
"Ini Leah, dia temanku!" Ujar Moa ragu.
"Teman??" Densha menatap Moa dengan tajam.
"Maaf, bukan bermaksud menghina'mu tapi setahuku temanmu itu hanya aku" lanjut Densha.
"Cih! Baik-baik... Dia bukan temanku, kami baru saja berteman! Dia anak teman ayahku"
"Begitu ya??" Tanya Densha yang masih kurang percaya.
"Iya, benar!"
Mod mendengus kesal, gadis itu menarik tangan Fuu agar mengikutinya menjauh dari Moa. Sejujurnya hati Mod terluka melihat kedekatan Moa dan Leah.
"Hei, mau kau bawa kemana dia?" Teriak Densha dari jauh.
"Kalau kau memang ingin tahu kenapa tidak ikut" sindir Mod ketus.
"Hahhh... Sial!"
Densha berlari menyusul kedua gadis itu, Leah tertawa senang melihat wajah Moa yang kebingungan, ia menepuk bahu Moa saking gemasnya.
"Hei, kenapa tertawa?"
"Aduh! Moa... Moa... Pacarmu cemburu tuh!" Leah menunjuk Mod dengan lirikan matanya.
"Cemburu?? Kenapa??"
"Tentu saja karena kau dekat denganku, dia pikir mungkin kita ada apa-apa"
"Hah? Aku dan kau ada apa-apa, astaga! Amit-amit" Moa menjauhkan tubuhnya dari Leah, hal itu semakin membuat Leah terkekeh.
"Pria bodoh! Kejar sana!"
"Untuk apa?? Semalam aku tidak bisa tidur, hari ini aku akan pulang dan tidur sepuasnya" ucap Moa senang.
"Kau... Pasti tak bisa tidur gara-gara aku ya?"
"Benar! Tidak biasanya aku membiarkan orang asing menginap di dalam rumahku, kecuali Ellis"
"Ellis??"
"Sudahlah... Aku tidak ingin membahas dia lagi" Moa menggelengkan kepalanya kuat.
"Uhm, aku ingin pergi sebentar! Moa pulang duluan saja"
"Eh? Kemana?"
"Aku datang ke tempat ini bukan karena tidak ada tugas tahu!"
Leah berlari meninggalkan Moa, ia berjalan ke arah Densha, Fuu dan Mod pergi, gadis itu nampak terburu-buru menuju suatu tempat.
"Hei, jangan malam-malam kalau pulang! Kau punya hutang padaku!"
"Iya, aku janji!" Sahut Leah senang dan melambaikan tangannya pada Moa.
Moa tersenyum menatap kepergian Leah, entah kenapa ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya. Ini seperti rasa sayang, tapi bukan untuk seorang gadis, yahh... Leah masih penuh dengan misteri yang harus di pecahkan begitu pikir Moa.
Di jalanan kota, seorang gadis berambut biru sebiru lautan tengah duduk di pinggiran trotoar. Ia memejamkan matanya mengingat-ingat kejadian aneh yang ia alami di bawah air.
Membunuh atau di bunuh?? (Bayangan suara Kraken)
Ramalan bola mutiara milik Kraken terngiang-ngiang di kepala Katrina. Gadis itu nampak frustasi, ia ingin bertanya pada seseorang yang mengerti akan dirinya tapi siapa?? Katrina mengedarkan pandangannya ke segala arah di depannya, matanya tertuju pada tiga orang siswa yang hendak menyebrang jalan. Sepertinya ketiga siswa itu menunggu lampu lalu linta berubah warna.
"Mereka??" Gumam Katrina lirih.
Densha, Fuu dan Mod menyebrang jalan dengan tenang. Mereka memasuki toko buku di sebrang jalan, karena penasaran Katrina berdiri dari tempat duduknya dan hendak mengikuti mereka, namun langkahnya terhenti saat ia tahu bahwa ada seseorang yang sedang mengikuti mereka secara diam-diam.
"Siapa dia?? Duh sial! Aku tidak bisa melihat wajahnya karena di tutupi jaket Hoodie"
Katrina kembali duduk di bangku pinggir jalan, ia hanya mengamati dari kejauhan sambil melihat apa yang akan terjadi.
~
Di dalam toko buku Mod sibuk memilih-milih buku yang akan dia beli, Mod berpencar dari Densha dan Fuu. Sebenarnya ia tidak ingin mereka tahu bahwa ia tengah terluka akan cintanya.
"Wah, banyak sekali bukunya" ucap Fuu senang.
"Namanya juga toko buku!" Ledek Densha.
"Ini pertama kalinya Fuu kemari, hehe"
"Kau ingin membeli buku apa? Ambil lah... Akan aku belikan"
"Benarkah?? Densha ingin membelikan Fuu??"
"Iya!"
Densha mengikuti kemanapun Fuu berkeliling di dalam sana, ia juga membaca buku-buku yang tidak tersegel. Walaupun itu hanya iseng sih! Karena dia tidak tahu, harus melakukan apa di dalam sana.
"Densha, bagaimana kalau ini?" Fuu menenteng sebuah buku berwarna merah muda dan menunjukkannya pada Densha.
"Bagaimana cara bercinta??" Mata Densha membulat membaca judul buku yang di pegang Fuu.
"Kembalikan buku itu ke tempatnya!" Pinta Densha tegas.
"Lho? Kenapa? Fuu kan ingin tahu apa itu cinta"
"Kau tidak akan menemukannya di dalam sana!"
"Eh? Benarkah? Tapi judulnya ada cinta cintanya kok"
"Tapi..."
