Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Hari H (part.4)



Kedua tangan Densha ditahan oleh pihak keamanan yang sudah di siapkan oleh Edmund.


Pria itu terkekeh melihat keberadaan Densha di acara yang ia buat. Dengan sudut bibir berlumuran darah, Edmund mendekati muridnya.


"Kau tahu betul bahwa aku suka ikan? Tidak kah kau ingat waktu itu?" Edmund menyentuh pipi Densha lembut.


Cuih!!


Densha meludahi wajah licik Edmund tepat mengenai mata kirinya. Edmund yang tak terima segera menghajar Densha dengan membabi buta.


KLANG!!


KLANG!!


Fuu memukul-mukul jeruji besi yang mengurungnya. Terlihat jelas di layar proyektor yang terhubung dengan kamera kecil di kandangnya bahwa gadis duyung itu tengah menangis.


Katrina merasa iba melihat pemandangan menyedihkan di depannya, namun ia menemukan suatu fakta. Bahwa Kraken benar! Kelemahan Fuu adalah cintanya pada Densha, Katrina cukup beruntung karena Triton tak mengajari gadis itu menggunakan sihir.


Sekarang apa yang akan kau lakukan Fuu?? - Katrina.


Edmund mengelap sudut bibirnya yang berdarah, ia meminta agar kandang itu segera dimasukkan kedalam air.


"Jika kau berani melakukannya! Aku bersumpah akan membunuhmu!" Teriak Densha putus asa.


Densha mencoba meronta-ronta agar terlepas dari kedua pria yang menahannya. Namun apalah daya seorang remaja melawan dua pria bertubuh kekar yang sepertinya aktif berlatih tinju itu.


Tanpa disadari, Moa dan Mod sudah berada di barisan paling depan. Mod menangis sejadi-jadinya, ia memanggil-manggil nama Fuu temannya.


"MASUKKAN DIA KE DALAM AIR!!" Teriak Edmund kencang.


Trak!


Trarak!


Trak!


Pengait semakin bergerak turun menyentuh permukaan air. Fuu berdiri memeluk salah satu besi di dekatnya, gadis itu menggelengkan kepala menolak di perlakukan seperti ini.


"JANGAN!!!" Teriak Densha kencang.


Moa berlari menuju belakang layar, ia hendak menghentikan sang supir truk. Pria berambut pirang itu berebut remote kontrol untuk menjalankan pengait yang terhubung dengan kandang Fuu.


"Berikan padaku!" Moa berusaha merebut remote dari sang supir.


"Bocah idiot! Pergi dari sini! Jangan menganggu pekerjaanku!"


Sang supir menendang perut Moa keras, membuat remaja itu meringis kesakitan. Ia menyentuh bagian perut yang terasa nyeri, tidak ingin menyerah Moa tetap berusaha merampas remote tersebut. Namun setelah ia berhasil merampasnya si supir truk tersenyum sumringah.


"Apa yang...."


BYURRR!!!


Kandang besi itu tenggelam dengan sempurna didalam aquarium di bawahnya. Seluruh pengunjung bisa menyaksikan, perubahan yang di alami Fuu atau bahkan rasa sakit yang di rasakan gadis itu saat mengalami perubahan wujud.



Mod menutup mulutnya tak percaya, ia jatuh lemas ke tanah sambil terisak. Bukan hanya Mod, Densha yang sudah tak mampu berbuat apapun juga jatuh tertunduk. Air matanya mengalir tanpa seizin pria itu, melintasi pipi putih bersih miliknya.


"Aku tidak bodoh! Aku tidak idiot!" Gumam Edmund lirih.


Ratusan pengunjung bertepuk tangan melihat keajaiban di depan mata mereka, semua berdiri sambil tersenyum bahagia menyaksikan putri duyung sungguhan.


"Kenapa wujudnya jelek sekali?" Bisik seorang pengunjung.


"Iya, saat jadi manusia cantik! Kenapa jadi buruk rupa begitu?" Timpal seorang lagi.


Mereka bergunjing akan wujud Fuu yang buruk rupa. Bahkan sebagian diantara mereka bergidik ngeri melihat sisik dan duri tajam di bagian belakang punggung Fuu.


"Apa mereka ada banyak di lautan ini?" Tanya salah satu pengunjung.


Edmund tersenyum ramah, ia menganggukkan kepala senang menatap si pemberi pertanyaan.


