuskan berkeliling menyusuri pantai, untuk menghilangkan kejenuhannya itu. Melihat panorama pantai yang indah berpasir putih, berdecak kagum menikmati momentum sunset.


Pupil matanya melebar tatkala ia tidak sengaja menemukan sesosok yang ia cari. Sedang berdiri mengantre kapal datang bersandar, menuju dermaga.


“Alda,” pekiknya senang, langsung berlari detik itu juga menemui sang gadis.


Tapi ia mengerem kakinya mendadak, saat melihat kembarannya sendiri mengobrol akrab dengan Alda. Hati Richard terasa remuk, bagai kepingan biskuit yang tercecer di pasir. Tubuhnya kehilangan potensi tenaga secara tiba-tiba, berbalik badan melangkah gontai.


“Rich?” panggilan itu membekukan tubuhnya di posisi semula tidak bergerak, hingga rangkulan dari Ef membawanya menemui Alda yang bermuka masam. “Ini Alda, teman kita dulu sewaktu di Harvard University, ternyata selama ini menghilang dan sekalinya muncul dia sudah menjadi orang sukses! Dia tambah cantik ya?” pujinya.


Apa?


Kening Efrain melipat, ekspresi wajahnya yang ditekuk sangat jelas ditangkap oleh Efrain. Tapi ia tidak tahu apa sebabnya, dan ia pun tidak tahu pula jika terjadi kecanggungan diantara mereka berdua saat ini.


“Hmm, selamat Alda.” Richard mengulurkan tangannya gemetar.


Alda masih di mode yang sama membuang muka dan tidak mau berjabat tangan dengan Richard.


“Maaf Ef, kapal sudah datang. Aku duluan ya, bye Ef!” tersenyum Alda pada Ef sangat manis.


Sengaja hanya berucap pamit kepada Efrain, tanpa Richard yang menarik kembali tangannya dengan hati nelangsa.