
Hari ketiga ujian~
"Nah! Besok adalah hari terakhir kalian ujian, semoga berhasil ya??" Ucap seorang guru di depan papan tulis.
Teng!
Teng!
Teng!
Siang hari yang panas, seluruh siswa sudah di perbolehkan untuk pulang. Karena ujian sudah selesai dan tidak ada kegiatan lagi di dalam sekolah, semua kegiatan ekstrakurikuler di sekolah diliburkan selama ujian berlangsung.
Moa berjalan menyusuri lorong sekolah, ia hendak menunggu Densha dan Fuu di depan gerbang sekolah.
BRUKK!!
Moa menabrak seorang pria bertubuh tinggi dan besar, merasa bersalah Moa menundukkan kepalanya untuk meminta maaf. Yang membuat Moa terkejut adalah pria di depannya itu menjatuhkan sebuah buku. Dan di dalam buku itu bertuliskan tentang legenda putri duyung, Moa juga tak sengaja menatap beberapa kupon pertunjukkan yang ikut jatuh berserakan di sekitar buku tersebut.
"Ma... Maafkan aku" ujar Moa ragu.
"Ah! Tidak apa-apa"
Pria itu berlutut dan memunguti barang-barangnya yang telah jatuh ke atas lantai. Ia juga menundukkan kepalanya untuk menerima permintaan maaf Moa.
"Sir Edmund??" Panggil Moa penasaran.
Yahh... Pria yang tak sengaja di tabrak oleh Moa adalah Sir Edmund, ia adalah salah satu guru di Phoenix High School. Sir Edmund mengajar di bidang biologi, ia sangat terkenal akan kecintaannya pada biota laut.
(Jika kalian lupa! Sir Edmund pernah muncul di episode 54 berjudul Lempar batu)
Guru ini baca cerita putri duyung??? - Moa.
"Ah! Moa... Aku kira siapa?!" Ujar Edmund dan tersenyum, pria itu segera berdiri dari tempatnya.
"Sir Edmund suka membaca buku mitologi??" Tanya Moa penasaran.
"Tidak juga, hanya yang berhubungan dengan duyung saja"
OMG!! Serius?? - Moa.
"Itu kupon apa??" Moa melirik ke arah buku yang di bawa oleh Sir Edmund.
"Ah... Ini kupon pertunjukkan! Akan ada festival aquarium raksasa di kota"
"Eh?? Benarkah??" Moa terlihat begitu antusias.
"Iya, keluargaku yang membiayai pertunjukkan tersebut!"
"Wah, kapan?? Sepertinya menyenangkan??"
"Akhir bulan ini festival itu sudah akan dibuka untuk umum kok, kau ingin datang??"
"Tentu saja jika boleh" Moa tertawa senang.
Aku bisa meminta Mod menjadi pacarku disana! Hehehe - Moa.
"Hmm, bagaimana ya? Jika nilai ujianmu bagus di bidang biologi, aku akan memberimu dua tiket gratis! Bagaimana??" Tantang Sir Edmund senang.
"Baik! Aku terima tantangan anda!!"
Moa membungkukkan badan dan berlalu pergi meninggalkan Sir Edmund, pria itu cengengesan membayangkan acara kencannya akan berjalan lancar.
Sir Edmund memandang Moa sekilas, ia menggelengkan kepala melihat reaksi Moa yang begitu senangnya.
Sesampainya di gerbang sekolah Moa tersenyum lebar memandangi Densha dan Fuu secara bergantian (Hari ini Fuu sudah tidak memakai Helm lagi, karena di marahi pihak sekolah), hal itu membuat Densha menjadi penasaran.
"Hei, katanya kau akan menunggu kami di gerbang! Justru kami yang menunggumu!!" Maki Densha.
"Maaf, aku tadi ngobrol dengan Sir Edmund"
"Membicarakan apa? Sampai kau lupa waktu begitu?!"
"Bukan apa-apa kok! Hanya membahas festival yang akan diadakan di kota"
"Festival??"
"Iya! Mungkin cuma mau pamer kecintaannya Sir Edmund pada biota laut sih?! Pertunjukkan aquarium gitu" jelas Moa enteng.
"Ah..."
"Fuu ingin pergi ke sana!" Pinta Fuu pelan.
"Ke neraka mau???" Densha menjitak kepala Fuu pelan.
"Ke pertunjukkan itu! Memangnya pertunjukkan itu di neraka ya??" Tanya Fuu polos.
