Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Festival (H - 3) bag.1



Pagi yang cerah menghampiri sebuah kota tepi laut. Lalu lalang orang-orang yang beraktivitas di pagi hari cukup ramai, tak terkecuali dua orang gadis yang sibuk dengan sendirinya.


"Ayo mama! Bangun!!" Ryn menarik selimut yang membalut tubuh Mod.


"Hng... Jam berapa ini?"


Mod meraba-raba meja kecil di samping ranjang tidurnya, gadis itu menyipitkan matanya untuk melihat jarum jam.


"Ya Tuhan! Ini masih jam tujuh loh?!" Mod menyandarkan kepalanya pada bantal lagi.


"Aku tahu! Jadi cepat bangun!"


"Aku ingin tidur! Kalau mau bangun, bangun saja sendiri!!" Gerutu Mod kesal.


"Mama!! Besok kan kencan mama, kita harus ke salon hari ini"


"Sekarang masih terlalu pagi untuk ke salon"


"Tidak mama, perawatannya membutuhkan waktu lama loh! Ayolah... Kita juga belum ke rumah ibuku kan?" Ryn merengek-rengek memohon pada Mod.


Dengan kesal, Mod bangun dari tidur nya. Gadis itu menatap Ryn dengan jengkel, saking jengkelnya ia sampai memelototi Ryn. Namun itu tak berhasil membuat Ryn takut, tribrid itu malah semakin bersemangat menggoda Mod.


"Katakan padaku! Apa yang membuatmu terburu-buru seperti ini?"


"Aku ingin melihat mama dan ibuku cantik sebelum aku pulang"


"APAAA?!!" Mod berteriak kencang, mata gadis itu sampai terbelalak.


"Sstt! Kakek masih tidur loh..." Ryn mengacungkan satu jarinya di dekat bibir sambil melirik ke arah pintu kamar Mod.


"Kau mau pulang hari ini??"


"Iya! Aku rasa semuanya akan baik-baik saja"


Mod terdiam, raut wajahnya berubah menjadi sedih. Jujur Mod dan Ryn tidak tahu, bahwa Moa dan Fuu mengalami tragedi buruk akibat ulah Katrina, makanya Ryn bilang bahwa semuanya baik-baik saja.


"Kenapa mama??"


"Jangan pulang! Disini saja, aku akan kesepian saat kau pulang nanti"


"Eh? Tidak mungkin, saat aku kembali nanti pasti mama bahkan tidak akan mengarahkan pandangannya padaku" sindir Ryn asal.


"Itu tidak benar!"


"Hehe, aku yakin pasti begitu! Karena saat aku kembali kesini mama pasti sudah pacaran dengan Moa" ungkap Ryn dengan tawanya.


"Aku pasti sangat merindukanmu!"


Mod memeluk tubuh kecil Ryn, dengan berat hati Ryn membalas pelukan dari Mod. Sebenarnya ia juga tak ingin pergi dari tempat itu tapi ia (Ryn) juga tidak bisa membiarkan kedua orangtuanya di tempat lain merasa khawatir.


"Hanya dua hari mama! Sebenarnya aku ingin sekali mengunjungi Festival tengah kota nanti, hehe"


"Kalau begitu jangan terlalu lama pulangnya ya??" Pinta Mod lembut.


"Aku usahakan, aku akan pulang saat Festival itu di mulai"


"Aku akan selalu menunggumu" Mod mengusap punggung Ryn pelan.


"Nah! Sudah selesai pelukannya!" Ryn menatap wajah Mod yang teduh. "Sekarang mama harus mandi! Dan kita berangkat"


"Oke..." Mod menganggukkan kepala pelan.


"Hore! Girls day!!"


Sepertinya Ryn sangat antusias dengan acara jalan-jalannya kali ini. Gadis itu sampai senyum-senyum sendiri membayangkan beberapa hal menyenangkan yang mungkin saja terjadi.


______________________________________________


"TIDAK BOLEH!!"


Wajah Mod seketika lesu mendengar kalimat yang keluar dari mulut Densha, padahal posisi gadis itu sekarang sedang sujud sembah pada Densha.


"Kenapa tidak boleh??"


"Kalau aku bilang tidak ya berarti tidak! Tanpa datang ke salon Fuu sudah bagus kok!"


Densha melipat kedua tangannya di depan dada. Raut wajahnya nampak masam dan tak senang, mendengar Mod ingin pergi ke salon bersama Fuu dan satu teman perempuan lain.


"Ayolah! Aku mohon... Kita akan pergi bertiga kok!"


"Oh iya?? Aku bahkan tak mengenal temanmu yang satunya"


Dia anakmu bodoh!! - Mod membuang pandangannya dengan kesal.


"Apa-apaan tatapan'mu itu?!"


Mod jadi salah tingkah mendengar pertanyaan Densha, gadis itu pikir Densha tidak melihatnya saat dirinya (Mod) meledek Densha dengan tatapan matanya.


