Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Ujian susulan



Hari terakhir ujian berjalan dengan lancar, seluruh siswa bersorak-sorai merayakan kegembiraan mereka. Sebagian siswa mengadakan pesta kecil-kecilan atau sekedar pergi untuk makan bersama sebelum mereka berpisah di libur panjang yang akan datang.


Namun...


Tidak untuk Densha dan Mod, mereka melewatkan satu hari saat ujian berlangsung. Alasan Densha sangat jelas karena waktu itu ia mengalami insiden kecelakaan lalu lintas, tapi untuk Mod ia rela bolos hanya untuk mengetahui identitas Deryne Mikaelson, gadis cantik yang baru-baru ini ia ketahui sebagai Tribrid.


Dari luar kaca lebar yang terpasang di kantor guru terlihat Moa dan Fuu yang sedang asyik duduk mengobrol sambil makan keripik kentang. Bibir Fuu menjawab setiap obrolan yang dilontarkan oleh Moa namun matanya tetap fokus menatap Densha yang berada di dalam kantor guru bersama Mod.


"Hei biarkan saja! Tidak usah terlalu khawatir begitu"


"Fuu hanya mencemaskan Densha, apa Densha akan baik-baik saja?"


"Dih! Benar-benar deh, kekhawatiran'mu itu sungguh tidak di perlukan"


"Setidaknya ada orang yang merasa khawatir pada Densha kan?"


"Wah, aku iri! Rasa sukamu pada Densha begitu besar ya??"


".........." Fuu menoleh memandang Moa tanpa ekspresi.


"Apa?! Kenapa tatapanmu itu?"


"Jika menyukai seseorang memang harus sepenuhnya kan?? Fuu tidak akan ragu-ragu untuk menyukai Densha"


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"


Moa menepuk dadanya sendiri dengan pelan, ia mengambil botol air di dalam tas dan meminumnya dengan buru-buru.


"Hei!! Katakan itu padanya! Jangan bicara hal mengerikan seperti itu padaku" sindir Moa ketus.


Memangnya cuma kau yang bisa jatuh cinta?! - Moa.


Fuu melengos hampir setengah mengejek Moa, gadis itu kembali memperhatikan Densha. Sesekali Fuu melambaikan tangan ke arah Densha dan memberi pria itu semangat.


"Dih! Sebenarnya kalian itu sudah sejauh mana sih?" Gerutu Moa kesal.


"Ng?? Apa maksudnya??"


"Tidak, bukan apa-apa"


"..........."


Keheningan diantara mereka berdua mulai timbul, tidak ada yang saling memandang. Moa mengalihkan perhatiannya pada sesosok orang yang tengah melintas di ujung lorong sekolah.


Itu.... - Moa.


"Hei Fuu??"


"Moa??"


Fuu dan Moa saling tatap, mereka terkejut karena memanggil nama masing-masing secara bersamaan.


"Apa? Bicaralah..." Pinta Moa mengalah.


"Ng... Itu... Apa Moa sudah menyatakan cinta pada Mod??"


"Hik... Pertanyaan macam apa itu?! Kau membuatku malu!" Moa menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Apa Moa tidak ingin membuat kemajuan dalam sebuah hubungan?"


"Tentu saja aku ingin! Tapi... Bagaimana ya? Timing nya tidak pernah pas untukku" Moa menggaruk belakang kepalanya sendiri.


"Apa itu timing??"


"Waktu dan momen yang pas untuk menyatakan cinta, agar lebih berkesan dan mudah di ingat"


"Jadi... Ada yang seperti itu ya??" Fuu menyentuh dagunya dan menundukkan kepala.


"Sejujurnya aku ingin menyatakan perasaanku pada Mod saat Festival nanti"


"Festival?? Yang kemarin Moa katakan itu?" Fuu terlihat menggebu-gebu membahas festival akhir bulan itu.


"Iya! Benar sekali" Moa menganggukkan kepala dengan mantap.


"Fuu ingin ikut" pinta Fuu memelas, ia setengah memohon pada Moa.


"Hei! Jangan bertingkah imut di depanku! Aku tidak ingin Densha membunuhku"


"Fuu mohon, ajak Fuu ya??"


Moa memalingkan wajah, ia memejamkan kedua matanya untuk berfikir. Sebenarnya membawa Fuu ke Festival bukanlah hal yang sulit, tapi ijin dari Densha itu sangat sulit. Dan lagi kalau Fuu ikut, Moa tidak bisa berduaan dengan Mod kan? Dan Mod pasti hanya memandang ke arah Fuu.


Beberapa detik berdebat di dalam pikirannya sendiri, Moa beralih menatap Fuu. Pria itu mengangguk-anggukkan kepala pelan lalu tersenyum lebar.


"Bagaimana? Bisa membawa Fuu ke Festival kan??"


"Tidak!" Jawab Moa tegas.


"Kenapa lama sekali memalingkan wajahnya kalau untuk jawaban tidak!!" Gerutu Fuu kesal.


Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada, ia memasang wajah cemberut, sorot matanya begitu dingin.


Yahh... Ngambek?! - Moa.


"Ehem! Begini, bukannya aku tidak bisa membawamu ke Festival itu..."


Memang tidak bisa sih?! Apalagi aku harus melewati malaikat pencabut nyawa (Densha) - Moa.


"Lalu??"


"Bukannya Densha tidak mengijinkan'mu untuk pergi ke sana?!"


"Moa kan bisa membantu Fuu untuk meminta ijin sekali lagi"


Bagaimana caraku menjelaskannya ya?? - Moa.


"Begini Fuu... Kalau kau ingin sekali ke sana pergilah bersama Densha, jadi... Kau yang memohon pada Densha. Sebetulnya aku tidak ingin ada yang menganggu kencan'ku dengan Mod" jelas Moa panjang lebar.


Semoga dia tidak tersinggung!! - Moa.


Mata Fuu terbuka lebar, ia menoleh pada Moa dengan cepat. Gadis itu terdiam membisu lalu mengalihkan pandangannya lagi.


Terkadang kita harus memberi mereka waktu untuk tidak bersama kita (suara Densha terngiang-ngiang di kepala Fuu)


Gadis itu menghela nafas panjang, ekspresi wajahnya melunak. Ia menengadahkan kepalanya lalu tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya yang rapi.


"Oke, baik! Fuu mengerti, kencan itu memang penting untuk membangun sebuah hubungan! Fuu pernah membacanya di buku, hehe"


"Ng??? Kau tidak marah??"


"Sebenarnya Fuu sedikit kecewa" ucap Fuu sambil tersenyum polos.


Hah?! Apa-apa'an wajahnya itu?? - Moa.


"Tapi... Densha pernah bilang, terkadang kita perlu membiarkan seseorang menghabiskan waktunya tanpa kita"


"Ya Tuhan!! Serius??"


"Ng..." Fuu menganggukkan kepala dengan senang.


"Ternyata aku punya sahabat yang sangat baik" ujar Moa terharu.


"Mmm... Kapan dia bilang begitu?" Imbuh Moa penasaran.


Fuu menyentuh pipi putihnya dengan jari telunjuk, ia mencoba menerawang mengingat-ingat kapan kiranya Densha mengatakan kalimat tersebut.


"Sepertinya saat Moa dan Mod di kedai es krim waktu itu"


"Benar! Waktu itu sebenarnya Fuu ingin menghampiri kalian, tapi Densha menghentikan Fuu dan berkata seperti itu"


Dasar lalat pengganggu!! - Moa meledek Fuu dalam hati.


"Haaahh... Syukurlah!" Moa mengelus dadanya karena merasa lega.


"Kenapa?"


"Hehe tidak apa-apa kok!"


Moa kembali menatap lorong kelas di seberangnya, pria berambut pirang itu hampir saja melupakan sesuatu. Ia segera menutup mulutnya sendiri dan menatap Fuu.


"Astaga Fuu!!" Moa mencengkr*m erat bahu Fuu.


"Ada apa?"


"Itu... Aku tadi melihat Katrina!"


"Eh?? Dimana?" Fuu segera mengedarkan pandangan menatap setiap tempat di dekatnya.


"Di sana! Saat aku memanggilmu tadi aku ingin membicarakan ini tapi aku lupa karena teralihkan dengan pertanyaan'mu!" Moa menunjuk ke suatu tempat di ujung lorong.


"Bukankah Katrina sudah keluar dari sekolah?"


"Iya benar! Tapi aku sungguh melihatnya, sepertinya tadi dia bersama seseorang tapi aku tak dapat melihat jelas siapa orang yang bersamanya"


Merasa panik dan curiga, Fuu berdiri dari duduknya. Pandangan gadis itu menatap lurus ke ujung lorong yang kosong karena memang tidak ada siapa-siapa disana, seluruh siswa sudah dipulangkan sedari tadi.


"Fuu akan memeriksanya"


"Hah?! Tidak boleh! Nanti kalau terjadi sesuatu denganmu bagaimana? Bisa-bisa Densha menyalahkan'ku!" Cegah Moa dan menggenggam tangan Fuu erat.


"Kalau begitu Moa ikut"


Hah?! Benar-benar ya gadis ini! Kalau bicara seenak jidatnya sendiri!! - Moa.


"Bagaimana? Mau menemani Fuu??"


Moa menatap Densha yang tengah serius mengerjakan soal-soal ujian, pria berambut pirang itu berharap agar Densha memperhatikannya sebentar saja agar ia bisa melarang Fuu pergi, namun sayang seribu sayang sahabatnya itu tak memandang dirinya sama sekali karena terlalu fokus pada kertas ujian di depannya.


"Sial! Oke deh aku ikut" ucap Moa yang terpaksa mengiyakan.


