Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Moa dan Fuu (part 1)



"Kemari Fuu!"


"Moa mau apa?"


"Memang mau apa lagi?! Kita harus memanjat pagar ini, kalau pagar depan di jaga satpam. Kalau pagar belakang ini tidak ada yang jaga, kebanyakan murid bolos lewat sini sih.."


"Me.. memanjat??" Fuu mengernyitkan dahi, gadis itu nampak bingung.


"Iya, naik ke atas sana!" Moa menunjuk pagar besi yang menjulang tinggi.


"Eh?"


"Kenapa? Ini mudah kok!" Moa memulai aksinya untuk memanjat pagar belakang sekolah, pria bertubuh tinggi itu kini telah sampai di sisi lain pagar.


"Ayo, Fuu sekarang giliran mu! Lempar tasmu padaku!"


"Uhm.. oke, baik" Fuu melemparkan tas sekolahnya melewati pagar pembatas, dengan lihai Moa menangkap tas itu.


"Sekarang! Naik lah"


"Umm" Fuu menganggukkan kepala pelan, gadis itu mencoba meraih pagar untuk pegangan namun tidak sampai karena tubuhnya yang pendek.


"Astaga! Kau ini pendek sekali" Moa masih terus menyemangati Fuu dari sisi lain pagar.


"Anu, sepertinya Fuu tidak bisa"


"Hah?! Gampang sekali kau menyerah!"


Cih! Merepotkan sekali.. - Moa.


Moa menaiki pagar lagi untuk membantu Fuu.


"Ayo! Naik ke punggungku" Moa memegang pagar dengan kedua tangannya, ia sedikit membungkuk agar Fuu bisa menaiki badan pria itu.


"Na.. naik?"


"Iya, ayo cepat!"


"Tapi.."


"Cepat lah, sebelum guru piket lewat sini"


"Okay, baik"


Fuu menaiki punggung Moa pelan-pelan, sampai ia berhasil menuju atas pagar.


"Moa, Fuu sudah di atas.. Hehe"


"Hei, jangan bicara sekencang itu. Cepat turun!"


"Turun??"


"Iya, lompat lah!" Perintah Moa, pria itu juga kembali memanjat pagar.


"Okay, baik"


Setelah Fuu melompat dari atas pagar, Moa juga ikut melompat. Mereka berdua mengambil tas sekolah mereka yang di letakkan Moa di atas rumput.


"Ehem!"


"Eh??" Moa dan Fuu sama-sama terkejut, ia menoleh ke arah guru piket di belakang mereka.


"Kalian!! Masih pagi sudah mau bolos ya?"


"Mau bolos??" tanya Moa kebingungan.


"Tidak sabar untuk pacaran??"


"Apa?! Pacaran? Tunggu, ibu guru ini sedang bicara apa?!"


"Moa dan Fuu terlambat datang ke sekolah, pagar depan di jaga satpam. Sedangkan pagar yang ini tidak ada penjaga, Moa bilang kebanyakan murid bolos lewat sini. Hehe" Fuu tersenyum senang menjelaskan keterlambatannya pada ibu guru yang tengah piket.


Tamat sudah riwayatku.. - Moa mendelik ke arah Fuu, gadis itu malah tersenyum menatap Moa.


"Oh.. jadi begitu ya? Apa benar itu Moa?!" Guru itu menatap Moa dengan sangat tajam.


"Bu.. bukan, bukan begitu.."


"Eh? Tapi Fuu ingat Moa berkata begitu sebelum Moa dan Fuu naik pagar itu.." Fuu menunjuk ke arah pagar besi di belakang mereka berdua.


Sepertinya aku benar-benar akan mati - Moa tengah menangis dalam hati saat ini.


"Ck! Ck! Ck! Terima kasih gadis muda, kau jujur sekali" puji sang Guru pada Fuu.


"Terima kasih.." Fuu sedang tertawa saat ini.


"Terima kasih Fuu, hatimu benar-benar murni.. saaangaaatt muurrnii" Moa melotot ke arah Fuu.


