Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Centil



Seorang gadis cantik duduk dengan anggun di atas sofa, dengan dress bermotif bunga yang indah membuat dirinya semakin terlihat bersinar.


"Hei, apa-apa'an kau ini?" Densha terkejut melihat Fuu dengan gayanya yang dibuat-buat.


"Apa?" Fuu masih mempertahankan posisi duduknya.


Gadis ini beneran gak waras rupanya! - Densha.


Merasa jengkel, Densha menarik tangan Fuu agar gadis itu berdiri dari sofa yang ia duduki. Densha memandangi Fuu dari ujung kaki hingga ujung rambut, gadis itu sangat cantik dan anehnya kenapa ia berdandan seperti itu pagi-pagi sekali.


"Kenapa kau memakai baju ini?" Densha mengangkat lengan baju Fuu dengan ekspresi mengejek.


"Kenapa? Bagus kan??"


"Iya, aku tahu ini bagus! Tapi kenapa? Mana seragam sekolahmu?"


"Fuu tidak perlu memakai seragam sekolah lagi"


"Hah?! Kau bilang apa?"


"Fuu tidak perlu memakai seragam sekolah lagi! Fuu hanya ingin tampil cantik dan elegan"


"Hei, besok sudah mulai ujian loh! Kau harus ke sekolah untuk menerima pembekalan materi hari ini"


"Fuu tidak perlu ikut ujian" jawab Fuu dengan wajah sombong.


"Aku rasa kepalamu terbentur sesuatu! Mana yang sakit??"


Densha menarik kepala Fuu agar mendekat dengan dirinya, ia memeriksa dan membelai lembut rambut Fuu untuk mencari luka yang mungkin timbul di kepala Fuu.


"Densha! Hentikan!!"


Dengan gaya yang di buat-buat Fuu merapikan rambut panjangnya dengan centil, ia melirik tajam pada Densha dan memelototi pria di sampingnya itu.


"Kau ini kenapa?" Tanya Densha yang mulai khawatir.


"Dengarkan Fuu baik-baik!"


"Mendengarkan'mu?? Yang benar saja!"


"Berisik banget ya??" Sindir Fuu ketus.


Lihat cara bicaranya sekarang?? - Densha.


"Hei gadis bodoh! Kau tahu tidak ini rumah siapa? Jadi jaga cara bicaramu!"


"........." Fuu hanya memandang Densha sekilas, lalu ia membuang muka.


Densha menghela nafas panjang mencoba memaklumi tingkah duyung satu ini, ia menarik tangan Fuu agar gadis itu mengikutinya.


"Ayo ikut!"


"Eh? Kemana?"


"Ganti bajumu dengan seragam sekolah!"


"Tidak mau! Fuu tidak ingin ke sekolah" rengek Fuu manja.


"Sekolah itu penting!"


"Pokoknya Fuu tidak ingin ke sekolah!" Bantah Fuu tegas.


Densha melepaskan tangan gadis itu, ia memandangi Fuu dengan seksama. Membaca raut wajah Fuu yang sungguh-sungguh menolak datang ke sekolah.


"Sekarang katakan padaku, apa alasanmu tidak ingin datang ke sekolah?"


"Itu... Mmm..." Wajah Fuu memerah, gadis itu tersipu malu dan kebingungan menjawab pertanyaan Densha.


"Apa? Cepat jawab!"


"Kata nona Isabella, Densha adalah pewaris tunggal perusahaan"


"Lalu??" Densha mengangkat sebelah alisnya curiga.


"Jadi... Densha kaya kan??"


"Benar! Lalu apa hubungannya dengan kau yang tak mau pergi ke sekolah?"


"Untuk apa Fuu ke sekolah jika nanti Fuu sudah hidup kaya raya bersama Densha" gumam Fuu lirih.


"Apa??" Densha mendekatkan telinganya pada wajah Fuu, agar gadis itu mengulangi kalimatnya.


"Mulai sekarang Fuu akan belajar menjadi nona muda Mikaelson, nona Isabella bilang bahwa kekayaan Densha nantinya akan terus mengalir sampai ke ratusan generasi" Fuu tertawa senang dengan kalimatnya sendiri.


Ya Tuhan! - Densha.


"Jadi... Dari tadi kau bergaya seperti orang kerasukan itu ingin belajar menjadi seorang nona muda yang kaya raya??"


"Benar!"


Tuk!


Densha menyentil dahi Fuu dengan kuat, membuat dahi gadis itu memerah seketika. Fuu meringis menahan sakit dan menyentuh dahinya sendiri.


"Sakit!"


"Kau memang sakit! Sakit jiwa!!" Sindir Densha kesal.


"........"


"Dan... Dengarkan kata-kataku! Aku tidak akan menikah dengan orang yang tidak berpendidikan!!" Maki Densha kesal.


"????"


"BTW, Dimana kau belajar kalimat seperti itu?"


"Eh?? Kalimat apa?" Fuu mengernyitkan dahi tanda tak mengerti.


"Belajar menjadi nona muda kaya raya itu! Dan kata-katamu jelas sekali kau meniru, bukan dari dirimu sendiri kan?"


"Ah! Hehe... Itu..."


"Apa? Jangan heha hehe! Jawab dengan benar!"


"Kotak bergambar di ruang keluarga itu yang Fuu tiru"


"Kotak bergambar??"


"Iya..." Fuu menganggukkan kepala pelan.


"Kotak bergambar apa?"


"Itu loh yang menempel di dinding, di dalam kotak itu banyak sekali manusianya"


"TV???"


"Iya, benar! Fuu suka sekali melihat kotak bergambar itu, lain kali Densha juga harus melihat bersama Fuu"


"Melihat apa? Melihatmu yang menonton TV menjadi seperti ini malah membuatku ingin membuang TV itu!"


