Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Festival (H - 2) bag.3



Malam semakin larut, suara mesin mobil yang baru saja tiba di rumah Densha terdengar dengan jelas. Bukan hanya satu, tapi dua buah mobil terparkir di depan halaman rumah pria itu.


Turun seorang wanita dan sekertaris nya, ia segera menarik gagang pintu rumah Densha. Benar saja! Pintunya betul-betul terkunci, entah siapa yang membawa kuncinya.


"Bibi?? Bibi disana?" Teriak Densha dari balik pintu.


"Iya ini aku! Bagaimana kau bisa terkunci sih?" Isabella mengomel panjang lebar, ia menyuruh beberapa bodyguard nya untuk mendobrak pintu rumah Densha. "Dobrak saja!"


"Baik nona"


Tanpa segan, ketiga bodyguard yang dibawa Isabella segera mendobrak pintu rumah Densha. Percobaan pertama gagal, tapi setelah kedua kalinya di coba pintu rumah Densha berhasil terbuka. Di balik pintu berdiri seorang remaja yang sedang melongo melihat pintu rumahnya di rusak.


"Apa bibi sudah gila?! Merusak pintu rumahku sembarangan!!" Maki Densha sambil mengusap daun pintu rumahnya.


"Lalu kau mau terkurung di dalam sana selamanya?"


Ucapan Isabella tak mendapat jawaban dari Densha. Wanita paruh baya itu lantas melangkah masuk ke dalam rumah, ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa sembari meluruskan kakinya yang pegal.


"Kalau bukan kau yang menyuruhku kemari, aku tak akan datang! Kau tahu kan jarak rumahmu dan rumahku itu jauh sekali"


"Maafkan aku bibi" Densha meninggalkan daun pintu rumahnya, ia segera mendekati bibinya. "Perasaanku tidak enak bibi"


"Tumben?"


Tumben katanya? Apa bibi tidak khawatir padaku? - Densha.


"Bibi! Kita harus mencari Fuu"


"Kenapa? Mungkin saja dia pergi ke laut" Isabella mengecilkan suaranya, ia tak ingin ke empat orang diluar rumah mendengar pembicaraannya.


"Tidak, tidak mungkin dia disana. Aku tertidur selama dua hari"


"Hah?? Aku pikir saat kau mengatakannya di telepon kau sedang mengerjai aku" Isabella menyandarkan bahunya agar lebih nyaman. "Jadi kau serius akan hal itu?"


"Tentu saja! Aku tidak ingat kenapa aku bisa seperti itu. Tapi sepertinya ada yang tidak beres"


"Begini, pertama-tama kita perbaiki pintu rumahmu terlebih dahulu"


Isabella berdiri dari duduknya, ia mendekati ke empat orang diluar rumah dan memberi perintah untuk memperbaiki pintu rumah Densha. Salah seorang dari mereka pergi mengendarai mobil untuk memanggil tukang.


"Apa ada tukang malam-malam begini?" Isabella bertanya dengan serius.


"Asal ada uang semua pasti beres nona"


"Oke, bawa tukang kemari! Akan aku bayar berapapun yang dia minta"


Densha terlihat cemas dan panik, ia sungguh ingin segera pergi mencari Fuu tapi kemana dia harus mencari? Sedangkan Fuu bisa berada dimana saja, dan bodohnya kenapa dia tidak ingat hari sebelum dia bangun.


"Tenanglah sayang..." Isabella mengusap kepala Densha lembut. "Semua pasti baik-baik saja"


"Bagaimana aku bisa tenang? Sedangkan aku tidak tahu keberadaan Fuu saat ini"


Sorot mata Isabella berisi kesedihan, ia duduk di samping keponakannya lalu memeluk lengan Densha. Wanita itu berusaha menghibur Densha agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.


"Kita pasti menemukannya..." Ucap Isabella menenangkan. "Ngomong-ngomong apa kau sudah mencoba menghubungi temanmu?"


Densha tersentak kaget, bibinya benar! Seharusnya ia menelpon Moa atau Mod untuk menanyakan keberadaan Fuu. Buru-buru pria itu mengambil ponsel di kantung celananya dan mencari nomor Moa di kontaknya.


Nada sambung telepon sudah berdering namun tak ada jawaban, operator selalu mengatakan bahwa nomor Moa atau Mod berada diluar jaringan.


"Sialan! Apa-apaan ini?!" Densha memaki ponselnya.


"Ada apa??"


"Nomor Moa dan Mod tidak aktif"


"Astaga! Benarkah?? Lalu bagaimana? Coba telpon sekali lagi" pinta Isabella dengan nada sedikit panik.


Densha menganggukkan kepala dan mencoba kembali untuk menghubungi Moa atau Mod, namun hal itu sia-sia saja. Nomor kedua manusia itu benar-benar tidak aktif saat ini.


"Sebenarnya apa yang sedang mereka berdua lakukan?? Kenapa sama-sama tidak bisa di hubungi?"


.


.


.


.


Mod mengerjapkan matanya, rasa sakit di kepalanya belum juga hilang. Gadis itu bangun dari pingsannya, ia duduk di lantai dengan lemas sambil menyentuh kepalanya.


"Fuu..." Gumam Mod pelan.