"Sama-sama Moa, Fuu senang"


"Senang ya?" Guru itu mengangkat sebelah alisnya.


"Iya, Fuu senang"


"Serahkan tas sekolah kalian kepadaku.. Dan silahkan berdiri di tengah lapangan!"


"Tas?? Bu guru mau membawakan tas milik Fuu??"


"Hei, dasar bodoh!! Kita ini akan di hukum dan kau sangat senang?"


"Di hukum?? Umm.. Hukum itu apa?"


Moa menepuk jidat nya sendiri dengan keras.


Ya Tuhan!! Mimpi apa aku semalam? - Moa.


"Sini! Berikan tas kalian!!" Ibu Guru merampas tas sekolah milik Moa dan Fuu dengan paksa, ia membawa tas tersebut ke dalam kantor.


"Ayo!"


"Kemana?"


"Bersenang-senang" ucap Moa ketus, pria itu berjalan mendahului Fuu menuju ke lapangan, dengan polosnya Fuu mengikuti langkah Moa.


"Moa? Kenapa kita berdiri disini? Katanya bersenang-senang?"


"Berkat kebaikan hatimu lah kita berakhir di sini!"


"Kaki Fuu sakit"


"Hah?! Tadi kau terlihat senang saat menerima hukuman"


"Fuu tidak tahu kalau hukuman itu seperti ini"


"Bodoh!" Gerutu Moa kesal.


"Sampai kapan Moa dan Fuu berdiri di sini?"


"Sampai jam makan siang"


"Kapan itu?"


"Berisik!! Kau ini cerewet sekali.."


"Moa??"


"Hemm??"


"Apa itu cerewet??"


Ya Tuhan! Apa setiap hari Densha harus berhadapan dengan gadis ini? - Moa.


"Fuu.. saat ini aku sedang tidak ingin berpikir!"


"Moa hanya perlu bicara tidak perlu berpikir"


"...."


"Kenapa Moa diam?"


"...."


"Moa??"


"BERISIK!!" Moa membentak Fuu membuat gadis itu terkejut.


"Fuu kaget!"


"Diam lah Fuu!" Perintah Moa tegas, wajah pria itu sangat tidak bersahabat saat ini.


"Okay, baik"


Waktu telah menunjukan pukul sebelas siang, cuaca hari itu sangat cerah. Matahari bersinar dengan terik, membuat kulit siapa saja akan terasa terbakar. Terutama untuk Fuu yang seorang duyung, ia tidak boleh terlalu lama di bawah terik matahari atau kulitnya akan melepuh.


Ku.. kulit Fuu.. - Fuu.


"Anu, Mo.. Moa??"


"Apa?" Moa tidak memandang ke arah gadis di sampingnya, pria itu tetap memandang lurus ke arah tiang bendera.


"Itu.. kepala Fuu terasa aneh"


"Kau yang aneh! Bukan kepalamu!"


"Kepala Fuu terasa berat"


"Ck! Sudah lah Fuu.."


"Mo.. Moa??" Suara Fuu terdengar bergetar.


"Tunggulah sebentar lagi, kurang satu jam lagi hukuman kita selesai" Moa memperhatikan jarum jam di tangan kirinya.


BBRUUKK!!


"Eh??"


Moa terkejut, ia melihat Fuu jatuh pingsan, dan bukan hanya itu kulit tubuh Fuu nampak kering dan melepuh. Banyak ruam merah di sekujur badannya.


"Astaga! Hei Fuu, kau tidak bercanda kan?" Moa berjongkok mendekati Fuu, tangan pria itu menyentuh wajah Fuu yang sangat kering.


"Ya ampun! Dia kenapa?" Suara Moa mulai terdengar panik.


"Hoi Fuu, Fuu.. bangun!"


"Mo.. Moa.." suara gadis itu sangat lirih.


"Ka.. kau kenapa?"


"Mo.. a.. tolong ba.. wa.. Fuu ke.. laut" pinta gadis itu dengan sedih.