"Tentu! Ternyata mereka nyata! Mereka bukan hanya dongeng, bukankah menakjubkan melihat keindahan ini?"


Tepuk tangan dari pengunjung kembali di terima oleh Edmund, ia membungkukkan badannya untuk memberi hormat pada setiap pengunjung.


Densha berjalan mendekati aquarium Fuu, ia memandang Fuu dengan sedih. Pria itu menangis menahan rasa sakit di dadanya.


"Lihat! Bahkan manusia bisa jatuh cinta pada binatang seperti ini!" Edmund terkekeh menunjuk Densha.


Seluruh pengunjung tertawa riang mendengar gurauan dari Edmund. Isabella berdiri dari duduknya, ia berjalan menuju tempat Mod berada.


"SIAPA YANG KAU SEBUT BINATANG HAH?!" Maki Isabella dengan tatapan tajam miliknya. "HATIMU JAUH LEBIH SEPERTI BINATANG KETIMBANG DUYUNG TAK BERDOSA ITU!"


Edmund terkejut dengan kehadiran orang nomor satu di kotanya, ia sempat terdiam mendengar Isabella memaki dirinya. Banyak orang yang tidak mengetahui bahwa Densha adalah keponakan Isabella.


Isabella Mikaelson? Kenapa bisa disini? - Edmund.


"Ah... Nona Isabella? Anda kesini karena ingin menawar tinggi duyung yang saya pelihara ya? Tapi mohon maaf, anda tidak akan bisa memilikinya meskipun seluruh harta anda diberikan pada saya" ucap Edmund percaya diri.


"TIDAK TAHU MALU! KAU INGIN MATI CEPAT YA? DARIPADA DUYUNG ITU AKU LEBIH INGIN MEMBELI TUBUHMU UNTUK MAKANAN ANJING DI TEMPAT PENAMPUNGAN HEWAN!!"


Pengunjung tercengang mendengar perdebatan antara Edmund dan Isabella, namun mata mereka tetap terfokus pada layar lebar yang menayangkan wujud Fuu sebenarnya.


Sebagian orang tertawa, mereka terhibur dengan hujatan demi hujatan yang di lontarkan Isabella pada Edmund.


Di barisan kursi paling belakang seorang gadis bermata hitam legam mendengus kesal, ia melirik ke kanan dan ke kiri sebelum akhirnya menatap pria idiot bernama Edmund.


Katrina berdiri dari duduknya, ia berjalan dengan anggun melewati tengah-tengah pengunjung. Petikan jarinya terdengar lembut tanpa di bumbui mantra.


Banyak yang bertanya-tanya mengenai identitas Katrina, sebagian orang berbisik-bisik menanyakan siapa gadis dengan pakaian serba hitam dan bermata aneh itu.


Katrina tersenyum mendengar rasa penasaran dari manusia-manusia bodoh di kanan dan kirinya.


"Katrina? Ada apa?" Edmund menatap Katrina serius.


"Membosankan!" Katrina menguap, ia menyentuh mulutnya sendiri dengan tangan kirinya. "Akan aku buat lebih seru!"


Katrina tersenyum menyeringai, ia melebarkan kedua tangannya membuat seluruh pengunjung terdiam di kursi masing-masing tanpa ada yang bisa menggerakkan tubuh mereka. Bahkan Mod, Densha dan Isabella juga dipengaruhi sihir Katrina.


Tik!


Kandang Fuu naik ke atas dengan cepat, dengan sentuhan jari telunjuknya. Air dalam aquarium habis dengan sendirinya, membuat pengunjung terkejut dan mengira bahwa itu trik sulap.


Tubuh Densha bergerak mundur seolah ditarik oleh sesuatu yang tidak terlihat. Benar saja! Dalam sekejap, pergelangan tangannya sudah di sentuh oleh Katrina.


"Sekarang! Semua keputusan ada di tanganmu! Jika kau memilihku, hidupnya akan aman"


Densha menatap wajah putih pucat milik Katrina dengan bola matanya yang super hitam. Bagaimana mungkin ia bisa berhubungan jangka panjang dengan manusia setengah setan seperti Katrina?


"Hei! Hei! Kau merusak acara ku!"


Edmund mencoba mendekati Katrina, namun tubuhnya terpental jauh hanya dengan gerakan ringan tangan Katrina.