"Ah! Haha... Bukan apa-apa kok, sungguh tatapan itu bukan untukmu! Boleh ya?? Please..." Mod menggenggam jemarinya sendiri untuk memohon pada Densha.


"Tidak Mod!! Kau tidak tahu ya kalau si Katrina sekarang sudah menjadi penyihir?!" Densha memandang Mod dengan serius, pria itu bicara seolah-olah dirinya mengetahui kemampuan yang dimiliki Katrina.


"Aku tahu" sahut Mod cepat.


"Eh?? Tahu?? Serius??"


"Iya... Dia pernah menunjukkannya di depanku, lebih tepatnya dia menyerangku" ungkap Mod sedih.


"Nah! Kau saja di serang, dan sekarang kau mau mengajak Fuu pergi? Kalian itu gadis-gadis lemah" cibir Densha sambil memelototi Mod.


"Lemah katamu??" Mod beranjak berdiri dari posisi berlututnya. "Hei tuan! Aku sudah pernah bilang kan? Jangan menilai orang dari luarnya saja!"


"Ck! Sekarang bilangnya begitu! Coba bilang antara kau dan Katrina siapa yang menang waktu itu?" Densha mendengus dengan sangat kesal, ia menggerak-gerakkan kaki kanannya untuk menunggu jawaban dari Mod.


"Itu...." Mod menggaruk pipinya sendiri, gadis itu ragu untuk memberi jawaban. "Mmm...."


"Tidak bisa jawab?! Pasti Katrina kan? Dan asal kau tahu saja! Moa dan Fuu baru saja di serang Katrina beberapa hari yang lalu, dan yang menang itu Katrina! Sekarang berikan aku alasan yang sangat bagus untuk mengijinkan dirimu membawa Fuu pergi ke salon yang menurutku tak penting itu!"


Mod memalingkan wajahnya, ia telah kalah telak dalam urusan berdebat dengan tuan muda Mikaelson. Dengan senyuman kecutnya Mod menarik nafas panjang sebelum memberikan pembelaan.


"Oke, begini... Aku tak punya alasan cukup bagus apalagi yang sangat bagus!"


"Nah... Ku bilang juga apa kan!"


"Tapi...." Mod melirik kesana-kemari untuk mencari alasan. "Apa kau tidak bisa menanyakannya pada Fuu terlebih dahulu? Kau tidak bisa melarangnya begitu saja kan?! Dia berhak menjawab"


Densha menundukkan kepalanya, kalimat Mod memang benar! Tak seharusnya ia melarang Fuu semaunya sendiri. Tapi dipikir bagaimanapun yang ia lakukan saat ini adalah demi kebaikan Fuu.


"Aku tak perlu menanyakannya... Aku yang memberinya makan dan tempat tinggal! Mau tinggal disini harus mengikuti peraturan ku" jawab Densha tegas.


Cih! Pria brengsek!! Minta ijin ke salon saja seperti meminta ijin pada Dewa!! - Mod.


Baiklah... Rencana B - batin Mod senang.


Mod tertawa cekikikan di depan Densha, membuat pria itu terkejut dengan aksi Mod yang tiba-tiba seperti orang kerasukan.


"Hei! Kau kenapa? Sudah gila ya?" Ledek Densha.


"Gadis ini benar-benar sudah sinting!"


Mod celingak-celinguk mencari keberadaan Fuu namun ia tak berhasil, gadis itu berpikir mungkin saja Fuu saat ini masih ada di kamar Densha. Lalu tanpa ijin dan permisi, Mod menggandeng tangan Densha dan menyeret pria itu keluar rumah.


"Hei! Apa-apaan ini?!" Maki Densha sambil menarik kedua tangannya dari Mod namun tak berhasil.


"Berisik! Ayo sini ikut aku!"


KLAP!! (Pintu tertutup)


Sesampainya di depan pintu rumah, Mod mengarahkan pandangannya menatap seorang gadis yang tengah berdiri sendirian di halaman rumah Densha.


"Ryn?!" Panggil Mod kencang. "Cepat kemari!!"


Leah?? Ah bukan maksudku Ryn?? Bukankah Moa bilang dia pulang ke rumah ibunya? Kenapa ada disini? - Densha.


"Kenapa membawa dia? Bukankah harusnya Fuu??" Tanya Ryn bingung.


"Rencana B" sahut Mod cepat.


"Hei kalian berdua?! Apa itu rencana B?? Dan kenapa ada aku di dalamnya?!"


Densha berusaha menarik kedua tangannya dari Mod sekali lagi dan di tahan oleh kedua gadis di depannya.


"Mama serius mau melakukan ini?" Ryn menatap Mod serius.


"HAH?! MAMA?? APA MAKSUDNYA??" Teriak Densha keras.


Mata Ryn dan Mod membulat bersamaan, kedua gadis itu saling pandang kemudian Mod tersenyum dengan liciknya.


"Masih yakin tidak mau melakukannya??" Mod melirik sinis pada Densha.