Memori-memori ingatan hari kemarin perlahan muncul di kepala Mod. Dengan langkah kaki yang masih gemetaran ia segera mengambil pakaiannya yang tergeletak di atas ranjang lalu memakainya.


KLAP!!


(Pintu terbuka)


Wajah Moa penuh dengan keringat, ia membuka pintu dan menunjukkan benda kecil yang ia tenteng di tangan kirinya. (Kalian pasti tahu itu benda apa)


"Moa kita harus ke rumah Densha" Mod membenarkan pakaiannya tanpa melihat Moa.


"Kenapa?"


Tatapan Moa tertuju pada Mod yang kesusahan memasang kancing di belakang bajunya. Dengan cepat Moa mendekati gadis itu dan membantu mengancingkan pakaiannya.


"Maafkan aku Moa, tapi bisakah kita menunda melakukan itu?" Mod berbalik menatap pria yang baru dipacarinya beberapa jam yang lalu.


Walaupun Moa menganggukkan kepala, wajahnya tidak bisa berbohong. Terukir jelas disana bahwa ia sedang bingung, kecewa dan sedih.


"Tidak apa-apa, aku akan memakluminya"


Mod memeluk Moa kilat, ia tersenyum lalu mengusap pipi kekasihnya dengan lembut.


"Ayo pakai jaket mu!"


"Baik"


Mod mengambil tas kecil yang ia bawa hari ini, gadis itu mengambil dua ponsel dari dalam tasnya lalu mengaktifkan kedua ponsel tersebut. Satu ponsel milik Moa dan satu ponsel miliknya.


Saat mereka melewati ruang resepsionis, seorang karyawan menghentikan langkah mereka dan menanyakan ada keluhan apa? Kenapa mereka hanya memakai kamar hotel sebentar saja.


"Maafkan kami, kami ada urusan lain! Kamar di hotel ini tidak ada masalah" ucap Moa jelas dan tegas.


Karyawan itu menganggukkan kepala dan mengangkat tangannya untuk minta maaf atas kelancangan yang telah ia lakukan. Moa membalasnya dengan melambaikan tangan kanannya lalu bergegas pergi menuju parkiran.


"Bisa kau ceritakan semuanya?" Moa menyalakan mesin mobil.


"Kemarin, saat aku, Ryn dan Fuu selesai dari salon. Katrina menggunakan sihirnya padaku!"


"RYN???" Moa berteriak, ia beralih menatap Mod dengan pandangan tidak percaya.


"Moa lihat ke depan! Kau sedang menyetir!!"


"Ahh! Maafkan aku, lanjutkan"


"Aku tidak tahu apa yang aku lakukan setelah itu" Mod memarahi dirinya sendiri yang dengan mudahnya terkena sihir Katrina.


"Tunggu! Ryn selama ini ada di kota ini?"


"Moa aku sedang tidak ingin membahasnya denganmu"


"Tidak! Jawab pertanyaanku dengan benar"


"Ceritanya rumit, kita benar-benar harus ke rumah Densha"


"Baiklah! Berjanjilah padaku, setelah semua ini selesai. Ceritakan semuanya! Aku tidak ingin ada rahasia diantara kita"


Mod melirik Moa yang mengemudi mobil dengan hati-hati, gadis itu tidak memberi jawaban. Karena ia tidak bisa menjanjikan hal itu pada Moa.


Tring!


Tring!


Tring!


Pesan pemberitahuan yang cukup banyak mendarat di ponsel milik Moa dan Mod. Gadis itu memeriksa ponselnya, semua pesan yang masuk merupakan pemberitahuan bahwa nomor Densha telah menghubungi mereka sedari tadi.


"Lihat! Densha mencoba menghubungi kita berulang kali" mata Mod fokus menatap layar ponsel.


"Berikan ponselku!" Moa menerima ponselnya dari tangan Mod, ia menekan tombol nomor dua cukup lama. Rupanya nomor Densha ia simpan untuk nomor panggilan cepat karena ia benar-benar menganggap Densha penting.


"Kenapa tidak di angkat! Kemana dia?!"


Moa menekan tombol lagi untuk menghubungi Densha.


Tut!


"Halo?" Merasa telponnya sudah diangkat, Moa mulai bicara.


"HEH!! SUDAH SINTING YA MEMATIKAN PONSEL DISAAT PENTING" teriak Densha dari ujung telpon. Moa menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Aku akan segera ke sana!"


"Tunggu! Apa Fuu bersamamu??"


Pertanyaan simpel dari Densha membuat Moa menatap Mod dengan serius, ia berbisik pada Mod tanpa suara. Ia mengatakan bahwa Densha mencari Fuu, mengetahui hal itu raut muka Mod semakin sedih dan panik.


"Tidak! Fuu tidak bersamaku, tunggulah aku akan segera sampai ke rumahmu!"


"Untuk apa kau kemari kalau tidak tahu dimana Fuu?" sindir Densha ketus.


"Benar-benar ya! Bagaimana bisa ada manusia setengah setan sepertimu!" Ledek Moa dan mematikan ponselnya.


Moa semakin cepat mengendarai mobilnya, ia ingin segera sampai ke rumah Densha. Untung ini sudah tengah malam, jadi jalanan kota sangat lengang.


Bersambung!!


Berikan cinta kalian dengan cara Like, Follow, Favorit, Vote, Rating dan Komentar ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya! Terima kasih!! 😘🙏