Beberapa kursi bergerak dengan sendirinya, berjejer rapi di depan aquarium. Dari jauh Densha bisa melihat tubuh Moa yang terseret dan tiba-tiba duduk di salah satu kursi.


"Hei! Apa-apaan ini?" Moa merasakan rasa sakit di tubuhnya ketika rantai besi menghantam dirinya dan mengikat tubuhnya secara otomatis.


"Sahabatmu kan?" Bisik Katrina di telinga Densha.


Hap!


Katrina tergelak saat mengeluarkan tubuh Fuu dari dalam kandang. Ia juga meletakkan Fuu di salah satu kursi kosong samping Moa, tentu saja dengan ikatan rantai di tubuhnya.


"Ups... Dia akan telanjang" Katrina menggelengkan kepala. "Nah! Beres"


Hanya dengan menjentikkan jarinya Katrina bisa menggunakan pakaian pada tubuh Fuu, walaupun itu hanya kaos kedodoran yang entah milik siapa.


"Cintamu kan?" Bisik Katrina lagi di dekat telinga Densha.


"Emmm..." Katrina mengedarkan pandangan ke arah pengunjung, ia tengah memilih-milih seseorang.


Ia (Katrina) tersenyum penuh kemenangan saat melihat sosok Isabella Mikaelson berada di barisan terdepan.


"Wah! Aku rasa orang-orang terdekatmu ingin menemui ajal dengan cepat" gumam Katrina pelan.


Tik!


Isabella meraih tangan Mod saat tubuhnya terseret secara misterius. Tubuhnya di penuhi goresan luka karena menabrak beberapa benda kasar sebelum akhirnya ia terduduk di sebuah kursi kosong samping Fuu.


"Satu-satunya keluargamu" seringai mengerikan muncul di wajah Katrina.


Densha memejamkan kedua matanya, ia tahu! Ia harus membuat keputusan untuk melindungi semua orang yang ia sayangi.


"Jadi..." Katrina menarik nafas dalam-dalam. "Apa keputusanmu?"


Densha melirik Katrina, pria itu menoleh menatap mata Katrina yang tanpa cahaya itu.


"Aku lebih baik mati daripada harus membangun hubungan bersama iblis sepertimu!"


"Yah! Bagus bung!! Buat dia sakit hati" sorak Moa dengan tubuhnya yang terikat.


Wajah Katrina nampak gusar, ia melepas genggaman tangannya pada Densha. Seketika tubuh Densha juga terpental, ia berdiri kaku tanpa bisa menggerakkan seluruh anggota badannya.


"Keputusan yang salah" ucap Katrina tegas.


Gadis berambut biru itu mengambil sebuah Mic yang digunakan Edmund. Ia tertawa terbahak-bahak melihat wajah-wajah manusia yang tak mampu berbuat apa-apa untuk sekedar menyelamatkan diri.


Seperti yang kalian tahu, Katrina memiliki tujuan tersendiri dengan diadakannya festival ini. Kekuatan Katrina semakin bertambah karena ia membunuh seseorang. (Baca Ep. 116 berjudul festival H - 1)


Mau tidak mau Katrina harus menuruti keinginan Kraken yang menyuruhnya untuk menghabisi semua manusia di acara ini. Yahh... Tentu saja! Gadis itu ingin bersenang-senang terlebih dahulu sebelum melakukan aksinya.


"Baiklah, siapa yang harus aku habisi terlebih dahulu??" Teriak Katrina sambil memegang sebuah Mic.


"Manusia??" Katrina menatap ratusan pengunjung di depannya. Ia juga beralih menatap Densha dan Moa secara bergantian.


"Dewa??" Katrina menatap ke atas, memandang langit tempat Dewa seharusnya berada. Padahal ia sendiri belum pernah bertemu dengan sosok Dewa yang sesungguhnya.


"Atau..." Katrina berjalan mendekati tubuh Fuu yang sudah mulai berlumuran darah. "Duyung??"


TRAKK!!!


BRAK!!!


Mata semua orang membulat, mereka terpaku melihat tubuh Katrina yang secara misterius terpelanting (terbang) jauh menabrak layar besar di belakangnya.


"BAGAIMANA KALAU KETIGANYA??" Teriak seorang gadis bermata biru dari kejauhan.


Bersambung!!


Halo, Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa Like, Komentar, Vote, Follow, Favorit dan Rating ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😘🙏