"Hidupku yang di neraka!!" Ledek Densha kesal.
"Kalau dia ingin datang! Biarkan saja dong?!" Sahut Moa asal.
"Ha ha ha dan ha!!" Ujar Densha sinis.
"????" Moa mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Kalian berdua ini terlahir id*ot atau tanpa otak sih?!"
"Kurang ajar!!" Maki Moa kesal.
"Habisnya kalian berdua ini bodoh sekali, aku jelas tidak mungkin membawa Fuu ke festival itu kan? Lihat saja! Tema dari festival itu saja aquarium raksasa!! Bagaimana jika Fuu terkena air disana dan berubah??" Jelas Densha panjang lebar.
"Kau benar! Aku hampir lupa bahwa si bodoh ini adalah duyung" Moa memelototi Fuu.
"Kau juga sama bodohnya dengan dia!"
"Iya-iya Densha yang agung dan cerdas melebihi segalanya" sindir Moa ketus.
"Jadi Fuu tidak boleh pergi ke festival?" Tanya Fuu sekali lagi.
Densha dan Moa menggelengkan kepala secara bersamaan, lalu mereka tertawa melihat Fuu yang cemberut mendengar jawaban mereka.
"Akhir-akhir ini aku tidak pernah melihat Leah lagi, dimana dia??" Tanya Densha penasaran.
"Ah! Entahlah, dia pergi meninggalkan rumahku. Aku tak tahu dia pergi kemana"
"Bagaimana bisa kau tidak tahu!"
Moa murung, ia menatap jalanan di depannya yang kosong. Langkah kaki pria itu melambat.
"Ada apa Moa??"
"Dia bilang bahwa dia akan pulang ke rumah ibunya, hanya itu" jawab Moa datar.
"Begitu ya??" Densha mengangguk-anggukkan kepala pelan.
"Tapi... Sebelum pergi, dia mengatakan namanya padaku"
"Bukan! Ternyata dia membohongiku, itu bukan nama dia yang sebenarnya!!" Moa menggerutu kesal.
"Lalu??"
"Namanya Ryn, dia bilang begitu sih?! Dia memintaku untuk memanggilnya Ryn mulai sekarang!"
"Ah!! Nama yang aneh, nama Leah jauh lebih bagus daripada Ryn!! Heran deh, bagaimana orangtuanya memberi gadis itu nama!" Densha menggerutu dengan sendirinya karena nama asli Leah adalah Ryn.
"Hahaha, kenapa sih?! Nama Ryn juga bagus kan??"
"Norak!!" Ungkap Densha kesal.
"Bagus kok! Fuu suka dengan nama Ryn" puji Fuu lalu tersenyum.
"Heleh... Kau apapun juga suka!"
"Hehe, jika sudah besar nanti dan Fuu punya bayi. Fuu akan memberi nama bayi Fuu dengan nama Deryne" Fuu mengangkat jari telunjuknya untuk menjelaskan pada Densha.
"Wah, pikiranmu jauh sekali!!" Sindir Moa sinis.
"Kenapa ingin kau beri nama Deryne??" Densha menatap Fuu serius.
"Nama ayah Densha kan, tuan Derick Mikaelson lalu lahir Densha Mikaelson, dan Fuu ingin punya anak yang berawalan huruf 'D' maka jadilah Deryne Mikaelson! Bagaimana? Bagus kan??" Ungkap Fuu senang.
"Deryne ya??" Densha menyentuh dagunya sendiri sambil memikirkan nama yang di sebut oleh Fuu.
"Nama yang aneh!" Sahut Moa.
"Eh?? Kan bagus? Benarkan Densha??" Fuu memelas pada Densha, agar pria itu menyetujui usulan namanya.
"Um... Kenapa bukan Denise atau Hope Mikaelson?? Hope artinya harapan loh?!" Usul Densha asal.
"Hei, kalian berdua ini keterlaluan!! Kita belum waktunya untuk membahas hal seperti itu tahu!!" Moa memaki Densha dan Fuu yang berada di sampingnya.
"Hehehe, maaf... Gara-gara Fuu, aku jadi terbawa suasana" Densha menggaruk kepalanya sendiri pelan.
Deryne Mikaelson ya?? Lumayan keren sih?! Tapi itu kan untuk anak perempuan?! - Densha.
