
Di bawah sinar matahari yang terik sepasang pemuda tengah duduk di sebuah taman belakang sekolah, salah satu dari pemuda itu membawa sebuah buku atau lebih tepatnya majalah. Dan yang satu lagi sedang sibuk makan donat.
"Kenapa kau meremas buku itu?"
"Aku tidak meremasnya! Aku berusaha merobeknya!"
"Eh?? Kenapa? Itu kan buku milik Fuu"
"Apa kau masih punya buku seperti ini lagi?" Tanya Moa sambil terus menekuk-nekuk buku itu dengan gemas.
"Kenapa??" Densha berpikir sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Ah! Apa buku itu berhasil padamu?"
"Berikan semua buku itu padaku! Akan aku robek-robek semua buku itu, bahkan aku juga akan mengubur buku sial ini!! Dan seharusnya aku juga mengubur'mu bersama buku ini!!"
"Jadi... Tidak berhasil ya?"
"Tentu saja! Bagaimana bisa berhasil? Bahkan aku tidak mendapat reaksi apapun dari Mod, bagaimana bisa Fuu mempelajari buku aneh ini?!"
"Entahlah..." Densha mengangkat sebelah alisnya.
"Tunggu dulu! Apa saat Fuu mempraktekkan semua hal di buku ini berhasil padamu?"
"Fuu belum mempraktekkan nya padaku!"
"Larang gadis itu sebelum dia mempraktekkan nya padamu!"
"Hahaha kau ini lucu sekali! Kau sendiri yang meminta di pinjamkan buku itu. Dan sekarang kau juga yang marah-marah tidak jelas"
"Bagaimana aku tidak kesal?! Gara-gara buku ini aku jadi gagal mendapatkan cinta pertamaku!"
"Cih! Hidupmu memang mengenaskan!"
"Kau bilang apa?!"
"Moa... Hidupmu itu menyedihkan!!"
"Sialan kau ini!!"
"Kau bilang Mod cinta pertamamu kan? Jadi.. jangan pernah menyerah hanya karena dia tidak memberimu respon"
"Mmm.. kau benar! Lalu aku harus bagaimana lagi? Kau sih enak, sudah ketahuan suka sama suka"
"Jadilah dirimu sendiri Moa... Dekati dia dengan tetap jadi dirimu! Jangan ada pura-pura lagi atau buku panduan"
"Wah, kata-katamu seperti kau sudah sepuluh tahun lebih tua dariku!"
"Berisik!!" Densha menjitak kepala Moa keras.
"Sakit bangs*t!!"
"Memangnya aku peduli??"
"Cih! Sial!!"
"Hei, satu lagi pesanku.."
"Apa?!" Moa mengusap-usap kepalanya dengan lembut, berusaha meringankan rasa sakit yang di berikan Densha di kepalanya.
"Kau harus berusaha sekeras mungkin mendapatkan Mod! Kau tahu kan? Awalnya Mod menyukaiku?? Hehe... Antara kau dan aku, akulah yang paling keren!! Jadi buatlah dirimu sekeren mungkin"
"Dih! Pesan macam apa itu?! Aku rasa kepala mu sedikit membesar"
"Dasar tukang iri!!"
"Cih! Siapa juga yang akan iri padamu?"
"Tentu saja Moa kan??"
"Keparat sinting! Minta di pukul ya?"
"Hahahaa..." Densha tertawa lepas, ia senang sekali menggoda Moa dan membuat Moa merasa kalah.
"Nih donat! Jangan terlalu mengurusi masalah percintaan!! Nanti kau bisa botak!" Densha menyodorkan satu buah Donat pada Moa.
"Kau juga..."
"Eh! Kenapa aku?"
"Jangan terlalu sering makan donat! Nanti otakmu bisa berlubang seperti donat ini"
"Maksudmu aku tidak punya otak begitu??" Densha menatap Moa tajam.
"Bukan aku yang mengatakan ya?? Kau sendiri yang baru saja mengakuinya.." ledek Moa dan tersenyum.
"Kembalikan donatku!!"
"Apa sih?! Dasar!" Moa menggigit donat yang diberikan oleh Densha dengan lahap.
"Kalau mau ku kembalikan! Akan aku muntahkan" ucap Moa bercanda.
"Akan aku hajar kau habis-habisan jika berani melakukannya!"
"Hahaha"
Raut wajah Moa seketika menjadi sedih, pria itu nampak sedang banyak pikiran. Sesaat ia memang tertawa. Namun matanya tidak menunjukkan bahwa ia merasa senang.
"Kau kenapa?"
"Apa?"
"Wajah jelekmu itu!" Sindir Densha ketus.
"Dari dulu juga begini"
"Aku serius bertanya.. kau kenapa?"
"Tidak ada apa-apa!"