"Hah?! Bukannya ke klinik kau malah minta ke pantai! Bagaimana sih?!"


"Fuu mohon.." suara Fuu benar-benar serak, badannya sangat lemas.


"Astaga!"


Moa menggerutu, namun pria itu tetap menuruti kemauan Fuu. Gerbang depan sekolah saat ini kosong, tidak ada yang menjaga.


Syukurlah.. pak satpam itu tidak ada! - Moa.


Moa menggendong tubuh Fuu menuju pantai depan sekolah mereka, sesampainya di sana Moa meletakkan Fuu di pasir pantai yang sedikit jauh dari air. Nafas gadis itu tersengal-sengal seperti merasakan sesak yang amat sangat.


"Sekarang apa??"


"Fuu, harus ke sana!" Fuu menunjuk ke arah deburan ombak di pantai, ia membuka semua baju yang ia kenakan saat ini, membuat tubuhnya benar-benar polos.


Fuu menatap Moa bingung, gadis itu berjalan dengan sempoyongan menuju bibir pantai. Perlahan Fuu menenggelamkan tubuhnya ke air.


"Astaga! Apa yang gadis gila itu lakukan?!"


Moa yang panik, berlari mengejar Fuu sebelum tubuh gadis itu benar-benar hilang di telan air laut.


"Fuu??" Moa mencoba membelah air untuk mencari keberadaan Fuu namun sia-sia.


"Ck! Sial! Apa dia tenggelam? Astaga.. bagaimana kalau dia tidak bisa berenang?" Moa semakin menuju ke tengah laut yang cukup dalam.


"Fuu! Jangan bercanda!! Kalau kau tidak bisa berenang kenapa datang ke tempat ini?! Da.. dan.. dan lagi kenapa kau telanjang!! Dasar gadis bodoh!!" Moa memukul-mukul permukaan air, kepanikan terukir jelas di wajahnya.


Apa aku harus menyelam? - Moa.


Ta.. tapi, aku tidak pandai berenang! - Moa.


"Fuu!!"


Cplash..


"Astaga! Apa itu?" Moa mendelik kaget, ia melihat sirip ikan besar baru saja melintas di depan matanya.


"Hi.. hi.. hiu? Apa itu hiu?"


Ja.. jangan-jangan Fuu telah di makan hiu itu - Moa.


Moa memutar badannya dengan cepat, pria itu buru-buru untuk mencapai bibir pantai, namun langkahnya sangat berat karena pasir pantai yang menghambat kakinya.


"Sial!"


Cplash..


"Ampuni aku Tuhan! Aku berjanji akan lebih taat lagi!" Moa sungguh panik, keringat dingin bercucuran di wajah pria manis itu.


"Eh? Ka.. kakiku?"


BYUURRR!!


Kaki Moa keram, membuat pria itu tenggelam di lautan yang tidak cukup dalam. Tangannya berusaha meraih-raih sesuatu di atas permukaan namun ia tidak menemukan apapun. Sekelabat matanya melihat ikan raksasa mondar-mandir di depan matanya. Jantung Moa sungguh berdebar-debar saat ini.


Astaga.. astaga.. astaga.. - Moa.


"Moa??"


Hah?! I.. ikan itu bicara? - Moa memberanikan diri untuk melihat penampakan ikan di depannya.


"Moa??" Fuu memegang wajah Moa yang saat ini menahan nafas, gadis itu memperhatikan kaki Moa yang keram.


"Fuu? Hok!" Mata Moa melotot, pria itu saat ini tersedak karena berbicara, ia lupa bahwa saat ini ia sedang tenggelam. Fuu merasa panik, gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan meraih tubuh Moa, untuk ia bawa ke permukaan.


Du.. du.. duyung? Benar-benar duyung? Duyung sungguhan! - Moa.


Fuu membawa Moa ke bibir pantai, ia membantu memompa dada Moa agar pria itu segera mengeluarkan air laut yang tertelan.


"Huwekk!!"


Nafas Moa tersengal-sengal, ia memuntahkan semua air yang ia telan.