Mereka bertiga berjalan pulang sambil membicarakan hal-hal tidak berguna lainnya.
Di rumah keluarga Roosevelt, Ryn di terima dengan sangat baik oleh ayah Mod. Gadis itu kini sedang membantu membersihkan rumah keluarga yang bersedia menampungnya.
Jadi begini ya wajah kakek saat masih sedikit lebih muda?? - Ryn.
Ryn tersenyum-senyum sendiri menatap tuan Roosevelt yang sedang memasak. Saat tuan Roosevelt menatapnya, gadis itu akan berpura-pura tidak melihat, ia senang sekali tinggal di rumah Mod.
"Ryn?? Kau tidak ingin mandi??" Tanya tuan Roosevelt dengan senyumnya.
"Ng... Cuacanya dingin sekali, aku tidak ingin mandi"
Ryn menghindari perubahan pada tubuhnya, kalian ingat kan? Hybrid akan berubah jika terkena air jenis apapun (kecuali air minum yang beneran di minum!)
"Dingin??? Ini musim panas loh?" Tuan Roosevelt berkacak pinggang menatap Ryn.
"Apa kau sakit??" Imbuh tuan Roosevelt.
"Ti... Tidak, aku baik-baik saja kok! Sungguh" Ryn menggelengkan kepala kuat.
"Semenjak datang ke rumah ini kemarin malam, aku belum melihatmu pergi ke kamar mandi loh!" Sindir tuan Roosevelt.
Mendadak Ryn memeluk tubuhnya sendiri, ia menutupi bagian dadanya dengan rapat dan sedikit membalikkan badannya menjauh dari pandangan tuan Roosevelt.
"Ah! Maaf... Bukan maksudku yang seperti itu!" Tuan Roosevelt menutup kedua matanya dengan sebelah tangan.
"Turunkan tanganmu!" Perintah tuan Roosevelt.
Perlahan Ryn menurunkan kedua tangannya, ia sedikit malu memandang kakeknya sendiri.
"Maaf, jika kalimatku menyinggung'mu" wajah tuan Roosevelt tersipu malu.
"Tidak kok, malahan aku berpikir tuan ada benarnya juga! Aku harus membersihkan badanku" Ryn tersenyum renyah menatap kakek nya, gadis itu meninggalkan dapur dan pergi menuju kamar Mod.
Melihat Ryn yang pergi meninggalkannya sendirian di dapur, wajah tuan Roosevelt menjadi sedikit murung. Pria dewasa itu mengusap-usap wajahnya sendiri dengan gemas.
"Astaga! Apa yang aku katakan pada anak itu?! Apa kalimatku keterlaluan??" Gumam tuan Roosevelt panik.
"Aku pulang..." Sapa Mod kencang.
Tuan Roosevelt mendengar bunyi pintu terbuka dan seseorang yang sedang meletakkan sepatu di rak, ia tersenyum karena tahu bahwa putrinya telah pulang.
Mod berjalan lambat menuju dapur untuk menemui ayahnya, gadis itu menarik kursi di meja makan dan duduk disana.
"Ayah?? Masak apa??"
"Mmm... Entahlah, sesuai yang ada di lemari es saja ya?"
"Oke! Ngomong-ngomong apa Ryn tidak keluar dari kamar sama sekali??"
"Baru saja dia pergi ke kamar" tuan Roosevelt menunjuk ke arah perginya Ryn.
"Mmm...." Mod mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jarinya.
Melihat Mod yang tetap duduk di kursinya dan tak pergi menemui Ryn, pria paruh baya itu menyadari bahwa putrinya sedang ingin bicara berdua dengannya.
"Ada apa sayang??"
"Mmm... Bukan apa-apa ayah" ujar Mod bohong.
"Katakan saja!"
"Itu... Kapan sidang ayah dan ibu di mulai??"
"Ayah rasa dalam waktu dekat ini, kenapa kau menanyakan itu?"
"Apa aku boleh datang?!" Tanya Mod ragu.
"Tidak! Kau tidak boleh berada disana!" Larang tuan Roosevelt keras.
"Kenapa??"
"Ayah tidak ingin kau terluka! Mengerti??"
Mod menganggukkan kepala pelan, gadis itu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan pergi meninggalkan dapur.
"Aku sayang ayah" ucap Mod lembut.
Bersambung!!
Jangan lupa Like, Follow, Favorit, Rating, dan Vote ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya! Terima kasih 🙏😘