"Jangan bohong padaku Moa, aku sahabatmu! Dari kecil kita sudah berteman, jika wajahmu seperti itu jelas sekali kau sedang dalam masalah"
"Haahh... Kau benar! Aku memang dalam masalah"
"Apa aku bisa membantu?"
"Entahlah... Aku sendiri juga tidak tahu apakah diriku sendiri bisa membantu masalahku ini?!"
"Memangnya serumit apa masalah mu itu?"
"Kau tahu Ellis??"
"Calon ibu tiri mu itu??"
"Benar!"
"Apa ayahmu jadi menikahinya??"
"Bukan itu masalahnya"
"Lalu apa? Kau ini terlalu bertele-tele"
"Ellis adalah ibu kandung Mod"
"Astaga! Apa kau yakin?"
"Kemarin.. saat aku kencan dengan Mod, aku bertemu ayahku dan Ellis baru saja keluar dari sebuah hotel. Dan aku terkejut saat Mod berlari menghampiri wanita itu lalu menamparnya"
"Ya Tuhan..."
"Haahhh... Kenapa kisah percintaanku rumit sekali ya?! Dari situlah aku tahu bahwa Ellis adalah ibunya Mod"
"Lalu bagaimana dengan ayahmu?"
"Aku tidak tahu, setelah aku pulang dari rumah sakit, aku menemukan ayah tertidur di ruang tamu dengan banyak botol minuman. Saat aku tanya pembantuku, katanya Ellis di usir oleh ayah"
"Apa Ellis kembali ke rumah Mod?"
"Aku tidak berani menanyakannya. Lagipula Mod mungkin tidak pulang ke rumah"
"Eh! Kenapa?? Kau menculiknya?" Ucap Densha terkejut.
"Sudah gila ya?! Mana mungkin aku melakukan hal rendah seperti itu?!"
"Lalu?"
"Aku lupa menceritakan ini padamu. Ayah Mod masuk rumah sakit, dia kena kanker darah stadium 3, dan harus melakukan terapi disana"
"Astaga! Kasihan sekali Mod..."
"Benar! Itu semakin membuatku ingin terus melindunginya dan membuatnya bahagia"
"Dih! Kata-katamu membuatku merinding!!"
"Hei bung! Aku serius bodoh!!"
"Iya.. Iya.. tapi katakan itu di depannya. Jangan di depanku!!"
"Hahaha, nasibmu buruk sekali Moa.." ledek Densha dengan tawanya.
Kanker darah stadium 3 ?? - Densha.
Densha mencoba memikirkan sesuatu untuk membantu Mod, pria itu ingat bahwa darah Fuu mungkin bisa membantu, tapi apa resiko yang akan di hadapinya jika ia melakukan hal itu. Dan bagaimana cara memberikan darah Fuu pada ayah Mod. Kalau sampai rumah sakit tau bagaimana nasib Fuu ke depannya? Otak Densha benar-benar buntu saat ini.
"His!! Bikin sakit kepala saja!" Densha mengacak-acak rambutnya sendiri.
Bug!
"Dasar tidak waras! Kenapa kau tiba-tiba kesal begitu?! Bikin kaget saja!" Moa memukul bahu Densha pelan.
"Begini.. Aku tahu seseorang yang bisa menyembuhkan ayah Mod"
"Hah?! Jangan bercanda! Ini kanker loh.. bukan pilek ataupun batuk"
"Kau pikir aku bodoh?! Tidak bisa membedakan yang mana kanker dan yang mana pilek?"
"Iya... Begitulah"
"APA?! JADI KAU BENERAN BERPIKIR KALAU AKU BODOH?!" Teriak Densha kesal.
"Hahaha, awas terserang darah tinggi loh!"
"Kau yang membuatku naik darah! Sudahlah lupakan kata-kataku barusan!"
"Eh! Kenapa? Maaf.. maaf.. lanjutkan ucapanmu! Aku tadi hanya bercanda kok"
"Cih! Mood ku sudah memburuk!"
"Dih! Ngambekan!"
Densha melirik Moa dengan tajam, pria itu berdiri lalu berjalan meninggalkan Moa.
"Lho?? Kemana?"
"Kau tidak lihat aku sedang berusaha menjauhimu"
"Apa?! Dasar!! Kau betulan ngambek?"
"Berisik!!"
"Astaga! Aku hanya bercanda bung!"
"......"
"Hoi, Densha?"
"......"
"Densha..." Moa mengikuti Densha dari belakang, ia berusaha memanggil sahabatnya itu namun tidak di gubris oleh Densha sama sekali.
"Hei Densha!"
"Aku tidak dengaaarrr..." Sahut Densha santai.
Dari arah depan Fuu terlihat berlari-lari ke arah Densha dan Moa, gadis itu nampak tergesa-gesa dan panik.
Hosh!
Hosh!
Hosh!