"Mo.. Moa?? Moa baik-baik saja?"


"Ya Tuhan!!" Moa terlonjak kaget, pria itu refleks berdiri dari tempatnya.


"Moa.."


"Fuu, kau.. kau.. kau.."


"Maaf.."


"Heh?? Kenapa minta maaf? Kau sudah menyelamatkanku!"


"Tolong, jangan beritahukan ini pada siapapun!"


"Apa kau seorang putri duyung?" Moa menunjuk ke arah Fuu.


"Uhm.." Fuu menganggukkan kepala pelan.


"Astaga! Astaga!"


"Moa, Fuu mohon.." Fuu menggenggam kedua tangannya dan memohon kepada Moa dengan tulus.


"A.. aku.. aku selalu percaya kalau makhluk mitologi itu nyata!"


"...."


"Pantas saja cara bicaramu dan semuanya tentangmu itu asing, lalu hari ini kau hampir jadi ikan asin!!"


"..."


"Apa Densha tahu?"


"Tidak, Fuu tidak berani mengatakannya" wajah gadis itu berubah sedih.


"Oh.. lihat kau berdarah!" Moa menunjuk ke arah sirip Fuu.


"Tidak apa-apa, ini alami terjadi saat sirip Fuu berubah menjadi kaki"


"Astaga! Ini namanya penjajahan"


"Penjajahan?"


"Ya, kau ikan di laut dan menyamar menjadi manusia di daratan. Berapa banyak yang seperti itu?"


"Fuu tidak tahu, Fuu belum pernah bertemu mereka"


"Belum pernah?? Berarti ada??"


"Moa, Fuu tidak pernah berbuat jahat"


"Mungkin kau tidak jahat, tapi ba.. bagaimana dengan sejenis mu?"


"Fuu yakin, bangsa Fuu tidak akan menyakiti manusia"


"Astaga!! Kepalaku mau pecah rasanya!"


"Moa.."


"Iya-iya.. tenang saja! Aku tidak akan membicarakan ini pada siapapun!"


"Terima kasih Moa"


Moa terpaku melihat proses pengelupasan sirip Fuu yang sepertinya menyakitkan, pria itu bergidik ngeri.


"Hei, apa aku harus diam saja?"


"Jika Moa tidak keberatan, bisa ambilkan baju Fuu? Setelah pengelupasan ini selesai. Fuu tidak akan memakai apapun!"


"Ba.. ba.. baik!" Moa tergopoh-gopoh berlari ke tempat Fuu terakhir meletakkan seragam sekolahnya.


Astaga! Aku juga tidak ingin melihatmu telanjang tau!! Harusnya kau seperti itu hanya di depan Densha - Moa.


***


"Densha! Lihat itu Moa.. dan.. Fuu?? I.. itu.. itu Fuu!" Mod menepuk punggung Densha keras.


"Moa dan Fuu??"


"Iya! Itu.." Mod menunjuk ke arah datangnya Moa dan Fuu.


"Fuu??" Densha mendekati Fuu dan memeluk gadis itu senang.


"Kau kemana saja? Aku pikir kau sudah di sekolah pagi-pagi sekali"


"Dan kau kenapa tidak menungguku? Aku menunggumu sampai kering di samping tiang listrik persimpangan itu!" Sahut Moa, ia memaki-maki Densha.


"Fuu.. Fuu terlambat bersama Moa"


"Terlambat??"


"Fuu di hukum oleh ibu guru"


"Kau kan berangkat lebih pagi dariku! Bagaimana bisa terlambat?"


"Saat Fuu datang ke sekolah, sekolah masih sepi jadi Fuu kembali pulang lalu berjalan-jalan sebentar dan bertemu Moa"


"Hah?! Jadi kau sudah sampai ke sekolah dan kembali lagi??" Nada suara Moa meninggi, ia tidak percaya dengan alasan yang di buat oleh Fuu.


"Sudah lah.. yang penting Moa dan Fuu sudah ada" Mod mencoba menengahi ketegangan di antara mereka.