"Ayo!" Fuu menarik tangan Moa dengan kuat, ia segera menuju tempat yang di tunjuk oleh Moa.


"Hei! Pelan-pelan saja!! Jangan terburu-buru"


"Tidak bisa! Bagaimana kalau Katrina cepat pergi?!"


"Memangnya kenapa kalau dia pergi?! Bukankah lebih bagus?!"


"Moa tidak mengerti, Katrina yang sekarang berbeda dengan yang dulu" sahut Fuu cepat.


"Apanya yang berbeda? Namanya tetap Katrina kan??"


Fuu melirik Moa dengan kesal, gadis itu hanya memelototi Moa seolah ingin mengiris Moa hanya dengan tatapan matanya saja.


Sesampainya di ujung lorong Moa dan Fuu tidak menemukan siapapun disana, seberapa lamanya Moa memperhatikan area sekitar ia tetap tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Katrina di tempat itu.


"Bagaimana? Tidak ada kan? Ayo kita kembali" pinta Moa dan menarik lengan Fuu.


Mmm... - Fuu.


Ketika Moa dan Fuu berbalik arah ingin kembali ke tempat mereka sebelumnya, kaki Moa terasa kaku dan mati rasa. Dengan sekejap tubuh Moa tertarik dan menabrak dinding bagian luar kelas, tubuhnya tertempel di dinding, bahkan pria itu tak mampu menyentuh lantai dengan kakinya saking tingginya ia tertempel.


Apa-apaan ini?? - Moa.


Moa mencoba melawan kekuatan aneh dan tak terlihat yang menyerang dirinya, ia merasakan rasa sesak di dadanya seolah di tekan kuat agar menempel di dinding.


Mata Fuu terbuka lebar memperhatikan situasi buruk yang menimpa Moa. Gadis itu berlari sekuat tenaga menghampiri Moa, namun lokasi Moa menempel terlalu tinggi untuknya.


"Moa??" Panggil Fuu khawatir.


"Hok! Uhuk! Uhuk! Aku... Tak bisa bernafas!!"


Tap!


Tap!


Tap!


Suara langkah kaki seorang gadis mendekati Fuu, dengan sigap Fuu menoleh dan memberikan sikap perlawanan.


"Wah, cukup sigap juga ya?" Sindir Katrina dengan senyuman kecutnya.


"Jangan sakiti Moa!!"


"Menyakitinya??" Katrina melirik pada Moa dengan sinis.


Cling!!


Dengan satu petikan jari Katrina, tubuh Moa jatuh ke atas lantai dengan kuat. Pria itu meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya. Fuu berlari menghampiri Moa dan membantunya untuk berdiri.


"Moa?? Moa baik-baik saja?!"


"Tidak cukup baik! Aaakkkhhh...." Moa memegang lututnya yang terasa begitu sakit.


"Kaki Moa kenapa?"


"Sepertinya ada yang salah dengan kakiku"


Moa meminta pada Fuu agar ia membiarkan Moa duduk di lantai dan meluruskan kedua kakinya, Moa rasa saat ini sebelah kakinya sedang mengalami patah tulang.


"Dasar bayi!" Ledek Katrina ketus.


Mata Moa memandang Katrina dengan dingin, seolah ingin mencekik leher Katrina dengan kuat.


Jadi ini yang di maksud Fuu dengan berbeda! - Moa.


"Sebenarnya aku tak ingin menyakiti Moa" ucap Katrina dingin.


".........." Fuu memandang Katrina dengan bingung.


"Aku kesini ingin memberimu sebuah kejutan!"


"Kenapa dengan mata Katrina itu?!" Fuu memperhatikan bola mata Katrina yang hitam legam, entah apa yang sebenarnya sudah terjadi pada gadis yang dulunya baik ini.


"Ini bukan urusanmu!"


Emosi Katrina memuncak hanya dengan satu pertanyaan dari Fuu, gadis berambut biru bak lautan itu mengarahkan telapak tangannya pada Fuu. Seketika tubuh Fuu terpental jauh sampai ke bawah sebuah tandon air milik sekolah.


"Uhuk!" Fuu mengelap ujung bibirnya yang berdarah karena menabrak tanah yang dipenuhi bebatuan.


"Ya Tuhan! Fuu!!" Teriak Moa kencang.


Moa berusaha bangkit dari duduknya, dengan kaki yang terluka, pria itu mencoba menyeret sebelah kakinya menuju ke tempat Fuu.


"Tidak akan kubiarkan kau menolongnya!!" Cegah Katrina geram.


Katrina mengunci gerakan Moa, membuat pria itu tak berdaya dan hanya berdiri diam mematung sambil menyaksikan temannya di siksa.


Kumohon siapapun tolong gadis itu!! - Batin Moa sedih.


Bersambung!!


Halo, Jangan lupa Like, Komentar, Follow, Favorit, Vote dan Rating ya?? Dukungan dari kalian sangat membantu saya! Terima kasih 😉🙏