"Eh! Fuu.. ada apa?"
"Anu.. itu.. itu.."
"Kenapa sih?" Densha menyentuh bahu Fuu, mencoba menenangkan gadis cantik di depannya.
"Apa Densha melihat gadis itu?"
"Gadis??"
"Gadis yang tadi malam! Dia di sini.. di sekitar sini"
"Apa?! Itu tidak mungkin"
"Fuu tidak bohong! Fuu jelas sekali melihatnya"
"Kau melihatnya dimana?"
"Di.. di.. di.. dimana ya?" Fuu menunduk dan menyentuh dagunya sendiri.
"Hah?! Kau tidak ingat?"
"Eh? Ingat apa??"
"Kau bilang kau melihat gadis itu"
"Gadis?? Fuu melihat gadis? Gadis yang mana?"
Densha menepuk jidatnya sendiri dengan keras, ia menoleh ke arah Moa yang juga ikut-ikutan geleng kepala. Padahal Moa juga dengar bahwa Fuu membahas seorang gadis misterius.
"Fuu! Sepertinya kau harus kembali ke dalam air" pinta Moa.
"Fuu sudah melakukannya tadi pagi kok"
"Jelas-jelas kau tadi membahas seorang gadis yang katamu semalam kau juga melihatnya"
"Eh?? Apa Fuu bicara begitu?"
"Astaga! Bisa gila aku!! Sudah lah.. aku mau kembali ke kelas dulu"
Moa berjalan melewati Fuu dan Densha, ia pergi dengan raut muka yang masam karena lelah berurusan dengan Fuu yang hanya berputar-putar saja.
"Densha.. apa benar Fuu bicara begitu?"
"Iya.."
"Kenapa Fuu tidak ingat?"
"Memangnya yang terakhir kali kau ingat apa?"
"Fuu sedang bermain ikan di dekat kantor guru, lalu Fuu berlari kesini"
"Apa alasanmu berlari kemari?"
"Eh! Apa ya?? Fuu tidak tahu, tiba-tiba sudah menuju tempat ini"
Kenapa rasanya ada yang ganjil ya? Tapi apa?? Tidak mungkin Fuu kemari tanpa sebab kan?? - Densha.
"Ngomong-ngomong kau ngapain tadi di dekat kantor guru?"
"Bermain ikan yang ada di kolam kaca itu"
"Oh... Aquarium itu ya?"
"Iya" ucap Fuu dan menganggukkan kepala.
Bermain ikan ya.. - Densha.
"Tunggu dulu! Betulan bermain kan??" Densha mencengkram pergelangan tangan Fuu dengan kuat.
"Hehe" Fuu tersenyum senang menatap Densha, gadis itu mengunci bibirnya rapat-rapat.
"Astaga! Sudah aku peringatkan jangan lakukan itu kan!!"
Densha berlari secepat mungkin untuk sampai di kantor guru, benar saja. Ikan yang Densha hitung kemarin ada sekitar lima belas ekor, kini hanya tersisa tujuh ekor saja. Mata Densha terbuka lebar, pria itu melotot dengan kengerian yang dibuat oleh Fuu. Walaupun tidak ada bekas darah disana, tapi bagaimana jika ada seseorang yang curiga dengan hilangnya ikan-ikan di aquarium itu.
"Densha melihat apa?!" Tanya Fuu dengan polosnya.
"Dasar bodoh! Sudah berapa kali ku peringatkan jangan makan ikan di aquarium ini kan?! Lihat!! Ikannya tinggal tujuh" Densha menyentil dahi Fuu keras.
"Lho kok tujuh?? Fuu hanya makan lima"
"Heleh... Kalau begini kan aku harus datang ke sekolah pagi-pagi untuk membeli ikan baru dan menaruhnya ke aquarium ini, agar tidak ada yang curiga"
"Fuu tidak bohong! Fuu hanya makan lima"
"Terus kau pikir aku yang memakan sisanya?"
"Tidak.. bukan begitu!"
"Sudah lah! Ayo kembali ke dalam kelas" Densha menarik tangan Fuu lembut.
Fuu yang merasa curiga. Masih terus menatap ke arah aquarium, ia yakin sekali bahwa Fuu hanya makan lima ekor ikan. Kenapa bisa tersisa tujuh ekor ikan di dalam aquarium? Lalu siapa yang memakan tiga ekornya lagi?
Fuu bingung... Sepertinya ada yang tidak beres! - Fuu.
Dari balik dinding sepasang mata mengawasi Densha dan Fuu, seseorang itu tersenyum dengan indahnya memperhatikan tingkah Fuu dan Densha.
Bersambung!
Jika kalian menyukai Novel ini, silahkan klik Like ❤️, komentar, Vote dan jangan lupa beri rating juga! Boleh juga di favorit 😘 dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya.. Terima kasih.