Kurasa aku bisa cepat mati jika tinggal bersama Fuu dua hari saja! - Moa.


"Uhmm.. kenapa baju mu lembab?" Densha menatap ke arah Moa.


"Oh.. i.. ini.. ini.. tadi aku.."


"Kenapa kau gugup Moa?"


"Gugup? Siapa yang kau bilang gugup?"


"Tentu kau! Ada apa??" Densha melirik ke arah Moa dan Fuu secara bergantian.


Ya Tuhan.. Apa selama ini Moa dan Mod adalah duyung? Jadi bukan hanya Fuu duyung di dunia ini? - Densha semakin salah paham di dalam pikirannya.


"Aku di siram oleh guru BK karena ketahuan memanjat pagar untuk masuk ke sekolah!" Moa terpaksa berbohong agar Densha tidak curiga.


"Eh? Benarkah?"


"Iya, kau tanya saja pada Fuu!" Moa memandang ke arah Fuu.


"Benarkah itu Fuu?"


"Eh? Anu.. itu.. be.. be.. benar" Fuu yang awalnya tidak pandai berbohong harus berbohong demi melindungi Moa.


Kau berbohong Fuu! - Densha.


"Ah! Haha, lebih baik aku ke loker sekolah. Aku harus mengganti pakaianku yang basah ini!" Moa berlalu pergi meninggalkan tempat itu.


"Kalau begitu, aku juga ke kelas ya? Sampai jumpa Fuu!" Mod melambaikan tangan ke arah Fuu.


"Sampai jumpa Mod!!"


Densha menggandeng tangan Fuu, ia membawa gadis itu memasuki ruang kelas mereka. Di depan pintu kelas dia bertemu dengan Katrina, mata Katrina sangat tajam memperhatikan Fuu.


"Anu.. Densha.." Fuu dengan cepat melepas genggaman tangan Densha.


"Ada apa Fuu?"


"Ah.. tidak, hanya tangan Fuu terasa sakit"


"Eh? Sakit? Kenapa??" Densha meraih tangan Fuu lagi untuk memeriksanya. Fuu menatap Katrina, dari jauh Katrina menandakan untuk tidak terlalu dekat dengan Densha. Katrina menggeleng-gelengkan kepalanya kepada Fuu.


"Fuu baik-baik saja!" Fuu berlari menuju ke kelas mereka, ia bertatap mata dengan Katrina yang saat itu melotot ke arah Fuu.


Fuu kenapa sih? - Densha.


Setiap kali Densha bertanya Fuu selalu mencoba menghindar, ia selalu berkata bahwa gadis itu baik-baik saja. Fuu bingung akan perasaanya, dan ia bingung apa yang harus ia lakukan di situasi seperti ini. Fuu hanya bisa menjadi diri sendiri saat di rumah Densha, di sekolah gadis itu seperti orang lain. Itupun karena Fuu takut Katrina akan membongkar rahasianya kepada Densha.


Sikap Moa sedikit berubah pada Fuu, yang awalnya dia suka marah-marah akan kebodohan Fuu, sekarang pria itu lebih memaklumi kebodohan Fuu sebagai ketidaktahuan Fuu karena bagaimanapun juga Fuu bukanlah manusia. Hari demi hari mereka bersekolah bersama, Densha masih terus di pusingkan dengan identitas Fuu, sedangkan Fuu di pusingkan dengan sikap Katrina. Moa dan Mod baik-baik saja, hanya mereka belum saling mengerti perasaan satu sama lain. Hingga tiba saatnya sepupu Densha datang ke sekolah itu untuk menjadi murid baru di sekolah tersebut. Hal itu semakin membuat Fuu merasakan sesak di dadanya, gadis itu tidak paham bahwa saat ini ia tengah cemburu.


"Perkenalkan, nama saya Jennie. Semoga kalian bisa menerima saya dengan baik!" Jennie tersenyum dengan manisnya, membuat para pria jatuh hati pada pandangan pertama.


Bersambung.