"Eh? Jangan... Jangan dibuang! Fuu suka sekali melihat TV"


"Memangnya kau mengerti acara di Televisi??"


"Tidak" Fuu menggelengkan kepala kuat.


"Densha kenapa?"


"Begini... Hari ini aku tidak ingin darahku naik, apalagi ini masih sangat pagi! Jadi turuti perintahku dan cepat ganti bajumu dengan seragam sekolah! Mengerti??"


"Ahh... Fuu bilang kan tidak ingin..."


Gadis itu belum menyelesaikan kalimatnya namun mata Densha yang sungguh tajam membuat Fuu terpaksa terburu-buru berjalan masuk ke dalam kamar Densha.


"Okay, baik! Fuu akan sekolah" teriak Fuu dari dalam kamar.


Aku harus sering cek tensi darahku mulai sekarang - Densha.


.


.


.


.


.


.


Di sekolah Mod mendatangi kelas Densha dan Moa namun mereka berdua belum tiba juga, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kelasnya sendiri.


Bruk!


Saat berbalik Mod menabrak seseorang di belakangnya, gadis itu terburu-buru berdiri dan meminta maaf.


"Ah! Maaf... Aku tidak memperhatikan jalanku"


"Tidak apa-apa"


Merasa mengenali suara pria di depannya, Mod menengadahkan kepalanya untuk menatap si pria. Benar saja itu adalah Moa, pria yang ia sukai.


"Moa??"


"Mod?? Kenapa disini?"


"Ah... Itu... Entahlah, aku hanya ingin kemari"


"Duduklah, apa kau mencari Fuu?"


"Mmm... Mungkin"


"Apa maksudmu dengan mungkin??"


Moa menarik bangkunya agar Mod duduk disana, sedangkan Moa duduk di bangku milik Densha. Mod tersipu malu menerima perhatian Moa saat ini, ia memandangi wajah Moa yang nampak lelah.


"Moa? Wajahmu..."


"Ah! Aku kurang tidur"


"Apa? Bagaimana bisa??" Mod menyentuh pipi Moa dengan lembut.


"Tidak apa-apa, jangan khawatir"


"Bagaimana kalau ke klinik sekolah? Kau bisa tidur disana"


"Entahlah, mungkin nanti saja"


Moa membungkukkan badannya, pria itu menenggelamkan wajahnya pada kedua lipatan tangannya yang di atas meja. Dengan sekejap mata pria itu pun terpejam perlahan.


"Mimpi buruk ya?"


"Tidak... Hanya tidak bisa tidur"


Masih dengan posisinya, Moa berusaha terus menjawab pertanyaan Mod sebisa mungkin. Tidak mungkin kan dia meninggalkan Mod untuk tidur begitu saja.


"Apa ada masalah?? Kau bisa cerita jika ingin"


"Tidak kok... Oh iya, bagaimana kabar ayahmu?"


"Baik, ayahku baik-baik saja! Ayah bilang akan menceraikan ibu dalam waktu dekat"


"Cerai??"


"Iya... Apa ayahmu masih berniat menikahi ibuku?"


"Aku rasa tidak!"


Mod tersenyum kecil mendengar jawaban dari Moa, berarti hubungannya dengan Moa tidak mengalami hambatan lagi begitu pikirnya.


"Moa... Kau masih ingat dengan kencan kedua kita?"


"Tentu saja"


"Benarkah?? Jadi, Minggu ini kan?"


"Iya... Tapi, jika aku ada urusan lain, aku akan segera menghubungimu"


"Urusan macam apa?"


Moa terdiam, urusan macam apa pun ia tidak tahu. Ia khawatir bagaimana jika Leah mencarinya atau membutuhkan dirinya, bahkan sampai ia berangkat sekolah hari ini Leah tetap tidak ingin ikut gabung sarapan, gadis itu bilang bahwa dirinya tak enak jika harus makan bersama keluarga Collin.


"Bukan urusan yang penting sih!"


Jika tidak penting kenapa lama sekali menjawabnya? - Mod.


"Ah! Baiklah... Aku akan kembali ke dalam kelas, sampai ketemu lagi Moa"


"Iya..." Moa melambaikan tangan pada Mod yang meninggalkan kelasnya.


Pria itu berdiri dan kembali ke tempat duduknya untuk melanjutkan aksi tidurnya, ia terus menguap menahan kantuk selama perjalanan menuju sekolah. Mungkin Moa lupa bahwa dirinya harus menunggu Densha sahabatnya seperti pagi-pagi sebelumnya.


~ Di pertigaan jalan rumah Moa ~


"Densha... Fuu sudah capek berdiri! Ayo kita berangkat saja!"


"Tidak bisa! Biasanya Moa menungguku, masa hari ini aku meninggalkannya"


"Tapi..."


"Baiklah, lima menit lagi! Kalau Moa tidak muncul ayo kita berangkat"


"Okay, baik!"


Lima menit sudah mereka menunggu Moa, akhirnya Densha menggenggam tangan Fuu dan mengajak gadis itu pergi ke sekolah.


"Ayo! Mungkin Moa tidak datang ke sekolah hari ini"


"Uhm" Fuu menganggukkan kepala pelan.


Tak cukup jauh dari jalanan rumah Moa, seorang gadis tengah mengintip Densha dan Fuu, ia adalah Leah. Gadis bersembunyi menghindari bertemu muka dengan Densha dan Fuu.


"Astaga! Kenapa mereka disini?" Gerutu Leah panik.


Bersambung!!


Halo, terima kasih sudah membaca! Jangan lupa Like, Komentar, Favorit, Follow, Vote dan Rating ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😘