"Apa?! Melakukan apa? Kalian ngomongin apa sih?" Densha terus mencoba melawan.


Ryn menganggukkan kepalanya pelan, gadis itu mempererat genggaman tangannya pada kedua tangan Densha. Kini posisi mereka saling berhadapan, dengan satu tarikan nafas, Ryn memejamkan kedua matanya menyanyikan nyanyian duyung untuk menghapus beberapa ingatan Densha. Saat membuka matanya, Densha terkejut dengan perubahan warna mata Ryn. Yang awalnya biru menjadi merah seperti darah.


"Maafkan aku papa..." Gumam Ryn pelan.


BRUKKK!!!


Dengan sigap, Ryn memeluk tubuh Densha yang jatuh ke arahnya. Gadis itu mengusap punggung Densha dengan lembut lalu tersenyum, ia mencium aroma tubuh Densha yang selama ini tak pernah ia rasakan.


"Papaku wangi sekali... Baunya enak! Pantas saja mamaku sangat menyukainya" gumam Ryn lirih.


"Eh?? Mama yang mana nih??" Mod menyenggol bahu Ryn pelan.


"Ah! Hahaha... Tentu saja mama Fuu" ucap Ryn datar. "Eh?? Tapi mama juga pernah menyukai papaku kan??" Timpal Ryn lagi.


"Hah.... Itu sih cuma sekedar suka, waktu itu aku ingin populer" jawab Mod sombong.


"Iya-iya... Terserah mama deh! Sekarang bisa bantu aku membawa tubuh papaku?"


"Ah iya! Hampir saja lupa! Pasti berat ya??"


"Banget!!"


Mod dan Ryn membawa tubuh Densha dengan sangat hati-hati memasuki rumah, mereka berdua meletakkan tubuh Densha di atas sofa dan mengatur agar pria itu merasa nyaman berbaring disana.


Tap!


Tap!


Tap!


(Bunyi langkah kaki mendekat)


"Mod?? Leah??" Sapa Fuu di belakang kedua gadis itu.


"Ah! Fuu?? Hai" Mod melambaikan tangannya tanpa rasa bersalah.


"Densha kenapa?"


"Ah... Itu dia hanya tidur!" Sahut Mod cepat.


"Tidur?? Dia baru saja bangun, kenapa tidur lagi?"


Fuu melangkahkan kakinya dan ingin menyentuh tubuh Densha namun langkahnya di hentikan oleh putrinya (Ryn). Ia membentangkan kedua tangannya untuk menghalangi Fuu.


"Leah?? Kenapa??" Fuu mengernyitkan dahinya bingung.


"Mm... Namaku bukan Leah, namaku Deryne, panggil saja Ryn"


Deryne?? Hmm... Nama yang tidak asing bagi Fuu! - Fuu.


Fuu lupa bahwa ia mengatakan hal ini dengan spontan waktu membahas nama anak bersama Densha dan Moa.


"Maaf... Waktu itu Moa sudah bilang kok, hanya saja Fuu lupa. Hehe"


"Nah... Tadi sebelum Densha tidur, aku meminta ijin padanya untuk mengajakmu ke salon! Mau pergi??" Mod tersenyum penuh kemenangan.


"Mau! Fuu ingin ikut!"


"Oke! Ayo berangkat"


Ryn merangkul bahu Fuu dengan bahagia. Sebenarnya Fuu bingung harus bersikap bagaimana di depan Ryn, karena Fuu masih tidak tahu apakah Ryn itu baik atau buruk?


"Ng... Anu... Ryn..." Ucap Fuu terbata-bata.


"Hmm?? Ada apa?"


"Kau ini apa? Baik atau buruk?" Tanya Fuu tanpa ragu.


"Hmm..." Tatapan mata Ryn mendadak menjadi sedih, ia tak menyangka Fuu akan menanyakan hal aneh pada anaknya sendiri. Tapi Ryn tidak boleh terbawa perasaan, karena Fuu tidak tahu bahwa ia adalah putrinya.


"Aku... Aku tidak jahat"


"Benarkah??" Fuu tersenyum tulus menatap gadis di sampingnya, dengan senang Ryn menganggukkan kepalanya.


"Hehe... Syukurlah! Fuu senang mendengarnya"


Ibu masih terlalu naif ya? - Ryn.


"Aku senang kalau kau senang"


Sementara itu Mod masih tertawa cekikikan menatap Densha yang tak sadarkan diri, Mod tersenyum puas melihat malaikat penjaga neraka itu terlelap.


"Hahaha, rencana B memang selalu berhasil! Bye..."


Mod menutup pintu rumah Densha dengan hati-hati lalu menguncinya, gadis itu keluar rumah dengan wajah bahagia.


Yes!! - batin Mod dan Ryn bersamaan.


Bersambung!!


Berikan cinta kalian dengan cara Like, Favorit, Follow, Vote, Rating dan Komentar! Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya... Terima kasih 😘😉