"YA TUHAN!! CINTA DAN BERCINTA ITU BERBEDA FUU!!" Bentak Densha keras.
Orang-orang yang ada di dalam toko memperhatikan Densha dan Fuu, mereka memandang sinis pada kedua makhluk itu. Seorang pelayan toko buku menghampiri mereka berdua dengan sopan.
"Mohon maaf kakak, kalian berdua terlalu berisik! Saya mohon untuk keluar dari toko ini"
"Apa??"
"Dan... Kalian masih SMA kan?? Buku yang kalian pegang ini bukan konteks yang cocok untuk kalian baca!" Tegas si pelayan toko buku.
"Hei, kau pikir aku bodoh? Aku justru melarangnya untuk membeli buku ini tahu! Dan lagi jangan salahkan kami dong? Salahkan toko ini... Menjual buku dewasa sembarangan!" Maki Densha kesal.
"Mohon maaf, silahkan keluar" pinta pelayan itu dengan senyumnya.
"Cih!"
Densha mendengus kesal, ia menarik tangan Fuu agar gadis itu juga ikut keluar dari toko buku sialan tersebut. Mereka memutuskan untuk menunggu Mod di luar, Fuu menyentuh dagunya serius. Ia sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
"Kau memikirkan apa?"
"Di dunia manusia ini banyak sekali yang Fuu tidak mengerti"
"Apa?"
"Ternyata selain cinta adalagi yang namanya bercinta, semakin membuat Fuu penasaran!" Ujar Fuu senang.
"Awas kalau kau sampai berani membeli buku itu! Jika sudah dewasa nanti kita berdua tidak memerlukan buku itu, jadi tenang saja!" Ancam Densha tegas.
"Eh?? Apa Densha sudah pernah membacanya??"
"Aku tidak perlu membacanya untuk tahu isi buku itu"
"Wah! Apa dulunya Densha ini peramal?? Hebat!!"
WTF!! Aku harus segera menghubungi dokter keluarga untuk memeriksa tensi darahku - Densha.
"Bagaimana isinya?" Lanjut Fuu.
"Bisakah kita tidak membahasnya?"
"Tidak bisa" sahut Fuu cepat.
"Kau tidak akan mengerti kalau tidak mempraktekkan nya"
"Kalau begitu, ayo praktekkan bersama Fuu!"
"HAH?!" Teriak Densha terkejut.
"Kenapa berteriak? Densha membuat Fuu kaget"
"Kau yang membuatku kaget bodoh!!" Densha menyentil dahi Fuu keras, membuat dahi Fuu memerah seketika.
Ya Tuhan... Jantungku! Sabar-sabar - Densha mengusap dadanya pelan-pelan. Ia tengah mengatur nafas yang keluar masuk dari lubang hidungnya.
"Densha berkeringat, kenapa? Kan kita hanya diam saja disini?" Fuu mengambil selembar tisu dari dalam tasnya, ia mengelap keringat yang keluar dari dahi Densha.
"Kau yang membuatku berkeringat tahu! Tahu tidak? Terkadang kau ini seperti bom aktif yang menempel padaku setiap waktu!" Ledek Densha kesal.
"Bom??"
"Ya betul! Hanya dengan kata-kata bodoh yang keluar dari mulutmu tanpa berpikir, aku bisa saja mati terkena serangan jantung!"
"Mmm... Fuu tidak mengerti" Fuu menggelengkan kepalanya pelan.
"His... Idiot sekali!" Sindir Densha kesal.
Kling! (Suara lonceng)
Pintu toko buku terbuka, Mod keluar dari toko itu dengan menenteng sebuah tas berisi beberapa buku.
"Lama sekali sih? Kau membaca semua buku di dalam sana?" Maki Densha.
"Hehe, maaf... Aku kan harus membaca sinopsisnya terlebih dahulu!"
"Sinopsis kek apa kek! Kau membuatku jengkel"
"Iya-iya aku minta maaf... Ayo pulang" ajak Mod dan tersenyum pada mereka berdua.
Dari kejauhan Katrina memandang Fuu dan Densha secara bergantian. Merasa marah, kesal dan jengkel. Katrina menyenandungkan sebuah lagu, lagu yang terdengar sedikit mengerikan. Kedua tangan Katrina terbuka seperti membaca mantra kutukan yang ingin ia jatuhkan pada Densha dan Fuu, ia ingat pesan dari Kraken tentang membunuh atau di bunuh, jadi... Dia akan memulainya.
Lampu lalu lintas sudah berubah warna, pejalan kaki bebas untuk menyebrang tak terkecuali mereka bertiga. Densha berada di paling pinggir dekat dengan Fuu, sedangkan Mod berjalan terlebih dahulu di depan mereka.
Dari arah kejauhan sebuah Truk bermuatan beton melaju dengan kencang, seolah mengalami kerusakan pada remnya, truk tersebut melaju kencang menuju Densha dan Fuu. Leah yang menyadari hal itu segera berlari menuju Densha dan Fuu.
Melihat seorang gadis yang menutupi wajahnya terburu-buru mendekati mereka, Fuu sadar situasi apa yang akan ia hadapi. Dengan sigap Fuu menarik tangan Densha kuat, sedangkan Leah memeluk Densha dari belakang dan mendorongnya ke depan, lebih tepatnya Leah mendorong Densha dan Fuu, ia mencoba melindungi dua orang itu.
BRAAKKKK!!!
"PAPAAA!!!"
"DENSHAA!!!"
Fuu dan Leah berteriak secara bersamaan.
Bersambung!!
Halo, Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa Like, Komentar, Favorit, Follow, Rating dan Vote ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😘